
Di Snellsham Point, Myllo dan Styx kedatangan Beelzraul dan Baalzraul, sepasang kembar yang merupakan kandidat Acolyte.
Myllo sedang menghadapi Beelzraul, sementara Styx menghadapi Baalzraul.
“Hraaaagh!”
“*Vwumm…”
“…”
Dengan bermodalkan dua pisau dan api hitam miliknya, Styx berusaha menyerang Baalzraul, walaupun serangan miliknya dapat dihindari dengan mudah oleh anggota Children of Purgatory tersebut.
Karena dirinya berhasil menghindari serangan Styx, Baalzraul bergerak dengan sangat cepat dari belakang
Styx dan hendak menyerangnya.
“Oh, ternyata kekuatan Iblis lo lebih besar daripada Mistyx yang lain—”
“…”
“!!!”
Baalzraul dikejutkan dengan Styx yang menatapnya dengan tajam dari titik butanya.
“*Shringgg…”
“Kalo pun dia liat gue, dia pasti nggak akan bisa hindarin serangan ini!”
“*Swung…”
Apa yang diharapkan Baalzraul tidak terjadi.
Styx melentingkan tubuhnya untuk menghindari serangan Baalzraul.
“*Dhuk!”
“Urgh…”
Dengan postur tubuh yang melenting ke belakang, Styx mampu menendang dagu Baalzraul, hingga ia terpental
ke belakang.
((Dark Flame: Extermicia))
“*Vwumm!”
Styx langsung memanfaatkan momentum dengan menyerangnya menggunakan api hitam miliknya.
“*Bruk…”
“…”
Ia hanya menatap lawannya yang terjatuh dan terbakar karena serangannya.
Namun Styx melihat suatu kejanggalan.
“*Vwumm…”
“Hm?!”
Perlahan-lahan, api hitam yang ada di tubuh Baalzraul lenyap, seakan terhisap olehnya.
“Aduh, duh, duh… Sakit juga ya tendangan lo tadi.”
“T-Tendangan? Maksud lo a—”
“Ya, tendangan lo. Karena kekuatan Iblis yang lo pake itu nggak akan mempan buat gue.”
Jelas Baalzraul kepada Styx.
“Jadi, Nyonya…”
“!!!”
Sebutan yang diberikan oleh Baalzraul mengingatkan Styx kembali dengan Galziq.
“*Swush!”
“Kira-kira apa warna Jiwa gue?”
Tanya Baalzraul sambil berusaha menyerang Styx kembali.
“*Shringgg…”
Mereka sama-sama menahan serangan masing-masing menggunakan senjata mereka, sebelum mereka kembali saling adu serang satu sama lain.
Sambil saling menyerang, menahan, maupun menghindari serangan masing-masing, mereka berdua juga menganalisa lawan mereka.
“Orang ini… Dia lebih banyak tahan serangan gue daripada nyerang gue. Tapi serangannya keras banget! Bahkan gue lebih pilih menghindar daripada tahan serangannya!”
Pikir Styx tentang Baalzraul.
Sambil terus mencari kesempatan untuk melukai lawan mereka masing-masing, mereka tiba-tiba dikejutkan dengan sesuatu.
“*Bruk!”
““!!!””
Mereka menyaksikan Beelzraul yang terpental dari balik gedung karena serangan Myllo.
“Hraaaagh!”
“*Chrak, chrak, chrak…”
“*Swush, swush, swush…”
Beelzraul terus mencakar udara yang dihindari Myllo.
“B-Beelzraul! Lo nggak apa-a—”
“*Vwumm!”
“!!!”
Styx yang memanfaatkan kelengahan Baalzraul berusaha menyerangnya, walaupun Baalzraul dengan mudah menghindari kembali serangannya.
“Baalzraul! Pergi dari sini! Kalo liat gue lo nggak akan fokus!”
“T-Tapi—”
“Cepetan!”
“Cih! Yaudah! Awas kalo lo sampe mati, Beelzraul!”
Seru Baalzraul yang mencemaskan keadaan kakak kembarnya.
Oleh karena peringatan dari Beelzraul, Baalzraul pun pergi dan menghindari pertarungan antara Beelzraul dan Myllo.
