Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 9. First Exercise in This World



“Ah! Pantas saja saya teringat akan sesuatu setelah mendengar nama anda!”


Hah? Nama dia? Emangnya dia terkenal?


“Styx, wanita misterius yang merupakan anggota dari Aquilla yang dipimpin oleh—”


“Ya, ya, ya. Yang itu lah pokoknya!”


“Oh! Jika saya boleh tahu—”


“Nggak boleh.”


Buset, Meldek langsung ditolak begitu…


Dia kayak ngehindarin pertanyaan tentang masa lalunya deh, kayak gue.


Tadi ada yang mau gue tanya, cuma nanti aja deh gue tanyanya.


“Eh, bisa gak sih kita fokus ke pembahasan ini?”


“Tadi gue agak ketinggalan sedikit. Tadi apa namanya grupnya?”


“Goldiggia. Itu Guild dipimpin sama orang yang biasa dipanggil Kakak Tertua. Mereka punya bisnis gelap yang banyak banget, mulai dari penjualan budak ilegal, pemerasan lahan bisnis, kontrak pembunuhan, bahkan pemerasan anggota bangsawan.”


Tunggu, tunggu, tunggu…


Tadi apa? Penjualan budak ilegal? Emang jualan budak ada yang legal?


Ngeri juga hidup dunia ini, ya!


“Gue tadinya coba nyelinap masuk ke salah satu Penampungan untuk bebasin adek gue. Tapi, ujung-ujungnya gue ketangkep! Dan lo tau siapa yang nangkep gue?!”


““…””


“Dia itu Count! Kalo gak salah namanya Count Verto…”


“Count Vertolio?”


“Ya, dia!”


Count? Itu gelar bangsawan kan, ya?


Kalo gak salah, di salah satu buku yang pernah gue baca, urutan bangsawan dari paling atas ke paling bawah itu ada…


Duke, Marquis, Count, Viscount, Baron, sama Ksatria.


Dan mereka semua ngelayanin anggota kerajaan atau kekaisaran, yang asalnya dari anggota keluarga dari pimpinan negara mereka.


Gitu kan, ya?


Artinya yang nangkep Styx itu orang penting dong?!


“Jika Count Vertolio yang menangkap dan membawa anda kepada Goldiggia, artinya…”


“Antara ada orang bangsawan di belakang mereka, atau nggak anggota mereka udah di mana-mana, bahkan anggota bangsawan bisa direkrut mereka!”


Buset! Kelompok macem apa itu?! Kok bahaya banget sampe masuk pemerintahan?!


“Djinn, gue tau lo lupa ingetan dan masih belom sembuh…”


Nggak ada yang sakit, cuma bohong doang kok lupa ingetannya…


“Tapi tolong bantu gue bebasin adek gue!”


Hmm…gue udah tau arahnya pasti kesini.


“He-Hey! Anda tidak bisa meminta Tuan Muda melakukan hal berbahaya seperti—”


“Diem dulu, Mel.”


“Maafkan saya, Tuan Muda! Saya siap meneri—”


“Mel?!”


“Ah, baik Tuan Muda.”


Semenjak gue pingsan, ada beberapa hal yang gue sadarin.


Pertama, gue tiba-tiba bisa kuat karena Mana gue.


Kedua, Mana gue nggak bisa dikontrol. Tiba-tiba bisa keras banget efeknya.


Terakhir, Mana itu kayak batre. Kalo udah abis, langsung mati. Tapi masih bisa diisi batrenya supaya hidup lagi.


“OK, gue bantu lo.”


“Tu-Tuan Muda! Apakah anda yakin?”


“Se-Serius, Djinn? Kalo gitu—”


“…”


Gue kasih unjuk angka 1 pake jari.


“Satu? Maksudnya?”


“Ada satu syarat yang harus lo penuhin.”


“Se…Semoga gue masih bisa sanggupin!”


““…””


“*Gluk…(suara menelan ludah)”


Mereka berdua keliatannya gugup.


Nggak cuma Styx doang. Bahkan Meldek keringetan banget nungguin persyaratan gue…


Mungkin mereka kira syarat gue susah kali, ya?


Padahal kan syarat gue cuma…


““…””


“Tolong jelasin ke gue tentang Petualang! Itu kerjaan apaan?! Petualangan doang, gitu?! Maksudnya mereka jalan-jalan doang dapet uang, gitu?!”


““…””


Nah, mereka udah liat-liatan nih. Bikin perasaan gue jadi nggak enak…


““HAAAAAHH?!””


Woy! Kaget gue!


“Maafkan saya atas reaksi saya, Tu—Djinn.”


