Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 167. For The Right Thing



Sebelumnya, ketika ketiga anggota Aquilla pergi meninggalkan Shelldrop milik Dreschya untuk menjalankan Quest Joint Party bersama Virgo dan Lynx.


“Urgh…”


Dalbert berusaha bangun dari istirahatnya yang cukup panjang.


“Eh! Ja-Jangan bangun dulu!”


“Mm? Lo itu… kalo nggak salah yang ngobrol bareng rekan-rekan gue, kan?”


Tanya Dalbert kepada Dreschya yang menemani dirinya dan Gia.


“Ma-Maaf sebelumnya! Gue ini Dreschya! Gue yang punya rumah ini!”


Jawab Dreschya yang salah tingkah di hadapan Dalbert.


Melihat tingkah lakunya, Dalbert merasa ada yang aneh dengannya.


“Hm? Lo namanya Dreschya, kan? Lo kenapa?”


“Ng-Nggak, kok! Nggak kenapa-kenapa!”


Jawab Dreschya yang berusaha terlihat baik-baik saja.


Sedangkan yang ada di dalam pikirannya…


“Kyaaaa! Ganteng bangeeeettt! Bukan artinya gue nggak nge-fans sama Myllo, Djinn, Gia, sama Garry! Tapi gue paling suka sama anggota yang satu iniiii!!!”


…adalah rasa kagumnya kepada Dalbert.


Sambil memperhatikan tingkah laku Dreschya, Dalbert juga memperhatikan sekitar rumah miliknya, di mana ia tidak melihat rekan-rekannya selain Gia.


“Myllo, Djinn, Garry… Mereka udah pergi, ya?”


“…”


Dreschya tidak menjawab pertanyaannya.


“Pe-Permisi, Dreschya?”


“Ah! Eh?! I-Iya, kenapa gan—Ups! Maksudnya, kenapa Dalbert?!”


“…”


Dalbert semakin mencurigai Dreschya.


“Tadi gue nanya. Myllo, Djinn, sama Garry udah pergi, ya?”


“I-I-Iya, Dalbert.”


Jawab Dreschya.


Dalbert pun menanyakan segala rangkaian kejadian. Mulai dari kedatangannya di Postriard Island, pertemuan Aquilla dengan Dreschya, hingga Quest yang sedang dijalankan oleh ketiga rekannya.


Namun, ada satu hal yang membuatnya semakin heran akan tingkah laku Dreschya.


“Jadi Quest-nya dimulai pagi-pagi, ya?”


“Iya, Dalbert.”


“…”


Sambil menyimak jawaban dari Dreschya, ia melihat ada yang gerak-gerik Dreschya.


“Ke-Kenapa nih cewek duduknya makin deket ke gue?”


Pikir Dalbert yang memperhatikan posisi duduk Dreschya yang semakin dekat dengannya.


Dan lebih parahnya lagi…


“Dre-Dreschya…?”


“I-Iya, Dalbert?”


…wajahnya semakin dekat dengan wajah Dalbert.


“Ma-Maaf! Wajah lo kedeketan!”


“E-Eh! Maaf, maaf, maaf!”


Seru Dreschya yang merasa bersalah karena salah tingkah.


Merasa begitu jatuh hati dengan Dalbert, Dreschya pun mengungkapkan perasaannya.


“Da-Dalbert…”


“Hmm?”


“Kok… ganteng banget, sih?”


Tanya Dreschya dengan malu-malu.


Namun, alih-alih mendapatkan respon positif…


“AAAAAARGGGHHH!!!”


“!!!”


…ia justru dikejutkan dengan teriakan Dalbert.


“Da-Dalbert?! Ada a—”


“I-Itu pujian yang paling bahaya buat gue! Jangan puji-puji gue!”


Seru Dalbert dengan wajah memerah.


Dengan peringatan Dalbert, justru Dreschya tidak berhenti memujinya.


“Hahaha! Lucu banget, sih!”


“Woy! Udah gue bilang jangan puji-puji gue!”


“Emang lo cowok favorit gue, ya!”


“Eh?! Kenapa lo malah puji gu—”


“Udah ganteng, kuat, tambah lagi lucu!”


“Gue bilang jangan puji-puji gue!”


Dengan begitu, Dreschya terus menggodanya dengan pujian.


Akan tetapi, ia teringat akan ketiadaan kakaknya. Oleh karena itu, ia hendak pergi untuk mencari kakaknya.


“Maaf ya, Dalbert. Gue pergi dulu. Mau cari abang gue.”


“O-OK.”


“…”


Dengan kepergian Dreschya, ia pun merasa lega.


“Haaaaah… Untung aja cewek itu pergi! Bisa-bisanya dia rusak mental gue yang kebal pujian!”


Seru Dalbert setelah menghela nafas.


Tidak lama kemudian, Gia mulai terbangun dan langsung…


“*Phuk…”


…memeluk Dalbert.


