Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 171. The Unwanted



“*Boom! Boom! Boom!”


Cih! Ocean Witch satu ini cuma bisa nyerang jarak jauh, ya?!


Dia nggak bergerak karena terus-terusan nyerang gue!


Kalo gitu…



“*Jgrum!”


“???”


Kenapa nggak ada efek sihir gue? Seakan-akan kayak ada dinding yang kasat mata yang lindungin dia.


Artinya gue harus serang dia dari jarak deket.


Masalahnya…


“*Boom! Boom! Boom!”


…serangan sihir dia nggak berhenti-berhenti!


“Menyerahlah, Pria Terjanji. Kita berdua sama-sama tidak diinginkan di dunia ini! Keberadaan kita berbahaya bagi dunia ini!”


Hah…?


“Terus apa beda lo sama gue?! Kalo gue harus mati karena gue bahaya untuk dunia, artinya lo juga harus mati dong untuk dunia?!”


“Kau benar. Maka dari itu, tidak akan kubiarkan kita berdua beranjak dari tempat ini, sebelum aku membunuhmu dan diriku sendiri.”


“!!!”


Gi-Gila nih cewek!


Dia bahkan senekat itu cuma demi “dunia?!”


“*Boom! Boom! Boom!”


Ah elah! Makin banyak ya serangannya?! Artinya nggak ada pilihan lain, selain deketin dia!


“*Boom, boom, boom…”


Bagus! Ternyata dia masih bisa gue hindarin serangannya! Kalo nggak karena Mata ini gue yang bisa liat semuanya jadi lambat, mungkin gue udah kena duluan sama serangannya!


“Mu-Mustahil! Bagaimana kau bisa bergerak dengan sangat cepat?!”


“Bergerak cepat? Mungkin serangan lo aja yang lambat di Mata gue!”


“Pria Terjanji!”


“*DHUMMM……”


Keras juga ya auranya!


“Janganlah melawan dan mati saja demi dunia ini!”


Apa-apaan maksud di—


“*Boom, boom, boom…”


“!!!”


Cih!


Sakit juga ya serangannya! Tambah lagi, tiba-tiba kemampuan Mata gue hilang! Makanya gue nggak bisa hindarin serangannya!


Tapi, nggak sesakit serangan Narciel!


“*Swush!”


Gue harus maju te—


“*Boom!”


Terus!


“*Boom! Boom! Boom!”


“*Swush!”


Eh! Ternyata normal lagi ya Mata gue?!


Gue bisa liat serangan dia melambat lagi!


“*Tap!”


Bagus! Sekarang gue udah sampe di depan dia!


Artinya, gue harus hancurin pelindung ini!



“*Jgrum!”


Sialan! Ternyata harus berkali-kali ya dipukul—


“Kena kau!”


Hah?! Kena?!


“*Crrkkcrrkk…”


Pe-Petir gue diserap?!


“. Dengan Sajak yang kutulis di tongkat ini, maka Sihir Petir milikmu akan kuserap dan menjadi energi baru untukku!”


Sialan nih cewek!


Entah kenapa, gue ngerasa jadi Narciel yang lawan diri gue sendiri, waktu itu[1]!“…”


Eh, tunggu…


“*Krrrkk…”


Kenapa tongkat dia kayak mau retak?


“*Swush…”


Mending mundur dulu sebentar. Karena gue tau harus ngapain!


“Kau tidak bisa melawanku, Pria Terjanji! Lebih baik kau menyerah dan—”


“*Dhum!”


“Bawel, lo! Mending lo serap nih sihir gue!”


Semoga petir yang gue pake kali ini bisa samber dia terus-terusan tanpa berhenti!



“*Chrrrkkkk……”


“…”


Untungnya sihir yang iseng-iseng gue pelajarin selama berlayar bisa gue pake! Padahal tadinya gue mau pake sihir ini untuk gue jadiin serangan terakhir gue kalo ketemu lawan yang sekarat. Nggak gue sangka kalo sihir ini gue pake cuma untuk keadaan kayak gini!


“Lihatlah baik-baik. Seranganmu tidak ada gunanya. Kekuatanmu hanya akan kuserap ke dalam tongkatku ini!”


“Mending lo yang perhatiin tongkat lo itu!”


“!!!”


Nah, kan! Dia baru sadar kan ada yang aneh dari tongkatnya?!


“Mu-Mustahil—”


“*BOOM!!!”


“Akh!”


“*Brrr……”


Nggak gue sangka ledakannya bikin gempa di dalem goa ini!


