Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 166. The Hunters and The Revenger



“Grrrrr!”


Mahluk itu kesal dengan serangan Berius.


Walaupun…


“Cih! Nggak mempan, ya?!”


…serangan sebelumnya yang ia lancarkan terlihat sia-sia.


“Gruaaaaagh!”


Monster itu pun hendak menghampirinya untuk menyerangnya.


“*Swush!”


Ia berusaha memukulnya, walaupun Berius dapat menghindari serangan itu dengan mudah.



“*Bhuk!”


Berius merubah lengan besinya menjadi senjata tumpul dan langsung memukulnya.


“Grrrr!”


“Huaaaargh!”


“*Bhuk!”


“Haaaargh!”


“*Bhuk!”


Ia tetap memukul mahluk itu tanpa henti dengan lengan besinya tersebut. Walaupun ia sadar jika serangannya sia-sia, ia tetap percaya jika serangannya itu pada akhirnya akan berhasil.


Namun…


“Gruuuugh!”


“*Tap!”


“!!!”


…ia tidak menyangka jika mahluk itu berhasil menangkap lengan besinya.


“Si-Sialan—”


“Gruuuugh!”


“*Swush!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Mahluk itu melemparnya dengan jauh, hingga terlontar ke tanah.


“B-Berius!”


“Tenang aja, Dyewien! Gue masih baik-baik aja!”


Seru Berius kepada Dyewien yang mengkhawatirkannya.


“Grrrrr…”


Teriakan dari Dyewien membuat mahluk tersebut sadar akan keberadaannya.


Oleh karena itu, mahluk itu hendak menghampiri Dyewien dan membunuhnya.


“Dyewien! Pergi dari sana! Sekarang!”


Seru Berius yang mengkhawatirkan Dyewien.


Namun…


“…”


…Dyewien begitu takut untuk bergerak.


Akan tetapi, datanglah bala bantuan yang membuat Berius lebih khawatir.


“*Boom!”


“Grrrr!”


“Bang Berius! Lo nggak apa-apa, bang?!”


Tanya Dreschya yang baru saja datang dan langsung menembak mahluk itu dengan meriamnya.


“Dreschya! Kenapa lo dateng ke sini?! Cepet pergi!”


“Hah?! Pergi?!”


“Ja-Jangan lawan monster i—”


“Kita itu Pemburu, bukan?! Kenapa kita harus pergi, selama kita ada di depan mangsa?!”


Tanya Dreschya kepada Berius yang masih tergeletak.


“Denger ini, bang! Lo nggak perlu khawatirin soal gue! Selama gue masih jadi Pemburu, gue pasti bangga mati sebagai Pemburu!”


“Dreschya…”


Bisik Berius yang terbujuk oleh keyakinannya sebagai seorang Pemburu.


“Daripada khawatirin gue, mending lo berdiri sekarang, bang!”


“Ya. Kalo gitu, mending kita lawan monster itu!”


“OK, bang!”


Balas Dreschya, sambil memperhatikan kakaknya yang berdiri untuk menghadapi monster itu bersama.


“Gruuuuaaagh!”


Monster itu pun berlari ke arah mereka berdua.



Berius merubah lengannya menjadi sebuah perisai besar yang hampir menutupi seluruh tubuhnya.


“Gruuuaaagh!”


“*PRANG!”


“Keuk…”


Pukulan mahluk itu begitu keras, hingga membuat Berius hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya.


“*Boom!”


“…”


Tembakan meriam dari Dreschya hanya sia-sia.


“Grrrr—”


“*Boom! Boom! Boom!”


Walaupun sia-sia, Dreschya terus menembak mahluk itu dengan meriamnya.


“Grrrrr!”


Mahluk itu begitu kesal dengan tembakan dari Dreschya.


Namun, karena rasa kesal itu, perhatiannya menjadi teralihkan dan ia melupakan keberadaan Berius.



“*Bhuk!”


“Gruuuurgh!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Dengan sihirnya, Berius merubah lengannya kembali menjadi senjata tumpul.


Namun, kali ini lengannya itu berubah menjadi sebuah lontaran yang membuat mahluk itu terpental jauh.


“Bang! Lo berhasil serang monster itu!”


Seru Dreschya yang begitu senang dengan serangan Berius.


Akan tetapi, respon Berius tidak sama positifnya dengan adiknya.


“Jangan seneng dulu, Dreschya! Coba perhatiin baik-baik!”


“!!!”


Dreschya begitu terkejut ketika melihat mahluk itu yang masih bisa berdiri dengan tegap.


“Kok… Kok dia masih bisa berdiri?!”


“Serangan gue nggak lebih dari pantulin dia doang! Tapi efek serangannya nggak ada gunanya!”


Jelas Berius kepada adiknya, yang masih tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.


“Te-Terus gimana cara kita kalahinnya…?”


“…”


Berius sadar akan rasa takut dan putus asa yang dirasakan oleh adiknya.


Karena ia sendiri juga merasakan hal yang sama.


Tapi yang lebih ia rasakan sebenarnya…


…adalah rasa penyesalan yang ia sesali ketika tidak mempersiapkan keadaan darurat seperti sekarang.


