Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 84. Against The Siblings



Sementara Djinn, Myllo, serta dua


Naga lainnya hendak melancarkan strateginya, keadaan Gia dan yang lainnya...


“*Prang! (suara pedang besar)”


“Roaar...”


“Cih! Mereka banyak banget!”


“Waw! Mama kewen!”


Gia sedang berkutat melawan


Naga-Naga yang hendak menyerangnya.


Ia berada di atas Barao,


sementara 3 anak lainnya berada di depan dan sampingnya.


Selain ia dan anak-anaknya,


Zorlyan dan Mahadia juga berada di atas Naga yang lain. Mereka bersama-sama


bersikeras menghadapi para Dragonkin yang hendak menyerang mereka.


““Roaaaarr!””


“Hiaaaagh!”


““*Shrak! (suara tebasan


belati)””


““Rrrrr…””


Mahadia berhasil membunuh dua


ekor Wyvern yang mengejar Naga yang ia tunggangi.


Kemudian ia kembali ke Zorlyan


dan Naga tersebut dengan sihirnya.


“(Wanita Fratta, terima kasih


telah menghadang para Wyvern yang mengejarku!)”


“Hmph. Panggil gue Maha.


Seenggaknya kalian berdua harus selamat.”


Balas Maha sambil menatap


Zorlyan, yang sedang berkonsterasi penuh untuk menyembuhkan dan mempercepat


pergerakan Naga tersebut dengan lebih dari 100 duri miliknya.


“(Haha! Tanpa Beastwoman ini,


mungkin aku sudah terluka parah! Wahaha—)”


“Gruuuar!”


“(Pergi kau, cacing raksasa!)”


“*Vwumm! (suara bola api)”


Naga itu langsung melesakkan


apinya ke arah Wyrm yang hendak menghadangnya.


Di sisi lain, Royce dan Winona


juga sedang berada di kondisi yang sama dengan Zorlyan dan Mahadia.


Bedanya, mereka tidak bisa


berbuat apa-apa untuk membantu Naga yang mereka tumpangi.


“*Chrak! (suara mencakar)”


“(Hei, kalian berdua! Apakah


kalian baik-baik saja?!)”


“Y…Ya. Maafin kita berdua ya


karena cuma bisa jadi beban aja.”


“(Tidak apa-apa! Aku adalah


seorang Naga! Sudah sepantasnya aku melindungi kalian!)”


Balas Naga yang mereka ditumpangi


ke Winona.


“♫La la la la la……”


“*Boom! (suara semburan api)”


“A...Apakah sihir saya membantu anda, wahai Naga?!”


“(Mungkin tidak membantuku dalam menghentikan Naga-Naga


lain, namun nada merdumu membuatku begitu indah dan membuatku bersemangat


melawan Naga-Naga lainnya! Ahahaha!)”


“Pa...Padahal


sihir saya seharusnya membuat lawan mengantuk....”


Pikir Royce yang agak kecewa dengan respon Naga yang ia


tumpangi.


“Pa...Padahal sudah hujan, tapi


api-api ini tetap menyala!”


“Karena itu adalah sihir milik


beliau—”


“...”


“Hmm? Ada apa—”


“*Shrak! (suara tertebas)”


“...”


Naga yang Winona tumpangi


tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menempel di lehernya. Ia tidak menyadari


bahwa yang menempel adalah tanah liat basah, yang tiba-tiba memanjang dan


menusuk dadanya.


““Aaaargh!””


Karena Naga yang ia tumpangi


terbunuh, Winona dan Royce hendak terjatuh ke hutan yang sedang terbakar.


“Kyaaaa—Umph!”


“Morri!”


Winona ditangkap oleh Morri yang


terbang, sedangkan Royce dibiarkannya terjatuh ke dalam kobaran api.


“Ti…Tidak! Aku akan—”


“*Swush! (suara terbang cepat)”


Untungnya Naga yang ditumpangi Zorlyan


dan Mahadia berhasil mendapatinya sebelum ia jatuh semakin dalam.


“Royce! Lo nggak apa-apa, kan?!”


“Ma…Maha! Wi…Winona ditangkap


oleh Morri!”


“!!!”


Mahadia pun langsung melihat


Winona yang disekap oleh Morri yang sedang terbang, ketika Royce menunjuk ke


arah tersebut.


“Umph! Umph!”


“*Tuk, tuk, tuk… (suara pukulan


pelan tongkat)”


“Mati lo! Waters!”


Seru Morri yang sedang terbang


dan hendak menusuk Winona dengan pisau berbentuk tanah liat di balik lengannya.


Melihat kejadian itu, Mahadia pun


tidak tinggal diam.


Walaupun Naga yang ia tumpangi


terbang dengan cepat, ia tetap berusaha melempar pisaunya dengan cepat dan


akurat.


“*Syut! (suara lemparan pisau)”


“Eh?! Kenapa ada pisau—”


“*Cyung… (suara teleportasi)”


“*Shrat! (suara menyayat leher)”


Winona dan Morri  tiba-tiba berpindah tempat di hadapan Mahadia,


Royce, dan Zorlyan. Ia melempar pisaunya tepat di hadapan mereka berdua dan


langsung menyayat leher Morri ketika ada di hadapannya.


“Akh! Dasar pela—”


“*Jlub! (suara menusuk kepala)”


“Lo pasti nggak mati kan ditusuk


kayak gini?!”


