
Djinn dan rekan-rekannya telah menemukan pintu masuk ke Hidden Dungeon. Bersama-sama, mereka masuk ke dalam hal yang tidak diketahui oleh sebagian besar warga dunia.
Oleh karena itu, Auqveern selaku Walikota mengumpulkan beberapa Mistyx lainnya di depan Patung Sang Pengelana.
“Semuanya! Saya mohon bantuan kalian untuk jaga Patung Sang Pengelana, ya! Ini permintaan Pak Maghroz!”
“Siap, Walikota!”
“Kalo itu permintaan Pak Maghroz, kita siap bantu!”
“Orang yang namanya Myllo itu masuk sana, ya?! Yaudah! Kalo gitu saya siap jagain bareng temen-temen saya!”
Sahut beberapa Mistyx mendengar ajakan dari Auqveern.
……………
Kali ini, di suatu tempat yang berada di Postriard Island.
“…”
Seseorang sedang mengintai situasi yang ada di Mistyx Town dari jarak yang sangat jauh.
“Ada sesuatu yang sedang terjadi di Mistyx Town.”
Bisik pria tersebut, sambil menyaksikan banyaknya warga Mistyx yang berlari kesana dan kemari.
“Hey, kalian semua! Saya mohon, agar kiranya ada dari antara kalian yang mengabari Ilmuwan Wickerd terkait apa yang saya saksikan!”
Sahut pria tersebut, yang merupakan anggota Chemia yang setia kepada Ghibr Doldrah.
“Bu-Bukankah Ilmuwan Wickerd menjelaskan kepada kita, bahwa kita tidak perlu mengkhawatirkan Mistyx lagi?”
“Benar! Kita hanya perlu mencari keberadaan Hidden Dungeon!”
“Lantas, mengapa anda kembali memantau Mistyx Town?!”
Sahut anggota Chemia lainnya secara bergantian.
Karena mendengar rekan-rekannya itu, pria tersebut merasa kesal dan tidak memperdulikan mereka.
“Hey! Mengapa anda kembali memantau Mistyx Town?!”
“…”
Pria tersebut diam saja sebagai tanda tidak perduli.
“Tinggalkan saja dia! Alangkah baiknya jika kita kembali mencari Hidden Dungeon!”
“Ya.”
Bersama-sama, mereka hendak meninggalkan pria tersebut dan melanjutkan aktifitas mereka untuk mencari
Hidden Dungeon.
Namun, pria tersebut menahan mereka semua.
“HEY! HEY! COBA LIHAT INI!!!”
““Hm??””
Rekan-rekannya merasa heran dengan seruan pria tersebut.
“Apa yang anda lihat? Apakah itu pen—”
“Ikuti saja kata-kata saya, bodoh! Ini penting!”
““…””
Mereka saling bertatap-tatapan, sebelum mengikuti perkataan pria tersebut.
Setelah mereka melihat itu semua…
"“!!!”"
…mereka mulai mempercayai kata-kata pria tersebut.
Akhirnya, mereka mulai memanggil Wickerd dengan panik.
“Ilmuwan Wickerd! Ini berita genting!”
“Hm?”
Wickerd hanya memperhatikan Orb Call yang ia genggam dengan heran.
“Ada apaan?! Kalo nggak penting, gue bunuh lo semua!”
““Hieeeekh!””
Mereka semua takut ketika mendengar ancaman Wickerd.
““…””
Mereka menjelaskan semua yang mereka saksikan kepadanya.
“Serius lo?!”
“Ka-Kami serius, Ilmuwan Wi—”
“Kalo sampe bohong, gue bunuh lo berempat!”
““Ka-Ka-Kami serius, Ilmuwan Wickerd!””
Seru mereka dengan takut.
Setelah itu, Wickerd menutup Orb Call miliknya.
“Woy, kalian denger itu kan?”
Tanya Wickerd kepada Kwajoe, Thelial, dan Brandt.
“Ya. Kita denger.”
“Mereka ngomongnya kenceng kayak gitu! Ya kali kita nggak denger!”
“Emangnya kita budek?!”
Seru Kwajoe, Thelial, dan Brandt kepada Wickerd.
