Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 83. The Only Way to Defeat Calamity



Tarzyn keliatannya mau jalan ke


arah kita bertiga.


“*Prang! (suara pedang besar)”


Gia udah siapin pedang gedenya.


“OK! Zegin, tolong sekali lagi!”


“*Swushh… (suara angin)”


Tiba-tiba Myllo berubah wujud.


Rambutnya jadi agak kehijau-hijauan.


Pupil matanya juga berubah jadi hijau.


Sedangkan gue…


“*Crrrkk… (suara kilatan petir)”


…udah siap sama sihir baru gue


ini.


“…”


Gue sempet kepikiran pake pedang


ini. Tapi insting gue bilang belom waktu yang pas untuk pake pedang ini.


“*Fwush! (suara gerakan cepat)”


Buset! Cepet banget terbangnya!”


“*Prang! (suara pedang besar)”


“Urgh!”


Gia langsung nahan serangan dari


Tarzyn pake pedangnya.


“Sekarang, Myllo! Djinn!”


“Hyaaaaatt!”


“…”


“*Bhuk! (suara pukulan)”  “*Tuk! (suara pukulan tongkat)”


Gue sama Myllo pukul dia bareng.


Tapi…


““*Zwush! (suara banyak lahar)””


…lahar ini kenapa gerak sendiri?!


“Awas, Djinn! Lahar-lahar ini ada


dibawah kendali Tarzyn!”


“Hah?!”


“Karena ini teritori kekuasaan


dia! Makanya dia bisa gerakin lahar-lahar ini sesuai kehendaknya!”


Gila kali! Curang banget


kekuatannya!


““*Zwush! (suara banyak lahar)””


Laharnya ganggu banget!


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Ahak! Urgh!”


“…”


Gila! Gia dipukul keras kayak


gitu, tapi dia malah tahan tangan Tarzyn?!


“Myllo! Djinn! Aku udah tahan dia!”


“OK! Hyaaaaatt!!!”


“*Tuktuktuktuktuk… (suara banyak


pukulan tongkat)”


“…”


Eh! Tangannya kok kayak bara


api?!


“Gia! Lepas tangannya!”


“Ya!”


“*Vwumm… (suara tangan berapi)”


Itu sihir dia?! Bisa berapi gitu


tangannya!


Mirip kayak Erkstern waktu itu!


“…”


Sambil ngehindarin lahar-lahar


ini, gue terus pantau pergerakan Myllo sama Gia yang lagi lawan Tarzyn.


“Myl! Awas disentuh tangannya!”


“Oh! Hup!”


“…”


Huh! Untung Myllo berhasil


hindarin pukulan api itu!


Tapi, bukan artinya mereka bisa


bebas dari Tarzyn!


“…”


Tarzyn terbang ke arah Gia!


Coba gue pake sekarang kali, ya?


“Judgement: Charge!”


“*Jgrumm… (suara sambaran petir)”


“*Chhhrrrk! (suara tersambar


petir)”


“Hah?! Apa itu?!”


“Hehe! Sialan, dapet kekuatan


baru lo, ya?!”


Huh, untung aja gue bisa setrum


Tarzyn pake sihir petir gue!


Artinya, mungkin lahar-lahar yang


ngejar gue ini bisa gue tahan juga pake petir gue!


“Judgement: Multi-Charge!”


“*Jgrumm… (suara petir)”


Karena sihir gue, tiba-tiba


keluar petir dari 5 jari gue yang nyamber lahar-lahar yang ngejar gue.


“*Boom! (suara ledakan)”


Karena petir-petir gue nyamber


lahar-lahar itu, makanya muncul ledakan. Makanya itu udah nggak ada lahar-lahar


yang ngejar gue, jadinya…


“Judgement!”


“*Jgrum! (suara pukulan petir)”


“…”


…gue langsung serang Tarzyn!


Dia sekarang gue hajar terus.


Karena berantemnya jarak deket, makanya gue bisa maksimalin Pencak Silat yang


udah gue campur sama kekuatan baru gue!


“*Jgrumm… (suara pukulan petir)”


“…”


“*Jgrumm grum… (suara pukulan


petir)”


Untungnya Tarzyn cuma bisa


ngandelin kekuatan kerasnya aja. Karena dia nggak ada teknik, jadinya gue bisa


nangkis sama ngehindarin serangan dia.


