
Di Kemah Evakuasi Vigrias…
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“Aaaaargh!”
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“Ke…Kenapa ada banyak petir dari
langit?!”
Semua yang berada di kemah
tersebut menjadi panik karena adanya petir yang menyambar mereka.
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“(Urgh!)”
“A…Ada Naga yang—”
“(Cepat pergi dari sini!)”
“Y…Ya!”
Rakhzar kembali berubah dalam
Wujud Naga untuk melindungi warga yang akan tersambar petir.
Tidak hanya dirinya saja.
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“(Cih!)”
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“(Arrrgh!)”
Göhran, Yssalq, dan Naga-Naga
lainnya juga melindungi mereka semua.
“Aaaargh!”
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“Keuk…”
“Du…Duke Louisson!”
Bismont juga melindungi warga
dengan tubuhnya sendiri.
“Bang Phonso! Bang Lupherius!
Gimana yang lain?!”
“Aman!”
“Di sini juga aman.”
Balas Alphonso dan Lupherius
ketika ditanya oleh Bismont, setelah mereka berhasil melindungi warga dari
ancaman tersebut.
Bersama-sama dengan Andromeda,
anggota BBE, serta prajurit Erviga, mereka berusaha melindungi warga-warga
lainnya, walaupun sambaran petir tersebut hampir merenggut nyawa mereka
masing-masing.
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“Aargh!”
“Ti…Tidak—”
“*Jlub! (suara tertusuk duri)”
“Tenang aja! Biar gue sembuhin!”
“Te…Terima kasih!”
Balas prajurit itu kepada
Zorlyan.
“Winona! Bantu gue!”
“OK Kapten!”
Seru Winona, sambil merapal
sihirnya.
“Water Magic: Giant Healing
Bubble!”
“*Blub! (suara gelembung)”
Dengan sihirnya, Winona
menciptakan gelembung yang melayang dan menyembuhkan warga-warga Erviga.
Akan tetapi…
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
“*PWAK! (suara gelembung besar
pecah)”
…gelembung tersebut dengan mudah
dipecahkan oleh sambaran petir itu.
“Zorly! Sihir aku pecah!”
“Cih! Gara-gara petir itu, ya?!”
Tanya Zorlyan dengan kesal.
“Petir itu petirnya siapa, sih?!”
“Yang gue tau bisa pake petir
cuma Djinn!”
Balas Mahadia ketika Alethra
bertanya.
“Tapi, apa mungkin petir itu dari
Djinn—”
“Nggak mungkin. Sekuat-kuatnya
dia, keliatannya dia belom bisa sampe level itu.”
Potong Lupherius ketika Mahadia
hendak menyalahkan Djinn.
“(Ia benar! Tidak mungkin Djinn
berniat mencelakai warga Erviga yang tidak bersalah!)”
Lanjut Yssalq dalam Wujud Naga
miliknya.
Mereka pun terus membantu warga
untuk menghindari petir-petir yang terus menyambar mereka semua.
Akan tetapi…
“Ah!”
…ada anak kecil yang terjatuh.
“Ti…Tidak! Anakku!”
“Tunggu! Jangan berlari seperti
itu, Nyonya!”
Seru Royce ketika ibu dari anak
tersebut berlari untuk menyelamatkan anaknya.
Hingga tiba-tiba…
“*JGRUM!!! (suara sambaran petir
dari langit)”
…petir itu menyambar mereka.
“TI…TIDAAAK!!!”
Teriak Royce.
Tanpa ia sadari…
“Fyuh! Untung aja gue berhasil
selamatin anak ini!”
“Ya. Gue juga berhasil selamatin
ibunya.”
…Djinn dan Myllo datang dengan
cepat untuk menyelamatkan keluarga tersebut.
“Kakak! Makasih, kakak!”
“Hehe! Tenang aja, adek kecil!”
Balas Myllo kepada anak kecil
itu.
Sedangkan ibu dari anak itu…
“Te…Te…Terima kasih, Tuan
Petualang.”
“Ya…”
…merasa tersanjung, semenjak
Djinn menyelamatkannya dengan menopang tubuhnya layaknya seorang tuan putri.