Eh iya!


Kalo gempa kayak gini, bisa-bisa yang lain juga ngerasain efeknya, ya?


“Uhuk, uhuk, uhuk!”


Duh! Dia masih bisa berdiri ya, walaupun kesakitan kayak gitu?!


Yaudah, nggak perlu basa-basi lagi!


“*Tap! Bruk!”


“Akh!”


Gue pegang dia, terus gue tahan dia ke tanah supaya nggak bisa gerak. Ada banyak yang mau gue tanyain ke dia!


“Woy! Jawab pertanyaan gue!”


“…”


“Siapa lo sebenernya?! Kenapa lo ngincer gue?! Apa maksud kalimat lo di Clamista?!”


“…”


“Jangan pura-pura bego! Lo kira lo doang yang ngincer gue?!”


“…”


Cih! Dia masih nggak mau jawab, ya?!


“*Bruk!”


“!!!”


Gue pukul tanah yang ada di samping mukanya, yang bikin dia cukup takut.


“Jawab gue! Jangan lo pikir gue bisa lembut cuma karena lo cewek!”


“…”


“Woy! Ja—”


“Aku tidak tahu!”


Hah?! Nggak tau?!


“Apa maksud lo?! Lo kira gue perca—”


“Siapakah aku ini?! Mengapa aku disebut Ocean Witch?! Apakah aku ini berbahaya bagi dunia?! Mengapa orang lain begitu takut akan aku?! Aku tidak tahu semuanya!”


Serius dia ngomong gitu?!


“Jangan pura-pura bego! Terus apa maksud lo sebut gue Pria Terjan—”


“A-Aku tidak tahu! Semenjak melihat wajahmu, perlahan-lahan memoriku yang hilang kembali!”


Dia bilang memori dia hilang, tapi pelan-pelan balik lagi waktu liat gue?


Jangan-jangan—


“Mengapa?! Apa yang kau tunggu?!”


Maksudnya?


“Sudah kubilang, bukan?! Tidak akan ada dari antara kita yang keluar dari tempat ini!”


“…”


Tunggu dulu.


Entah kenapa, ada yang aneh buat gue.


“Sebelumnya, siapa nama lo?”


“Aku tidak tahu. Orang-orang menyebutku dengan Ocean Witch.”


“Kalo emang nggak tau, kenapa lo bisa tau kalo dunia benci lo?”


“Itu semua… karena ada yang melihatku berbicara dengan Jörnarr. Aku tidak tahu mengapa semua orang begitu takut akan dia, namun karena hal tersebut, aku menjadi ditakuti sebagai Ocean Witch.”


Jörnarr? Maksudnya dia tuh Ular Raksasa itu?


Apa mungkin dia bisa ngomong sama ular itu?


Kalo dia emang ada orang yang liat dia ngomong sama ular itu, artinya orang-orang langsung cap dia sebagai The Witch, ya?


Artinya, selama ini dia disebut Ocean Witch cuma karena spekulasi orang-orang doang, dong?


Entah kenapa, gue bisa simpulin kalo dia bukan orang yang bahaya.


“…”


Mending gue lepas aja dulu.


“Pri-Pria Terjanji! Mengapa kau melepaskan a—”


“Udah berapa lama lo ada di sini, semenjak hilang ingatan?”


“Aku… tidak tahu pasti. Namun aku yakin sekitar 100 tahun.”


Jadi dia lupa ingetan, terus percaya sama gosip orang-orang selama 1 abad?!


“Pria Terjanji! Mengapa kau melepaskan a—”


“Panggil aja gue Djinn. Selain ngobrol sama Jörnarr, lo nggak ngobrol sama siapa-siapa lagi selama ratusan tahun, kan?”


“…”


Kalo dia diem, artinya gue bener, ya?


“Ada yang aneh…”


“Hm?”


“Jika memang benar kau adalah Pria Terjanji seperti yang wanita itu katakan, mengapa aku tidak merasakan ada niat jahat daripadamu?”


Niat jahat dia bilang?


Terus “wanita itu” yang dia bilang tuh siapa?


“Pria Ter—Tidak, maksudku Djinn.”


“Apa?”


“Aku ini hampir membunuhmu! Bukankah wajar jika kau hendak membunuhku?!”


Ya, dia bener sih.


Gue pun sebenernya khawatir kalo dia itu satu bagian sama Narciel yang mau coba bunuh gue.