Tanya Mahadia dengan tegas kepada


Morri.


Mengetahui ada Morri di depannya,


yang sedang kesulitan bernafas dengan beberapa sisa durinya.


“Haaakh... Haaakh...”


“*Jlub! (suara tertusuk duri)”


“Aaaaakhaak!”


“Needle Magic: Painful Feel,


Maximum!”


“Aaaaaakkkkhhh!!!”


Zorlyan yang menusuk Morri dengan


durinya pun membuat rasa sakit dari sihirnya mencapai titik tertinggi, sehingga


Morri merasakan sakit yang luar biasa.


“Da...Dasar...Dasar Pelacur lo


semua!!!”


“Haaah... Pelacur ini, pelacur


itu! Sadar diri kalo lo udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi!”


“Nggak... Nggak bisa


ngapa-ngapain lagi?! Ahahaha!!!”


““…””


“Jangan kalian pikir kalian me—”


“Nggak, kok. Kita nggak


berpikiran udah menang, selama kakak lo masih hidup!”


“Cih! Dasar bajingan!”


Seru Morri sambil terbaring


kesakitan di bagian belakang Naga yang mereka tumpangi.


“(Hey kalian. Sepertinya aku


merasakan keberadaan yang—)”


“Tenang aja. Kita udah tau di


mana posisinya. Sisanya, biar cewek itu yang urus!”


Seru Mahadia.


Jauh dari belakang Naga itu, ada


Dragonewt misterius yang sudah membidik Naga yang Mahadia dan yang lainnya


tumpangi dari atas pohon yang sudah terbakar.


Namun...


“Hyaaaaaa!”


“Sial! Kok bisa tau?!”


“*Dor! (suara tembakan)”


“*Prang! (suara tangkisan pedang


besar)”


...Gia melompat dari atas ke


arahnya. Dragonewt itu yang dalam keadaan panik pun terpaksa menembak Gia, yang


kemudian ditangkis oleh World Quaker miliknya.


“Sial! Dasar cewek bajing—”


““*Boom! (suara bola api


bersama-sama)””


Dragonewt misterius hendak


terbang untuk lari dari Gia. Akan tetapi anak-anak Gia telah menembakkan bola


api dari tiap arah, sehingga ia tidak bisa melarikan diri.


“Argh! Sialan—”


“IRON SLASHER!!!”


“*SWUSH!!! (suara ayunan keras


pedang besar)”


“Urgh!!!”


Gia pun menggunakan sihirnya


untuk membentuk sebuah bilah ketika ia mengayunkan World Quaker dari jauh.


Bilah tersebut memotong Dragonewt misterius, dari pundak hingga ke pinggul


bagian kirinya, sehingga ia tidak bisa terbang dan hanyut di dalam kobaran api


yang membakar hutan.


“Mamaaa! Kewen!”


““Mamaaa!””


“Hihi! Makasih ya, anak-anak!”


Balas Gia ketika ia berhasil


dijemput anak-anaknya.


……………


Kembali lagi ke Zorlyan, Mahadia,


dan Winona, ketika menghadapi Morri yang sudah sekarat.


“...”


“Kenapa?! Nyariin kakak lo?!


Hah?!”


Tanya Mahadia kepada Morri yang


bingung.


“Ka...Kalian... Kenapa kalian tau


kakak gue masih hidup?! Padahal kalian harusnya cuma tau kalo kakak gue udah


mati karena ditendang Tarzyn!”


“Karena lo ras yang aneh!


Regenerasi kalian nggak masuk akal! Andai Erkstern beneran jadi Petualang,


mungkin aja dia bisa jadi Pahlawan! Sayang, kalian nggak lebih dari sekedar


*******!”


Tegas Zorlyan.


“Ja...Jangan sebut-sebut nama


orang lemah kayak Erkstern lagi! Dia terlalu lembut, bahkan nggak tega bunuh


rekannya sendiri!”


“Di...Dia kakak kamu, kan?!


Kenapa kamu—”


“Gu...Gue Morrizal Dragorach!


Putra pewaris Erviga! Seharusnya gue—”


“*GRAAUP! (suara gigitan Wyrm)”


“(Ah! Tubuhku! Dasar Wyrm sialan!)”


“*Boom! (suara ledakan bola api)”


“Graaarr…”


Morri yang mengungkapkan


identitas aslinya, tiba-tiba ikut tergigit oleh Wyrm liar yang hendak menggigit


Naga yang mereka semua tumpangi.


Untung Naga yang mereka tumpangi


masih dalam keadaan baik-baik saja dan langsung menembak Wyrm itu dengan bola


apinya.


Namun…


““…””


…mereka bertiga tidak percaya apa


yang mereka saksikan.


Mereka bersama-sama menyaksikan


Morri yang ikut tergigit Wyrm tadi, hingga hanya tersisa setengah tubuhnya.


“Maha... Zorlyan... Royce… Kalau


kita selamat dari tempat ini...tolong temani aku untuk jumpa keluargaku.”


““Y...Ya...””


Balas mereka bertiga atas


permintaan Winona.


“*Jgruumm! (suara petir)”


“Tapi...itu kalo kita selamat,


ya...”


Lanjut Zorlyan sambil menatap


langit karena adanya suara petir.


Mereka pun sama-sama melihat pertarungan


antara Tarzyn yang terbang ke atas langit melawan mengejar dua ekor Naga yang


terbang setingg-tingginya.