Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 103. My Envy



Karena diusir


sama Garry, akhirnya gue nungguin dia yang lagi disembuhin sama Kepala Suku.


Selama gue


nungguin Myllo, Lupherius nggak tau pergi ke mana.


Gue pun nungguin


Myllo selama 5 jam, sampe malem.


Walaupun


malem-malem, hutan ini nggak gelap sama sekali.


Banyak banget


lampu-lampu kecil di sekitar beberapa pohon, makanya hutan ini cukup terang.


Selain itu, banyak kunang-kunang yang berkeliaran di sini.


Nggak tau


kenapa, selain karena tempat ini bagus banget, tempat ini juga bikin tenang.


“Djinn…”


Oh, Gia udah


keluar.


“Gimana keadaan


Myllo.”


“Dia…”


Hah…?


Kok responnya


gitu…?


“…”


“Dji…Djinn!


Tunggu dulu!”


Nggak tau


kenapa, gue ngerasa ada yang nggak beres semenjak liat reaksi Gia.


Karena itu, gue


langsung lari ke dalem rumah Kepala Suku.


Tapi waktu gue


liat di dalem…


“Aaaaah! Gue mau


minum bir yang gue simpen—”


“Te…Tenang dulu, atuh! Anda teh harus minum


obat i—”


“Nggaaaaak!


Obatnya pait banget! Mending gue minum bir!”


…ternyata dia


malah nyariin minum!


“Djiiiinn!


Denger dulu dong kalo aku ngomong!”


“Gue kira dia


kenapa-kenapa!”


“Nggak! Kita


bingung, mau kasih dia bir atau nggak! Makanya itu aku tanya kamu!”


KENAPA NGGAK


LANGSUNG NGOMONG!!!


“Jadi, Djinn?”


“…”


Hmm…


Karena gue juga


nggak tau disembuhinnya gimana, mending ikutin aja kata-kata Kepala Suku.


“Jangan


dikasih.”


“Haaaaaah?! Kok


gue nggak dibolehin minum?!”


“Ikutin aja


anjuran dari  Kepala Su—”


“Kok lo


larang-larang gue?! Suka-suka gue dong!”


“!!!”


Dasar anjing ya bocah


satu ini!


“Suka-suka lo?!


Terus kapan mau sembuhnya?!”


“Lo nggak perlu


khawatir soal itu! Gue tau kapabilitas gu—”


“Tau


kapabilatas, lo bilang?! Lo nggak liat sekarang kondisi lo kayak gini gara-gara


apa?!”


“SEENGGAKNYA GUE


BELOM MATI!!!”


Haaaah…dasar


goblok orang ini!


“…”


“Et, et, et!”


Gue tarik kerah


baju dia.


“Djinn! Kok kamu


narik Myllo kayak gi—”


“Heh, goblok!


Denger ini baik-baik!”


“…”


“Kenapa harus


tunggu mati dulu, brengsek?! Maksudnya itu lo mati dulu, baru nyesel?!”


“Hmph! Gue nggak


akan nyesel karena mati untuk temen-temen gue!”


“TERUS BUAT APA


LO MIMPI UNTUK JADI PETUALANG NOMOR SATU KALO MATI DULUAN, GOBLOK?!?!”


“Nggak ada


salahnya gue mimpi, breng—”


“KALO LO SADAR


KAPABILITAS LO, HARUSNYA LO SADAR KALO LO ITU LEMAH, BAHKAN ADANYA DEWA DI


DALEM LO—”


“DJINN! LEPASIN


MYLLO!”


“…”


Sesuai


permintaan Gia, gue lepasin Myllo.


“*Phak! (suara


tamparan)”


“Inget ini,


Djinn. Kalo pun dia lemah…seenggaknya dia itu temen aku!”


“…”


“Sebagai temen


Myllo…seenggaknya aku nggak akan ngomong


sejahat itu ke temen aku sendiri! Paham?!”


Gue ditampar


Gia.


Bukan pake


tangannya aja, tapi pake kata-katanya juga.


Ya, lagi-lagi


gue kelewatan.


Emosi gue udah


nggak karuan.


