Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 22. Demon Worshippers



Sedangkan di dalam Porzael City, Luvast masih berkutat menghadapi para pasukan dari Goldiggia.


“Huff…masih ada 20 orang lagi yang harus kulawan!”


Bisik Luvast setelah berhasil menaklukan 20 pasukan Goldiggia.


“Liat dia! Udah kecapean!”


“Ayo, kita masih ada 20 orang lebih!”


Sahut beberapa yang bersemangat untuk mengalahkannya.


Akan tetapi, ada beberapa yang merasa putus asa setelah menyaksikan


dirinya yang berhasil menaklukan 20 orang.


“Yakin kita masih bisa selamat?! Jangan ngarep ketinggian deh!”


“Inget! Siapapun dia sekarang, dulunya itu dia Kakak Besar!”


“Mau berapa orang harus jadi tumbal cuma untuk ngalahin dia?!”


Seru beberapa orang yang putus asa.


“Tenang. Tujuan kita kan cuma untuk ulur waktu aja, kan?”


“Ah, masih ada merekaya?”


“Bener banget!”


Sahut beberapa pasukan yang berusaha menenangkan pasukan lainnya.


“Mereka sedang membicarakan apa? Mengapa perasaanku menjadi tidak nyaman?”


Pikir Luvast yang melihat percakapan para pasukan Goldiggia.


“Ayo, kita serang sekarang!”


““Hraaaaggh!””


Pasukan Goldiggia pun menyerang Luvast. Namun dengan gerakannya yang cepat, Luvast berhasil menghindari serangan dari para pasukan Goldiggia.


“Frozen Land!”


“Ah! Sihir licin ini lagi!”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


““Gruaaagh!””


Para pasukan yang tergelincir karena sihir es Luvast berhasil diserang olehnya.


“Sialan! Kenapa masih bisa kejebak sama sihir kayak gitu lagi?!”


“Ayo yang pada pake panah, tembak dia!”


““*Syut! (suara banyak panah)””


“Igloo!”


Seketika, sebuah es berbentuk kubah mengelilingi Luvast untuk menahan


dari serangan para pemanah.


Akan tetapi, beberapa panah hampir berhasil menembus kubah es tersebut.


“Huhh, hampir saja panah tersebut menusukku! Aku harus menyelesaikan pertarungan ini secepatnya!”


Pikir Luvast.


“Harusnya dia gak bisa ngapa-ngapin lagi! Cepet kepung es itu!”


““Hraaaaggh!””


Para pasukan Goldiggia pun hendak menyerang Luvast yang masih berada di dalam sihir es-nya. Tetapi Luvast menyerang mereka balik lewat dinding es miliknya.


“Ice Arrows!”


Setelah merapal sihirnya, seketika banyak es berbentuk panah yang keluar


dari kubah es tersebut.


“…”


Setelah melepas sihir dinding es tersebut, Luvast melihat masih ada


beberapa pasukan yang masih sadar, sedangkan pasukan lainnya berhasil


dikalahkan.


“Huff…huff…apakah sudah selesai?”


Bisik Luvast sambil menyaksikan para pasukan Goldiggia yang ia kalahkan.


Akan tetapi, tanpa ia sadari, seseorang telah berada di belakangnya.


“Apanya yang udah selesai, Nyonya?”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Pria bertopeng Iblis itu berbisik di telinga Luvast sambil mencoba untuk


menusuk Luvast dengan cakar besi panjang.


Untungnya ia dengan sigap menghindari serangan itu.


“Anda…anggota dari Children of Purgatory, ya?!”


“Hoo…ternyata bener ya kalo High Elf wawasannya luas, walaupun nggak


semua yang mau keluar dari negaranya.”


Balas pria tersebut.


“Oi, kalian. Cepet bunuh semua tahanan yang ada di sini.”


““Hah?!””


Semua anggota Goldiggia yang berada di tempat itu terkejut dengan perintah dengan nada datar dari pria bertopeng Iblis itu.


“Mana mungkin kita bunuh mereka?!”


“Heh, mereka itu aset kita!”


“Percuma juga kita di sini kalo—”


“*Zhum! (suara aura mengerikan)”


Karena menerima cacian dari para anggota Goldiggia, pria bertopeng itu mengeluarkan aura yang begitu mengerikan, hingga membuat mereka semua ketakutan.


