
“Terus, kita mulai dari mana?”
“Kertas yang lo ambil tadi, bisa
lo giniin!”
Waw! Jadi peta gitu, dong!
“Bedanya titik ini sama titik ini
apa, Myl?”
“Kalo titik yang ini, lokasi
kita. Kalo titik yang silang ini, itu tujuan kita, Xia Village!”
Oh…gitu.
Keliatannya sih deket, tapi gue
gak yakin aslinya sedeket itu.
“Yaudah, Djinn. Kita balik aja ke
penangkaran kuda tadi. Kita berangkat sekarang.”
“OK.”
Hadeh, jadi nggak enak gue sama
Myllo. Asli deh.
.........................
Udah berhari-hari kita jalan,
sekarang kita sampe di desa yang namanya Xia ini.
Sebenernya perjalanannya lebih
cepet daripada dari Calmisiu ke Milkin, tapi karena kita istirahat di tengah
jalan karena udah malem, jadinya kita sampe di tempat ini sekitar jam 10 pagi.
“Djinn! Ada kedai! Ayo kita
makan-makan!”
“Tunggu…”
“Hah? Ada apa?”
“Nggak, cuma ngecek uang kita
aja.”
“Ah, nggak usah dipikirin! Yang
penting kita—”
“*Tung… (suara memukul kepala)”
“Woooy! Kok kepala gue dipukul?!”
Gimana nggak gue pukul?! Dia baru
aja nganggep remeh duit!
“Ayo ke kedai itu. Tapi makannya
dikit aja ya. Sayang uangnya.”
“Woy! Jangan pelit-pelit! Yang
penting kita harus seneng-seneng dulu sebelum mulai investigasi!”
“Justru itu! Lo soalnya suka
nggak tau diri kalo minum!”
“Ngaca, woy! Lo kalo makan lebih
gak tau diri lagi!”
Hadeh, debat lagi, debat lagi…
Sambil debat yang gak penting,
kita masuk ke dalem kedai. Tapi waktu kita masuk…
““…””
Gue bisa ngerasain banyak orang
yang pelototin kita.
“Me…Mereka itu Petualang?”
“Yah, mereka mau ambil buah
kita, lagi…”
“Haduh, mulai deh berulah
lagi…”
Mereka semua pada ngomongin
apaan? Kok kedengerannya kayak jelek gitu nama Petualang di tempat ini?
“Myl, ada yang an—”
“Mending coba kita tanya ke bartender-nya
aja.”
Kita akhirnya langsung duduk di
meja bar.
“Permisi, Pak Kumis! Mau alkohol
buatan desa ini, dong!”
Woy! Gak sopan!
“Myl, lo nggak laper, apa? Tambah
lagi, kenapa mesen satu botol?! Lo kira murah?!”
“Iya, iya! Satu botol aja! Buru
pesen makan!”
“Haaah…yaudah. Pesen makan ini
sama kopi aja, pak”
“…”
Kita nikmatin pesenan kita.
Uniknya, gue kayak pernah
ngerasain bumbu dari makanan ini.
“Ini…bumbu kacang, pak?”
“Hm? Bumbu kacang?”
“Ah, maaf. Lupain aja.”
Gue kira bumbu kacang beneran!
“Huaaah! Enak banget birnya,
pak!”
“…”
Aneh.
Kok kita berdua ditatap dingin
gitu ya sama bartender ini?
Gue sama Myllo pun nyantap menu
yang kita pesen.
“Kalian berdua itu…Petualang,
ya?”
“Bener! Gue Myllo Olfret, orang
yang bakal jadi—”
“Dia biasa dipanggil Myllo, kalo
gue…panggil aja Djinn.”
“Grrr!”
Dia nanya nama lo doang, bukan mimpi
lo! Jangan malu-maluin!
“Hmm…”
““Hm?””
Karena dia natap tajem kita
berdua, gue cuma bisa balik natap tajem dia.
“Kenapa, Pak Kumis? Ada kecoa di
kepala kita berdua?”