“Cih! Dasar brengsek! Gue cuma nanya aja!”
Balas Wickerd dengan kesal, hingga urat terlihat di kepalanya.
Setelah bertanya kepada mereka, Wickerd menghubungi Ghibr untuk memastikan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
“Oh gitu, ya?”
“Ya. Gue sendiri juga kaget, Ghibr.”
Balas Wickerd setelah menjelaskan
semuanya kepada Ghibr.
“Yaudah. Kalian bawa semua Homunculus dan Chimera yang kita buat ke dalam tempat itu.”
“Terus, kita harus ngapain di sana?”
“…”
Ghibr terdiam sejenak sebelum menjelaskan tugas yang akan ia berikan kepada mereka.
“Pertama, saya mau kalian cari yang namanya Kaswar Ramsias.”
“Kaswar Ramsias?”
Tanya Wickerd dengan heran.
“Ghibr, kok kedengerannya dia dari Kaum Fratta, ya?”
Tanya Kwajoe yang merasa heran.
“Ya. Dia emang Kaum Fratta. Dari informasi yang saya dapat, dia nggak pernah keluar dari sana.”
““!!!””
Mereka begitu terkejut dengan informasi yang Ghibr paparkan kepada mereka.
“Jadi, saya mau kalian rekrut dia sekeras mungkin. Kalo dia tolak, kalian culik. Paham?”
““Paham.””
Seru Wickerd dan yang lainnya.
“Untuk yang kedua. Kalo kalian ke Hidden Dungeon, kalian pasti tau kan ada apa di sana?”
“Ancient Armament, ya?”
“Udah tau kan harus ngapain?”
“Ya. Kita pasti ambil senjata kuno itu, Ghibr.”
Sahut Wickerd kepada Ghibr.
“Oh ya, ada tugas terakhir untuk kalian.”
“Hm?”
“Hidden Dungeon itu punya pemimpin. Saya mau kalian bawa pemimpin Hidden Dungeon yang sekarang.”
““!!!””
“Lo gila, ya?! Emangnya kita bi—”
“Kalian pasti bisa. Lagian, kalian itu eksperimen saya yang paling berhasil, bukan? Harusnya kalian itu lebih kuat dari Mahluk Abadi.”
Jelas Ghibr, dengan maksud meyakinkan mereka.
“Kalian paham, kan?”
““…””
Mereka hanya mengangguk dan hendak menjalankan tugas dari Ghibr.
Namun, Wickerd sebagai pria yang paling mengerti Ghibr, merasa ada yang Ghibr sembunyikan.
“Ghibr, sebelumnya gue mau tanya.”
“Hm? Ada apa, Wickerd?”
“Maaf kalo gue kesannya kayak ikut campur. Tapi lo itu masih mau balas dendam, ya?”
“…”
Ghibr terdiam ketika ditanya oleh Wickerd.
“Keliatannya saya nggak perlu jawab pertanyaan anda, Wickerd.”
“…”
Wickerd seketika merasa bersalah.
“Tanpa saya jawab, anda udah tau kan jawabannya?”
“Kayaknya sih gitu…”
Balasnya sambil menundukkan kepala.
“OK, Ghibr. Kalo gitu kita berangkat sekarang.”
“Ya. Nanti saya nyusul. Masih ada yang harus saya urus di sini.”
Jelas Ghibr, sambil menutup Orb Call dan mengadah ke atas langit.
“Untuk siapapun yang lagi mantau saya dari atas sana, turun sekarang!”
“…”
“Jangan anda pikir saya bodoh, ya!”
Seru Ghibr dengan lantang.
Mendengar Ghibr, seorang wanita langsung datang menampakkan diri di hadapannya, dari atas langit dengan 3 pasang sayap.
“Sepertinya aku tidak perlu bersembunyi lagi, semenjak kau mengetahui keberadaanku, Ghibr Doldrah.”
“Oh, ternyata anda ya, Maleviel[1]?”
Tanya Ghibr kepada Maleviel.
“Seorang Petualang Kasta Merah, Rounder Terbaik Ketiga, serta Vice-Guildmaster dari Serpentis.”
