
Sementara Djinn, Myllo, serta dua
Naga lainnya hendak melancarkan strateginya, keadaan Gia dan yang lainnya...
“*Prang! (suara pedang besar)”
“Roaar...”
“Cih! Mereka banyak banget!”
“Waw! Mama kewen!”
Gia sedang berkutat melawan
Naga-Naga yang hendak menyerangnya.
Ia berada di atas Barao,
sementara 3 anak lainnya berada di depan dan sampingnya.
Selain ia dan anak-anaknya,
Zorlyan dan Mahadia juga berada di atas Naga yang lain. Mereka bersama-sama
bersikeras menghadapi para Dragonkin yang hendak menyerang mereka.
““Roaaaarr!””
“Hiaaaagh!”
““*Shrak! (suara tebasan
belati)””
““Rrrrr…””
Mahadia berhasil membunuh dua
ekor Wyvern yang mengejar Naga yang ia tunggangi.
Kemudian ia kembali ke Zorlyan
dan Naga tersebut dengan sihirnya.
“(Wanita Fratta, terima kasih
telah menghadang para Wyvern yang mengejarku!)”
“Hmph. Panggil gue Maha.
Seenggaknya kalian berdua harus selamat.”
Balas Maha sambil menatap
Zorlyan, yang sedang berkonsterasi penuh untuk menyembuhkan dan mempercepat
pergerakan Naga tersebut dengan lebih dari 100 duri miliknya.
“(Haha! Tanpa Beastwoman ini,
mungkin aku sudah terluka parah! Wahaha—)”
“Gruuuar!”
“(Pergi kau, cacing raksasa!)”
“*Vwumm! (suara bola api)”
Naga itu langsung melesakkan
apinya ke arah Wyrm yang hendak menghadangnya.
Di sisi lain, Royce dan Winona
juga sedang berada di kondisi yang sama dengan Zorlyan dan Mahadia.
Bedanya, mereka tidak bisa
berbuat apa-apa untuk membantu Naga yang mereka tumpangi.
“*Chrak! (suara mencakar)”
“(Hei, kalian berdua! Apakah
kalian baik-baik saja?!)”
“Y…Ya. Maafin kita berdua ya
karena cuma bisa jadi beban aja.”
“(Tidak apa-apa! Aku adalah
seorang Naga! Sudah sepantasnya aku melindungi kalian!)”
Balas Naga yang mereka ditumpangi
ke Winona.
“♫La la la la la……”
“*Boom! (suara semburan api)”
“A...Apakah sihir saya membantu anda, wahai Naga?!”
“(Mungkin tidak membantuku dalam menghentikan Naga-Naga
lain, namun nada merdumu membuatku begitu indah dan membuatku bersemangat
melawan Naga-Naga lainnya! Ahahaha!)”
“Pa...Padahal
sihir saya seharusnya membuat lawan mengantuk....”
Pikir Royce yang agak kecewa dengan respon Naga yang ia
tumpangi.
“Pa...Padahal sudah hujan, tapi
api-api ini tetap menyala!”
“Karena itu adalah sihir milik
beliau—”
“...”
“Hmm? Ada apa—”
“*Shrak! (suara tertebas)”
“...”
Naga yang Winona tumpangi
tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menempel di lehernya. Ia tidak menyadari
bahwa yang menempel adalah tanah liat basah, yang tiba-tiba memanjang dan
menusuk dadanya.
““Aaaargh!””
Karena Naga yang ia tumpangi
terbunuh, Winona dan Royce hendak terjatuh ke hutan yang sedang terbakar.
“Kyaaaa—Umph!”
“Morri!”
Winona ditangkap oleh Morri yang
terbang, sedangkan Royce dibiarkannya terjatuh ke dalam kobaran api.
“Ti…Tidak! Aku akan—”
“*Swush! (suara terbang cepat)”
Untungnya Naga yang ditumpangi Zorlyan
dan Mahadia berhasil mendapatinya sebelum ia jatuh semakin dalam.
“Royce! Lo nggak apa-apa, kan?!”
“Ma…Maha! Wi…Winona ditangkap
oleh Morri!”
“!!!”
Mahadia pun langsung melihat
Winona yang disekap oleh Morri yang sedang terbang, ketika Royce menunjuk ke
arah tersebut.
“Umph! Umph!”
“*Tuk, tuk, tuk… (suara pukulan
pelan tongkat)”
“Mati lo! Waters!”
Seru Morri yang sedang terbang
dan hendak menusuk Winona dengan pisau berbentuk tanah liat di balik lengannya.
Melihat kejadian itu, Mahadia pun
tidak tinggal diam.
Walaupun Naga yang ia tumpangi
terbang dengan cepat, ia tetap berusaha melempar pisaunya dengan cepat dan
akurat.
“*Syut! (suara lemparan pisau)”
“Eh?! Kenapa ada pisau—”
“*Cyung… (suara teleportasi)”
“*Shrat! (suara menyayat leher)”
Winona dan Morri tiba-tiba berpindah tempat di hadapan Mahadia,
Royce, dan Zorlyan. Ia melempar pisaunya tepat di hadapan mereka berdua dan
langsung menyayat leher Morri ketika ada di hadapannya.
“Akh! Dasar pela—”
“*Jlub! (suara menusuk kepala)”
“Lo pasti nggak mati kan ditusuk
kayak gini?!”