Tidak lama kemudian, Gia, Garry,
dan Dalbert datang menyusul mereka berdua, setelah ibu dan anaknya itu pergi
bersama prajurit yang ada di sana.
“Myllo! Ternyata ini yang kamu
maksud dari insting kamu?!”
“Ya! Nggak gue sangka dia serang
semua orang yang ada di sini!”
Jawab Myllo atas pertanyaan Gia.
Beberapa yang meyadari kedatangan
mereka berlima pun langsung menghampiri mereka.
“Djinn! Gue kira lo yang pake
petir itu!”
“Lo gila kali, ya?! Mana
mungkin!”
Seru Djinn kepada Mahadia.
“(Tunggu! Itu semua tidak penting! Yang lebih
penting, siapa seseorang yang bisa menyerang dari langit, selain Sky Dragon?!)”
““…””
Djinn dan Myllo pun menjelaskan
tentang siapa Maverick Orbloom sebenarnya, serta rencana cadangan miliknya.
““MA…MALAIKAT?!?!””
Mereka semua begitu terkejut.
Namun, tidak bagi Alphonso dan
Para Naga.
“Cih! Ternyata mereka mulai cari gara-gara lagi, ya?!”
Pikir Alphonso dengan kesal.
“Bahkan Mahluk Abadi yang cuma
legenda pun mau hancurin kita, ya?”
“Ke…Kenapa mereka mau bunuh
kita…?”
“Terus…buat apa gue ibadah ke
Dewa-Dewi, kalo pelayannya aja mau bunuh kita, Mahluk Fana…?”
Tanya Mahadia, Zorlyan, dan
Bismont secara bergantian karena mereka mulai meragukan cara kerja dunia.
“Tunggu dulu!”
““Mm?””
“Bahkan Zegin pun juga baru tau
kalo masih ada Malaikat di dunia ini!”
Jelas Myllo, yang melanjutkan
dengan apa yang ia bicarakan dengan Zegin di dalam pikirannya.
……………
“Ke…Kenapa masih ada Malaikat di
dunia ini?”
“Zegin! Lo juga nggak tau kalo
masih ada Malaikat?!”
“Gue nggak tau. Tapi, untuk kali
ini aja, gue minta tolong ke lo, Myllo.”
“…”
Myllo menunggu permintaan Zegin.
“Bunuh Malaikat itu.”
“Bu…Bu—”
“Mereka dulunya Pelayan Para Dewa. Makanya itu,
mereka bisa dibilang sebagai Mahluk
Abadi Paling Kuat. Jadi, kalo emang niat mereka mau hancurin dunia, lo
harus berhentiin mereka, sebelum apa yang mereka lakuin jadi kenyataan.”
Jelas Zegin kepada Myllo.
……………
“Jadi gitu yang dibilang Zegin,
Dewi gue!”
““…””
Mereka masih berusaha untuk
memproses apa yang dijelaskan oleh Myllo.
“(Djinn, Myllo, aku sarankan agar
kalian merahasiakan ini semua dari dunia. Jika mereka tahu akan hal ini, aku
yakin bahwa dunia menjadi kacau.)”
“Ya. Gue tau itu.”
“…”
Myllo hanya mengangguk dengan
maksud menyanggupi permintaan Göhran.
Tanpa mereka sadari, ada sesuatu
yang janggal.
“Tunggu.”
“Mm?”
“Kenapa udah nggak ada
petir-petir yang nyamber lagi?”
Tanya Djinn kepada mereka semua.
Mereka berpikir semua sudah aman.
Hingga tiba-tiba…
“Dengar aku, wahai penduduk Erviga!”
…mereka mendengar ada yang
berbicara di pikiran mereka.
“Aku adalah Narciel! Kalian, Kaum Manusia maupun Mahluk Intelektual
lainnya, telah merusak Geoterra yang diciptakan oleh Sang Alpha!”
“Cih! Dasar brengsek!”
Sahut Djinn dengan kesal.
Saat mereka semua sedang menyimak
“*Jgrum, grum, grum!!! (suara
banyak petir di langit)”
…mereka melihat ada sangat banyak
petir yang terkumpul di satu titik.
“I…Itu…”
“(Serangan pamungkasnya, kah?)”
Sambung Rakhzar sambil
menyaksikan kumpulan petir itu bersama yang lainnya.