“Woy! Lo ngapain peluk-peluk gue?!”


Seru Dalbert yang wajahnya semakin memerah.


“Iiih! Bukannya kamu seneng digodain? Apalagi aku ini cewek cantik, loh.”


“Ba-Bawel! Kalo lo emang hobi godain cowok! Dasar cewek aneh!”


“Cih!”


Seru Gia dengan kesal.


Setelah Gia terbangun, Dalbert menjelaskan kondisi mereka saat ini kepada Gia.


“Oh gitu, ya? Artinya mereka bertiga lagi jalanin Quest, ya?”


“Ya.”


Jawab Dalbert.


Namun, ada perasaan menngganjal yang dirasakan Dalbert.


“Gia, tentang gue yang dorong Myllo untuk ambil Quest itu…”


“Mm?”


“Lo sendiri nggak apa-apa, kan?”


“…”


Gia terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan Dalbert.


“Duh, jangan-jangan dia kesel lagi sama gue…”


Pikir Dalbert ketika melihat respon dari Gia.


“Yaaaa, sebenernya sih kesel.”


“Oh, gitu ya…”


Balas Dalbert dengan perasaan bersalah.


Namun, Gia meluruskan maksudnya.


“Nggak, bukan kesel sama kamu, Dalbert.”


“Bukan sama gue?”


“Ya. Andai aku lebih kuat lagi, mungkin aku nggak perlu tinggalin mereka!”


Mendengar jawaban Gia, Dalbert merasa ada yang janggal.


“Tinggalin mereka? Kan kita yang ditinggal.”


“Nggak! Kalo emang mereka ambil Quest itu, ya emang itu tanggung jawab kita sebagai Petualang! Tapi karena kita yang masih belum sembuh, mereka harus jalanin Quest tanpa kita! Entah kenapa tau kejadiannya kayak gitu, aku jadi ngerasa kalo kita yang tinggalin mereka, yang jalanin Quest tanpa kita berdua.”


Jelas Gia akan perasaan yang ia rasakan saat ini.


Mendengar penjelasannya, Dalbert pun merasakan hal yang sama.


Mereka pun sama-sama berpikir…


““Andai kita lebih kuat lagi!””


Namun, momen kegelisahan mereka berhenti sampai di situ saja.


““Aaargh!””


“Lari! Lari!”


Mereka mendengar suara teriakan warga dari dalam Shelldrop milik Dreschya.


“Ada apa di luar sana?!”


“Mending kita cek aja!”


“OK, Dalbert!”


Bersama-sama, mereka pun pergi dari kediaman Dreschya untuk mencari tahu permasalahan di lokasi kejadian.


……………


Mereka melewati beberapa warga yang berlari ketakutan.


“Minggir! Ada monster!”


Jawab salah seorang warga yang ketakutan.


Sambil berlari, Dalbert mengaktifkan peralatan miliknya untuk memantau kejadian yang membuat warga


begitu ketakutan.



“…”


Ia melihat adanya sesosok mahluk asing yang baru saja menghancurkan sebuah Golem.


“Ma-Mahluk apa itu?!”


Teriak Dalbert yang begitu terkejut dengan mahluk yang ia lihat itu.


“Da-Dalbert ada a—”


“Gawat! Dreschya mau dihajar!”


Seru Dalbert kembali.


“Gia! Gue harus cari posisi! Pokoknya lo ke arah sana, sebelum monster yang liat nyerang orang-orang yang lagi dia kejar!”


“OK, Dalbert!”


Mereka pun berpisah.


Dalbert melompat dari tiap-tiap Shelldrop untuk mencari sudut yang baik untuk menembakkan senjatanya. Sedangkan Gia berlari sesuai dengan arahan Dalbert.



“*DOR!”


“Grrrr…”


“Hraaaagh!”


“*PRANG!”


Mereka bersama-sama menyerang mahluk itu.


“Gruuuugh!”


Dengan murka akibat dilukai oleh Dalbert, mahluk itu pun hendak menyerang mereka, di mulai dari Gia.


“Gruuuuugh!”


Ia hendak menyerangnya dengan sihirnya yang baru ia kuasai.


Namun…


“*PRANG!”


…World Quaker yang Gia gunakan terbukti ampuh untuk menghadang sihirnya.


Gia pun hendak membalas serangannya.



“*PRANG!”


Namun serangan yang ia gunakan juga tidak memberikan pengaruh apa-apa baginya.


“*PRANG! PRANG! PRANG!”


Mereka terus saling beradu serangan.


Hingga akhirnya mahluk tersebut menyerah dalam menggunakan sihir miliknya.


“Gruuugh!”


“*Hup!”


“Gruuuagh!”


“Aaargh!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Ia melempar Gia dengan keras, hingga terlontar jauh.


Melihat tidak adanya Gia di hadapannya, mahluk itu hendak mengincar Dalbert yang melukainya.


