
Karena diusir
sama Garry, akhirnya gue nungguin dia yang lagi disembuhin sama Kepala Suku.
Selama gue
nungguin Myllo, Lupherius nggak tau pergi ke mana.
Gue pun nungguin
Myllo selama 5 jam, sampe malem.
Walaupun
malem-malem, hutan ini nggak gelap sama sekali.
Banyak banget
lampu-lampu kecil di sekitar beberapa pohon, makanya hutan ini cukup terang.
Selain itu, banyak kunang-kunang yang berkeliaran di sini.
Nggak tau
kenapa, selain karena tempat ini bagus banget, tempat ini juga bikin tenang.
“Djinn…”
Oh, Gia udah
keluar.
“Gimana keadaan
Myllo.”
“Dia…”
Hah…?
Kok responnya
gitu…?
“…”
“Dji…Djinn!
Tunggu dulu!”
Nggak tau
kenapa, gue ngerasa ada yang nggak beres semenjak liat reaksi Gia.
Karena itu, gue
langsung lari ke dalem rumah Kepala Suku.
Tapi waktu gue
liat di dalem…
“Aaaaah! Gue mau
minum bir yang gue simpen—”
“Te…Tenang dulu, atuh! Anda teh harus minum
obat i—”
“Nggaaaaak!
Obatnya pait banget! Mending gue minum bir!”
…ternyata dia
malah nyariin minum!
“Djiiiinn!
Denger dulu dong kalo aku ngomong!”
“Gue kira dia
kenapa-kenapa!”
“Nggak! Kita
bingung, mau kasih dia bir atau nggak! Makanya itu aku tanya kamu!”
KENAPA NGGAK
LANGSUNG NGOMONG!!!
“Jadi, Djinn?”
“…”
Hmm…
Karena gue juga
nggak tau disembuhinnya gimana, mending ikutin aja kata-kata Kepala Suku.
“Jangan
dikasih.”
“Haaaaaah?! Kok
gue nggak dibolehin minum?!”
“Ikutin aja
anjuran dari Kepala Su—”
“Kok lo
larang-larang gue?! Suka-suka gue dong!”
“!!!”
Dasar anjing ya bocah
satu ini!
“Suka-suka lo?!
Terus kapan mau sembuhnya?!”
“Lo nggak perlu
khawatir soal itu! Gue tau kapabilitas gu—”
“Tau
kapabilatas, lo bilang?! Lo nggak liat sekarang kondisi lo kayak gini gara-gara
apa?!”
“SEENGGAKNYA GUE
BELOM MATI!!!”
Haaaah…dasar
goblok orang ini!
“…”
“Et, et, et!”
Gue tarik kerah
baju dia.
“Djinn! Kok kamu
narik Myllo kayak gi—”
“Heh, goblok!
Denger ini baik-baik!”
“…”
“Kenapa harus
tunggu mati dulu, brengsek?! Maksudnya itu lo mati dulu, baru nyesel?!”
“Hmph! Gue nggak
akan nyesel karena mati untuk temen-temen gue!”
“TERUS BUAT APA
LO MIMPI UNTUK JADI PETUALANG NOMOR SATU KALO MATI DULUAN, GOBLOK?!?!”
“Nggak ada
salahnya gue mimpi, breng—”
“KALO LO SADAR
KAPABILITAS LO, HARUSNYA LO SADAR KALO LO ITU LEMAH, BAHKAN ADANYA DEWA DI
DALEM LO—”
“DJINN! LEPASIN
MYLLO!”
“…”
Sesuai
permintaan Gia, gue lepasin Myllo.
“*Phak! (suara
tamparan)”
“Inget ini,
Djinn. Kalo pun dia lemah…seenggaknya dia itu temen aku!”
“…”
“Sebagai temen
Myllo…seenggaknya aku nggak akan ngomong
sejahat itu ke temen aku sendiri! Paham?!”
Gue ditampar
Gia.
Bukan pake
tangannya aja, tapi pake kata-katanya juga.
Ya, lagi-lagi
gue kelewatan.
Emosi gue udah
nggak karuan.