“Oleh karena itu, kami akan menghukum penduduk Geoterra, di mulai dari
kalian!”
Seru Narciel dengan telepati
kepada semua yang berada di Vigrias dan sekitarnya.
“Ki…Kita mau dihukum?”
“E…Emang apa salah kita…?”
“Apa ini…nafas terakhir yang bisa
kita hirup…”
““…””
Semua yang berada di Vigrias dan
sekitarnya, baik warga, prajurit, anggota kerajaan, Petualang, hingga bandit,
mulai merasakan keputusasaan.
Kecuali Djinn, yang menyimpan
rahasia besar dari Sky Dragon.
……………
“(Sepertinya…kau tidak menyadari
sesuatu…yang bahkan…pria itu…tidak sadari…)”
Kata Sky Dragon, setelah
memberikan seluruh kekuatannya untuk Djinn.
“Emangnya apa?!”
“(Kau…tidak hanya kebal terhadap petir. Namun…kau juga mampu menyerap petir!)”
“!!!”
……………
Setelah mengingat itu, Djinn
hanya tersenyum.
“(Djinn…? Mengapa kau terse—)”
“Rakhzar! Lo masih bisa terbang,
kan?!”
“(Ya.)”
“Yaudah! Tolong bawa gue ke atas
langit! Gue mau lo lempar gue setinggi-tingginya, sebelum petir dari Malaikat
itu nyentuh sekitar kota ini!”
““!!!””
Mereka semua begitu terkejut
ketika mendengar permintaan Djinn.
“Bang Djinn! Itu bunuh diri!”
“Bangsawan ini bener, Djinn.
Belom tentu lo bisa tahan petir segede itu.”
“(Ya! Kau hanya menyianyiakan
hidupmu saja, Djinn!)”
Seru Bismont, Lupherius, dan
Göhran, secara bergantian.
Tidak hanya mereka bertiga. Semua
yang berada di sana mulai meragukan apa yang dikatakan Djinn.
Namun, berbeda dengan Myllo.
“Tunggu dulu, kalian semua!”
““…””
Mereka terdiam mendengar Myllo.
“…”
Myllo menghampiri Djinn.
“Lo yakin, Djinn?”
“Ya. Gue yakin, Myl.”
“OK! Kalo gitu, lakuin apa yang
lo sanggupin! Yang pasti, lo harus hidup!”
“Ya, Kapten!”
““*Phak! (suara tos)””
Djinn pun naik ke atas punggung
Rakhzar, lalu mereka terbang ke atas.
“*FWUSH! (suara terbang cepat)”
Melihat Djinn dan Rakhzar yang
terbang ke arahnya, Narciel hanya tertawa.
“Fuahahaha! Apakah itu rencana
bunuh dirimu, Pria Terjanji?!”
Seru Narciel, yang meremehkan
Djinn.
Sementara Djinn dan Rakhzar…
“OK! Lempar gue dari sini,
Rakhzar!”
“(Baiklah!)”
“*SWUSH! (suara terlempar dengan
sangat kencang)”
Rakhzar pun melempar Djinn
setinggi-tingginya.
“Terimalah ini, Pria Terjanji!”
“…”
“JUDGEMENT: ZEUS’S WRATH!!!”
“*JGRUM!!! (suara petir yang
sangat besar)”
Djinn pun tersambar oleh petir
dari Narciel.
““DJIIIINNNN!!!””
Sebagian besar yang mengenal
Djinn berteriak ketika ia melihatnya tersambar petir yang sangat amat besar.
“*BRUK! (suara terjatuh dari
ketinggian)”
“Rakhzar!”
“(…)”
Bahkan Rakhzar pun terhempas
akibat hempasan angin kencang dari serangan Narciel.
Namun, satu hal yang tidak mereka
semua ketahui.
“*Crrkkcrrrkk… (suara aliran
petir di tubuh)”
“(Ba…Badan ini kan…kayak waktu gue
lawan Tarzyn sama Manusia Iblis itu…)”
Djinn berubah wujud, dengan begitu banyak petir
yang mengalir di Tubuh-nya, serta suara yang berbeda.
