Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 163. Things in Common



Memori.


Suatu kepingan masa lalu yang dimiliki oleh semua orang.


Namun, apakah itu yang mendefinisikan seseorang?


Jika memang seperti itu…


Apakah seorang pahlawan dengan memori yang pahit menandakan ia adalah pahlawan yang buruk?


Apakah seorang penjahat dengan memori yang manis menandakan ia adalah penjahat yang baik?


Bagaiamana jika seseorang yang tidak memiliki memori?


Apakah itu menandakan bahwa orang tersebut seperti kertas putih yang tidak bernoda?


Lantas, apakah orang tersebut baik? Apakah orang tersebut jahat?


Apakah aku ini wanita yang baik? Atau wanita yang jahat?


Siapakah diriku sebenarnya?


“I-Ibu! ada orang di atas Shelldrop!”


“Hah?! Mana dia, nak?”


“Dia tiba-tiba hilang, bu!”


Bersembunyi.


Hanya itulah yang bisa kulakukan.


Jika aku mendekati anak kecil itu, maka orang-orang akan menyebutku dengan nama Ocean Witch.


Apakah itu identitasku yang sebenarnya?


Jika memang mereka mengetahuiku, mengapa mereka begitu takut akan aku?


Aku hanya ingin mengetahui siapa diriku yang sebenarnya!


Namun, aku pun juga tidak ada bedanya dibandingkan orang-orang di sekitar tempat ini.


Karena, ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di tempat ini…


“*Zhumm…”


…aku merasakan sesuatu yang sangat mengerikan dari beberapa orang yang kutemui waktu itu.


Bukan penduduk di desa yang bernama Clamista ini, namun penduduk yang berada dari arah sa—


“*…boom…”


“…”


Suara ledakan itu…


Sepertinya berada dari arah negara itu.


Apakah sedang ada peperangan? Apa mungkin ada musibah besar?


Entah mengapa…


Aku tidak berani untuk mendekati negara tersebut.


Karena ada sesuatu yang sangat berbahaya yang kurasakan begitu terasa hingga ke desa ini.


Ya. Tidak ada kedamaian di negara tersebut, khususnya tanah yang pertama kali kutapakkan kakiku.


Bahkan di desa ini pun juga tidak ada rasa damai dan ketenangan yang kurasakan.


“Haaaaah… Susah juga ya dapetin Sea Serpent yang itu!”


“Seenggaknya kita berhasil tangkep Sea Serpent ini, deh!”


Kedua orang tersebut…


Jika tidak salah, mereka itu disebut Petualang.


“…”


Ada yang aneh.


Tindakan mereka tidak lebih dari seorang pembunuh berdarah dingin, yang memotong semua monster laut itu hingga berkeping-keping!


Namun…


Mengapa selalu ada dorongan di dalam diriku untuk mengambil potongan-potongan dari monster laut yang mereka


sebut Sea Serpent itu?


“…”


Karena dorongan yang kurasakan ini…


“*DHUM……”


““!!!””


…aku pun juga terdorong untuk menghabisi dua Petualang ini.


“A-Ada apa?!”


“I-Ini kan… Do—”


““*Shrak!””


““…””


Baiklah. Mereka semua berhasil kubunuh.


Aku pun mendapatkan potongan-potongan monster laut yang mereka sebut Sea Serpent ini.


Tujuanku mengambil ini semua hanya karena satu alasan.


Yakni untuk mengembalikan ingatanku.


“*Tap…”


Kusentuh kepingan-kepingan Sea Serpent ini, lalu aku dapat melihat masa lalu dari Sea Serpent ini.


……………


“Ayah. Aku datang di hadapanmu.”


Memori ini…


Siapakah pemiliknya?


Di manakah keberadaan Sea Serpent yang kusentuh sebelumnya?


“Baiklah, anakku! Waktunya kita bersiap-siap!”


“Bersiap-siap?! Apakah itu—”


“Tidak ada yang lebih penting daripada mempertahankan samudra melawan Nahuakin Empire dan Water Dragon Empress!”


