Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 351. The One To Be Met



“Hoaaaamm…”


“Djinn! Sia teh mau pergi masak lagi?!”


“Ya. Keliatannya warga desa udah mau bangun. Jadinya gue harus masak bareng Shinikichi sama Nekomi untuk mereka.”


“Yaudah, atuh. Aing mau lanjut bobo.”


“…”


Gue akhirnya keluar dari rumah salah satu warga desa, yang ijinin kita untuk tidur di rumahnya.


Oh ya, ngomong-ngomong sekarang udah 3 hari semenjak kita dateng di Kochi Village.


Waktu kita sampe sini, Shinikichi disambut baik sama salah satu warga desa. Abis itu, warga desa Kochi sampein kabar ke satu sama lain tentang kedatangannya Shinikichi. Kabar itu sendiri disampein dari satu rumah ke rumah lainnya.


Selama 3 hari ini, Shinikichi selalu masak sekaligus sembuhin warga desa yang sakit. Untungnya sih ada gue sama Garry. Makanya itu gue bantu dia masak, terus Garry bantu dia sembuhin orang-orang yang sakit.


Selain masak sama ngelayanin warga desa ini…


“*Bhuk!!!”


“S-Sialan! Ternyata ada orang lain yang jaga desa ini!”


“Harusnya kita bisa serang desa itu! Tapi kalo ada mereka—”


“Banci lo semua! Bisanya lawan orang lemah aja! Sini lo semua, Beastman biadab!”


““Hieeekh!!!””


…kita juga jagain warga desa dari para bandit atau Ronin yang selalu serang desa ini selagi nggak ada anggota Perlawanan.


Makanya itu, sampe sekarang gue tetep masak untuk warga desa bareng Shinikichi sama Nekomi. Contohnya kayak sekarang.


“Mi, bumbunya gimana?”


“S-Sebentar lagi jadi.”


“Nasinya sudah matang, Djinn-san.”


“Yaudah. Gue tinggal angkat lauknya aja. Nanti biar gue aja yang tata di mangkok.”


“Baik, Djinn-san.”


Bagus deh, kalo gitu.


“Hmmm! E-Enak banget!”


“Ya! Saya nggak sangka kalau anda bisa masak selezat ini!”


Untung aja gue punya 2 Fratta Pouch. Yang satu untuk simpen Ark Blade sama Wavebringer, yang satu lagi untuk simpen bahan-bahan masakan.


Mungkin seharusnya gue simpen bahan masakan gue di Sailing Eagle.


Tapi ada satu alesan yang bikin gue nggak akan pernah simpen di kapal itu.


“*Puff!”


“Ahahaha!!! Garry jadi hantu!!!”


“Huehehehe! Aing teh hantu!”


“Haha. Garry hantu.”


Si Dongo, Si Mesum, sama Si Lemot, suka pake tepung untuk bercanda!


“*Tong, tong, tong!”


“Woy! Siapa yang mau gantian jagain Sailing Eagle?! Gue ngantuk!”


Terus Si Brengsek ketok-ketok wajan yang gue punya cuma untuk bangunin orang doang!


Tapi yang lebih parah dari mereka semua…


“Kok gulanya abis?!”


“A-Aku… pakai untuk masak—”


“*Bfffftttt!!!”


“Uhuk, uhuk! Manis banget! Lagian kok bikin sop pake gula sebanyak ini?!”


“A-Aku lagi… eksperimen… hehe…”


…Si Genit yang gampang abisin bahan makanan yang gue simpen! Masaknya gagal, bahannya malah abis!


Kalo nggak karena bocah-bocah sialan itu, mungkin gue udah simpen bahan makanan sama peralatan masak gue!


“Shin, Udah siap nih makanannya.”


“Wuaaah! Kalau saya boleh tau, apa nama makanan ini, Djinn-san?”


“Ramen, sama Onigiri.”


Mumpung tempat ini agak mirip sama Jepang, nggak ada salahnya kan kalo gue bikin makanan khas Jepang?