“…”
Maleviel hanya tersenyum dengan dingin kepada Ghibr.
“Saya heran.”
“Hm?”
“Orang-orang pada kenal anda, tapi nggak ada yang tau siapa Guildmaster dari Guild Ketiga Terbaik di dunia? Apa mungkin kalian cuma boneka dari Centra Geoterra?”
“…”
Maleviel tetap tersenyum dengan dingin, walaupun Ghibr mencemooh dirinya dan Guildmaster yang ia layani.
“Tenang saja, Ghibr Doldrah. Pada akhirnya, dunia akan mengetahui siapa Guildmaster kami sebenarnya, sampai semuanya terlihat aman.”
“Terlihat aman?”
Tanya Ghibr dengan heran.
“Ya. Guildmaster kami adalah pria yang sangat berhati-hati. Tidak seperti seseorang yang ingin terlihat pintar, namun malah membuat namanya menjadi tercoreng dan gagal sebagai Guildmaster. Tentu kau tau siapa maksudku, bukan?”
“Cih!”
Ghibr merasa kesal ketika mendengar provokasi dari Maleviel.
“Jadi, kalian mau apa, Serpentis?!”
Tanya Ghibr dengan nada kesal.
“Hanya memberi sebuah peringatan saja kepadamu.”
“Peringatan?!”
“Ya. Mungkin, dengan peringatan ini, kau bisa memperbaiki namamu sebagai Guildmaster.”
Jelas Maleviel kepada Ghibr.
“Peringatan? Memperbaiki nama saya? Maksud anda apaan, Maleviel?”
“…”
Kembali Maleviel tersenyum, sebelum menjawab pertanyaan Ghibr.
“Tidak hanya kau dan Chemia saja yang hendak memasuki Hidden Dungeon, Ghibr Doldrah.”
“…”
Ghibr terdiam ketika mendengar peringatan Maleviel.
“Ups. Apakah nama Guild-mu adalah Chemia? Atau mungkin kalian menggunakan nama Guild yang baru? Atau mungkin sekarang kalian tidak lebih dari sekedar kumpulan peneliti gila saja?
“…”
“Fufufu… Maaf jika aku terlihat menghinamu, Ghibr Doldrah.”
Kata Maleviel dengan tertawa kecil, setelah mencemooh Ghibr.
Namun…
“…”
…Ghibr hanya tersenyum dengan sinis kepada Maleviel.
“Tenang aja, Maleviel. Semenjak saya tau kalo ada yang mantau, saya udah siap kok.”
“Siap?”
“Ya. Saya siap untuk bunuh siapapun yang mau hadang jalan saya.”
Seru Ghibr, sambil mempertahankan senyum sinisnya.
“Baiklah jika kau merasa seperti itu, Ghibr Doldrah.”
Kata Maleviel.
“…”
Ia berjalan ke arah Ghibr, sambil menyampaikan sesuatu kepadanya.
“Oh ya, kau ingin tahu siapa Guildmaster kami, bukan?”
“Hm?”
“Malam nanti, ketika bulan terlihat di puncak langit, di tempat ini, sepertinya kau bisa menemui Guildmaster kami.”
Jelas Maleviel, sambil terus berjalan hingga di samping Ghibr.
Lalu, ia menyampaikan kata-kata terakhirnya sebelum pergi dari hadapannya.
“Dan satu lagi, Ghibr Doldrah?”
“Kau bilang kami adalah boneka Centra Geoterra?”
“*DHUMMM…….”
“Tidakkah kau bercermin?”
Tanya Maleviel, sambil mengeluarkan aura yang begitu besar di samping Ghibr.
“Tidakkah kau merasa, bahwa kau adalah boneka yang hanya ingin berada di Ranking Petualang, dengan menciptakan senjata militer bagi mereka?”
“…”
Maleviel pun pergi darinya.
Tanpa memandang Maleviel, Ghibr justru merasa puas, walaupun harus merasakan aura yang begitu besar.
“Hmph! Ternyata saya yang menang adu provokasi lawan cewek itu, ya?”
Pikir Ghibr sambil tersenyum lega.
_______________
[1]Namanya diubah dari Malariel (Chapter 58) menjadi Maleviel.