“Ti-Tidak, ayah! Ini semua hanya—”


“*Shrak!”


“!!!”


Ayah dari pria itu… menusuknya?


“A-Ayah… Apa yang telah kau laku—”


“Kemuliaan bagi kita, Para Siren!”


……………


“Hufffftt!”


“*Bruk…”


Tidak…


Itu terlalu keji!


Bagaimana mungkin ia tega membunuh anaknya sendiri?!


Apakah ini hukum dunia?!


Dan lagi…


Tidak ada petunjuk baru yang kudapatkan.


Semua hanya ada ras yang disebut Siren, beberapa nama kekaisaran, serta Water Dragon Empress yang tidak kuketahui identitas sebenarnya.


“…”


Sepertinya ada yang hendak menghampiriku.


Baiklah. Sudah waktunya bagiku untuk pergi dari tempat ini.


……………


“Aaaaargh! Gue pusing! Gue mau minum dulu!”


Pria beropeng itu sedang bersama dengan tiga orang lainnya, kah?


“Djinn! Myllo teh—”


“Yaudah, nggak apa-apa. Nanti bisa kita bahas.”


“Hehe! OK, ayo kita ke kedai!”


Kedai, kah?


Tempat yang paling sering dikunjungi oleh orang-orang di sekitar tempat ini.


Beruntunglah aku telah menempelkan Sajak yang kutulis di tembok kedai itu, tanpa diketahui oleh orang lain.


Untung saja aku masih memiliki sedikit memori dalam menggunakan Runecraft.


“Jadi apa yang telah kau dapatkan, Ollie Remington?”


“Lokasi sarang mereka ada di dalam goa yang ada di bawah laut. Di bawah sana, gue bisa liat ratusan Sea Serpent sama Ocean Witch.”


Pria yang berbicara itu…


Ah, ya. Aku menemuinya ketika ia memasuki rumahku yang berada di bawah laut.


Andai mereka tidak kutemui, mungkin saja mereka tidak selamat, jika bukan karena aku yang menolong mereka.


“Kau menemukan Ocean Witch?!”


“Ya. Dia—”


Semakin kacau?!


Apakah wanita itu mengenalku?!


Jika benar ia mengenalku, apa mungkin yang ia maksud adalah fakta bahwa aku ini seorang penjahat?!


“Tunggu dulu, Piedda.”


“Ada apa, Myllo The Wind?”


“Dari reaksi lo, entah kenapa gue ngerasa ada sesuatu yang lo tau tentang Ocean Witch itu. Kenapa nggak lo—”


“Lihatlah luka ini, Myllo The Wind.”


Luka?


Cih! Andai saja aku dapat melihatnya, mungkin saja ada memoriku yang kembali.


“Luka ini adalah bekas dari Ocean Witch!”


“Bekas luka…?”


“Ya—”


“Artinya, gue bisa simpulin kalo lo itu cuma mau dendam pribadi, dong?”


“Tidak. Jika hanya sekedar membalas dendam saja, artinya aku tidak ada bedanya dengan mahluk buas, seperti wanita itu!”


Aku?! Mahluk buas?!


“Wanita itu hampir memusnahkan sanak saudaraku!”


“!!!”


A… Apa yang ia bilang?!


Mengapa aku hendak memusnahkan—


“Urgh!”


Ke… Kepalaku sakit sekali!


“…”


Bahkan Runecraft yang aku pasang pun terputus denganku!


Jika memang benar bahwa aku ini telah berbuat keji seperti itu, apa mungkin aku ini… tidak layak hidup?!


Lantas, apakah aku harus mati sa—


“He-Hentikan! Kendalikan amarah…”


Urgh!


Mengapa memoriku seketika kembali?!


Selain itu…


Si-Siapakah wanita yang terlintas di benakku ini?!


“Pria Terjanji?”


Pria… Terjanji?!


“Jalannya adalah kehancuran. Langkahnya adalah kematian. Tujuan akhirnya adalah malapetaka bagi dunia ini.”