“Pu…Punten, saya teh masih nggak nyaranin minum bir. Jadinya perlu dikasih—”


“Atur aja


sendiri.”


Gue pergi dari


rumah Kepala Suku.


Waktu gue keluar,


tiba-tiba…


“…”


…gue liat


Lupherius yang lagi nyender di deket pintu, sambil liatin gue jalan.


“Apa lo


liat-liat—”


“Nggak.”


Bodo amat dia


mau ngapain.


Mending gue


pergi dulu dari sekitar sini!


……………


Ya, tadinya sih


gue mikir kayak gitu.


Tapi


ujung-ujungnya gue masih ada di hutan ini.


Bukan karena


males pergi, tapi karena nggak tau mau ke mana.


Keliatannya


sekarang jam setengah 12 malem.


Tapi ada yang


aneh.


“Ayo, ayo, ayo!”


“Asik sebentar


lagi mulai ya?!”


“Duh, jadi nggak


sabar!”


Kenapa banyak


banget Monster yang pergi ke arah rumahnya Kepala Suku?


“Oi, Mahluk


Intelektual!”


“Hm?”


Ogre ini…manggil


gue, ya?


“Ngapain masih


di sini?! Anda itu tamunya Kepala Suku, kan?!”


“I…Iya. Ada apa


emangnya?”


“Ayo ke rumah


Kepala Suku! Kita pesta-pesta!”


Hah? Pesta?


“Tunggu apa


lagi?! Ayo!”


“Iya, iya, iya!”


Ogre ini narik


gue supaya ikutan pesat yang dia bilang.


Sambil jalan


balik ke rumah Kepala Suku, dia jelasin kalo di hutan ini semua Monster selalu


ada pesta setiap malem.


“Oh ya,


ngomong-ngomong nama lo siapa?”


“Saya sih


dikasih nama Onro.”


Hah? Dikasih


nama?


Oh iya, kan


waktu anaknya Bismont bilang…


“Mo…Monster


“Ok,


Herulk! Panggil gue Papa, ya?! Graahahahaha!”


…kayak gitu.


Jangan-jangan…Orang


Sunda yang ke dunia ini yang kasih nama ke mereka?!


Pokoknya gue


jalan ikutin Monster yang namanya Onro tadi, sampe di depan rumah Kepala Suku.


Di sini, gue


liat ada banyak banget Monster di tempat ini.


Pas banget di


depan semua Monster ini, ada Kepala Suku yang berdiri bareng Gia yang lagi


ngobrol bareng Yssalq, Myllo yang lagi ketawa-ketiwi bareng Garry, sama


Lupherius yang diem aja.


Gue berdiri agak


jauh di belakang Monster-Monster ini.


Anehnya…


“…”


…gue ngerasa


Lupherius ngeliatin gue.


“Hup!”


Eh, Kepala


Suku-nya ngapain tuh?


“Bright Fire!”


Loh, kok dia


ngeluarin sihir—


“*Syuuuut…


(suara tembakan sihir)”


“*Boom! (suara


ledakan ‘kembang api’)”


““Wuaaaaaah!””


Te…Ternyata dia


pake sihir itu untuk bikin kembang api…?


Semua Monster


ini pada sorak-sorak liat kembang api itu.


Dari jauh, gue


juga bisa liat Myllo sama Gia yang ikut seneng liat kembang api itu.


“Oi, Monster!”


““Oooooiiii!””


“Ada orang lagi makan berry,


tidak lupa ia makan sumsum!


Kalian teh hati-hati sama Garry,


karena dia mesum!”


““HAHAHAHA!!!””


ITU PANTUN?!


KOK BISA PANTUN!


“Setiap kain ada benang!


Sok atuh kita senang-senang!”


““YAAA!!!””


Akhirnya semua


yang ada di sini ngabisin waktu untuk pesta pora.


Selain


makan-makan, ada juga yang main di sekitar api unggun, termasuk Gia sama


Yssalq.


Sedangkan Myllo


lagi cerita-cerita ke Garry, Kepala Suku, sama beberapa Monster lainnya.