Mungkin kalo gue masih “versi dunia lama” gue, mungkin aja gue nggak peduli keadaan dia, terus bunuh dia karena udah macem-macem sama gue.


Tapi…


“Gue nggak bisa bayangin aja hidup ratusan tahun sendirian kayak lo. Selain itu, lo cuma mau bunuh gue karena denger ramalan aneh kayak gitu, kan? Tambah lagi…”


“Hm?”


“Dulu kakak gue juga ngalamin hal yang sama kayak lo. Dia menderita karena diomongin orang.”


“Djinn…”


Ya.


Gue inget banget Kak Eka yang diem-diem nangis karena dianggap jabl*y sama temen-temen sekolahnya. Itu semua bermula dari anak orang kaya yang brengsek, yang berusaha naklukin hati Kak Eka demi pujian dari temen-temennya.


Tapi Kak Eka nggak gampang digodain, tambah lagi dia suka sama seseorang. Masalahnya orang itu tuduh Kak Eka sebagai perempuan yang matre karena dia gagal godain dia.


Untungnya Pak Jaya tau soal itu. Dia langsung pukul bocah itu, terus laporin keluarganya yang ternyata keluarga koruptor. Walaupun gitu, bukan berarti masa muda Kak Eka jadi lebih berwarna.


Orang-orang di sekitarnya tetep musuhin dia. Temen-temen bocah tolol itu makin takut sama dia. Cewek-cewek lainnya terlalu suka sama bocah tolol itu, makanya dia dibenci sama sebagian besar orang.


Ya untungnya Kak Eka masih punya temen di sekelilingnya. Seenggaknya dia nggak sendirian, sih.


“Oi…”


“Mm? Ada apa?”


“Coba perhatiin gue baik-baik.”


“…”


“Di mata lo, gue ini masih bahaya, nggak?”


“Ti-Tidak…”


“Yaudah. Kalo gitu, gue juga percaya kalo lo itu bukan orang yang bahaya kayak yang dibilang orang-orang.”


“S-Seperti itu, kah?”


Ya, gue tau kalo dia masih ragu. Agak aneh aja kalo ada orang yang tadi nyerang dia, tiba-tiba kasian sama di—


“Urgh!”


Dia kenapa?!


“Eh, lo nggak apa-a—”


“Percaya dengan apa yang kita rasakan, bukan dari yang orang lain katakan…?”


Dia ngomong apaan?


Eh, jangan-jangan…


“Memori lo udah balik lagi, ya?”


“Ya. Ada seseorang yang mengatakan itu kepada—”



“*BWUSH!!!”


““!!!””


Brengsek! Siapa yang nyerang kita?!


“*Hup!”


Mending dia gue pegangin, sebelum kita berdua dibawa gelombang air i—


“*Bruk!”


Si-Sialan!


Bahkan sampe tembus dinding goa ini!


“Djinn?! Lo dari mana aja?!”


Hah?! Myllo?!


“Djinn Dracorion! Serahkan wanita itu kepadaku!”


Hah?! Dia itu…


“Jenna! Siapa cewek yang dipegangin Djinn?!”


“Ia adalah Ocean Witch, dalang dibalik semua Sea Serpent yang ada di tempat ini!”


““!!!””


Apa yang dibilang Jenna sih ada benernya.


Tapi…


“Tunggu, Mil! Biar gue jelasin!”


“Apa, Djinn?!”


“Cewek ini nggak punya ingetan apa-apa! Bahkan orang-orang yang manggil dia Ocean Witch tuh cuma gosip doang! Itu semua karena ada yang liat dia bicara sama Ular Raksasa yang serang kita!”


“…”


Myllo keliatannya nggak perca—


“HAAAAAAAAH?! DIA BISA NGOBROL SAMA CALON PELIHARAAN GUE?!”


Kenapa fokus dia malah ke situ?!


“Et! Ada apa, atuh?! Kenapa di—WUOOOAAAHH!!! TETEH GEULIS BARU!!!”


Nih lagi Si Mesum!


“Nyo—Ehem, maksudku Jenna! Wanita itu…”


“Ya! Ia adalah orang yang harus


disingkirkan!”


“A-Akan tetapi—”


“Jangan gentar! Kita harus menghentikan wanita itu!”


Eh, bentar…


Jenna itu Kasta Biru, kan?


Kok kesannya kayak dia yang pimpin orang-orang Virgo, ya?


Hmm…


Ada yang aneh!


_______________


[1]Djinn menyerap serangan petir Narciel (Chapter 147)