“Iya.”
“AAAAHHHH!!! DI MANA?! DI MA—”
“*Tung… (suara memukul kepala)”
“Makanya nanya yang bener dikit,
dongo!”
“Ah, maaf…”
Hadeh…dari semua pertanyaan,
kenapa pertanyaan kayak gitu yang ditanya?
“Ngomong-ngomong, ada yang salah
sama kita berdua, pak? Kenapa orang-orang disini pada ngeliatin kayak gitu,
pak?”
“Kalo kalian berdua itu Petualang,
warga disini jadi mandang jelek kalian.”
“Kok gitu—”
“Tujuan kalian berdua apa dateng
kesini?”
Loh kok gue langsung ditanya
gitu?
Karena keliatannya gue sama Myllo
gak bisa dipercaya, mending kasih unjuk aja deh Quest-nya.
“Nih, pak.”
Si Bartender ini baca Quest yang
gak sengaja gue ambil.
“Hmm…begitu, ya? Ternyata ada
baru pergerakan juga ya dari negara.”
Baru ada pergerakan? Jadi
sebelumnya nggak ada pergerakan?
“Maaf, pak. Waktu bapak ngomong
kayak gitu, kesannya kejadian ini udah lama kedengerannya. Emang kapan pertama
kali ada kejadian ini?”
“Hmm…kurang lebih 10 tahun yang
lalu…”
“10 tahun?!”
Terus, Quest-nya udah berapa lama
diterbitin?!
“Atau mungkin…negara juga mau yang
ada di tempat ini?!”
Hah? Maksudnya?
“Hicc…Pak Kumis…emangnya
ada apa di tempat ini…?”
Nah, kan?! Udah mabok, kan?!
Padahal masih pagi, tambah lagi
minumnya belom ada setengah botol, tapi udah mabok!
“Kalian…nggak tau ada apa di
tempat ini?!”
“Kita da…hicc…dateng dari
luar pulau…hicc…”
“Kalo gue baru pertama kali jadi
Petualang. Ini aja Quest pertama.”
“…”
Emangnya ada apaan sih di tempat
ini?! Emangnya ada yang penting di tempat ini?!
“Yakin? Atau kalian cuma—”
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Denger ya, pak! Kita nggak
peduli mau ada apa di tempat ini! Kita cuma mau investigasi Monster-Monster
yang katanya selalu nyerang tempat ini!”
“Ba…Baiklah. Kalo gitu, saya
punya penginapan di tempat ini. Mungkin kalian berdua mau istirahat sejenak di
tempat ini.”
Sebenernya sih nggak ada niatan
untuk istirahat. Tapi kalo ngeliat Si Dongo satu ini…
“Hanyawnyawnyaw…”
Dia udah teler aja! Tambah lagi,
telernya jelek banget!
“OK. Gue panggilin cucu gue
dulu.”
Si Bartender itu pergi. Dia mau
cari cucunya untuk jamu kita berdua.
“Woy, Dongo! Lo masih—”
“Kak Sylv…maafin…hicc…aku,
kak…”
Dia ngigo?
Tapi kok ngigonya minta maaf ke
kakaknya sendiri? Emangnya dia ngapain?
Ya…mungkin gue gak perlu tau
sejauh itu, deh.
“Hadeh, cucu gue gak tau kemana.
Maaf kalo nggak bisa layanin kalian. Mungkin kalian bisa tunggu dulu? Atau
mungkin lo mau keliling desa ini, sembari nunggu cucu gue?”
“Tapi temen gue—”
“Nggak masalah. Biar aja dia
tidur di bar ini. Lo kalo mau keliling, keliling aja dulu.”
“OK, makasih.”
Akhirnya gue keliling-keliling
desa ini.
Bentuknya sih nggak beda jauh
Kalo Calmisiu, tempatnya banyak
padang rumput sama ladang gandum. Kalo disini tempatnya lebih kuning aja.
““…””
Itu beberapa petani ngeliatin gue
tajem banget, padahal gue cuma liatin pertaniannya aja.