“Ternyata separah itu ya dia lupa ingetannya!”


Ya ini juga pertama kalinya gue denger kerjaan kayak gitu!


Styx, yang pernah jadi Petualang, jelasin ke gue tentang kerjaan itu.


Petualang. Orang yang ngejelajahin dunia ini. Nantinya, di setiap negara yang mereka datengin, mereka nerima tugas yang disebut Quest. Sedangkan yang ngasih Quest itu namanya Guild Petualang.


Biasanya Guild Petualang ini nih ada di mana-mana, asalkan negaranya punya hubungan baik sama pusat pemerintahan di dunia ini.


Nah, Guild Petualang ini yang nampung semua permintaan-permintaan dari orang-orang. Permintaan itu nantinya disaring, dari segi waktu yang dibutuhin untuk nyelesainnya, seberapa susah permintaannya, sama hadiah yang diterima Petualang kalo mereka berhasil selesain permintaannya. Abis disaring, permintaan itu dijadiin Quest untuk Petualang.


“Quest-nya apa aja biasanya?”


“Ya macem-macem. Bisa aja Quest ngelawan Monster,  jagain anggota bangsawan, bahkan nyari peliharaan ilang pun bisa.”


Oh, gitu…


Intinya, Petualang itu kerjanya cuma jalan-jalan, nyari Guild Petualang, terus kerja serabutan sampe dapet hadiah. Gitu, kan?


Kok kedengerannya asik, ya?


“Tapi, ada banyak juga Petualang yang terlalu sukses, sampe bikin Guild mereka sendiri.”


“Lah bukannya Guild itu yang bikin negara, ya?”


“Memang negara yang memiliki Guild, Tu—Djinn. Akan tetapi secara umum hanya terdapat dua atau tiga Guild


saja dalam satu negara. Maka dari itu, ada juga Petualang yang mendirikan Guild di salah satu kota dari negara tersebut.”


Artinya Guild itu ada yang swasta juga ya.


“…”


Styx tiba-tiba senyum, seakan-akan dia keinget sesuatu.


“Ya, tapi kalo emang bener-bener mau jadi Petualang, ada aja yang tetep jadi Petualang, walaupun mereka udah


terkenal banget.”


Kayaknya dia ngomong temen lamanya, deh.


“Artinya satu syarat udah beres, kan?”


“Ya.”


“Haaahhh… gue gugup sendiri. Kirain persyaratan lo yang aneh-aneh!”


Woy, lo kira gue mau ngapain sampe bikin lo gugup gitu?


“OK. Sesuai janji, gue bantuin lo.”


“Sip! Kalo gitu gue keluar dulu!”


“…”


Gue ngangguk doang ngeliat Styx yang keluar dari ruangan gue.


“Tu—”


“Hm?!”


“Djinn, tidakkah permintaan dari Styx itu berbahaya?”


“Bahaya?”


“Sa… Bukan artinya saya meremehkan anda, Djinn. Akan tetapi…”


“Kalo cuma lawan Goldiggia doang sih, gue mungkin sanggup. Mereka itu kriminal, kan?”


“Ya, Goldiggia aja. Tapi kalo misalkan Styx minta tolong untuk lawan bangsawan kayak Si Count yang dia


ceritain tadi, mungkin gue angkat tangan.”


“Angkat tangan?”


“Bener. Kalo dari cerita lo aja, orang tua gue yang sama-sama dari kerajaan aja bisa tindas keluarga gue. Gimana kalo gue macem-macem sama bangsawan kerajaan lain?”


“Saya setuju, Djinn.”


Tapi salah satu alesan gue setuju untuk lawan Goldiggia itu…


“Bisa dapet kesempatan emas ya?”


“Ke-Kesempatan emas? Maksud anda apa, Tu—Djinn?”


“Ya. Karena gue ini orang yang pendendam.”


“Pe-Pendendam? Tu—Djinn, siapakah yang anda maksud?”


“Orang yang nusuk gue pake es waktu itu.”


Gue masih belom bales orang itu!


Karena Styx yang suruh gue pergi cepet-cepet, makanya gue belom sempet hajar orang itu!


Mau cowok, mau cewek, kalo macem-macem sama gue, nggak bakal pernah gue ampunin!


Bahkan bapak gue sekali pun!


Untungnya gue masih bisa pake Pencak Silat. Tambah lagi, kekuatan super ini udah bantu gue banget.


Semoga kekuatan super ini bantu gue untuk lawan orang-orang yang pake sihir!


……………


Besok paginya, gue pergi ke hutan di belakang desa ini untuk latian Pencak Silat.