“Cih! Dia pergi ke mana, sih?!”
Seru Styx, sambil berusaha mengejar Baalzraul.
Sambil mengejar Baalzraul, Styx mencurigai sesuatu.
“Ada yang aneh. Kenapa Myllo nggak pake kekuatan Dewi-nya sama sekali?! Bukannya dia butuh kekuatan Dewi-nya kalo kondisinya kayak gini?! Apa mungkin… dia keinget sama Kak Sylv waktu itu?!”
Pikir Styx akan Myllo.
Di tengah dirinya yang mengkhawatirkan sahabat masa kecilnya itu, sebuah serangan kejutan menghampirinya.
“*Swush!”
“!!!”
Styx terkejut dengan Baalzraul yang tiba-tiba berhenti berlari darinya, yang kemudian berlari dan hendak menyerangnya.
“G-Gila kali, ya?! Bahkan dari jarak segi—”
“*Shrak!”
“Urgh! Brengsek!”
Styx yang mampu menghindari serangan Baalzraul langsung memotong kakinya.
Akan tetapi, berkat kekuatan Iblis yang ia miliki, Baalzraul mampu menumbuhkan kakinya dengan cepat.
“Cih! Dasar monster!”
Seru Styx yang menyaksikan proses regenerasi dari Baalzraul, sambil bersiap untuk menyerangnya kembali.
“…”
Styx menatap adanya cipratan darah dari Baalzraul di sekitar tubuhnya.
“Hmm…”
Baalzraul hanya tersenyum, setelah melihat ada bercak darah miliknya di tubuh lawannya.
“*Swush…”
Styx mulai berlari ke arah Baalzraul untuk menyerangnya.
Sebelum ia tiba, Baalzraul mulai menggunakan sihirnya.
((Trickery Curse: Hast Epiphany))
Rapal Baalzraul, sebelum Styx
tiba.
“Hraaagh!”
“*Swush!”
Styx menghindari ayunan pedang dari Baalzraul.
Akan tetapi…
“Keuk!”
…dengan misterius Baalzraul berhasil menusuknya.
“*Bruk, bruk, bruk…”
Styx pun terjatuh karena tusukan dari anggota Children of Purgatory tersebut.
“A-A-Apa-apaan?! Bukannya gue udah hindarin serangan lo?!”
Tanya Styx yang terluka dengan kesal.
Sambil tersenyum, Baalzraul pun menjawab pertanyaannya.
“Yakin lo udah hindarin gue? Apa mungkin… itu semua karena lo “liat” gue yang mau nyerang lo?”
“Liat?! Tunggu! Maksud lo…”
“Ya. Kutukan gue bisa buat lo ngeliat apa yang akan terjadi 5 detik kemudian. Makanya lo tiba-tiba hindarin
apa yang belom terjadi. Jadinya gue bisa serang lo yang ditipu apa yang lo liat, deh.”
“Cih! Nggak masuk akal!”
Bisik Styx dengan kesal.
Namun, Styx tidak menyerah. Ia berusaha menyerang Baalzraul dengan kemampuannya.
Walaupun pada akhirnya, setelah bertarung terus melawan Baalzraul…
“*Bruk…”
…ia tetap terkalahkan.
“…”
“Huff… Huff… Huff…”
Baalzraul menghampiri Styx yang terbaring kelelahan. Kemudian ia mencangkungkan tubuhnya untuk berbisik kepadanya.
“Jadi, Nyonya…”
“…”
“Sekarang bisa jawab gue, kan?”
“J-Jawab a—”
““Apa warna Jiwa gue?” Bukannya tadi gue tanya itu?”
Kata Baalzraul yang mengulang pertanyaannya.
Akan tetapi, Styx kembali bertanya dan tidak menjawabnya.
“K-K-Kenapa… lo mau gue jawab pertanyaan itu…?”
“…”
Baalzraul senyum terlebih dahulu, sebelum ia berdiri dan menjawab pertanyaan dari Styx.
“Sebelumnya, biar gue jelasin sesuatu dulu.”
“…”
Styx hanya terdiam, sebelum menyimak penjelasan panjang dari Baalzraul.
