Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 113. The Beginning of Alliance



““*Brak! (suara terlempar)””


““Urgh…””


Bismont melempar Dalbert dan


Alethra ke hadapan Sebastian.


“Fufufu…Fuhuahahaha!”


“…”


“Tidak saya sangka! Ternyata


orang yang memimpin kutu-kutu seperti itu adalah adik dari ****** itu!”


Hina Sebastian kepada Dalbert.


“Menghilang 10 tahun yang lalu


hanya untuk membuat pasukan bandit sampah seperti—”


“Huhuhu…”


“Hm?”


“Huahahaha!”


“!!!”


Sebastian merasa kesal karena


omongannya dipotong oleh Dalbert yang tertawa.


Tambah lagi, ia merasa tawa dari


Dalbert seolah-olah bertujuan menghinanya.


“Hey! Saya tidak suka ada yang


memotong bicara sa—”


“Gue paham sekarang kondisinya!”


“Sudah saya bilang saya tidak


suka ada yang—”


“Orang yang jabatannya Duke di


Erviga cuma berani ngumpet di belakang bangsawan lain?!”


“Apa yang anda bi—”


“HAHAHAHA!!! DASAR KUTU YANG BERANINYA NGUMPET DI


RAMBUT!!! SIAPA YANG KUTU SEKARANG?!?!”


Teriak Dalbert kepada Sebastian.


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Urgh…”


Sebastian menendang dagunya


karena merasa kesal.


Namun, alih-alih membuatnya diam…


“Berani-beraninya anda berbicara


seperti i—”


“*Cuh! (suara meludah)”


“…”


…Dalbert justru bertindak semakin


tidak karuan dengan meludah yang penuh darah ke wajah Sebastian.


“RAAAAAGH! LOUISSON! CEPAT


BUNUH—”


“Lo yakin? Bukannya orang itu juga mau dia?”


“…”


Sebastian hanya menatap Bismont


dengan tajam.


Ia pun berjalan ke Bismont dengan


langkah yang menghentak.


“*Drap! Drap! Drap! (suara


langkah menghentak)”


“*Tap! (suara menepuk pundak


dengan keras)”


“SUDAH SAYA BILANG! SAYA TIDAK


SUKA JIKA ADA YANG MEMOTONG OMONGAN SAYA!”


Teriak Sebastian, tepat di


telinga Bismont.


Namun, Bismont hanya diam saja.


“Jangan


anda berbicara seakan-akan anda mengenal beliau,


Bismont. Anda tidak tahu apa-apa tentang beliau.”


Bisik Sebastian di telinga


Bismont.


Ia pun kembali berjalan menjauhi


Bismont.


“Sepertinya beliau juga ingin bedebah ini mati.


Maka dari itu, tidak masalah jika orang ini mati!”


“…”


Lagi, Bismont tidak memberikan


komentar apa-apa.


“Baiklah, bunuh dia secepat—”


“Bahkan untuk bunuh orang yang


diiket pun, lo minta orang lain?! Hah! Nggak gue sangka bangsawan tertinggi di


Erviga nggak lebih dari seorang pengecut!”


Seru Dalbert kepada Sebastian.


Ia pun kesal karena Dalbert


menghina dirinya, yang juga memotong omongannya.


“Haaaaaah! Dasar sialan!”


Seru Sebastian dengan kesal.


“Apa yang anda tunggu, Louisson?!


Cepat bunuh dia!”


Bismont pun berjalan menuju


Dalbert, sambil menghunuskan pedangnya.


“Bos…”


“Maafin gue, Alethra.”


Namun, ketika ia hendak membunuh


Dalbert…


“…uoaaaarr…”


…tiba-tiba terdengar suara Naga


dari luar kediaman Sebastian.


“A…Ada Naga!”


“Se…Serang Naga itu!”


Suara pasukan Siegfried dan


Louisson pun terdengar hingga ke ruangan di mana mereka berempat berada.


“Me…Mengapa tiba-tiba ada Naga yang menyerang?!”


Pikir Sebastian dengan heran.


Ketika dirinya dilanda


kebingungan…


“*Bruk! (suara tembok runtuh)”


“BOOOOOOSSSS!!!”


…Naga itu menghantam kediaman


Sebastian, hingga menembus ruangan mereka berada.


Tidak sampai di situ saja, Naga


itu juga memakan Dalbert secara utuh.


“Rrrrrr!”


“…”


Naga itu menatap Sebastian dengan


begitu tajam.


“Heavenly Blade!”


“*Shruk! (suara tusukan)”


“Rrrr!”


“*Bruk! (suara tembok runtuh)”


Bismont tidak tinggal diam.


Ia menusuk mulut Naga itu, hingga


Naga itu pergi melarikan diri.


“Naga itu…seolah-olah menatap saya dengan tajam! Artinya…tidak bisa


dipungkiri lagi! Naga itu adalah—”


“Sebastian, kita kejar nggak Naga


itu?”


“…”


Sebastian diam tertegun ketika


dirinya ditanya oleh Bismont.


Di tengah dirinya yang sedang


bingung, ia menatap Alethra.


“Hiks, hiks… Bo…Bos…”


Alethra hanya menangis setelah


menyaksikan Dalbert yang dimakan begitu saja.


“Tidak usah! Kita tetap jalankan


rencana kita! Setidaknya kita telah mendapatkan sumber daya yang lebih untuk beliau!”


“Tapi, orang itu kan—”


“Daripada mengejar Naga dan


Tegas Sebastian kepada Bismont.


Dengan semua kejadian ini,


Bismont merasa urusannya telah selesai dan hendak menemui pasukannya.


Namun, sebelum ia hendak keluar


dari ruangan itu, ia menanyakan sesuatu kepada Sebastian.