“…”


“Zegin Swing!”


“*Tuktuktuktuk… (suara ayunan


tongkat)”


Gue tahan gerakan Tarzyn, abis


itu Myllo pake kekuatan dewanya untuk nyerang Tarzyn. Cuma puterin tongkatnya,


dia udah bisa nyerang Tarzyn berkali-kali.


“*Vwumm… (suara tangan berapi)”


“Urgh!”


Tangan dia udah mulai berapi


lagi!


“Myllo! Djinn!”


Denger aba-aba dari Gia, gue


langsung ambil ancang-ancang.


“Udah siap?!”


“Ya!”


Karena Gia udah siap, gue pun


lempar Tarzyn, abis itu Myllo…


“Zegin’s Blow!”


…kencengin lemparan gue pake


angin dari dewanya.


Terakhir, sisa Gia.


“Iron Crusher!”


“*PRANG! (suara terkena pedang


besar dengan keras)”


“*Swush… (suara terlempar jauh)”


“*Bruk, bruk, bruk… (suara jatuh


terpental)”


“…”


Buset, jauh banget Tarzyn


kepentalnya!


Serem nih cewek!


“Wuhuuuu! Kompak banget serangan


kita!”


“Hihi! Ya!”


“Hmph!”


Kita tos sama-sama karena


berhasil satuin kombinasi serangan kita.


“Luar biasa. Sungguh luar biasa,


kalian bertiga.”


“Terima kasih karena mau membantu


kami untuk menghentikan raja kami, Myllo, Djinn, Gia!”


Göhran sama Rakhzar dateng


nyamperin kita untuk puji kita berdua.


Nggak cuma mereka, ‘anak-anaknya’


Gia juga nyamperin kita bertiga.


“Mamaaa!”


“Mama kewen banget!”


“Uncung Mama nggak kengapa-kengapa…”


“Huu, Mama…”


“Kyaaa! Anak-anak mama!”


Kok bisa dia tiba-tiba punya anak…?


“Ahaha! Mungkin anda penasaran,


Yang Mulia. Mereka adalah bayi-bayi Naga yang secara kebetulan ditemukannya dan


menganggapnya sebagai ibu mereka.”


O…Oooohhh…


“Kalian bertiga memang kuat,


namun pertarungan belum berakhir!”


“…”


Buset! Kayaknya tadi serangannya


Gia sakit banget! Kenapa dia masih bisa diri?!


“Bersiaplah, kalian semua!”


Bersiap?! Emang ada apaa—


“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”


“*Brrrr… (suara getaran bumi)”


“*Boom! (suara ledakan)”


Eh! Kenapa gempa lagi!


Nggak tanggung-tanggung! Gempanya


lama banget! Nggak abis-abis!


Selain itu, hawanya jadi panas


banget di tempat ini! Kalo hawanya sepanas ini pasti…


“Huff…huff… Aku…Aku


sesek nafas!”


“Haaaahhh…butuh air!”


Ya, semuanya pasti jadi sesek


nafas, walaupun anehnya gue nggak sesek.


“Ga…Gawat! Kalian harus sesegera


mungkin membunuh beliau, sebelum—”


“Tidak, Göhran. Semuanya sudah


telat! Lihatlah itu!”


““…””


““Ha…Ha…HAAAAAAAAAHHHHH?! GEDE


BANGET!!!””


Gila! Itu bentuk asli dari Tarzyn?!


Gila! Itu bahkan 2 kali lebih


tinggi daripada Monas!


“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”


“*Brrrr… (suara getaran bumi)”


“*Boom! (suara ledakan)”


Gila! Gempanya makin kenceng!


Udaranya makin panas!


“Dj…Djinn…”


“Hah?!”


“…”


Duh! Karena gempa kenceng banget,


makanya gue nggak bisa denger apa-apaan!


“…nuh…liau!”


“APA?!”


“KITA HARUS BUNUH BELIAU DISINI


JUGA, SEBELUM BELIAU KELUAR DAN MENGHANGUSKAN GEOTERRA!”


Gimana caranya?!


Kalo pun harus dibunuh disini


juga, cara yang paling masuk akal juga dibunuh di luar teritori dia!


“KITA BAWA KELUAR DIA!!!”