“Woy orang bertopeng!”
Siapa yang manggil gue?
“Lo Petualang?! Hah?!”
“…”
“Kenalin! Gue Bob! Orang yang ada
disini pasti kenal Pahlawan Xia yang namanya Bob ini!”
“Bang, bang, bang. Kayaknya dia
takut, tuh. Hahaha!”
“Bang, topengnya keren ya bang,
ya? Gue ambil aja kali ya—”
“*Krak! (suara patah tulang)”
“Aaaggghh! Ta…Tangan gue…”
Ya elah. Gayanya kayak preman,
tapi nggak ada apa-apanya.
“Wo…Woy! Kok lo nyakitin warga
sini?! Lo mau diusir warga sini?! Hah?!”
“…”
Waduh, ternyata dia mau nuduh
gue?!
“Lo pasti mau ambil Buah Xia kan
di tempat ini?! Lo kira kita nggak tau kalo Petualang-Petualang yang udah ke
tempat ini tujuannya untuk apa?! Hah?!”
Lah, mana gue tau udah ada
Petualang yang ke tempat ini?!
“Bob! Jon! Ron! Kalian berulah
lagi sama Petualang, ya?!”
Eh, siapa itu yang dateng?
Rambut pirang yang dikuncir,
badannya juga agak lebih tinggi untuk perempuan.
“Hai, hai, pacarku!”
“Ih! Aku bukan pacar kamu! Jangan
bikin rumor jelek, dong!”
“Tenang aja, sayang…kamu pasti
butuh aku, kok. Contohnya…”
“Ah! Bob keshayangan akyu yang
tampwan!”
Hah? Kok temennya yang nyontohin?
Jijik banget…
“A…Anu, maafkan mereka,
Petualang. Mereka semua itu cuma pengangguran yang terlalu bodoh dan cuma bisa
membual saja. Tambah lagi, sebenarnya ‘Bob Sang Pahlawan’ itu nggak lebih dari
pengecut yang hobi mengompol aja.”
“Pffttt…”
Aduh! Hampir gue ketawa! Lucu
banget dengernya, asli!
““Hahaha!!!””
Tuh kan, bukan gue doang.
Petani-petani itu juga ketawa dengernya!
“Gia…kamu serius ngomong kayak
gitu?!”
“Memang benar kan, sayang?”
Waw, ngomong sayang-sayang aja nih
cewek!
Gue tau sih itu bukan sayang
beneran, cuma mau mancing orang tengil satu ini aja.
“Da…Dasar keterlaluan!”
“Ukh!”
“Lo…Lo kira ini lucu?! Dasar
perempuan jahanam!”
Si Bob itu tiba-tiba nyekek
perempuan yang namanya Gia ini.
OK. Sekarang udah nggak ada yang
lucu lagi.
“Woy.”
“*Krak… (suara patah tulang)”
“AAAAGGGHHH!!! SAKIT!!!”
“Lo serius nyekek cewek? Mana ada
‘Pahlawan’ kayak gitu?!”
“Si…Sialan lo, Petualang! Lo
berani macem-macem sama gu—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“HIKH!!!”
“Lo masih berani ngancem gue?
HAH?!”
“A…A…Ampun…hiks…ampun…”
“…”
Eh! Dia beneran ngompol!
“Loh kok…”
Jadi pada gemeteran gitu? Bahkan
petani-petani itu juga gemeteran.
Apa mungkin karena gue marah
kali, ya?
Tapi perempuan ini…
“Tuh kan, kamu berulah lagi sih
sama Petualang itu! Jadi kena sendiri kan?!”
Keliatannya dia doang yang nggak
gemeter—
“…”
Oh, gemeteran deh…keliatan dari
tangannya.
Oh iya, daripada makin jadi
tontonan, mending gue lepas aja deh.
“Haff…haff…haff…”
“Gue nggak tau masalah lo apa
sama Petualang, tapi kalo lo macem-macem sama gue, ya gini akibatnya. Paham?”
