Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 85. Titan Fall



“*Fwup! Fwup! Fwup! (suara


kepakan sayap Naga)”


Bagus. Myllo udah terbang


setinggi mungkin.


“(Kita hanya perlu memancingnya


saja, kan?!)”


“Ya! Selama Myllo belom selesai,


kita harus pancing Tarzyn supaya nggak ngejar Myllo sama Göhran!”


“(Baiklah! Sepertinya


menyenangkan!)”


“Me…Menyenang—”


“(Djinn! Aku hanya perlu agar kau


fokus menyerang beliau saja! Masalah menghindari serangannya, percayakan saja


kepadaku!)”


“OK, Zar!”


“Zar?”


“Maksud gue Rakhzar!”


“Ya!”


“*Fwush! (suara terbang cepat)”


Sekarang kita berempat mau


jalanin rencana yang gue susun.


Kira-kira, gini rencana yang gue


susun beberapa menit yang lalu.


……………


“…”


Tarzyn nembak bola apinya sampe


bisa jadi hujan karena awan-awan itu mencair.


Kalo misalkan dia bisa bikin


hujan pake bola apinya, gue jadi kepikiran untuk buat petir pake tekanan udara


yang tinggi di atas langit!


Tapi sebelum rencana gue ini


jalan, ada satu hal yang harus gue pastiin dari Myllo, yang jadi kunci utama


rencana gue.


“Myl, lo bisa gerakin angin


kan?!”


“Bisa, sih. Emangnya kenapa?!”


“Gue minta tolong untuk gerakin


awan ke titik itu pake angin lo! Kira-kira lo bisa, nggak?!”


“Hah?! Buat apaan emangnya?!”


“Untuk buat petir!”


“Hah?! Petir?!”


Ya, gue butuh petir yang banyak


banget untuk hajar Tarzyn.


Gue pun nggak yakin Mana yang ada di Jiwa gue ini cukup untuk lawan dia.


Makanya itu, mungkin gue bisa


pake petir alami untuk lawan dia.


“Emangnya gimana cara buat


petir?!”


Hmm…


Yang ada di kepala gue sebenernya


jawaban fisika banget.


Masalahnya orang ini dongo.


Jadi jawabannya itu…


“Tabrakin aja awan-awan itu!


Nanti muncul petir!”


“Cara nabrakinnya gimana?!”


“Lo gerakin pake angin lo!


Makanya gue butuh angin lo!”


Kayaknya nih orang nggak mudeng daritadi, ya?!


“Hmm… Kasih gue 1 menit!”


“Hm?”


Emangnya dia mau ngapain?


“Haaaah?! Nggak bisa?! Kenapa


emangnya?!”


Kok…dia ngobrol sendiri?


“(Tidak, Djinn! Ia sedang


berbicara dengan Wind Godddess Zegin!)”


“Oh, gitu!”


“Ya! Karena ia—”


“STOP BACA PIKIRAN GUE!!!”


“Ah, maaf.”


Jadi risih sendiri gue karena


dibacain terus pikiran gue sendiri!


“Zegin! Gue percaya sama Djinn!


Makanya gue butuh lo untuk percaya sama gue juga!”


“…”


“Hehe! OK, partner!”


Kalo dipikir-pikir lagi…


Pantes aja Myllo ngomongnya


senyantai itu sama dewanya sendiri. Dewanya aja juga kayak gitu yang gue liat


tadi di masa lalunya Melchizedek.


“OK, Djinn! Gue harus gimana?!”


“Gue butuh lo sama Göhran untuk


terbang setinggi-tingginya untuk gerakin awan itu! Nanti biar gue sama Rakhzar


yang jagain lo dari Tarzyn!”


“OK! Ayo kita terbang sekarang,


Göhran!”


Eh, tung—


“(Baik, Myllo!)”


“*Fwush! (suara terbang cepat)”


Ah! Si Dongo!


Nggak ada aba-aba, tiba-tiba main


terbang aja!


“Ayo kita ikutin mereka juga!”


“(Ya!)”


“*Fwush! (suara terbang cepat)”


……………


Kira-kira itu rencana gue untuk


lawan Tarzyn.