“MYLLO, KAU AKAN MENCELAKAKAN—”


“GÖHRAN! PERCAYA SAMA GUE!


Myllo bener!


“BAIKLAH! KAMI AKAN MEMBUKA


PORTAL UNTUK KELUAR DARI TEMPAT INI!!!”


……………


“*Vruum… (suara portal terbuka)”


““Aaaarrgghh!””


“Huek!”


Akhirnya kita semua keluar dari


Hidden Dungeon itu, walaupun ada beberapa yang mual karena keluar dari portal


i—


“*CHRAK!!! (suara cakaran)”


Hah… Kok langitnya kayak ada yang


ca—


“GRRRR…”


“Si…Sial! Kami tidak menyangka


beliau mengejar kita secepat ini!”


Gila! Dia cuma cakar doang bisa


keluar dari tempat tadi?!


“…” …


Tambah lagi…kenapa badannya


sekarang kayak berapi gitu?


“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAARRRRRR!!!”


Aduh! Dia ngeraung lagi! Bikin


sakit kuping!


“Gu…Gue nggak bisa denger apa-apa!”


“Te…Telingaku… Aaaaarrghh!”


Karena posisi dia ngeraung ada di


deket kita, makanya ada banyak dari kita yang kupingnya berdarah!


“(Sekarang, mari kita lakukan


segala upaya untuk menghentikannya!)”


““YA!””


Göhran, Rakhzar, sama beberapa


orang yang lainnya ubah bentuk mereka jadi Naga.


““*Boom! Boom! Boom! (suara


semburan Naga)””


Ada beberapa dari mereka yang


coba sembur pake api.


““*Chrak! Chrak! Chrak! (suara


cakaran)””


““Haurp! Haurp! Haurp!””


Ada juga beberapa dari mereka


yang coba cakar ataau gigit raja itu.


“Mama… Mama dan temang-temang udah bisha dengew, kan?”


“Ya. Makasih ya, Bareo…”


“Ya, Mama!”


Sedangkan salah satu anaknya Gia


sembuhin pendengaran mereka.


“Myllo, Djinn, kita harus apa?!”


“Kita—”


“RUOOOOOAAAAAAAAAAAAA…..”


Duh! Dia ngeraung lagi!


“…”


Myllo ngomong apaan, tuh?!


“…”


“…”


Sumpah! Ini raungannya panjang


banget! Gue nggak bisa denger apa-apa selama dia ngeraung!


“…AAAARRRRRR!!!”


“…”


Huh! Untung dia udah selesai!


Kalo gue perhatiin, anak-anaknya


Gia pada jagain Myllo sama yang lainnya supaya mereka aman dari raungan itu.


Tapi ada yang aneh, kenapa mereka


semua nggak ada yang takut, ya?!


Padahal sebelumnya mereka pasti


pada takut waktu Tarzyn ngeraung.


““Rooaaaarr!””


“I…Itu…”


“Naga-Naga yang ada di negara


ini?”


“Mu…Mungkin kita dapat bala


bantuan?!”


Bala bantuan?!


Nggak, ini ada yang aneh!


Kenapa mereka dateng waktu raja


itu abis ngera—


“(Waspada kalian, Mahluk Fana!)”


Göhran sama Rakhzar kenapa balik


lagi?


“Hah, ada a—”


“*Boom! (suara semburan api)”


“Mylloooo!!!”


Myllo kena bola api dari mulut


salah satu Naga yang terbang!


“Tenang! Gue udah menghindar


sebelum api itu nyentuh gue!”


Untung aja dia udah berubah lagi!


“(Kalian semua, waspadalah!


Naga-Naga yang datang itu adalah Naga-Naga yang tidak bisa melawan perintah


dari beliau!)”


“Maksudnya?!”


“Kami bisa melawan perintahnya


berkat perlindungan dari Dewa Agung Arkhataz lewat Sylv! Sedangkan mereka hidup


di luar Hidden Dungeon dan tidak bisa melawan perintahnya!”


Tuh kan! Gue udah curiga kenapa


mereka semua tiba-tiba dateng!


“*FWUSH! (suara kepakan sayap


Tarzyn)”


““Urgh!””


Dia ngepakin sayap aja udah


langsung hancur pohon-pohon di sekitar sini!