Bahkan sebelumnya aja, gue bikin makanan Jepang lainnya, kayak Sup Miso, Karaage, sama Gyoza.


Tapi yang lebih penting dari itu semua tuh cuma satu.


“…”


Gue beruntung masih simpen peralatan masak gue di Fratta Pouch gue.


Karena di tempat ini… keliatannya mustahil banget untuk masak.


“*Tung, trung, tung…”


“E-Ehh! M-M-Maaf! Aku nggak sengaja tendang wajan ini!”


“Ng-Nggak apa-apa, Mi. Gue paham kok.”


Bahkan masak aja kita harus dilantai. Makanya Nekomi sampe nggak sengaja nendang wajan, waktu dia lagi


jalan.


Intinya…


Desa ini kumuh dan nggak terurus karena miskin.


Gue nggak salahin warga desanya, karena harusnya yang tanggung jawab itu tuh anggota Bakufu!


Tambah lagi fakta kalo desa ini nggak ada Kades karena cuma andelin Perlawanan atau Bakufu aja. Jadinya kehidupan warga desa ini susah banget!


“Oh ya, Shin.”


“Apa, Djinn-san?”


“Ngomong-ngomong, lo udah ketemu


sama orang yang mau lo temuin?”


“B-Belum. Saya rasa… dia lagi hibernasi.”


Hah?! Hibernasi?!


Emangnya siapa yang mau dia temuin, bahkan dia rela tungguin orang itu—


“Kelihatannya sudah pada antre. Ayo kita siapkan makanan kita, teman-teman.”


“Ya.”


Sebelum diangkut ke warga desa ini, gue udah pastiin kalo gue, Garry, sama Machinno, udah punya jatahnya


masing-masing.


“T-Terima kasih banyak, anggota Perlawanan!”


“Ibu! Enak sekali makanan ini!”


“Sehari saja aku sudah bersyukur karena bisa menikmati makanan ini! Tetapi hari ini aku juga bisa menikmati makanan lezat ini! Oh! Terpujilah Dewi Zegin-sama!”


““Terpujilah Dewi Zegin-sama!””


Oh ya, ngomong-ngomong ada satu hal yang bikin gue heran.


Warga desa ini nyembah Zegin? Bukannya Zegin nggak ada yang sembah, lantaran dia mau bebas?”


“Bagaimana untuk Tsuruki-san dan Yukiari-kun?”


“A-Aku… udah siapin untuk dia Aniue dan orang itu, Shinikichi-san.”


“Yaudah deh, biar gue yang kasih aja ke Tsuruki.”


Gue akhirnya keluar dari desa untuk samperin Tsuruki.


Ya. Tsuruki nggak ada di desa. Dia ada di hutan yang ada di deket desa ini.


Bukan karena dia nggak diterima sama warga desa ini.


Tapi karena…


“Gue nggak masuk ke desa, deh.”


“Hah?! Emangnya kenapa?!”


“Gue ini… anggota Klan Ishisaru. Pasti mereka takut kalo ada “anggota Bakufu” yang berkeliaran di


desa. Makanya itu, gue di hutan ini aja.”


…dia yang usulin ide itu.


“Djinn! Ada apa?!”


“Nih makanan buat lo.”


“Oh! Obento! Makasih banyak, Djinn!”


“Ya, sama-sama.”


“Haurp, haurp, haurp…”


Keliatannya dia lahap banget makannya.


Sebenernya gue nggak mau ganggu. Tapi karena tugas gue sekarang itu jagain Shinikichi, jadinya gue selalu tanya hal yang sama ke dia, sehabis dia selesai makan.


“Ki, ada yang aneh nggak selama lo ada di sini?”


“Nggak ada sih. Semuanya sama aja.”


“Oh gitu, ya?”


“Emangnya kenapa, Djinn? Lo ngerasa ada yang aneh?”


“Ya. Ada yang agak aneh sih di sini.”