““Ma…Maafin kita, Abang
Petualang!””
Mereka bertiga langsung lari.
“Kyaaa! Keren banget, Petualang!”
Eh?! Kok nih cewek tiba-tiba
meluk lengan gue?!
“Semua! Maafin ya! Ini tamu aku,
kok! Dia kenalannya Roxanne!”
Hah? Kapan gue jadi tamunya—
“Ayo, Petualang! Ikut aku!”
“Hah—”
Loh! Kok gue tiba-tiba ditarik?!
Gue pokoknya ditarik jauh dari
petani-petani tadi.
Kayaknya ada maksud dari tindakan
cewek yang namanya Gia ini.
“Hadehhh…”
“Hm—”
“Hey! Kok kamu ekstrem banget,
sih?! Kirain mau sekedar nolongin! Kenapa juga sampe harus patahan tangan orang
itu?!”
“Oh…itu… Ah, maaf deh.”
“Haaahhh…kamu bikin nama
Petualang makin jelek aja kalo bikin kayak gitu!”
Iya sih, soalnya nama Petualang
juga udah jelek di tempat ini.
Tapi apa yang bikin nama
Petualang jadi jelek di tempat ini?
Oh iya, sebelum gue nanya lebih
jauh…
“Permisi, mau berapa lama peluk
lengan gue?”
“Ah, kirain kamu suka—”
“Maaf, gue risih.”
“Cih!”
Buset! Tangan gue dilempar gitu
aja!
Ini cewek kenapa?!
Kelainan kali, ya?!
“Ngomong-ngomong, keliatannya
kamu bingung ya, Petua—”
“Djinn, panggil aja Djinn.”
“OK, Djinn. Kamu pasti bingung ya
kenapa Petualang kesannya jelek di tempat ini?”
“Iya. Ini Quest pertama gue jadi
Petualang, makanya bingung soal masalah Petualang sama warga sini.”
“Hmm…ini Quest pertama kamu, tapi
kamu udah sampai Kasta Hijau, ya. Keren juga.”
Oh iya, pantes aja pada tau gue
sama Myllo itu Petualang. Kan karena barang ini, ya. Tambah lagi, gue pasang
barang ini di pundak gue. Sedangkan Myllo pasangnya di pinggang dia.
“Djinn, kamu pernah denger yang
namanya Buah Xia?”
“Apaan itu?”
Waktu gue tanya gitu, kayak gini
kira-kira penjelasan Gia.
Buah Xia, buah yang katanya buah
yang paling berharga di negara ini. Buah ini bisa bikin orang makin kuat, entah
untuk Tubuh atau untuk Jiwa.
Untuk Tubuh, buah ini bisa bikin
fisik orang makin kuat banget fisiknya. Sedangkan untuk Jiwa, buah ini bisa
nambahin kapasitas Mana orang.
Efek dari buah ini gak bisa
didapetin dua-duanya. Kalo Tubuhnya makin kuat, belom tentu Jiwanya makin
banyak Mana-nya.
“Terus, apa hubungannya sama
Petualang?”
“Petualang itu pekerjaan yang bahaya,
kan? Di samping itu, di mata beberapa orang, pekerjaan itu nggak lebih dari
sekedar tumbal untuk kedamaian dunia, walaupun mendapat pujian jika
semakin terkenal.”
Bener juga ya.
Kalo banyak kerjaan yang bahaya,
kenapa nggak negaranya aja yang turun tangan?
“Makanya itu, banyak Petualang
yang mau coba ambil Buah Xia sebanyak-banyaknya. Padahal 1 buah aja bisa sampai
10 emas, loh.”
“Artinya buah itu mahal, kan?
Berarti para Petualang itu niatnya mau…”
“Ya. Mereka pasti mau coba terus
untuk rampas buah-buah itu!”
Oalaah…pantesan.
Ya elah. Gue kira semua Petualang
baik.
Ternyata di dunia ini sama aja.
Di mana ada putih pasti ada juga hitem.