“Kawan-kawan! Lebih baik kalian


hentikan saudara-saudara kita yang terkena Dragon King’s Cry! Biarkan aku dan


Rakhzar yang coba mengejarnya!”


“Baiklah, Göhran!”


Naga-Naga dari Hidden Dungeon pun


coba lawan Naga-Naga yang ada di negara ini, yang totalnya ada ratusan.


“Gia! Gue serahin semua sama lo


yang ada di sini!”


“Eh?! Maksudnya—”


“Djinn! Lo ikut gue bareng Göhran


sama Rakhzar!”


“OK!”


Gue naik Rakhzar, Myllo naik


Göhran.


Kita berempat mau coba kejar


Tarzyn.


“Jadi, kita harus ngapa—”


“(Tidak… Sudah terlambat…)”


“…”


Apaan itu?!


Kenapa ada bola api yang gede


banget dari mulut dia!


“Itu adalah salah satu sihirnya…


Dragon King: Inferno Rain…”


Rain? Maksudnya ujan?


“*BOOM!!! (suara bola api


Tarzyn)”


“…”


Kenapa dia nembak ke atas?



Tunggu! Namanya Rain, kan?!


Artinya…


“(Saudaraku semua! Bawa para


Mahluk Fana dari dataran!)”


“…”


Gila… Langitnya jadi berapi gitu…


Dari balik awan yang nyala-nyala


itu, ada hujan-hujan yang bentuknya api….


“*Vwumm, vwumm, vwumm… (suara


hujan api)”


“Pegang saya yang kuat, Djinn!”


“Kau juga, Myllo!”


“*Swush… (suara terbang Naga)”


Göhran sama Rakhzar coba hindarin


hujan-hujan api itu.


Waktu gue liat ke bawah, Gia sama


yang lainnya udah dibawa pergi Naga-Naga temennya Rakhazr dari Partar Forest


yang udah kebakar.


Nggak cuma hutan-hutan aja,


bahkan gue bisa liat Marklett Town yang udah kebakar karena api itu.


Lebih parahnya lagi, pantai yang


ada di deket hutan ini juga kena dampak bakaran hujan api itu.


“…”


Untungnya sih, hujan api tadi


udah berhenti, walaupun udah banyak bakar wilayah di tempat ini.


“Huuuhh…untung Gia sama yang


lainnya—”


“(Tidak, Myllo! Mereka belum aman!)”


“…”


Eh?! Api-api dari pohon bakaran


itu bergerak kayak uler?! Itu persis kayak lahar-lahar di dalem Hidden Dungeon


tadi!”


“(Dragon King: Call of the Fire.


Dengan sihirnya, beliau membakar hutan itu untuk dijadikan gudang senjata


barunya!)”


Gila! Kuat banget!


“(Tentu saja! Maka dari itu, kami


tidak menyarankan untuk membawanya keluar dari dalam Hidden Dungeon!)”


“Woy! Stop baca pikiran gue!”


“Ma…Maaf…”


“…”


Api-api itu bisa jadi ngejar


semua Naga yang terbang di sekitar sini!


“Roaaar…”


“Aaaarrrr…”


Ya, semua Naga.


Ujung-ujungnya, Naga yang dia


panggil tadi juga jadi korban bakaran dia.


Tarzyn udah nggak kekontrol lagi.


Dia bahkan nggak bisa bedain mana kawan mana lawan.


Jadinya kita harus—


“*Tik, tik,tik… (suara rintik


hujan)”


Tunggu, ada hujan?


“*Tik, tik,tik… (suara rintik


hujan)”


“Kenapa nggak padam apinya?! Kan


kena hujan!”


“Api itu tidak akan padam, selama


beliau masih hidup!”


Satu-satunya cara emang harus


bunuh dia, ya!


Masalahnya dia kuat banget!


Gimana cara ngalahin mahluk yang


kekuatannya bahkan bisa bawa pengaruh untuk alam di sekitar


sini?!


Eh…


Tunggu…


Kalo kekuatan dia bisa berpengaruh sama alam,


kenapa kita nggak manfaatin alam untuk pengaruhin****kekuatan kita?!


“Myllo! Göhran! Rakhzar! Gue tau


kita harus apa!”


“Cepetan jelasin ke kita, Djinn!”


Gue jelasin ke mereka sebelum


kita mulai.


Walaupun bahaya, semoga aja


rencana gue kali ini berhasil!