Namun…


“Gruuugh?!”


…ia tidak mendapati adanya Dalbert.


Sambil mencari-cari keberadaan Dalbert…


“*Dor! Dor! Dor!”


…ia merasa ada yang menembaknya. Akan tetapi ia tidak bisa menemukan keberadaan penembak tersebut.


Itu semua karena satu hal.


“Untung aja gue dapet Obscure Cloak ini dari Raja Glennhard!”


Dalbert menggunakan Artifact[1] barunya yang ia dapat sebagai hadiah dari penguasa Erviga tersebut.Sementara Gia, yang terpental jauh…


“Untung aku nggak kenapa-kenapa!”


…terlihat baik-baik saja.


Ketika ia berdiri, ia mencoba mengingat sesuatu ketika berhadapan dengan mahluk itu.


“Kenapa waktu berhadapan sama monster itu… aku bisa ngerasain perasaan sedih dari monster itu, ya? Entah kenapa, perasaan yang aku rasain dari monster itu… bikin aku inget perasaan Lorvah yang aku hadapin waktu itu.”


Pikir Gia ketika menghadapi mahluk itu.


Ketika ia hendak pergi kembali melawan mahluk itu, ia melihat adanya burung-burung yang terbang ke arah mahluk itu.


Hal itu membuatnya heran.


“Burung-burung itu mau pergi ke mana? Ke monster itu?”


Pikirnya sambil berlari ke arah mahluk itu.


Ketika ia kembali, ia melihat suatu keanehan dari mahluk itu.


“*Chirp, chirp, chirp…”


“Grugh? Gruuugh!”


“???”


Gia melihat mahluk itu bermain bersama dengan burung-burung yang ia lihat tadi.


Ketika Gia mengetahui Dalbert yang hendak menyerang mahluk itu…


“Dalbert! Tunggu dulu!”


…ia menghentikannya.


“Kenapa berhenti?! Kan kita lagi—”


“Tunggu dulu! Coba liat burung-burung itu!”


Seru Gia kepada Dalbert.


Melihat burung-burung itu, Dalbert turut merasa heran dengan tingkah laku mahluk itu.


“Iya, ya. Kenapa monster itu tiba-tiba main sama burung-burung itu?”


Pikir Dalbert yang memperhatikan mahluk dan burung-burung itu.


Sambil menyaksikan kedua mahluk itu…


“Hruaaaargh!”


…Berius justru hendak menyerang mahluk itu yang sedang lengah.


“Cukup!”


“Jangan lo serang monster itu!”


“!!!”


Berius begitu terkejut ketika melihat Gia dan Dalbert yang menghalanginya.


“Woy! Kok kalian malah tahan gu—”


“*Chrip, chrip, chrip!”


“Grugh? Gruuugh!”


Mahluk itu seketika meninggalkan mereka semua dan mengikuti arah terbang burung-burung yang bermain bersamanya.


Melihat kepergian mahluk itu membuat Berius marah besar kepada mereka berdua.


“Dasar tolol! Liat yang lo berdua lakuin! Kenapa kalian biarin monster yang bunuh warga-warga itu pergi?!”


Tanya Berius dengan marah kepada mereka berdua.


Ketika mereka melihat korban-korban dari mahluk itu, mereka begitu terkejut. Namun, mereka tidak mau mengambil kesimpulan dari serangan mahluk itu.


“Nggak mungkin mahluk itu serang desa ini tanpa alasan!”


“Alasan?! Kenapa monster itu butuh alasan untuk serang desa ini?! Ngomong aja nggak bisa?! Apalagi punya akal?!”


“Tapi dia punya perasaan! Liat aja tuh! Dia bisa main sama burung-burung itu!”


Gia dan Berius pun terus berdebat.


Karena perdebatan mereka yang tiada hentinya, Dalbert pun menghentikan mereka.


“Gia. Dia ada benernya.”


“Dalbert?! Kenapa kamu—”


“Mending kita pastiin dulu monster itu. Apa mungkin sesuai kayak yang lo bilang, atau yang kayak orang ini bilang.”


Saran Dalbert kepada Gia.


“Ya, kamu bener. Kalo gitu, ayo kita ikutin mahluk itu, Dalbert!”


“OK!”


Mereka pun pergi meninggalkan Clamista menuju ke dalam hutan untuk mengejar mahluk itu.


Akan tetapi…


“…”


“Bang… Bang Berius?! Kenapa ikutan per—”


“Tunggu sini, Dreschya!”


…mereka berdua tidak menyadari akan Berius yang mengikuti mereka.


“Ngeliat monster itu, gue yakin kalo monster itu nggak lebih dari projek mereka!”


Pikir Berius yang baru menyadari sesuatu yang berkaitan dengan masa lalunya.


_______________


[1]Peralatan khusus selain senjata yang membantu seorang Petualang, khususnya Observer dan Keeper.