Makanya, sekarang gue cuma perlu pancing


dia supaya nggak ngejar Myllo lagi.


“*Jgrumm! (suara sambarang


petir)”


“Rrrr…”


Bagus!


Sekarang mata dia cuma ke arah


gue sama Rakhzar a—


“*BOOM! (suara bola api besar)”


Buset! Gede banget bola apinya!


“Rakhzar! Hati-hati silau!”


“(Hah?! Apa maksudmu, Djinn?!)”


“Tutup mata!”


“(Y…Ya!)”


“Judgment: Multi-Charge!”


“*BOOM! (suara ledakan besar)”


“ROUAAARR!”


“Urgh!”


Untung bola apinya gede, jadinya


gue bisa tutup mata waktu gue tembakin bola api itu pake sihir petir gue!


Oh, ya!


“Zar, dia juga kesilauan! Mending


kita serang dia dari deket!”


“Ya!”


Waktu Rakhzar terbang ke arah


dia…


“Hup!”


“Rrrr—”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“RUOAAAR!”


“*Fwush! (suara terbang cepat)”


Gue langsung lompat dari Rakhzar


untuk pukul dia.


Untung Rakhzar langsung dapetin


gue lagi.


“RRRRRR!!!”


“*Zwumm, zwumm, zwumm… (suara


gerakan banyak bola api)”


Buset! Itu apaan?!


“(Waspada! Beliau menggunakan


sihirnya kembali!)”


“Itu sihir apaan, Zar?!”


“(Bola-bola api itu akan


mengikuti kita! Jika kita terkena bola-bola api itu, Jiwa kita akan terbakar!)”


Sama aja kayak rudal dong?!


“Pegang aku yang kuat, Djinn!”


“Ya—”


“*FWUSH! (suara terbang sangat


cepat)”


BUSET!!! KENCENG BANGET!!!


Tapi untungnya cepet, sih.


Soalnya bola-bola api yang ngejar


kita ini juga nggak kalah cepet gerakannya!


“Djinn! Aku mungkin tidak bisa


menghindari semuanya! Bantu aku menahan serangan beliau!


“OK!”


“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”


““*Boom! (suara ledakan)””


Untung aja masih bisa diledakin


bola-bola api itu!


“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”


““*Boom! (suara ledakan)””


“Bagus, Djinn! Serangan beliau


semakin sedikit!”


Nggak. justru menurut gue ada


yang a—


“!!!”


Sialan! Bola-bola api itu


semuanya mau nyamperin Myllo!


“Rakhzar! Bola apinya ke arah


mereka!”


“Gawat! Kalau begitu kita harus


menjaga mereka, Djinn!”


“Ya!”


“*FWUSH! (suara terbang sangat


cepat)”


Gue nggak kepikiran dia bisa


nyerang kayak gitu!


Masalahnya…


“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”


“Cih!”


Jaraknya jauh banget!


“Rakhzar! Sihir gue nggak


nyampe!”


“(Baiklah kalau seperti itu!)”


“*FWUSH! (suara terbang sang


cepat)”


“(Gawat! Serangan beliau—)”


“*BOOM! (suara ledakan)”


“RAKHZAR!!!”


“DJIIII—”


“Fokus, Myllo! Gue masih aman!”


“Ya!”


Masalahnya…


Rakhzar pingsan!


Apalagi, jatohnya cepet banget


ini!


Oh, ya!


“Hup!”


Untung gue masih bisa lompat ke


bagian dadanya!


“Semoga lo bangun Zar!”


“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”


Gue ‘kagetin’ jantungnya supaya


dia bangun.


Hasilnya…


“Huuuffff!!!! Aku ada di—”


…perlu sekali doang supaya dia


bangun.


“Rakhzar! Mending kita yang


samperin Tarzyn, sambil hindarin bola-bola api itu!”


“Baiklah!”


“*FWUSH! (suara terbang sangat


cepat)”


Kita terbang lagi ke Tarzyn.


“*Zwumm, zwumm, zwumm… (suara


gerakabn bola-bola api)”


Kalo tadi kita dikejar bola,


sekarang kita mau beradu sama bola-bola api ini.


“Hati-hati silau!”


“(Ya!)”


