Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 147. Divinity Within



Di Kemah Evakuasi Vigrias…


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“Aaaaargh!”


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“Ke…Kenapa ada banyak petir dari


langit?!”


Semua yang berada di kemah


tersebut menjadi panik karena adanya petir yang menyambar mereka.


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“(Urgh!)”


“A…Ada Naga yang—”


“(Cepat pergi dari sini!)”


“Y…Ya!”


Rakhzar kembali berubah dalam


Wujud Naga untuk melindungi warga yang akan tersambar petir.


Tidak hanya dirinya saja.


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“(Cih!)”


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“(Arrrgh!)”


Göhran, Yssalq, dan Naga-Naga


lainnya juga melindungi mereka semua.


“Aaaargh!”


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“Keuk…”


“Du…Duke Louisson!”


Bismont juga melindungi warga


dengan tubuhnya sendiri.


“Bang Phonso! Bang Lupherius!


Gimana yang lain?!”


“Aman!”


“Di sini juga aman.”


Balas Alphonso dan Lupherius


ketika ditanya oleh Bismont, setelah mereka berhasil melindungi warga dari


ancaman tersebut.


Bersama-sama dengan Andromeda,


anggota BBE, serta prajurit Erviga, mereka berusaha melindungi warga-warga


lainnya, walaupun sambaran petir tersebut hampir merenggut nyawa mereka


masing-masing.


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“Aargh!”


“Ti…Tidak—”


“*Jlub! (suara tertusuk duri)”


“Tenang aja! Biar gue sembuhin!”


“Te…Terima kasih!”


Balas prajurit itu kepada


Zorlyan.


“Winona! Bantu gue!”


“OK Kapten!”


Seru Winona, sambil merapal


sihirnya.


“Water Magic: Giant Healing


Bubble!”


“*Blub! (suara gelembung)”


Dengan sihirnya, Winona


menciptakan gelembung yang melayang dan menyembuhkan warga-warga Erviga.


Akan tetapi…


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


“*PWAK! (suara gelembung besar


pecah)”


…gelembung tersebut dengan mudah


dipecahkan oleh sambaran petir itu.


“Zorly! Sihir aku pecah!”


“Cih! Gara-gara petir itu, ya?!”


Tanya Zorlyan dengan kesal.


“Petir itu petirnya siapa, sih?!”


“Yang gue tau bisa pake petir


cuma Djinn!”


Balas Mahadia ketika Alethra


bertanya.


“Tapi, apa mungkin petir itu dari


Djinn—”


“Nggak mungkin. Sekuat-kuatnya


dia, keliatannya dia belom bisa sampe level itu.”


Potong Lupherius ketika Mahadia


hendak menyalahkan Djinn.


“(Ia benar! Tidak mungkin Djinn


berniat mencelakai warga Erviga yang tidak bersalah!)”


Lanjut Yssalq dalam Wujud Naga


miliknya.


Mereka pun terus membantu warga


untuk menghindari petir-petir yang terus menyambar mereka semua.


Akan tetapi…


“Ah!”


…ada anak kecil yang terjatuh.


“Ti…Tidak! Anakku!”


“Tunggu! Jangan berlari seperti


itu, Nyonya!”


Seru Royce ketika ibu dari anak


tersebut berlari untuk menyelamatkan anaknya.


Hingga tiba-tiba…


“*JGRUM!!! (suara sambaran petir


dari langit)”


…petir itu menyambar mereka.


“TI…TIDAAAK!!!”


Teriak Royce.


Tanpa ia sadari…


“Fyuh! Untung aja gue berhasil


selamatin anak ini!”


“Ya. Gue juga berhasil selamatin


ibunya.”


…Djinn dan Myllo datang dengan


cepat untuk menyelamatkan keluarga tersebut.


“Kakak! Makasih, kakak!”


“Hehe! Tenang aja, adek kecil!”


Balas Myllo kepada anak kecil


itu.


Sedangkan ibu dari anak itu…


“Te…Te…Terima kasih, Tuan


Petualang.”


“Ya…”


…merasa tersanjung, semenjak


Djinn menyelamatkannya dengan menopang tubuhnya layaknya seorang tuan putri.