“Tolong ingetin gue lagi. Apa


nama tempat yang mau kita serang?”


“Dungeon of Beasts.”


Jawab Sebastian.


Ketika ia pergi dari ruangan itu,


seorang pelayan di kediaman tersebut menghampiri Sebastian.


“Yang Mulia, bagaimana dengan


setiap bandit yang berhasil ditangkap?”


“Perintahkan para pasukan atas


nama saya untuk membunuh semua Manusia! Sisanya, bawa mereka ke Penampungan!”


“Baiklah, Yang Mulia.”


Pelayan itu pun melakukan apa


yang diperintahkan oleh Sebastian.


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Jangan bunuh dia—”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Diam kau, Mahluk Hina!”


Setiap bandit Ras Manusia pun


dibunuh oleh pasukan Siegfried di depan mata para bandit Non-Manusia.


Sisa dari para bandit pun disegel


dengan Mana-Restriction.


Dari atas ruangan, Sebastian


menatap para bandit yang dibunuh dan disiksa dengan tatapan yang angkuh.


“Baiklah, alangka saya


melanjutkan ritual saya sebelum berperang.”


Kata Sebastian dengan menyeringai.


Di sampingnya, terdapat pelayan


Dragonewt yang menangis melihat sanak saudaranya diperlalukan dengan hina.


“Hmph. Menangislah sepuasnya. Karena ini adalah terakhir kalinya anda


melihat saudara satu ras anda, Dragonewt!”


Pikir Sebastian.


……………


Di tempat lain, di sekitar Erviga.


“*Pyuh! (suara Naga meludah)”


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


Naga yang memakan Dalbert


membuangnya dari mulutnya.


Tidak lama kemudian, di


hadapannya ada seseorang yang ia kenal.


“Dalbert Dalrio, ketua dari ikatan


bandit yang bernama Blood Brothers of Erviga.”


“Lo itu…Marquis Verde!”


Seru Dalbert setelah melihat


Verdian yang berjalan dengan Göhran dalam Wujud Manusia.


“Huek! Mulutku terasa tidak


nyaman karena sempat ada Mahluk Fana!”


“Hah?!”


Dalbert kembali terkejut setelah


melihat Rakhzar yang berubah ke dalam Wujud Manusia.


“Untung saja saya menemukan—”


“Diem lo!”


““!!!””


“Lo itu bawahannya Siegfried,


kan?!”


Seru Dalbert dalam keadaan


waspada.


“Hey, hey, hey! Tenangkan diri


anda!”


“…”


“Anda pikir, siapa yang


membeberkan ruangan rahasia milik Siegfried kepada BBE?!”


“!!!”


Dalbert kembali dikejutkan dengan


pernyataan Verdian.


“Kalo dipikir-pikir lagi, gue ngira semuanya itu cuma kemungkinan!


Artinya…beberapa anggota gue ada yang dapet dari dia langsung?!”


Pikir Dalbert, sambil mengingat


rapat yang ia adakan dengan anggotanya.


“Maka dari itu, saya yakin anda


akan tertangkap, semenjak sahabat saya Bismont terpaksa bekerja untuk bedebah i—”


“Ma…Maksudnya, lo itu udah yakin


kalo kita nggak akan berhasil?!”


Tanya Dalbert dengan kesal.


“Maafkan saya jika saya harus


mengatakan benar. Maka dari itu, kita tidak ada waktu lagi! Alangkah baiknya jika


kita rencanakan strategi kita untuk membebaskan rekan-rekan anda, serta Kaum


Non-Manusia lainnya!”


Tegas Verdian kepada Dalbert.


“Jadi, apakah anda mengetahui


lokasi ditahannya para Mahluk Non-Manusia?”


“…”


Dalbert hanya terdiam ketika


ditanya oleh Verdian.


Ia berusaha mengingat sesuatu


ketika berada di kediaman Sebastian.


Seketika ia teringat akan bisikan


Bismont, sebelum ia dibawa ke hadapan Sebastian.


“Penampungan masih ada di


bawah Vigrias Graveyard. Gue liat pake mata kepala gue sendiri.”


“Ah, itu ya maksudnya.”


Pikir Dalbert akan bisikan


Bismont.


“Duke Louisson bilang…Penampungan


terakhir…ada di Vigrias Graveyard.”


“!!!”


Verdian begitu terkejut ketika


mendengar fakta yang diberikan oleh Dalbert.


“Verdian? Ada apa?”


“Ji…Jika berada di Vigrias…artinya


untuk memasuki ibukota Erviga tersebut…sedikit mustahil…”


“Me…Mengapa?”


“Karena…wilayah tersebut dijaga


oleh Royal Knight…pasukan Ksatria yang hanya mengabdi kepada Raja saja…”


Jelas Verdian ketika ditanya oleh


Rakhzar.


“Tambah lagi…dengan status saya


sebagai seorang bangsawan yang menjadi buronan…sepertinya mustahil untuk—”


“Yaudah kalo lo nggak berani.


Ujung-ujungnya gue harus selamatin anggota gue!”


Seru Dalbert kepada Verdian.


“Ia benar, Verdian. Bukan


waktunya lagi kita mundur.”


“Tenang saja, kawan! Kami akan


melindungimu! Biarlah dirimu membawa keadilan bagi kerajaan ini!”


Sahut Göhran dan Rakhzar kepada


Verdian.


“Kalian benar. Saya kehilangan


anggota saya. Tapi saya tidak akan membiarkan tanah kelahiran saya hancur


begitu saja!”


Seru Verdian kepada mereka


bertiga.


Bersama-sama, mereka berempat hendak


menuju Vigrias Graveyard untuk membebaskan Mahluk Non-Manusia.