Dengan wujudnya yang tidak ia kenali ini, warna
Tubuh-nya menjadi sama seperti petir. Ukurannya menjadi sedikit lebih besar
daripada ukuran Tubuh-nya yang normal. Bahkan sekujur Tubuh-nya terdapat
semacam ukiran simbol.
Selain itu…
“(Eh! Gue bisa terbang?!)”
…ia bisa melayang di udara.
“TI…TIDAK MUNGKIN!!!”
“…”
Djinn menatap Narciel yang
menghampirinya.
“Wu…Wujudmu ini…”
“(Mm? Lo tau ini wujud i—)”
“Demigod Form!”
Seru Narciel kepada Djinn dalam
Demigod Form.
“Ti…Tidak! Tidak, tidak, tidak,
tidak! Aku harus membunuhmu secepat—”
“*DHUMMMM…… (suara tekanan aura
yang sangat besar dan panjang)”
“…”
Narciel gemetar ketakutan ketika
ia merasakan aura yang sangat amat besar dari Djinn.
“Mu…Mustahil! Alangkah baiknya jika aku—”
“(Jangan lo pikir gue biarin lo lari, Narciel!)”
Sahut Djinn, sambil terbang
menghampirinya.
“(Judgement: Titan Wrath.)”
“*JGRUM!!! (suara keras pukulan
petir)”
Djinn memukulnya dengan sangat
amat keras, bahkan ia tidak menyadari jika petir dari langit terserap ke dalam ke
dalam kepalan tangannya, sebelum ia memukul Narciel.
“*Swuuusshh… (suara jatuh dari
ketinggian)”
“*BRUK!!! (suara menghantam tanah
dari ketinggian)”
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
Narciel jatuh dari ketinggian
akibat pukulan Djinn yang sangat keras.
“Ji…Jiwa-ku sudah mulai retak!”
Seru Narciel dengan panik.
“Akan tetapi, sepertinya ia tidak
menyadari jika aku masih hi—”
“*BRUK!!! (suara mendarat dari
ketinggian)”
“!!!”
Djinn pun datang kembali di
hadapannya, setelah ia berpikir bahwa Djinn tidak mengetahui keberadaannya.
“(Jangan lo pikir gue bego, Narciel! Nggak
mungkin lo gue tinggalin selama lo belom mati!)”
Seru Djinn, yang masih
menggunakan Demigod Form.
“Cih! Sepertinya aku harus menggunakan serangan terakhirku, sebelum
pergi dari tempat ini!”
Pikir Narciel.
“…”
Ia pun berdiri.
Bersama-sama, mereka bersiap
untuk pertarungan terakhir mereka.
“*DHUMMMM…… (suara tekanan aura
yang sangat besar dan panjang)”
Narciel mengeluarkan aura yang
sangat besar untuk mengintimidasi Djinn.
Namun…
“…”
…tidak ada tanda-tanda Djinn
terintimidasi.
“Judgement…”
“*Crrkkcrrkkk… (suara aliran
petir)”
“…Final Thunder!”
“*SWUSH!!! (suara gerakan sangat
cepat)”
Narciel terbang ke arah Djinn
dengan sangat cepat, bahkan tidak bisa diikuti mata orang pada umumnya.
Namun bagi Djinn…
“…”
…gerakannya sangat lambat, bahkan
melebihi yang ia lihat setiap kali menggunakan Extra Capacity.
“Hruaaaaaagh!”
Serangan petir yang terkumpul di
tangan Narciel hampir menyentuh Djinn.
Ketika serangan itu semakin
dekat…
“…”
…Djinn melentingkan tubuh ke
belakang untuk menghindari serangan itu, hingga ia tepat di bawah Narciel.
Sambil ia menghindari
serangannya, ia mencari Jiwa Narciel dengan Mata miliknya.
Setelah menemukannya…
“(Judgement: Titan Shot!)”
“*JGRUM!!! (suara tendangan petir
yang sangat keras)”
…Djinn menendang Narciel tepat di Jiwa-nya
dengan tendangan petir miliknya, hingga petir dari tendangan kerasnya itu
menyentuh luar angkasa.
“*Bruk… (suara tergeletak)”
“(Udah selesai, ya?)”
Bisik Djinn, sambil memperhatikan
Narciel yang sebentar lagi akan mati.