Tidak lama kemudian, Gia, Garry,


dan Dalbert datang menyusul mereka berdua, setelah ibu dan anaknya itu pergi


bersama prajurit yang ada di sana.


“Myllo! Ternyata ini yang kamu


maksud dari insting kamu?!”


“Ya! Nggak gue sangka dia serang


semua orang yang ada di sini!”


Jawab Myllo atas pertanyaan Gia.


Beberapa yang meyadari kedatangan


mereka berlima pun langsung menghampiri mereka.


“Djinn! Gue kira lo yang pake


petir itu!”


“Lo gila kali, ya?! Mana


mungkin!”


Seru Djinn kepada Mahadia.


“(Tunggu! Itu semua tidak penting! Yang lebih


penting, siapa seseorang yang bisa menyerang dari langit, selain Sky Dragon?!)”


““…””


Djinn dan Myllo pun menjelaskan


tentang siapa Maverick Orbloom sebenarnya, serta rencana cadangan miliknya.


““MA…MALAIKAT?!?!””


Mereka semua begitu terkejut.


Namun, tidak bagi Alphonso dan


Para Naga.


“Cih! Ternyata mereka mulai cari gara-gara lagi, ya?!”


Pikir Alphonso dengan kesal.


“Bahkan Mahluk Abadi yang cuma


legenda pun mau hancurin kita, ya?”


“Ke…Kenapa mereka mau bunuh


kita…?”


“Terus…buat apa gue ibadah ke


Dewa-Dewi, kalo pelayannya aja mau bunuh kita, Mahluk Fana…?”


Tanya Mahadia, Zorlyan, dan


Bismont secara bergantian karena mereka mulai meragukan cara kerja dunia.


“Tunggu dulu!”


““Mm?””


“Bahkan Zegin pun juga baru tau


kalo masih ada Malaikat di dunia ini!”


Jelas Myllo, yang melanjutkan


dengan apa yang ia bicarakan dengan Zegin di dalam pikirannya.


……………


“Ke…Kenapa masih ada Malaikat di


dunia ini?”


“Zegin! Lo juga nggak tau kalo


masih ada Malaikat?!”


“Gue nggak tau. Tapi, untuk kali


ini aja, gue minta tolong ke lo, Myllo.”


“…”


Myllo menunggu permintaan Zegin.


“Bunuh Malaikat itu.”


“Bu…Bu—”


“Mereka dulunya Pelayan Para Dewa. Makanya itu,


mereka bisa dibilang sebagai Mahluk


Abadi Paling Kuat. Jadi, kalo emang niat mereka mau hancurin dunia, lo


harus berhentiin mereka, sebelum apa yang mereka lakuin jadi kenyataan.”


Jelas Zegin kepada Myllo.


……………


“Jadi gitu yang dibilang Zegin,


Dewi gue!”


““…””


Mereka masih berusaha untuk


memproses apa yang dijelaskan oleh Myllo.


“(Djinn, Myllo, aku sarankan agar


kalian merahasiakan ini semua dari dunia. Jika mereka tahu akan hal ini, aku


yakin bahwa dunia menjadi kacau.)”


“Ya. Gue tau itu.”


“…”


Myllo hanya mengangguk dengan


maksud menyanggupi permintaan Göhran.


Tanpa mereka sadari, ada sesuatu


yang janggal.


“Tunggu.”


“Mm?”


“Kenapa udah nggak ada


petir-petir yang nyamber lagi?”


Tanya Djinn kepada mereka semua.


Mereka berpikir semua sudah aman.


Hingga tiba-tiba…


“Dengar aku, wahai penduduk Erviga!”


…mereka mendengar ada yang


berbicara di pikiran mereka.


“Aku adalah Narciel! Kalian, Kaum Manusia maupun Mahluk Intelektual


lainnya, telah merusak Geoterra yang diciptakan oleh Sang Alpha!”


“Cih! Dasar brengsek!”


Sahut Djinn dengan kesal.


Saat mereka semua sedang menyimak


“*Jgrum, grum, grum!!! (suara


banyak petir di langit)”


…mereka melihat ada sangat banyak


petir yang terkumpul di satu titik.


“I…Itu…”


“(Serangan pamungkasnya, kah?)”


Sambung Rakhzar sambil


menyaksikan kumpulan petir itu bersama yang lainnya.