Anehnya, gue


nggak liat Luphe—


“Lo nggak ikut


temen-temen lo, tuh?”


“!!!”


Nih aki-aki kenapa selalu muncul tiba-tiba,


sih?!


“Nggak dulu!”


“Hoo…lo masih


ngambek sama Kapten—”


“Terus apa urusan


lo?!”


“…”


“Nggak perlu lo


ikut campur, brengsek!”


Nggak punya anggota aja


mau sok ikut campur nih orang!


Jadi nggak ada


tertariknya gue untuk ikutin pesta ini!


Mending balik


aja deh ke tempat gue duduk tadi!


……………


Gue akhirnya


pergi lagi dari pesta itu.


“Hey,


Petualang!”


“…”


Ogre ini…Onro


kan ya namanya?


“Kenapa?”


“Anda udah nggak


kuat ya untuk ikut pestanya?!”


Bukannya nggak


kuat sih, cuma males aja sebener—


“Kalo mau tidur,


anda bisa numpang di tempat saya!”


“Numpang?”


“Ya! Ayo ikutin


saya!”


Akhirnya gue


ngikutin Onro.


Selama di jalan,


kita ketemu sama Ogre yang…keliatan feminim?


“Suami! Anda


juga mau pulang, ya?!”


“Halo, Istri!


Saya cukup lelah denger cerita Petualang yang namanya Myllo itu!”


O…Oooh…itu


istrinya, ya?


“Gimana kabar


anak kita?”


“Masih sehat,


kok.”


Oh! Lagi hamil


muda ya istrinya?!


Tapi kok lagi


hamil gitu malah ikut pesta?


“Onro, maaf sebelumnya.”


“Hm? Dia siapa,


Suami?”


“Oh ya! Kenalin,


Istri! Nama dia…”


“Djinn.”


I…Iya ya, gue


lupa kasih tau nama gue.


“Ada apa,


Djinn?”


“Oh ya, kan istri


lo lagi hamil, emang perutnya nggak sakit ya ikut pesta se-rame itu?”


“Pasti capek,


sih. Tapi nggak apa-apa! Supaya anak saya nanti bisa selalu bahagia!”


Oh ternyata gitu


ya.


Keliatannya


karena budaya di tempat ini, makanya istrinya ikut pesta itu, walaupun lagi


hamil.


Onro sama


istrinya jelasin banyak hal tentang Hutan Monster ini selama di jalan.


Waktu kita sampe


rumahnya, gue bisa liat rumahnya yang cukup sederhana, tapi rapih banget.


“Djinn, nanti


anda tidur di sini ya.”


“Ya.”


Gue dikasih


unjuk kamar tidur gue, yang cuma ada alas tidur aja.


“Djinn, bisa ke


sini nggak?”


Istrinya Onro


panggil gue.


“Ada urusan apa


sama Djinn, Istri?”


“Saya cuma mau


kenalin anak kita ke Mahluk Intelektual, Suami.”


“Oh, begitu ya?!


Kalo gitu, coba pegang perut Istri ya, Djinn?!”


Eh?!


“Nggak apa-apa.


Pegang aja.”


Akhirnya gue


pegang perut istrinya Onro.


“Anak, yang lagi


sentuh anda itu Mahluk Intelektual! Namanya Djinn! Walaupun nggak semua Mahluk


Intelektual itu baik, tapi Ayah yakin, kalo Djinn ini orang yang baik, Anak!”


“Ayah kamu


betul, Anak! Hihi!”


Ternyata, mereka


keluarga yang baik ya.


“Eh, Djinn?! Kok


anda nangis?!”


Hah? Gue nangis?


“Pe…Perut saya


nggak bagus untuk Mahluk In—”


“Oh! Nggak, kok!


Maaf-maaf, gue cuma ngebayangin kalo anak kalian jadi Monster yang baik!”


“Hahahaha!


Terima kasih, Djinn!”


“Hihi…”


Wajar nggak sih…kalo


gue iri sama Monster?


Andai aja gue


punya bapak yang baik kayak Onro.


Sialan, kenapa


di dunia ini gue lebih emosional ya daripada di dunia lama gue?!