“Ribuan tahun yang lalu, lahir 7 Iblis Pertama dan yang paling kuat, yang disebut nantinya disebut Demon Lord.
7 Iblis itu tercipta untuk mengantisipasi dewa-dewa yang ada.
Dari antara mereka, ada…
Lord of Slavery, lawan dari Wind Goddess of Freedom;
Lord of Destructions, lawan dari Mountain God of Strength;
Lord of Hatred, lawan dari Ocean Goddess of Love;
Lord of Trickery, lawan dari Mind God of Knowledge;
Lord of Despair, lawan dari Fire God of Willpower;
Lord of Disease, lawan dari Nature Goddess of Birth;
Dan terakhir, raja dari semua Iblis…
Lord of Tyranny, lawan dari semua dewa.”
Cerita Baalzraul, sebelum ke intinya.
“7 Demon Lord itu punya keunikan yang nggak dipunya Iblis atau mahluk lainnya. Kira-kira, lo tau kan apa?”
“…”
Styx diam sejenak sebelum menjawab.
“Kalo liat Jiwa atau Tubuh yang terkutuk, pasti ada warna yang unik.”
Jawab Styx, yang kemudian teringat apa yang dikatakan oleh Galziq, ketika ia berada di kapal dan hendak dibawa pergi olehnya[1].
“Daripada anda ngomong terus, mending saya kasih tau aja siapa sebenernya anda, Nyonya.”
“Ummmph!”
“Anda itu Inkarnasi dari Demon Lord of Destruction, Azzulthi.”
“!!!”
Karena teringat akan hal itu, Styx pun menjawab.
“Kalian itu… ngincer gue supaya Azzulthi ambil alih Tubuh gue, kan?”
“…”
Baalzraul hanya tersenyum karena ia tidak perlu memberikan penjelasan yang lebih lanjut lagi kepadanya.
“Bagus deh kalo paham.”
“…”
“Karena bawa lo ke Master itu satu persyaratan untuk jadi Acolyte, makanya lo harus ikut gue, ya. Daripada
buang-buang waktu lagi, mending kita—”
“*Bruk…”
““!!!””
Baalzraul yang hendak membawa Styx seketika dikejutkan dengan tanah yang berlubang dari bawa tanah.
“A-Ada apa lagi, si—”
“*BHUK!!!”
“!!!”
Styx tiba-tiba kembali dikejutkan dengan Baalzraul yang terpukul dengan sangat keras, hingga dadanya berlubang.
“J-J-J-Jiwa gue…”
“*Bruk…”
Karena Jiwa miliknya yang hancur, Baalzraul kehilangan Mana dan kutukan Iblis yang ia miliki, sehingga ia tidak bisa regenerasi. Oleh karena itu ia terbunuh.
Ketika Styx melihat sosok pembunuh lawannya tersebut, ia semakin terkejut.
“Dj-Dj-Djinn…? Kok lo—”
“Urgh… Uaaaaargh!!!”
“…”
Styx yang sudah sekarat merasa penasaran dengan Djinn yang berteriak.
“Djinn…? Lo kenapa—”
“Styx! Jangan pergi ikut penyembah Iblis itu!”
“???”
Styx semakin heran dengannya, sebelum ia akhirnya tersadar dari kekuatannya sendiri.
“Cih! Ternyata gue masih belom bisa kontrol kekuatan i—Eh, Styx?! Lo kenapa?!”
Tanya Djinn, yang telat menyadari bahwa Styx ada di sampingnya.
“Dj-Djinn… g-gue—”
“Oh ya! Maaf, Styx! Gue nggak ada waktu! Gue harus ke satu tempat!”
“T-Tunggu…! Djinn…!”
“…”
Styx hanya bisa menatap Djinn yang meninggalkannya.
“B-Bukannya dia… harusnya… nggak boleh… ke mana-ma…”
“…”
Ia pun terbaring dan menatap Djinn yang berlari semakin jauh, sebelum sepenuhnya tidak sadarkan diri.
__________________
[1]Ketika Galziq membawa Styx bersama anggota Children of Purgatory dari Port Marzhal (Chapter 26.)