“Oleh karena itu, kami akan menghukum penduduk Geoterra, di mulai dari


kalian!”


Seru Narciel dengan telepati


kepada semua yang berada di Vigrias dan sekitarnya.


“Ki…Kita mau dihukum?”


“E…Emang apa salah kita…?”


“Apa ini…nafas terakhir yang bisa


kita hirup…”


““…””


Semua yang berada di Vigrias dan


sekitarnya, baik warga, prajurit, anggota kerajaan, Petualang, hingga bandit,


mulai merasakan keputusasaan.


Kecuali Djinn, yang menyimpan


rahasia besar dari Sky Dragon.


……………


“(Sepertinya…kau tidak menyadari


sesuatu…yang bahkan…pria itu…tidak sadari…)”


Kata Sky Dragon, setelah


memberikan seluruh kekuatannya untuk Djinn.


“Emangnya apa?!”


“(Kau…tidak hanya kebal terhadap petir. Namun…kau juga mampu menyerap petir!)”


“!!!”


……………


Setelah mengingat itu, Djinn


hanya tersenyum.


“(Djinn…? Mengapa kau terse—)”


“Rakhzar! Lo masih bisa terbang,


kan?!”


“(Ya.)”


“Yaudah! Tolong bawa gue ke atas


langit! Gue mau lo lempar gue setinggi-tingginya, sebelum petir dari Malaikat


itu nyentuh sekitar kota ini!”


““!!!””


Mereka semua begitu terkejut


ketika mendengar permintaan Djinn.


“Bang Djinn! Itu bunuh diri!”


“Bangsawan ini bener, Djinn.


Belom tentu lo bisa tahan petir segede itu.”


“(Ya! Kau hanya menyianyiakan


hidupmu saja, Djinn!)”


Seru Bismont, Lupherius, dan


Göhran, secara bergantian.


Tidak hanya mereka bertiga. Semua


yang berada di sana mulai meragukan apa yang dikatakan Djinn.


Namun, berbeda dengan Myllo.


“Tunggu dulu, kalian semua!”


““…””


Mereka terdiam mendengar Myllo.


“…”


Myllo menghampiri Djinn.


“Lo yakin, Djinn?”


“Ya. Gue yakin, Myl.”


“OK! Kalo gitu, lakuin apa yang


lo sanggupin! Yang pasti, lo harus hidup!”


“Ya, Kapten!”


““*Phak! (suara tos)””


Djinn pun naik ke atas punggung


Rakhzar, lalu mereka terbang ke atas.


“*FWUSH! (suara terbang cepat)”


Melihat Djinn dan Rakhzar yang


terbang ke arahnya, Narciel hanya tertawa.


“Fuahahaha! Apakah itu rencana


bunuh dirimu, Pria Terjanji?!”


Seru Narciel, yang meremehkan


Djinn.


Sementara Djinn dan Rakhzar…


“OK! Lempar gue dari sini,


Rakhzar!”


“(Baiklah!)”


“*SWUSH! (suara terlempar dengan


sangat kencang)”


Rakhzar pun melempar Djinn


setinggi-tingginya.


“Terimalah ini, Pria Terjanji!”


“…”


“JUDGEMENT: ZEUS’S WRATH!!!”


“*JGRUM!!! (suara petir yang


sangat besar)”


Djinn pun tersambar oleh petir


dari Narciel.


““DJIIIINNNN!!!””


Sebagian besar yang mengenal


Djinn berteriak ketika ia melihatnya tersambar petir yang sangat amat besar.


“*BRUK! (suara terjatuh dari


ketinggian)”


“Rakhzar!”


“(…)”


Bahkan Rakhzar pun terhempas


akibat hempasan angin kencang dari serangan Narciel.


Namun, satu hal yang tidak mereka


semua ketahui.


“*Crrkkcrrrkk… (suara aliran


petir di tubuh)”


“(Ba…Badan ini kan…kayak waktu gue


lawan Tarzyn sama Manusia Iblis itu…)”


Djinn berubah wujud, dengan begitu banyak petir


yang mengalir di Tubuh-nya, serta suara yang berbeda.


