Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 147-1. My Only Wish



“Ti…Ti…Tidak mungkin…”


“…”


Ternyata dia masih bisa ngomong


ya?


“Se…Se…Seharusnya…kau tidak


boleh…menapakkan kaki di dunia ini…Pria Terjanji…!”


“(Nggak boleh napak—)”


“Kau…Kau


hanya…menghancurkan…dunia ini saja…!”


Hancurin dunia?


“(Maksud lo a—)”


“Kau…adalah anomali di dunia ini!


Kami…Para Malaikat…tahu akan apa…yang dilakukan…oleh…seorang Anomali!”


Hah? Anomali?


“(Jelasin ke gue.)”


“Se…Sebagai Mahluk Abadi…yang


melayani Para Dewa…kami harus…melestarikan…alam yang ada di dunia ini! Namun


kalian…Mahluk Fana…dengan akal pikiran kalian…hanya menghancurkan alam ini…”


Maksud dia eksploitasi alam, ya?


Ya, gue nggak bisa salahin itu


sih. Karena itu salah satu cara untuk manfaatin alam sekitar.


“Namun…kau adalah…Mahluk


Fana…yang paling berbahaya…”


“(Kenapa emang—)”


“Jalanmu…adalah kehancuran.


Setiap langkahmu…adalah kematian.”


“???”


Gue nggak ngerti dia ngomong a—


“*Zwush… (suara abu terhempas


angin)”


Badan dia jadi abu?!


“Katakanlah kepadaku…”


“…”


“Dari manakah…kau


mendapatkan…kekuatan itu…?”


“(Kekuatan?)”


“(Tidak hanya mengetahui caraku


saja…kau juga…bisa menyerap…petirku…! Bagaimana kau bisa…?!)”


Kalo soal itu, jawabannya cuma


satu kan?


“(Di dalem ruang Ark Blade—)”


“Ti…Tidak mungkin…! Di sana…hanya


ada Ancient Armament…dan sejarah dunia sa—”


“(Lo kira gue bohong? Apa harus


gue jelasin secara rinci, kalo ada ‘suara’ yang manggil gue Yang Mulia, yang


sebut mereka itu kekuatan gue?!)”


“Ma…Maksudmu—”


“(Gue juga nggak tau! Dia bilang


kalo gue terima Mata ini sama Sihir Petir yang gue pake!)”


“!!!”


Kenapa dia sekaget itu?


“Ke…Ke…Keterlaluan!”


Hah? Kenapa dia tiba-tiba teri—


“Terkutuk kau…Melchizedek!”


Melchizedek?!


Kenapa dia tiba-tiba marah sama


Melchizedek?!


“Ti…Tidak hanya mencuri kekuatan beliau saja, bah…bahkan ia mencuri…indera beliau?!”


Beliau?!


Siapa yang dia mak—


“De…De…Dengar ini…Pria Terjanji…”


“(Mm?)”


“Ja…Jangan kau pikir…ini sudah


berakhir…!”


Belom berakhir?!


“Sa…Saudara-saudaraku…tidak akan


tinggal diam…!”


Oh, gue kira dia masih mau lawan


gue.


Ternyata Malaikat lain, ya?


Kalo soal itu sih…


“(Gue udah tau, kok. Gue yakin


kalo bukan lo doang yang ngincer gue.)”


“…”


Dia diem aja waktu gue ngomong


gitu.


“(Kalo lo emang tau siapa gue,


pasti—)”


“Mu…Mungkin kau…masih


bisa…bertindak arogan…seperti itu. Namun…jangan kau pikir…kau bisa—”


“(Siapapun yang mau halangin mimpi


“…”


“(Nggak akan gue biarin mereka


halangin mimpi gue untuk keliling dunia!)”


“!!!”


Dia kaget waktu gue sebutin mimpi


gue.


“Ti…Tidak kusangka…”


“…”


Badan dia keliatannya udah mau


jadi abu semua.


“Ti…Tidak kusangka…bahwa…Pria


Terjanji sepertimu…hanya memiliki…mimpi yang…sesederhana…i…tu…”


“…”


Dia udah jadi abu, ya?


“*Crrkcrrkkcrrkk… (suara aliran


petir akan lenyap)”


Keliatannya petir ini juga udah


mau habis.


“…”


Ya, ternyata gue jadi normal lagi


karena petir di badan gue udah habis.


“…iiiinnn!”


Suara itu…


“Djinn! Itu dia!”


“…”


Ada Myllo sama yang lainnya yang


tiba-tiba dateng.


“Djinn! Ke mana Malaikat itu?!”


“Kali ini, biar kita yang habisin


Malaikat itu!”


“…”


Mereka mau lawan Narciel…?


“U…Untuk itu…”


““Mm?!””


“*Zwush… (suara mengambil abu)”


“I…Ini Malaikat yang lo cari…”


““…””


Keliatannya mereka nggak perca—


““HAAAAAHHH?!?!””


Eh buset! Gue kaget tiba-tiba


mereka pada teriak!


“Mu…Mustahil!”


“Bang Djinn, apa lo


bener-bener…ngalahin—”


“Ahahahaha!!!”


Myllo tiba-tiba ketawa?


“Bang Myllo, kenapa abang keta—”


“Tenang aja! Semua udah aman


karena dia!”


““…””


Keliatannya udah aman karena


Myllo bisa bujuk mereka semua.


Kalo gitu…


“*Bruk…”


“Djinn! Jangan ma—”


“Gigi lo mati?! Gue mau istirahat


sebentar!”


Dasar dongo!


Di kira gue nggak capek kali ya


lawan Malaikat kayak tadi?!


“A…Artinya…”


“Kita selamat!”


“A…Ahahaha…ternyata kita semua


masih bisa hidup!”


“Ya. Keliatannya negara ini udah


selamat.”


Mereka bener.


Harusnya Malaikat itu udah nggak


bisa ngapa-ngapin lagi, karena gue hancurin Jiwa-nya.


“Djinn. Maafin gue karena nggak


bisa bantu lo—”


“Tenang aja, Myl. Gue itu anggota


lo. Artinya yang menang itu kita, bukan gue doang.”


“Haha! Thanks, partner!”


“Ya.”


““*Phak! (suara tos)””


Yaudah deh. Kalo gitu, waktunya


gue istirahat.


Kalo soal beresin semua kerusakan


yang dibuat Malaikat tadi, mending pikirin aja lain kali.