“Pu…Punten, saya teh masih nggak nyaranin minum bir. Jadinya perlu dikasih—”
“Atur aja
sendiri.”
Gue pergi dari
rumah Kepala Suku.
Waktu gue keluar,
tiba-tiba…
“…”
…gue liat
Lupherius yang lagi nyender di deket pintu, sambil liatin gue jalan.
“Apa lo
liat-liat—”
“Nggak.”
Bodo amat dia
mau ngapain.
Mending gue
pergi dulu dari sekitar sini!
……………
Ya, tadinya sih
gue mikir kayak gitu.
Tapi
ujung-ujungnya gue masih ada di hutan ini.
Bukan karena
males pergi, tapi karena nggak tau mau ke mana.
Keliatannya
sekarang jam setengah 12 malem.
Tapi ada yang
aneh.
“Ayo, ayo, ayo!”
“Asik sebentar
lagi mulai ya?!”
“Duh, jadi nggak
sabar!”
Kenapa banyak
banget Monster yang pergi ke arah rumahnya Kepala Suku?
“Oi, Mahluk
Intelektual!”
“Hm?”
Ogre ini…manggil
gue, ya?
“Ngapain masih
di sini?! Anda itu tamunya Kepala Suku, kan?!”
“I…Iya. Ada apa
emangnya?”
“Ayo ke rumah
Kepala Suku! Kita pesta-pesta!”
Hah? Pesta?
“Tunggu apa
lagi?! Ayo!”
“Iya, iya, iya!”
Ogre ini narik
gue supaya ikutan pesat yang dia bilang.
Sambil jalan
balik ke rumah Kepala Suku, dia jelasin kalo di hutan ini semua Monster selalu
ada pesta setiap malem.
“Oh ya,
ngomong-ngomong nama lo siapa?”
“Saya sih
dikasih nama Onro.”
Hah? Dikasih
nama?
Oh iya, kan
waktu anaknya Bismont bilang…
“Mo…Monster
“Ok,
Herulk! Panggil gue Papa, ya?! Graahahahaha!”
…kayak gitu.
Jangan-jangan…Orang
Sunda yang ke dunia ini yang kasih nama ke mereka?!
Pokoknya gue
jalan ikutin Monster yang namanya Onro tadi, sampe di depan rumah Kepala Suku.
Di sini, gue
liat ada banyak banget Monster di tempat ini.
Pas banget di
depan semua Monster ini, ada Kepala Suku yang berdiri bareng Gia yang lagi
ngobrol bareng Yssalq, Myllo yang lagi ketawa-ketiwi bareng Garry, sama
Lupherius yang diem aja.
Gue berdiri agak
jauh di belakang Monster-Monster ini.
Anehnya…
“…”
…gue ngerasa
Lupherius ngeliatin gue.
“Hup!”
Eh, Kepala
Suku-nya ngapain tuh?
“Bright Fire!”
Loh, kok dia
ngeluarin sihir—
“*Syuuuut…
(suara tembakan sihir)”
“*Boom! (suara
ledakan ‘kembang api’)”
““Wuaaaaaah!””
Te…Ternyata dia
pake sihir itu untuk bikin kembang api…?
Semua Monster
ini pada sorak-sorak liat kembang api itu.
Dari jauh, gue
juga bisa liat Myllo sama Gia yang ikut seneng liat kembang api itu.
“Oi, Monster!”
““Oooooiiii!””
“Ada orang lagi makan berry,
tidak lupa ia makan sumsum!
Kalian teh hati-hati sama Garry,
karena dia mesum!”
““HAHAHAHA!!!””
ITU PANTUN?!
KOK BISA PANTUN!
“Setiap kain ada benang!
Sok atuh kita senang-senang!”
““YAAA!!!””
Akhirnya semua
yang ada di sini ngabisin waktu untuk pesta pora.
Selain
makan-makan, ada juga yang main di sekitar api unggun, termasuk Gia sama
Yssalq.
Sedangkan Myllo
lagi cerita-cerita ke Garry, Kepala Suku, sama beberapa Monster lainnya.