Namun, Berius tidak ingin menyerah.


“Dreschya! Tembakin bom asap ke monster itu!”


“OK, bang!”


Jawab Dreschya, yang langsung mengganti amunisinya dan menembak monster itu.


“*Pufff…”


“Grrrrr!”


Monster itu pun tertutup oleh asap dari meriam Dreschya, sehingga ia tidak bisa melihat apapun yang berada di sekelilingnya.


“…”


Ia mengumpulkan beberapa material yang berada di dekatnya sebelum merapal mantra sihir miliknya.


“Cih! Nggak gue sangka kalo sekarang gue pake sihir yang dia ajarin!”


Pikirnya akan seseorang, sebelum merapal mantra sihirnya.



“*Brrkkk…”


Berius menciptakan sebuah Golem yang terbuat dari material yang ia kumpulkan sebelumnya.


“Denger perintah gue!”


“Grrrkk…”


“Serang monster yang ada di balik asap itu!”


Seru Berius kepada Golem yang ia ciptakan.


“*Bruk! Bruk! Bruk!”


Golem itu berjalan menghampiri mahluk itu.


“Grrruagh! Gruagh!”


“*Fwush! Fwush! Fwush!”


Sedangkan mahluk itu berusaha menghempaskan asap yang menghalang pengelihatannya.


Ketika asap-asap itu hendak menghilang…


“*BRUK!”


…Golem ciptaan Berius pun langsung memukul mahluk itu dengan keras.


“*BRUK!”


“Grrr—”


“*BRUK!”


Golem itu terus memukulnya.


Dengan aksinya tersebut, Berius pun memaksimalkan kesempatan untuk membawa Dyewien dan Dreschya pergi dari mahluk itu.


“Bang! Kok kita—”


“Nggak! Kita nggak akan bisa lawan monster itu! Mending kita lari dari sini!”


“Tapi desa ini—”


“Ya. Desa ini akan hancur.”


Kata Dyewien dengan perasaan kecewa.


“Kepala Desa! Kok desa ini dibiarin—”


“Saya pun juga tidak ingin membiarkan desa ini hancur, Dreschya! Walaupun akan hancur, setidaknya keselamatan nyawa para warga desa adalah prioritas saya!”


Jawab Dyewien dengan gelisah.


Sedangkan mereka berlari, Golem itu terus memukul mahluk itu.


“Grrr—”


“*BRUK!”


Ketika mahluk itu terus dipukul oleh Golem itu…


“*Bruk…”


…tiba-tiba lengan Golem yang memukulnya hancur.


“Grrrr…?”


Mahluk itu sadar jika ia menggunakan sihirnya untuk menciptakan suatu penghadang yang berada di depan wajahnya.


Selain itu, ia juga menyadari bahwa sihirnya itu ampuh dalam menghancurkan lengan Golem yang berusaha


memukulnya.


Dengan sihir itu…


“*BRUK!”


…ia pun memperlebar ukurannya menjadi selebar tubuhnya, lalu mendorongnya ke arah Golem itu, yang mana sihir itu langsung menghancurkan Golem tersebut.


“Grrrr!”


Dengan hancurnya Golem itu, ia pun hendak menyerang Berius dan yang lainnya.


Namun, ia pun memikirkan cara yang paling efektif untuk mengejarnya.


“Gruuugh…”


“…”


“*Swush!”


“Gruugh!”


Dengan menggunakan sihir yang sama, mahluk itu menjadikan sihir tersebut menjadi suatu papan yang bisa ia pijak dan ia gerakan.


Sambil menggerakan sihir ciptaannya itu, ia langsung bergerak dengan cepat ke arah mereka bertiga.


“Bang! Liat itu, bang!”


““!!!””


Berius dan Dyewien begitu terkejut ketika mereka mendengar adanya mahluk yang mengejarnya itu dengan sangat cepat.


“Cih! Dia tiba-tiba ngejar, ya?!”


Pikir Berius yang kemudian berhenti untuk merapal sihir.



“*Syut!”


“*Chrang!”


“!!!”


Berius begitu tidak percaya dengan apa yang ia saksikan.


Bola baja yang ia rembakkan ke arah mahluk itu seketika hancur seperti kaca yang pecah.


“Gruuuugggh!”


Mahluk itu hendak menghampiri mereka semua.


“Ng-Nggak mungkin!”


“Ki-Kita bakal mati!”


“Ti-Tidak!”


Seru Berius, Dreschya, dan Dyewien yang sudah putus asa untuk berlari.


Sampai pada akhirnya, bala bantuan datang dan menyelamatkan mereka.



“*DOR!”


“*Shruk!”


“Grrrr!”


Dalbert menembak mahluk itu dari atas salah satu Shelldrop, hingga menembus lengan mahluk itu.


“Grrr—”


“Hraaaagh!”


“*PRANG!!!”


Gia juga datang dan langsung menyerang mahluk itu dengan World Quaker yang beradu dengan Sihir Penghalang mahluk itu.


“Mereka itu…”


“Dua anggota Aquilla! Horeee!”


Seru Dreschya yang begitu senang dengan kehadiran mereka berdua.