Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 46. My Infiltration



Ini kok ada lampu pijar ya di


bawah tanah?


Yaudah, mending gue ikutin aja


dulu lampu-lampu ini.


Gue jalan makin dalem, sampe


tiba-tiba gue nemu sesuatu yang agak aneh.


“…”


Kok…ada penjara di tempat kayak


gini?


Tambah lagi, kenapa nggak ada


orang sama sekali di dalem penjara ini?


“*Snuff, snuff… (suara mencium


bau)”


Ini bau apaan?! Kok nggak enak


banget?!


Gue makin masuk ke dalem,


tiba-tiba ada suara langkah kaki.


“Bre…Brengsek! Gue ada di mana?!”


“Sssttt. Tenang saja.”


Itu siapa? Keliatannya bukan dari


desa ini.


Kalo dari mukanya sih, gue yakin


banget orang ini penjahat.


Tapi…yang bawa dia itu siapa? Kok


ditutup tudung gitu mukanya?


“…”


Eh?! Kayaknya mereka mau ke area


sini, nih!


Nah loh…gue harus ngapain?!


“Hey! Siapa i—”


“*Bhuk! Dhuk! (suara pukulan dan


tendangan)”


““Argh…””


Haaah… Untung cuma dua orang.


Jadi gampang abisinnya karena kekuatan super ini.


Orang-orang ini pada pake jubah


warna hitem yang ada tudungnya. Anehnya, di bagian punggung jubah ini ada


lambang uler gitu.


Hmm, kayaknya untuk jaga-jaga…gue


ambil bajunya orang ini aja deh.


“Permisi ya, bang.”


Harus izin dulu karena mau gue


buka bajunya.


“…”


Nah, mungkin gue aman kalo


nyamar.


Oh iya, ngomong-ngomong ke mana


orang yang tadi mereka bawa?


“Woy! Jawab! Gue ada di…hmm?”


Loh, keliatannya orang ini


bingung…


Jangan-jangan…nyamar gue ketauan,


lagi?!


“Kok…lo makin tua?”


“Hah?”


“Itu rambut lo tiba-tiba ubanan!”


Oh…ternyata orangnya sama


dongonya kayak Myllo…


“Woy! Kok lo—”


“Kalo nggak gue tanya, diem!”


“Hikh! I…Iya, bang…”


“Siapa lo? Kenapa lo bisa


ditangkep?”


“Gu…Gue bandit di sekitar


Vawrung, bang. Ditangkep karena nyuri barang.”


Hah? Warung?


Yang pasti, dia orang di luar


Xia, kan?


“Tapi percaya sama gue, bang!


Gu…Gue jadi bandit demi kebaikan orang—”


“Emang barang apa yang lo curi,


makanya lo bisa masuk sini?”


“Pedangnya bangsawan.”


Ya pantes aja, bego!


“Terus, mereka siapa?”


“Nggak tau, bang! Mereka


tiba-tiba samperin penjara gue, terus gue dibawa ke tempat ini, bang!”


Hmm…banyak hal aneh di sini.


Pertama, kenapa ada Ghoul khusus


di desa ini? Kenapa desa kayak Calmisiu nggak ada tanda-tanda Ghoul sama


sekali?


Abis itu, kenapa ada penjara di


bawah tanah kayak gini?


Dan yang terakhir, kenapa bisa


ada orang di luar Xia yang ditahan di tempat ini?


Kalo gitu, gue coba masuk makin


dalem deh. Masih banyak teka-teki yang harus dipecahin.


“…”


“Ba…Bang! Lo mau ke ma—”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


Duh, maaf ya… Lo berisik soalnya.


....................


Gue jalan terus, sampe ujung-ujungnya


buntu di satu ruangan yang agak lebar.


Ruangannya agak aneh. Ada rak


buku, tapi isinya itu…


“Hmm…”


…nggak tau gue apaan.


Keliatannya ada sesuatu di dalem


botol-botol ini.


“Ini…botol-botol kimia kan, ya?”


Mulai dari Erlenmeyer, Labu


Florence, sampe Gelas Ukur…


Ternyata ada juga peralatan laboratorium


kayak gini ya di dunia ini.


Tapi ini isinya apa ya? Kok kayak


ada bola-bola gitu?


Nggak cuma itu botol-botol kimia


itu doang. Ada juga beberapa kertas-kertas yang nempel di tembok-tembok.


“Hah?! Jangan-jangan ini…”


Ya. Beberapa kertas ini isinya


gambar kerangka Ghoul.


Artinya ini tempat untuk ternak


Ghoul, dong?!


“…”


Suara apa itu yang geter?


“…”


Oh dari situ suaranya…


Gue coba deketin pelan-pelan…dan


ternyata…


““Griii! Griii! Griii!””