Anehnya, gue
nggak liat Luphe—
“Lo nggak ikut
temen-temen lo, tuh?”
“!!!”
Nih aki-aki kenapa selalu muncul tiba-tiba,
sih?!
“Nggak dulu!”
“Hoo…lo masih
ngambek sama Kapten—”
“Terus apa urusan
lo?!”
“…”
“Nggak perlu lo
ikut campur, brengsek!”
Nggak punya anggota aja
mau sok ikut campur nih orang!
Jadi nggak ada
tertariknya gue untuk ikutin pesta ini!
Mending balik
aja deh ke tempat gue duduk tadi!
……………
Gue akhirnya
pergi lagi dari pesta itu.
“Hey,
Petualang!”
“…”
Ogre ini…Onro
kan ya namanya?
“Kenapa?”
“Anda udah nggak
kuat ya untuk ikut pestanya?!”
Bukannya nggak
kuat sih, cuma males aja sebener—
“Kalo mau tidur,
anda bisa numpang di tempat saya!”
“Numpang?”
“Ya! Ayo ikutin
saya!”
Akhirnya gue
ngikutin Onro.
Selama di jalan,
kita ketemu sama Ogre yang…keliatan feminim?
“Suami! Anda
juga mau pulang, ya?!”
“Halo, Istri!
Saya cukup lelah denger cerita Petualang yang namanya Myllo itu!”
O…Oooh…itu
istrinya, ya?
“Gimana kabar
anak kita?”
“Masih sehat,
kok.”
Oh! Lagi hamil
muda ya istrinya?!
Tapi kok lagi
hamil gitu malah ikut pesta?
“Onro, maaf sebelumnya.”
“Hm? Dia siapa,
Suami?”
“Oh ya! Kenalin,
Istri! Nama dia…”
“Djinn.”
I…Iya ya, gue
lupa kasih tau nama gue.
“Ada apa,
Djinn?”
“Oh ya, kan istri
lo lagi hamil, emang perutnya nggak sakit ya ikut pesta se-rame itu?”
“Pasti capek,
sih. Tapi nggak apa-apa! Supaya anak saya nanti bisa selalu bahagia!”
Oh ternyata gitu
ya.
Keliatannya
karena budaya di tempat ini, makanya istrinya ikut pesta itu, walaupun lagi
hamil.
Onro sama
istrinya jelasin banyak hal tentang Hutan Monster ini selama di jalan.
Waktu kita sampe
rumahnya, gue bisa liat rumahnya yang cukup sederhana, tapi rapih banget.
“Djinn, nanti
anda tidur di sini ya.”
“Ya.”
Gue dikasih
unjuk kamar tidur gue, yang cuma ada alas tidur aja.
“Djinn, bisa ke
sini nggak?”
Istrinya Onro
panggil gue.
“Ada urusan apa
sama Djinn, Istri?”
“Saya cuma mau
kenalin anak kita ke Mahluk Intelektual, Suami.”
“Oh, begitu ya?!
Kalo gitu, coba pegang perut Istri ya, Djinn?!”
Eh?!
“Nggak apa-apa.
Pegang aja.”
Akhirnya gue
pegang perut istrinya Onro.
“Anak, yang lagi
sentuh anda itu Mahluk Intelektual! Namanya Djinn! Walaupun nggak semua Mahluk
Intelektual itu baik, tapi Ayah yakin, kalo Djinn ini orang yang baik, Anak!”
“Ayah kamu
betul, Anak! Hihi!”
Ternyata, mereka
keluarga yang baik ya.
“Eh, Djinn?! Kok
anda nangis?!”
Hah? Gue nangis?
“Pe…Perut saya
nggak bagus untuk Mahluk In—”
“Oh! Nggak, kok!
Maaf-maaf, gue cuma ngebayangin kalo anak kalian jadi Monster yang baik!”
“Hahahaha!
Terima kasih, Djinn!”
“Hihi…”
Wajar nggak sih…kalo
gue iri sama Monster?
Andai aja gue
punya bapak yang baik kayak Onro.
Sialan, kenapa
di dunia ini gue lebih emosional ya daripada di dunia lama gue?!