Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 282. The Old Priest



“Hihihi! Mungkin kita dikasih botol yang banyak sama Pak Topi Bundar! Tapi nggak ada yang ngalahin asyiknya minum di kedai! Ayo semuanya! Kita ke kedai sekarang ju—”


“Iya, iya, iya! Tunggu Gia aja dulu! Bawel banget, sih!”


Giliran ke kedai semangat! Giliran tadi dia nggak serius!


“Maaf aku kelamaan di ruangannya Pak Sheriff!”


“Udah selesai, ya?! Ayo kita jalan!”


Karena Si Dongo ini banyak minta, makanya kita pergi ke kedai…


Harus kita langsung ke kedai, tapi nggak taunya bocah-bocah sialan ini mau pergi ke tempat lain.


“Anu, Myllo…”


“Ada apa, Gia?”


“Aku mau ke Kapel dulu ya? Nggak apa-apa kan?”


““Kapel?””


Gia ceritain ke kita, kalo di ruangannya Sheriff tadi, dia nanyain tempat ibadah kayak di gambar yang dia tunjuk tadi. Dia bilang dia mau ibadah dulu.


“Oh gitu, ya?! Yaudah deh! Kita ke Kapel dulu! Kata Zegin gue juga harus hormatin Dewa-Dewi lainnya!”


“Aing teh juga diajarkeun hal yang sama dari Kang Wilfred!”


“Yaudah, gue juga.”


“OK! Ayo kita ke sa—”


“Woy! Terus gue gimana?!”


““…””


K-Kenapa mereka semua liatin gue kayak gitu…?


“Oh iya, ya! Lo selama ini belom pernah ikut tata ibadah di dunia ini?! Kalo gitu—”


“Hah?! Ngapain?! Di dunia lama aja gue nggak pernah ikut gitu-gituan, masa di dunia ini gue harus—”


““Boo!””


Parah banget semua bocah sialan ini!


“Machinno! Kamu jangan ikut-ikutan Djinn, ya?!”


“Ih, sianying! Bisa-bisa sia bawa sial, gobloug!”


“Udah, udah, udah! Biarin aja dia yang tanggung dosanya sendiri! Ayo kita pergi sekarang, Myllo!”


“Ahahaha! Ayo, ayo, ayo! Tapi baru pertama kali gue liat ada orang yang nggak nyembah dewa, tapi nggak nyembah Iblis juga!”


Cih! Dasar bocah-bocah sialan!


“Loh, Djinn?! Lo nggak ikut mereka?!”


Loh! Kok masih ada Chuck?!


“Mereka pada mau ibadah dulu! Ngapain juga gue ikut ke sana?! Emangnya gue nyembah dewa-dewi itu?!”


“O-Ooooh… gitu ya? Y-Yaudah deh, mending ikut gue aja ke kedai duluan. Nanti Gia bisa tunjukkin jalan mereka,


kok.”


“Yaudah.”


Karena Chuck bilang gitu, akhirnya gue ikutin dia ke kedai duluan.


“Bir satu ya bu!”


“Bir satu! Ada lagi nggak tambahannya?!”


“Djinn?”


“Hmm… Pesen makanan yang ini sama kopi bu, kalo ada.”


“Hah?! Kopi?! Emangnya ada gituan di tempat ini?!”


Buset! Galak bener!


“Yaudah air aja.”


“OK! Tunggu sebentar ya!”


“…”


Kita berdua nunggu menu yang kita pesen.


Masalahnya…


““…””


…canggung banget! Kita cuma diem-dieman doang di sini!


“*Cyis…”


“Fyuhh…”


Loh! Dia perokok juga?!


“*Cyis…”


“Fyuhh…”


Yaudah deh, mumpung nggak ada Gia.


“Oh, lo perokok juga ya?”


“Iya. Kalo bisa sih gue ngerokok daritadi. Masalahnya ada satu cewek genit yang ngelarang gue untuk ngerokok di depan dia!”


“Oh Gia, ya?! Ahahaha!”


Dia ketawa doang, sementara gue ngerasa ada yang aneh.


“Ngomong-ngomong, gue baru tau kalo lo juga perokok.”


“Oh gitu? Emang gue perokok sih.”