“Oi, kalian nggak sadar kalo kalian cuma tumbal? Jangan kalian pikir Bjüdrox masih anggep kalian, deh.”


““…””


Semua anggota Goldiggia pun tidak kuasa menahan gemetar di tubuh mereka.


Sementara Luvast…


“A…Aura macam apa ini…? Apakah ini…Aura Iblis?”


…tidak kuasa menahan gemetar di tangannya, sambil berpikir tentang pria bertopeng Iblis itu.


“Haaaah…yaudah, gini aja deh. Karena kalian semua bakal dilupain sama Bjüdrox, mending kalian ikut sekte kami aja. Asalkan…kalian ikutin perintah saya. Paham?”


““…””


Perlahan, para anggota Goldiggia pun mengangkat senjata mereka dan


berlari ke setiap tahanan yang tersisa.


““Hrraaaagghhh!””


“Ja…Jangan!”


“To…Tolong jangan bunuh anak saya!”


“Hruaaaggh!”


Beberapa tahanan yang tersisa berlari ketakutan karena hendak dibunuh oleh pasukan Goldiggia, namun…


“Ba…Baiklah… Bu…Bunuh saja saya…”


“Huuu…andai saya masih bisa minta maaf ke bapak saya…”


“Ya…Yaudah lah…mending mati aja daripada menderita…”


…tidak sedikit juga yang pasrah untuk dibunuh.


“*Chringgg… (suara pedang beradu)”


“Cih!”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Beruntung Luvast tidak tinggal diam. Ia masih berusaha untuk melindungi tahanan yang tersisa.


Akan tetapi…


“Tuh kan, pasti tahanan ini jadi titik halus anda, Tuan Putri.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Urgh!”


…usaha Luvast untuk menolong para tahanan adalah momen yang ditunggu oleh pria bertopeng Iblis itu agar bisa menyerangnya dengan lebih mudah.


“Cih! Dasar pecundang!”


“*Swung… (suara mengayunkan pedang)”


“Hmm? Pecundang? Anggep aja saya males serius lawan perempuan.”


Balas pria itu sambil menghindari serangan Luvast.


“*Jlub! (suara tusukan)”


“Aaargh!”


“Oh. Ada yang agresif tuh nyerang tahanannya. Mau didiemin aja orang itu?”


“Cih!”


Mendengar gertakannya, Luvast langsung berlari ke arah salah seorang anggota Goldiggia yang hendak membunuh kembali tahanan lainnya.


“Tuh, kan. kepancing lagi.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Argh!”


Baru saja ia hendak berlari ke arah anggota Goldiggia itu, pria bertopeng Iblis itu langsung mencakarnya kembali.


“OK, OK, OK, semuanya. Cukup dulu bunuh tahanannya.”


““…””


Hampir semua anggota Goldiggia pun berhenti mendengar perintah bernada datar dari pria itu. Akan tetapi…


“Huff… Huff… Maaf, gue nggak tahan untuk bunuh mereka semua! Gue udah capek-capek disuruh jagain mereka, tapi tetep ditinggal Kakak Tertua! Makanya sekarang gue harus—”


“Devil’s Claw.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


““!!!””


Anggota Goldiggia itu tiba-tiba menerima cakaran jarak jauh dari pria bertopeng Iblis itu, hingga tubuhnya terbagi tiga.


“Haaah… Kalo dari awalnya udah psikopat mah,


pasti saya tolak duluan untuk masuk sekte ini.”


Jawab pria bertopeng itu.


Setelah itu, ia berjalan ke arah Luvast yang


sudah terluka.


Akan tetapi, tidak hanya luka saja yang ia


terima.


“Haaah… Me…Mengapa tubuh saya seperti


terbakar—Umph!”


“Ya iya lah, Tuan Putri. Kan saya pake Curse


untuk nyerang anda. Nggak mungkin dong lawan petinggi Vamulran cuma pake senjata kayak gini aja.”


Jelas pria itu sambil menginjak kepala Luvast.


“Anda nggak mau lawan saya lagi, kan?”


“Da…Dasar…Pecundang!”


“Aaaah…masa saya harus injek terus kepalanya?”


Tanya orang itu ketika ia mendapat cacian dari


Luvast sambil terus menginjak kepalanya, hingga tiba-tiba ia merasa ada cahaya


dari kantungnya.


“…”


“Ya?


Udah selesai, bos.


Bunuh aja semuanya?


Ah, OK, OK, OK.”