I…Ini… Bayi Ghoul?!


Setiap bayi Ghoul ini ada di


dalem botol gede gitu! Ngeri banget!


“…”


“Griii!”


Gue ambil satu botol aja.


Barangkali ini bisa jadi bukti.


“Grii—”


“*Shuk, shuk, shuk… (suara


mengocok botol)”


“…”


Huuuh… Untung diem waktu gue


kocok-kocok botolnya.


Gue coba cari-cari sesuatu lagi


di dalem ruangan ini. Sampe akhirnya nemuin sesuatu yang bikin gue curiga.


“Hah…? Album foto?”


Ya. Album foto. Tapi ini album


foto apa, ya?


Waktu gue cek album foto itu dari


paling depan, ada foto orang yang di ujung fotonya ada gambar tengkorak.


Abis itu, di halaman selanjutnya,


ada foto banyak orang yang ada gambar tengkoraknya juga di posisi yang sama.


“Eh, ini…siapa namanya, Lorvah,


ya?”


Kalo nggak salah namanya Lorvah,


deh. Orang yang jadi panutan untuk Gia itu.


Gue buka terus setiap halaman di


album ini, sampe di halaman yang paling terakhir ada isinya. Dan isinya itu…


“Ini…Gia, gue, sama Myllo!”


Tapi ada yang beda. Nggak ada


gambar tengkorak di foto kita bertiga. Cuma ada lingkaran merah yang ada di


sekitar foto kita.


Artinya kita target selanjutnya,


ya?


“*Vrung… (suara portal terbuka)”


Hah? Itu suara apa—


“Le…Lepasin!”


“Diam dulu!”


“Gimana mau diem?! Emangnya gue


mau dibawa ke—”


“*Bhuk (suara pukulan)”


“…”


nongol?!


Oh iya! Gue harus sembu—


“Hey! Anda ngapain di sini?!”


“…”


“Apakah ada tahanan baru yang


dibawa ke tempat ini?!”


Lah iya ya, kan gue lagi nyamar


ya.


“A…Ada!”


“Baiklah. Lebih baik anda pergi


lanjutkan tugas anda di tempat lain.”


“…”


“*Klik! (suara menekan tombol)”


“*Vrung… (suara portal tertutup)”


Waw! Canggih banget! Tiba-tiba


ada ‘pintu’ kebuka-ketutup gitu!


Itu sihir, kan?! Ternyata sihir


bisa lebih canggih daripada teknologi ya!


Gue tungguin sampe orang yang


bawa tahanan itu keluar dari ruangan ini. Abis mereka berdua keluar dari


ruangan ini, gue langsung samperin meja itu.


“…”


Di meja ini, ada kayak semacam


gambar di dalem lingkaran kecil gitu. Dan di bawah lingkaran kecil itu, ada


tulisan-tulisan yang mungkin dari nama gambar itu.


“Hmm…”


Gue masih mikirin gimana caranya


‘pintu’ kayak tadi.


Mending coba teken yang namanya


Xia aja deh.


“*Klik! (suara menekan sesuatu)”


“*Vrung… (suara portal terbuka)”


Ohh! Gitu cara bukanya!


Tapi, kayaknya gue salah


destinasi, deh.


Kan gue kabur dari Xia, ya.


Mending coba ganti destinasi aja,


deh.


“*Klik! (suara menekan tombol)”


“…”


Loh! kok nggak berubah apa-apa?!


Artinya, mau nggak mau gue balik


ke Xia, dong!


....................


Waktu gue keluar dari pintu ini,


gue nggak tau gue ada di mana.


Karena sejauh ini, gue cuma masuk


di kedai, tempat penginapan, sama penjaranya Si Kades itu.


Mending gue jalan pelan-pelan aja


deh, semoga nggak ketauan sama—


“Ke…Kepala De—”


“Jangan ganggu beliau dulu! Dia masih nggak tenang


karena ada gangguan dari Orang Misterius itu!”


Hah?!


Jangan-jangan ini…di rumah Kades?!


Gue nggak bisa liat situasi yang ada di luar gimana,


tapi gue bisa ngerasain ada sekitar 3 orang di luar. Mungkin mereka warga yang


setia sama Kades. Termasuk… si anjing yang nuduh gue.


“*Brak! (suara bantingan pintu dari luar)”


Eh? Kayak dari luar ruangan ini suaranya…


“Phi…Phineas—”


“Minggir kalian bertiga!”


“Ahhh…keliatannya dia lagi marah.”


“Phineas, tunggu!”


Abis itu tiga orang tadi ngikutin dia keluar dari tempat ini.


Eh, tunggu…mereka keluar?


Bukannya kalo malem warga sini takut ada


Ghoul, ya?


Jangan-jangan mereka udah tau kalo nggak ada Ghoul


malem ini?!