“A-Apa maksud—”


“Uaaargh!”


Mengapa memoriku yang kembali hanya sebatas itu saja?! Tambah lagi—


“…”


Pria bertopeng itu sepertinya telah keluar dari tempat yang bernama kedai itu.


Lalu, mengapa ada asap yang keluar dari mulut…


Tunggu…


Apa mungkin ia adalah Pria Terjanji?


“…”


Aura yang ia pancarkan… sangat berbeda dari semua orang yang kulihat di dunia ini.


“Aku mengenalmu.”


“!!!”


“Ada memoriku yang kembali, yang mengatakan bahwa…”


“…”


“Jalanmu adalah kehancuran. Langkahmu adalah kematian. Tujuan akhirmu adalah malapetaka bagi dunia ini.”


“!!!”


Ia sepertinya tidak mengerti maksudku.


Apa mungkin ia tidak memiliki memori juga?


Atau mungkin… kita sama-sama tidak mengetahuisiapa diri kita yang sebenarnya?


“…”


Ia pergi bersama rekan-rekannya, setelah menatap diriku.


Untung saja hanya dirinya yang menatap diriku.


Baiklah, sepertinya waktuku telah habis di tempat ini.


Alangkah baiknya jika aku bersiap-siap untuk membunuhnya di dalam rumahku.


“…”


Jika kupikir dengan seksama, sepertinya aku tidak membutuhkan Sea Serpent yang telah kusimpan.


Alangkah baiknya jika kupasangkan Runecraft di beberapa Sea Serpent, agar kiranya mereka meledak dan menjebaknya.


Walaupun aku tidak tega membunuhnya karena tidak mengenalnya lebih dalam lagi, setidaknya aku memiliki alasan yang kuat untuk memahami maksudku.


Semenjak kita berdua memiliki suatu kesamaan, yang mana kita berdua sama-sama berbahaya bagi sekitar kita.


Baiklah. Waktunya aku mempersiapkan semuanya.


“…”


Dengan Sajak ini, aku bisa pergi ke rumahku dan ke titik ini kapan saja dengan sangat cepat.


“…”


Lalu Sajak ini bisa kugunakan agar bisa melihat sesuatu dari pohon ini, dimanapun aku berada.


Baiklah, sejauh ini persiapanku sudah matang.


Alangkah baiknya jika aku—


“*Srrkssrrkk…”


Suara semak-semak?


Ada apa di balik semak-semak i—


“Gruuuurgh…”


“!!!”


Ma-Mahluk apa itu?!


Namun…


“…”


Aku tidak merasakan adanya bahaya dari mahluk i—


“Hm?”


“…”


Ia melihatku?


“Siapakah dirimu, wahai mahluk asing?”


“Grugh, grugh, grugh…”


Sepertinya ia tidak bisa berbicara.


Namun, aku mengerti apa maksud darinya.


“Kau tidak mengenal siapa dirimu, benar?”


“Grugh, grugh. grugh!”


“Ya. Aku pun juga tidak mengenal siapa diriku.”


“Grugh…”


“Tidak usah bersedih. Karena kita memiliki suatu kesamaan, setidaknya kita tidak merasa kesepian, benar?”


“Grugh!”


Beruntunglah diriku bertemu dengannya.


Namun, rencanaku tetap harus berjalan.


“Wahai, mahluk asing. Bisakah kutinggalkan dirimu untuk sementara?”


“Gruuuughh…”


“Tenang saja. Aku akan kembali untuk menemuimu.”


“Grugh, gruuugh!”


Ia mau pergi ke desa itu?!


“Jangan! Tempat itu berbahaya! Kau harus waspada, wahai mahluk asing!”


“Gruuugh! Grugh!”


“…”


Sepertinya ia marah. Aku tidak tahu penyebab kemarahannya apa, namun ada atau tiada dirinya, aku sudah terbiasa dengan kesendirianku.


Baiklah, alangkah baiknya jika aku mempersiapkan kedatangannya secepatnya.