Setelah menerima panggilan dari Orb Call


miliknya, pria itu memasukkan alat itu kembali ke kantungnya.


“*Vwumm… (suara api)”


“Maafin saya, Tuan Putri. Tadinya saya cuma


mau bunuh anda. Ternyata perintah barunya saya harus bunuh semua.”


“…”


“Ngomong-ngomong nama saya Granggo. Tolong jangan bunuh saya kalo kita ketemu lagi di kehidupan baru anda nanti, Tuan Putri.”


Sambil menyalakan api hitam di cakarnya dengan Curse miliknya, pria bertopeng Iblis itu mengangkat kakinya dari kepala Luvast


dan memperkenalkan dirinya sebagai Granggo, sebelum ia menusuknya.


“Djinn…maafkan aku jika kita tidak bisa bertemu lagi. Setidaknya aku tahu bahwa kamu masih hidup, saudaraku.”


Pikir Luvast dengan air mata menggelinang, sambil menunggu kematiannya.


Sebelum cakar dari Granggo menusuknya, tiba-tiba seseorang meneriakkan


sebuah mantra sihir.


“Feather Shot!”


“…”


Ketika Granggo melihat beberapa bulu yang melesat dengan cepat ke arahnya, ia mencoba menangkisnya.


Saat ia menengok ke atas, ia melihat seorang Harpy yang baru saja menyerangnya.


“Perempuan itu udah lepas! Cepet bawa dia lari!”


“OK, Kak!”


Sahut seorang Beastman yang dalam rupa kucing yang hendak membawa lari Luvast.


“Haaah? Siapa lagi sih yang—”


“*Chringgg… (suara besi beradu)


“Woy! Jangan macem-macem lagi, lo!”


Sahut seorang Hobgoblin yang menahan pergerakan Granggo.


Dan di saat yang bersamaan, beberapa pasukan Goldiggia diserang oleh seorang Troll.


“Humph!”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


““Aaargh!””


Saat pertarungan antar Granggo dan rekan-rekannya melawan mahluk-mahluk


aneh tersebut, tiba-tiba suara langkah kaki kuda datang menghampiri mereka.


“Mahluk-mahluk aneh ini datengnya berengan bareng pasukan-pasukan itu?”


Bisik Granggo sambil menyaksikan bala bantuan yang datang.


“Ngiiiihiek!”


“*Krutk, krutk, krutk… (suara langkah kuda-kuda)”


“Tuan, sepertinya ‘anak-anak’ anda berhasil menahan pasukan Goldiggia!”


“Ya! Kalian semua yang ada di sini, cepet amanin tahanan yang lain!”


Balas seseorang yang memimpin pasukan berkuda tersebut.


“I…Itu…DUKE LOUISSON!”


“Ki…Ki…Kita selamat!”


““HOREEEE!!!””


Seru semua tahanan ketika menyaksikan Bismontyan yang memimpin para


pasukan berkudanya.


“Anak-anak! Hajar semua pasukan Goldiggia!”


““Ya, Papa!””


Balas anak-anak yang diangkat Bismont sambil melawan Granggo.


“Hm?”


“…”


Bismont melihat seorang High Elf yang sudah tidak sadarkan diri.


“Papa! Keliatannya orang ini bukan dari Goldiggi—”


“*Swung! (suara mengayunkan cakaran)”


“Ups! Hampir aja!”


“Cih.”


Seru salah seorang anak Bismont yang merupakan seorang Hobgoblin, sambil menghindari serangan Granggo.


Melihat topeng dari Granggo, Bismont terkejut karena ia mengetahui kelompok dengan topeng seperti itu.


“Children of Purgatory?! Ngapain mereka dateng ke… Hah! Kak Styx!”


Pikir Bismont setelah mengetahui niat kedatangan sekte itu.


“Krunka! Pergi dari dia! Biar papa yang lawan dia!”


“OK, papa!”


Hobgoblin yang bernama Krunka pun langsung menarik diri dari pertarungannya dengan Granggo.


Melihat Krunka yang pergi darinya, Granggo berusaha untuk memakai kesempatan itu.


“Bagus. Mending saya bunuh langsung Putri itu, abis itu saya lari dari sini.”


Pikir Granggo sambil berlari ke arah Luvast untuk membunuhnya.


Namun usahanya sia-sia, karena…


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Urgh! Dia bisa pake—”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“*Chringgg… (suara besi beradu)”


…ia sempat terhenti karena merasakan tekanan aura dari Bismont, sehingga Bismont bisa berlari dengan cepat untuk melindungi Luvast.