Kalo inget dulu, sebelum gue dateng ke dunia ini, pasti gue selalu sempetin waktu untuk latian.


Tapi sebenernya gue udah hampir nggak pernah latian lagi waktu ibu udah mulai sakit-sakitan.


“Tu—Djiiinnn!!!”


Lah! Ternyata dia ngikutin gue!


“L-Lo ngapain, Mel?!”


“Maafkan saya datang telat karena harus mempersiapkan makanan untuk anda!”


Hah?! Makanan?! Maksudnya bekal?!


“…”


Waw! Ada roti, susu, sama air putih! Sehat banget bekalnya!


Tapi…


“Gue kan nggak minta…”


“Ahaha… Saya sebagai budak anda harus selalu siap sedia untuk keperluan tuannya! Maka dari itu, ketika saya bertanya kemana perginya anda kepada Kepala Desa, saya langsung menyiapkan bekal ini untuk anda, Tu—Djinn!”


Budak, ya…


Gue risih banget sih denger dia yang bangga jadi budak gue.


“Lo bukan budak!”


“Ma-Maksud anda apa—”


“Udah, ah! Gue mau latian dulu!”


“Ba-Baik, Djinn!”


Untungnya gue mau latian. Sebenernya gue sendiri mau hindarin dia karena takut ditanyain.


“*Fuuuu… Haaaaahh… (suara menarik dan menghela nafas)”


OK! Waktunya mulai!


“…”


Pasang kuda-kuda…


Abis itu…


“Humph!”


“*BRAK! (suara pohon hancur)”


Eh?


Kok pohonnya langsung hancur?


“…”


Pantes aja orang-orang yang kemarin gue hajar langsung mati!


Sekali pukul pohon aja langsung hancur kayak gini!


“*Prok, prok, prok! (suara tepuk tangan)”


“Luar biasa! Tu—Djinn!”


Malah tepuk tangan dia!


Kalo gue nendang, gimana?


““*BRAK!!! (suara banyak pohon hancur)””


Lah! Malah makin banyak!


“Djinn! Waspada Mana anda akan habis!”


Justru itu! Gue nggak tau gimana cara kendaliinnya!


Hmm…


Kalo gue pukulnya pelan?


“*Prak (suara patah kayu)”


“…”


Hancur sih nggak, tapi jadi ada lobang di batang pohonnya!


“…”


Kayaknya… malah jadi ngerusak hutan deh kalo gue lanjutin…


Mending balik aja deh ke Meldek.


“Ada apa, Djinn? Apakah anda sudah selesai berlatih?”


“Ng-Nggak sih… Cuma takut hancurin pohon-pohon ini aja…”


“Oh! Se-Sepertinya saya bisa membantu anda, Djinn!”


Bantu?


“Berdasarkan buku yang saya baca dari perpustakaan milik anda, cara menggunakan Mana yang kita—”


“Tu-Tunggu!”


“A-Ada apa, Djinn?!”


“Djin—Eh, maksudnya gue punya perpustakaan?!”


“I-Iya. Anda gemar membaca dan menggali ilmu tentang dunia ini, Djinn…”


Gila kali! Dia demen koleksi buku?! Kok bisa punya perpustakaan…


“…”


Tunggu…


Waktu itu gue liat di salah satu siaran di mana Djinnardio lagi baca buku yang banyak…


Jadi itu perpustakaan dia?!


Abis itu Meldek jelasin ke gue cara pake Mana-Mana ini.


Dia bilang, untuk bisa gerakin Mana itu harus bisa ngerasain aliran Mana yang ditampung di dalem Jiwa kita.


Masalahnya…


“…gue nggak berasa apa-apa, Mel!”


“Hmm…seperti itu ya…”


“Jadi, gimana?”


“Saya pernah membaca buku yang dikarang oleh Pahlawan Pertama, Melchizedek, yang mengatakan bahwa perasaan dan keyakinan seseorang itu juga berperan penting dalam mengontrol Mana, Djinn.”


Hah? Pahlawan Pertama?


Yah, nggak usah dipikirin lah. Yang penting gimana caranya gue nggak sampe ngehancurin pohon-pohon itu, deh!


“…”


Hmm… Perasaan, ya?


Perasaan gue emangnya lagi apa ya, sekarang?


Kan gue lagi nggak marah, nggak seneng, atau nggak sedih.


Mungkin maksud dia tuh gue harus tenang kali, ya?


“*Brak! (suara memukul kayu)”


Nah, sekarang aman.


Kalo gitu gue latian aja dulu. Semoga aja nggak ada yang hancur.