Dengan wujudnya yang tidak ia kenali ini, warna


Tubuh-nya menjadi sama seperti petir. Ukurannya menjadi sedikit lebih besar


daripada ukuran Tubuh-nya yang normal. Bahkan sekujur Tubuh-nya terdapat


semacam ukiran simbol.


Selain itu…


“(Eh! Gue bisa terbang?!)”


…ia bisa melayang di udara.


“TI…TIDAK MUNGKIN!!!”


“…”


Djinn menatap Narciel yang


menghampirinya.


“Wu…Wujudmu ini…”


“(Mm? Lo tau ini wujud i—)”


“Demigod Form!”


Seru Narciel kepada Djinn dalam


Demigod Form.


“Ti…Tidak! Tidak, tidak, tidak,


tidak! Aku harus membunuhmu secepat—”


“*DHUMMMM…… (suara tekanan aura


yang sangat besar dan panjang)”


“…”


Narciel gemetar ketakutan ketika


ia merasakan aura yang sangat amat besar dari Djinn.


“Mu…Mustahil! Alangkah baiknya jika aku—”


“(Jangan lo pikir gue biarin lo lari, Narciel!)”


Sahut Djinn, sambil terbang


menghampirinya.


“(Judgement: Titan Wrath.)”


“*JGRUM!!! (suara keras pukulan


petir)”


Djinn memukulnya dengan sangat


amat keras, bahkan ia tidak menyadari jika petir dari langit terserap ke dalam ke


dalam kepalan tangannya, sebelum ia memukul Narciel.


“*Swuuusshh… (suara jatuh dari


ketinggian)”


“*BRUK!!! (suara menghantam tanah


dari ketinggian)”


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


Narciel jatuh dari ketinggian


akibat pukulan Djinn yang sangat keras.


“Ji…Jiwa-ku sudah mulai retak!”


Seru Narciel dengan panik.


“Akan tetapi, sepertinya ia tidak


menyadari jika aku masih hi—”


“*BRUK!!! (suara mendarat dari


ketinggian)”


“!!!”


Djinn pun datang kembali di


hadapannya, setelah ia berpikir bahwa Djinn tidak mengetahui keberadaannya.


“(Jangan lo pikir gue bego, Narciel! Nggak


mungkin lo gue tinggalin selama lo belom mati!)”


Seru Djinn, yang masih


menggunakan Demigod Form.


“Cih! Sepertinya aku harus menggunakan serangan terakhirku, sebelum


pergi dari tempat ini!”


Pikir Narciel.


“…”


Ia pun berdiri.


Bersama-sama, mereka bersiap


untuk pertarungan terakhir mereka.


“*DHUMMMM…… (suara tekanan aura


yang sangat besar dan panjang)”


Narciel mengeluarkan aura yang


sangat besar untuk mengintimidasi Djinn.


Namun…


“…”


…tidak ada tanda-tanda Djinn


terintimidasi.


“Judgement…”


“*Crrkkcrrkkk… (suara aliran


petir)”


“…Final Thunder!”


“*SWUSH!!! (suara gerakan sangat


cepat)”


Narciel terbang ke arah Djinn


dengan sangat cepat, bahkan tidak bisa diikuti mata orang pada umumnya.


Namun bagi Djinn…


“…”


…gerakannya sangat lambat, bahkan


melebihi yang ia lihat setiap kali menggunakan Extra Capacity.


“Hruaaaaaagh!”


Serangan petir yang terkumpul di


tangan Narciel hampir menyentuh Djinn.


Ketika serangan itu semakin


dekat…


“…”


…Djinn melentingkan tubuh ke


belakang untuk menghindari serangan itu, hingga ia tepat di bawah Narciel.


Sambil ia menghindari


serangannya, ia mencari Jiwa Narciel dengan Mata miliknya.


Setelah menemukannya…


“(Judgement: Titan Shot!)”


“*JGRUM!!! (suara tendangan petir


yang sangat keras)”


…Djinn menendang Narciel tepat di Jiwa-nya


dengan tendangan petir miliknya, hingga petir dari tendangan kerasnya itu


menyentuh luar angkasa.


“*Bruk… (suara tergeletak)”


“(Udah selesai, ya?)”


Bisik Djinn, sambil memperhatikan


Narciel yang sebentar lagi akan mati.