Tanya Mahadia dengan tegas kepada
Morri.
Mengetahui ada Morri di depannya,
yang sedang kesulitan bernafas dengan beberapa sisa durinya.
“Haaakh... Haaakh...”
“*Jlub! (suara tertusuk duri)”
“Aaaaakhaak!”
“Needle Magic: Painful Feel,
Maximum!”
“Aaaaaakkkkhhh!!!”
Zorlyan yang menusuk Morri dengan
durinya pun membuat rasa sakit dari sihirnya mencapai titik tertinggi, sehingga
Morri merasakan sakit yang luar biasa.
“Da...Dasar...Dasar Pelacur lo
semua!!!”
“Haaah... Pelacur ini, pelacur
itu! Sadar diri kalo lo udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi!”
“Nggak... Nggak bisa
ngapa-ngapain lagi?! Ahahaha!!!”
““…””
“Jangan kalian pikir kalian me—”
“Nggak, kok. Kita nggak
berpikiran udah menang, selama kakak lo masih hidup!”
“Cih! Dasar bajingan!”
Seru Morri sambil terbaring
kesakitan di bagian belakang Naga yang mereka tumpangi.
“(Hey kalian. Sepertinya aku
merasakan keberadaan yang—)”
“Tenang aja. Kita udah tau di
mana posisinya. Sisanya, biar cewek itu yang urus!”
Seru Mahadia.
Jauh dari belakang Naga itu, ada
Dragonewt misterius yang sudah membidik Naga yang Mahadia dan yang lainnya
tumpangi dari atas pohon yang sudah terbakar.
Namun...
“Hyaaaaaa!”
“Sial! Kok bisa tau?!”
“*Dor! (suara tembakan)”
“*Prang! (suara tangkisan pedang
besar)”
...Gia melompat dari atas ke
arahnya. Dragonewt itu yang dalam keadaan panik pun terpaksa menembak Gia, yang
kemudian ditangkis oleh World Quaker miliknya.
“Sial! Dasar cewek bajing—”
““*Boom! (suara bola api
bersama-sama)””
Dragonewt misterius hendak
terbang untuk lari dari Gia. Akan tetapi anak-anak Gia telah menembakkan bola
api dari tiap arah, sehingga ia tidak bisa melarikan diri.
“Argh! Sialan—”
“IRON SLASHER!!!”
“*SWUSH!!! (suara ayunan keras
pedang besar)”
“Urgh!!!”
Gia pun menggunakan sihirnya
untuk membentuk sebuah bilah ketika ia mengayunkan World Quaker dari jauh.
Bilah tersebut memotong Dragonewt misterius, dari pundak hingga ke pinggul
bagian kirinya, sehingga ia tidak bisa terbang dan hanyut di dalam kobaran api
yang membakar hutan.
“Mamaaa! Kewen!”
““Mamaaa!””
“Hihi! Makasih ya, anak-anak!”
Balas Gia ketika ia berhasil
dijemput anak-anaknya.
……………
Kembali lagi ke Zorlyan, Mahadia,
dan Winona, ketika menghadapi Morri yang sudah sekarat.
“...”
“Kenapa?! Nyariin kakak lo?!
Hah?!”
Tanya Mahadia kepada Morri yang
bingung.
“Ka...Kalian... Kenapa kalian tau
kakak gue masih hidup?! Padahal kalian harusnya cuma tau kalo kakak gue udah
mati karena ditendang Tarzyn!”
“Karena lo ras yang aneh!
Regenerasi kalian nggak masuk akal! Andai Erkstern beneran jadi Petualang,
mungkin aja dia bisa jadi Pahlawan! Sayang, kalian nggak lebih dari sekedar
*******!”
Tegas Zorlyan.
“Ja...Jangan sebut-sebut nama
orang lemah kayak Erkstern lagi! Dia terlalu lembut, bahkan nggak tega bunuh
rekannya sendiri!”
“Di...Dia kakak kamu, kan?!
Kenapa kamu—”
“Gu...Gue Morrizal Dragorach!
Putra pewaris Erviga! Seharusnya gue—”
“*GRAAUP! (suara gigitan Wyrm)”
“(Ah! Tubuhku! Dasar Wyrm sialan!)”
“*Boom! (suara ledakan bola api)”
“Graaarr…”
Morri yang mengungkapkan
identitas aslinya, tiba-tiba ikut tergigit oleh Wyrm liar yang hendak menggigit
Naga yang mereka semua tumpangi.
Untung Naga yang mereka tumpangi
masih dalam keadaan baik-baik saja dan langsung menembak Wyrm itu dengan bola
apinya.
Namun…
““…””
…mereka bertiga tidak percaya apa
yang mereka saksikan.
Mereka bersama-sama menyaksikan
Morri yang ikut tergigit Wyrm tadi, hingga hanya tersisa setengah tubuhnya.
“Maha... Zorlyan... Royce… Kalau
kita selamat dari tempat ini...tolong temani aku untuk jumpa keluargaku.”
““Y...Ya...””
Balas mereka bertiga atas
permintaan Winona.
“*Jgruumm! (suara petir)”
“Tapi...itu kalo kita selamat,
ya...”
Lanjut Zorlyan sambil menatap
langit karena adanya suara petir.
Mereka pun sama-sama melihat pertarungan
antara Tarzyn yang terbang ke atas langit melawan mengejar dua ekor Naga yang
terbang setingg-tingginya.