“Kalo lo perokok, kenapa nggak ikutan ngerokok bareng Sheriff tadi?”


“Ah itu sih karena… gue nggak enak aja ngerokok depan Sheriff Malt…”


Nggak enak, dia bilang.


Entah kenapa gue ngerasa ada yang perlu gue curiga—


“Ngomong-ngomong, gue nggak nyangka ketemu lagi sama orang yang nggak percaya Dewa-Dewi di atas sana.”


“K-Kalo itu sih, emang karena…”


Eh, dia bilang apa?


“Tunggu, tadi lo bilang “lagi” kan?”


“Iya. Emangnya kenapa?”


Ada yang aneh.


Kalo nggak salah tadi Myllo bilang, kalo dia baru pertama kali liat ada orang yang nggak nyembah dewa, tapi nggak nyembah Iblis juga. Dia bilang gitu, kan?


“Nggak sih. Gue kira semua orang di dunia ini nyembah mereka.”


“Ahaha… nggak semua, sih. Waktu gue masih kecil, gue juga ketemu orang yang nggak nyembah mereka kok.”


“Oh gitu? Kalo lo sendiri gimana?”


Eh, sopan nggak sih nanyain kepercayaan orang?


“Semua Dewa-Dewi gue sembah, kok. Kalo gue mau capai sesuatu, gue sembah Dewa Arkhataz supaya usaha gue nggak sia-sia. Gue juga nyembah Dewa Stryrorke supaya selalu dikasih kesehatan sama kekuatan. Gue nyembah Dewi Amoreal supaya hubungan gue baik sama orang-orang di sekitar gue. Gue juga nyembah Dewi Gennisia untuk panjatin syukur gue untuk hidup yang gue terima.”


D-Detail banget jelasinnya…


“Terakhir gue juga nyembah…”


“Hm?”


“L-Lupain aja yang gue bilang! Gue lupa kalo semua Dewa-Dewi udah gue sebut! Ahaha…!”


Aneh. Kayaknya dia mau bilang satu dewa atau dewi lagi deh. Kenapa tiba-tiba berhenti?


“Sekedar informasi aja sih ini.”


“Apa?”


“Ibu gue cerita, kalo ayah gue itu Petualang. Mungkin gue nggak pernah ketemu dia. Apalagi gue dapet kabar dia meninggal, waktu masih kecil. Tapi ibu gue juga cerita tentang apa yang dibilang ayah gue.”


“Emang apa yang dia bilang?”


““Nggak ada alasan buat gue untuk sembah mereka.” Itu yang dia bilang. Makanya itu ibu gue ngerasa, kalo ayah gue meninggal karena karma. Ahahaha…”


Nggak ada alesan…?


Ya… nggak beda juga sih sama gue. Tapi kok… gue ngerasa ada yang lebih dari itu, ya?


Tapi…


“Kok bapak lo bisa jadi Petualang? Bukannya—”


“Ah. Maaf, Djinn. Mungkin cuma itu aja yang bisa gue ceritain tentang keluarga gue.”


Keliatannya ada masalah keluarga dari dia.


Mungkin yang jadi masalah itu…


““…””


…sekarang jadi canggung lagi karena nggak ada yang bisa diobrolin!


“*Kring, kring, kring…”


“Ah! Itu dia!”


“Sigobloug teh main jalan wae!”


Nah! Kebetulan banget bocah-bocah sialan ini udah pada dateng! Jadinya gue nggak perlu—


“Eh iya, Djinn. Bapa Stephanus mau ketemu sama kamu.”


“Hah? Siapa tuh?”


“Pendeta yang ada di dalam kapel.”


K-Ketemu gue…?


Kok feeling gue nggak enak…?


“K-Kenapa emangnya…?”


“Kita juga nggak tau. Dia bilang, kalo dia mau ketemu semua anggota Aquilla. Karena lo doang yang belom ketemu dia, makanya dia minta lo dateng sendirian.”


“Haaah? Kenapa gue harus ke sana sendirian?”


“Harusnya sama Myllo! Tapi Myllo katanya udah nggak sabar untuk minum di sini!”


“…”


Keliatannya percuma juga kalo gue minta temenin.


“Ahahaha… hicc!”


Baru masuk kedai aja udah mabok Si Dongo satu ini!