“Emangnya ada apa?”


“…”


Gue jelasin sesuatu ke dia, sehabis gue ngecek sekitar gue.


Masalahnya…


“*Srrk, srrkk…”


““…””


…tiba-tiba ada suara semak-semak.


“*Bruk!”


“Aduh!”


Hm? Ada cewek kecil di sini?


“…”


Pakaiannya sih mirip sama warga Kumotochi. Terus dia nggak punya atribut Beastfolk sama sekali.


Apa mungkin dia itu salah satu Were-Type, kayak Lupherius atau beberapa Beastfolk lainnya?


“Dek, ngapain ada di sini? Bukannya—”


“Haaaah?! Kau sedang berbicara dengan siapa?!”


““…””


Hah…? Kok anak kecil ini—


“Duh, gawat!”


“Ada apa, Ki?”


“K-Kalo ada warga desa di sini… bisa-bisa lo dicurigain warga desa lainnya, Djinn!”


“Hah? Emangnya kenapa?


“Lo lupa, kalo atribut yang gue punya ini mirip sama Klan Ishisaru—”


“Klan Ishisaru?! Apakah kau adalah mata-mata Bakufu?!”


Duh, kok nih bocah ikut-ikut aja, sih?


“Bukan.”


“Oh! Seperti itu kah?! Syukurlah! Aku kira warga Kochi Village akan menderita karena Bakufu!”


N-Nih bocil kayaknya gampang percaya deh sama yang gue bilang…


“Dek. Sana gih, kita lagi ngobrol—”


“Tidak! Aku baru saja terbangun! Selama tidak ada anggota Bakufu, Aku ingin merasakan udara kebebasan yang ada di hutan ini! Lagipula! Tidak seharusnya kau memperlakukan—”


“Oh gitu ya? Yaudah deh, kita pergi aja. Ayo, Ki.”


Gara-gara bocah keras kepala ini, mending kita aja deh yang pergi!


“Y-Yaudah—”


“Tungguuuu!!!”


““…””


“Jangan pergi! Aku tidak ingin sendirian!”


Hah?! Nggak mau sendirian?!


“Yaudah! Kalo gitu kakak temenin balik ke desa, ya?!”


“Tidak, tidak, tidak! Aku rela mengikuti kalian ke mana saja! Asalkan kita tidak kembali ke desa!”


Duh! Bener-bener nih bocah!


“Kita ada yang harus diobrolin berdua! Lagi nggak bisa diganggu!”


“Haaaah?! Mengganggu?! Memangnya kau pikir—”


“Ya! Adek kecil ganggu banget! Kenapa emangnya?!”


“K-Kasar sekali! Dasar pemuda yang tidak sopan!”


Kenapa nih bocil kesannya kayak orang tua, sih?!


“Dj-Djinn… b-biarin aja deh dia ikut kita…”


“Jangan.”


“Hah?! Kenapa?!”


“Kita nggak akan pernah tau gimana wujud mata-mata dari Bakufu. Makanya itu, nggak ada salahnya kalo—”


“Hey! Kurang ajar! Aku mata-mata Bakufu, katamu?! Bagaimana otak di kepalamu bisa berpikir seperti itu?!”


Aaaargh! Gue udah nggak tahan sama bocil ini!


“*Cut…”


“Hey! Jangan mencubit pipiku!”


“Biarin! Biar kamu balik lagi ke desa!”


“T-Tidaaaaak! Aku ingin pergi bersama kaliaaaaan!”


“Emangnya mau pergi ke mana sih?! Daripada ganggu, mending kita bawa balik aja ke—”


“Ryūhime-samaaaaa! Hamba membawakan makanan untuk—EEEEEEHHHH?!?! APA YANG KALIAN LAKUKAN KEPADA RYŪHIME-SAMAAAA!!!”


Hah…? Ryūhime-sama…?


Tunggu, tunggu, tunggu…


Jadi…


““BO-BOCIL INI RYŪHIME?!?!””