“Heuh! Gue tau pasti lo mau bunuh Putri Vamulran ini, kan?”


“Ah. Selamat udah berhasil nebak, Duke Louisson.”


Balas Granggo dengan nada datarnya.


“Kalo nebak gitu doang mah gue juga bisa. Mending lo kasih selamat kalo gue udah berhasil cabut kepala lo, Iblis!”


“Hoo… Ternyata anda ngomongnya nggak kayak bangsawan, ya.”


“Grahaha! Lo bukan orang yang pertama kok yang ngomong gitu! Pastinya lo juga bukan orang pertama yang bisa lolos dari gue!”


Seru Bismont setelah mereka sedikit terpental karena senjata mereka yang saling beradu.


“Hoo… Kalo gitu, coba tangkis ini, Duke Louisson.”


“*Vwumm! (suara kobaran api)”


“…”


Granggo bersiap menyerang Bismont, dengan api hitam yang berkobar di cakar miliknya serta kedua kakinya.


Sedangkan Bismont, ia hanya berdiri saja dengan menutup matanya dan memegang pedangnya dengan kedua tangannya.


“Devil’s Curse: Chasing Hell!”


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


Granggo hendak menyerang Bismont dengan gerakannya yang sangat cepat.


Akan tetapi…


“Divine Art: Calm Heavenly Blade.”


“…”


…dengan tenang, Bismont mengayunkan pedangnya ketika jarak Granggo sudah


berada di dekatnya.


Ketika Granggo sudah dekat dan segera menyerangnya, ia merasa bisa


menghindari ayunan pedang Bismont dengan mudah, namun…


“*Shrak… (suara terpotong)”


…ia pun baru sadar jika tubuhnya telah terbagi dua ketika ia melewati


Bismont.


Di tengah kesadarannya yang hampir hilang, Granggo pun baru menyadari


siapa sebenarnya Bismont.


“Duke…Louisson…ternyata anda itu…Pa…la…din…”


Kata Granggo yang mengetahui siapa Bismont sebelum ia mati.


Setelah Granggo dan semua pasukan Goldiggia berhasil ditaklukan, semua


pasukan dari Bismont melanjutkan tugas mereka untuk merawat para tahanan di


Porzael City.


Sementara Luvast baru saja membuka matanya setelah dikalahkan secara tidak adil oleh Granggo.


“Uhm… Aku…di mana?”


“Sepertinya anda sudah terbangun, Putri Luvast.”


“Eh?! Aku—Ehem! Saya ada di mana? Mengapa saya masih—”


“Tenangkan diri anda, Putri Luvast. Saya adalah Bismont Louisson, Duke dari Erviga Kingdom. Pertarungan anda dengan pengikut sekte sesat itu sudah selesai.”


“Ah…anda seorang Duke, ya…”


Balas Luvast kepada Bismont.


Setelah itu, Bismont menceritakan segala kejadian yang terjadi setelah Luvast pingsan.


Mendengar penjelasan darinya, Luvast merasa semakin bersalah kepadanya Bismont.


Dengan berat hati, ia pun mengakui bahwa ia adalah salah seorang Kakak Besar.


“Oh, jadi anda itu adalah Vast yang disebut oleh Djinnardio, ya?”


“Mohon maaf sebelumnya, apakah anda mengenal Djinnardio?”


“Ya. Ia seperti seseorang yang baru lahir di dunia ini karena tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, bahkan keluarganya seka—”


“…”


Luvast pun tersujud di hadapan Bismont.


“Pu…Putri Luvast?! Menga—”


“A…Anda boleh hukum saya, tapi mohon biarkan mereka membebaskan rakyat saya, Duke Louisson!”


Di dalam lubuk hati terdalamnya, Bismont mengerti beban yang harus dipikul oleh Luvast. Maka dari itu, ia menepuk pundak Luvast dan hendak menyampaikan sesuatu.


“Saya mengerti, Putri Luvast. Jika saya menjadi seperti anda, pasti saya


akan melakukan hal yang sama.”


“Eh?”


“Lagi pula, saya turut senang mengetahui anda selalu menjaga mereka dari


dalam, Putri Luvast.”


“Terima kasih, Duke Louisson.”


Balas Luvast yang ditutup dengan senyuman antar mereka berdua.