“Maafkan aku atas kekesalanku pada anakmu, Kakak.”


Ini…kayak kenal suaranya…


Mending gue denger terus suaranya.


“Kemuliaan untuk evolusi dunia, Snake.”


“Kemuliaan untuk evolusi dunia, Derrek. Atau mungkin


saya panggil…Kepala Desa?”


Bener, kan. Ternyata Si Kades


yang ada di balik ruangan ini.


Kedengerannya sih, dia lagi


telfonan sama orang. Namanya siapa? Snake, ya?


Gue cuma dengerin mereka ngobrol


aja dari balik ruangan ini. Kedengerannya sih, orang yang disebut Snake itu


udah misterius, bahaya juga orangnya. Bahkan Si Kades aja diancem kayak gitu.


“Menurut saya, biarkan saja, Derrek. Menurut


perkiraan saya, sepertinya mereka tidak akan kembali ke Xia Village.”


“Ti…Tidak akan kembali?”


“Tidak…sebelum mereka menemukan lokasi tempat para


Ghoul yang anda ternak berada.”


Apa?! Ghoul yang anda ternak?!


Ohhh gitu…


Pantesan dia kesel hasil ternaknya gue hajar bareng


Myllo!


Dan ujung-ujungnya, gue makin


bisa ngerasain siapa yang sebenernya lebih bahaya.


“Mungkin bisa dikatakan bahwa Duke Louisson ikut


berpartisipasi dalam penangkapan Goldiggia. Namun, sebenarnya peran bangasawan


tersebut sangatlah minim.”


“Minim…?”


“Ya. Karena, tanpa dua Petualang tersebut, tidak


mungkin ada kebebasan bagi para tahanan yang tertangkap oleh Goldiggia.”


“Tu…Tunggu! A…Apa maksud anda, Snake?! Bagaimana


anda bisa tahu tentang peran dua Petualang itu?!”


“Anggap saja saya tahu dari sumber yang sangat saya


percayai.”


Gila! Dia tau darimana?!


Nggak mungkin dong Bismont yang bocorin?! Atau


mungkin…anggotanya Bismont? Atau mungkin…anak-anaknya?


“Jadi, anda sedang dihadapkan dengan dua Petualang


yang berpotensi menjadi sangat berbahaya. Tambah lagi, anda juga harus


memikirkan seseorang yang sangat mengidolakan mantan Leader Tingkat Merah,


Derrek.”


“Ma…Maksud anda…”


“Ya, Margia Maevin, atau yang dikenal dengan Gia.


Walaupun saya tidak tahu ‘cara bermain’ wanita itu, namun ia memiliki potensi


yang sama bahayanya dengan mereka berdua.”


Bahkan orang yang telfonan sama


Kades itu tau Gia?!


Pantes aja cuma foto gue, Myllo,


sama Gia yang beda sendiri! Ternyata karena kita bertiga yang paling bahaya?!


“Maaf, Derrek. Saya harus pergi terlebih dahulu


karena masih banyak yang harus saya urus, untuk evolusi dunia. Sekian


dan terima kasih, kawan.”


Telfonannya udah selesai.


Intinya Si Kades itu orang dibalik munculnya semua


Ghoul di desa ini, bareng orang yang namanya Snake itu.


Masalahnya adalah…gue nggak punya bukti kalo mereka


biang kerok dari semuanya. Gue butuh bukti yang lebih kuat lagi.


“…”


Waduh…kayaknya dia mau ke sini, nih.


Ngumpet ke mana, ya?


“*Kriiiek… (suara pintu terbuka)”


“Hmm? Sepertinya ada seseorang…”


Eh?! Gue ketauan?! Padahal udah ngumpet di balik meja


ini—


“*Syut! (suara lemparan pisau)”


“*Shruk! (suara tertusuk pisau)”


“…”


Brengsek nih orang!


Tiba-tiba lempar pisau yang nembus meja sampe ke


lengan gue!


“…”


Duh! Jangan sampe darah gue jatoh ke lantai! Bisa-bisa


gue ketauan!


“Hmm…mungkin perasaan saya saja. Baiklah, sepertinya


saya harus ke kandang.”


“*Vrung… (suara portal terbuka)”


“…”


“*Vrung… (suara portal tertutup)”


Ah, udah aman, kan?


“Urgh…”


Dasar brengsek tuh Kades!


“…”


Duh, tiba-tiba sembuh sendiri nih


lengan gue! Kalo sembuh sendiri, takutnya gue pingsan!


Mending gue cek dulu sekitar


ruangan ini sebelum beranjak dari balik meja ini.


“…”


OK, aman.


Mungkin kalo di rumah Kades ini,


gue bisa dapet petunjuk tentang Ghoul yang lebih banyak.