“Yaudah, gue ke sa—”


“Tapi sebelum kamu ke sana…”


Hm? Ada apa lagi?


“Matiin rokok kamu. Bisa kan?”


“I-Iya…”


Sumpah, serem banget cewek satu ini.


……………


Haaaaah… kenapa tiba-tiba gue harus pergi ke kapel?


Jangan bilang… gue dipaksa untuk nyembah dewa-dewi aneh itu sama pendeta yang Gia bilang?!


“*Tok, tok, tok…”


“Permisi.”


“Silakan masuk.”


“*Krieeek…”


I-Itu pendeta yang Gia bilang?


“…”


T-T-Tua banget…


“D-Duduklah…”


“I-Iya…”


Bahkan pendeta ini… jalannya udah gemeteran…


“P-Perkenalkan. Nama saya adalah… Stephanus Silverbullet…”


“Gu—Saya Djinn Dracorion. Katanya bapak mau ketemu saya? Ada apa ya—”


“T-Tidak ada alasan yang rinci, anakku…”


Woy! Siapa yang lo bilang a—


“T-Ternyata yang saya rasakan… ada benarnya…!”


“Hm?”


“Anda adalah—Uhuk, uhuk!”


“*Bruk…”


Eh?! Kok tiba-tiba dia jatoh?!


“Pak?! Bapak nggak kenapa-kena—”


“K-K-Kapten Greymore…!”


Hah?! Dia manggil sia—


“Saya bersyukur… bisa bertemu… dengan anda lagi…”


“…”


Eh?! Kenapa orang ini?!


“Pak?! Ada apa, pak?!”


“*Tap, tap, tap…”


Aduh! Kenapa dia tiba-tiba nggak sadar?!


“…”


Detak jantungnya masih berasa! Tapi kenapa dia tiba-tiba pingsan sambil nangis?!


“T-Tolong!”


“Bapa Stephanus?!”


Untung aja suster-susternya pada dateng, waktu gue teriak tolong!


“Apa yang terjadi, Tuan…”


“Djinn Dracorion. Saya juga nggak tau kenapa bapak pendeta ini tiba-tiba pingsan. Pokoknya dia ngomong sesuatu sebelum dia pingsan.”


“Baiklah. Tolong bantu saya untuk mengantarnya ke kamar tidurnya.”


“Y-Ya.”


“…”


Sehabis anterin pendeta ini, gue keluar dari kapel ini untuk pergi ke kedai lagi.


Jujur aja, gue masih bingung sama kejadian di sana.


Siapa yang dia panggil tadi?


Kenapa dia manggil gue, seakan-akan dia kenal gue?


Padahal kan… gue punya nama…! Kenapa dia panggil gue pake nama lain…?!


“*Cyis…”


“Fyuhh…”


Lupain aja, deh.


Mending gue ngerokok dulu, sebelum gue balik ke kedai.


Soalnya kalo ngerokok di dalam kedai, bisa-bisa gue diomelin Gia!


……………


Waktu yang kita habisin di kedai nggak lama. Sekitar jam 9 atau 10 malem, kita dianterin Chuck untuk ke tempat penginapan kita.


Tempat penginapan kita ini udah disiapin Chuck. Katanya Chuck sih kamar kita ini kamar khusus untuk tamunya Sheriff Malt, di mana kamar ini cuma dia sama Sheriff Malt aja yang tau lokasi kamar itu.


Dan sekarang, pagi-pagi, kita dapet masalah besar. Khususnya untuk Myllo.


“AAAARGH! SIALAN!”


“*Bruk!”


“SIAPA YANG BERANI-BERANINYA CURI TONGKAT GUE?!”


Dia marah banget karena tongkatnya dicuri, bahkan dia sampe ngerusak tembok kamar penginapan ini.


“Myllo, terus Private Quest yang kita terima…?”


“Cih! Apa boleh buat! Ayo kita berangkat sekarang!”


“Serius lo nggak apa-apa? Kan itu senjata utama—”


“Nggak apa-apa! Insting gue bilang kalo tongkat gue nanti balik! Walaupun begitu, gue kesel banget karena gue harus kehilangan harta karun gue!”


““…””


Padahal kita mau ngerjain Quest, tapi ada-ada aja masalahnya pagi ini.