“*Crrrkk… Jgruumm! (suara kilat


dan sambaran petir)”


“Lempar gue ke arah Tarzyn!”


“(Baik! Bersiaplah!)”


“*Swush! (suara terlempar)”


Waktu Rakhzar lempar gue, semua


bola-bola api jadi lari ke arah gue.


Cuma…


“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”


“*Boom! (suara ledakan)”


…gue cuma perlu ledakin bola-bola


api itu pake petir gue.


“Heeeaaaagh!”


“*BHUK! (suara pukulan keras)”


“RUOAAARRR!!!!”


Bagus! Seenggaknya dia udah nggak


pake bola-bola api itu la—”


“*FUP! (suara tangkapan Tarzyn)”


“Urgh!”


Dia masih bisa nangkep gu—


“*Vmmm… (suara tangan Tarzyn


memanas)”


“Aargh!”


Brengsek! Panas banget!


“Haaaurp!”


Rakhzar masih coba gigit Tarzyn,


walaupun nggak ada efeknya sama sekali!


Eh, iya!


Ini panas kan, ya?!


“*Boom! (suara ledakan)”


“RUOAAARR!!!”


Kenapa gue nggak kepikiran pake


petir gue?!


“Djinn! Apa kau baik-baik saja?!”


“Ya, untungnya badan gue masih


utuh—


“*Jgrum! Grumgrumgrum… (suara gemuruh


petir)”


Nice, Myl!


“Rakhzar, kita terbang ke atas! Sekarang!”


“Baiklah!”


“*FWUSH! (suara terbang sangat


cepat)”


Myllo udah berhasil bikin


petirnya!


Gue nggak boleh sia-siain apa


yang udah dia bu—


“RUOAAAAAAAAARRRRR!!!”


“(Cih! Beliau cepat sekali! Kita


harus bagaimana—)”


“MYLLO!!! GÖHRAN! PERGI DARI


SANA, SEKARANG!!!”


“Ya!”


“!!!”


Myllo kok sempoyongan gitu?!


Apa mungkin secapek itu bikin


petir kayak gi—


“ZEGIN BLOW: BAHOROK!”


“*SWUUUSSHHH!!! (suara angin


topan)”


Ternyata dia masih bisa nyerang


Tarzyn, ya?


Waktu Rakhzar yang terbang ke


atas papasan sama Göhran yang terbang ke bawah, gue sempet denger kata-kata


Myllo.


“Gue serahin sisanya…sama lo,


Djinn…”


Abis ngomong kayak gitu, dia


pingsan.


“My…Myllo—”


“(Djinn! Apa langkah


selanjutnya?!)”


Ah, fokus Djinn!


“Kalo terbang ke atas sana, lo


sanggup atau nggak?!”


“Se…Sepertinya tidak. Sisa-sisa


api dari beliau terlalu panas untukku. Kalau mau melewati lapisan tersebut,


sama saja aku—”


“Yaudah! Lempar gue sekarang!”


“(A…Akan tetapi—)”


“Gue nggak mau sia-siain apa yang


dibuat Myllo, Zar!”


“Ba…Baiklah.”


Akhirnya gue lompat ke tangannya


Rakhzar, terus…


“(Sudah siap?!)”


“Siap!”


“Baik, semoga rencanamu


berhasil!”


“*SWUSH!!!! (suara lemparan


sangat kencang)”


…dia lempar gue


setinggi-tingginya.


“*Fyuhyuhyuh… (suara desus


angin)”


“*Vwumm… (suara terbakar)”


“Urgh…”


Panas banget, anjing!


Ayo tahan dikit, Djinn!


Sebentar lagi lo sampe ke


awan-awan yang dibentuk Myllo!


“…”


““*GRUMM!!! (suara


sambaran-sambaran petir kencang)””


Ahaha…


Kalo gue inget lagi cita-cita


konyol gue waktu kecil, akhirnya kesampean juga ya.


Gue bisa liat petir-petir ini.


Sumpah, keren banget!


“*Crrrkk… (suara kilatan petir)”


OK, nggak perlu buang-buang waktu


lagi.


Semoga gue bisa ambil petir-petir


ini—


““*JGRUM! (suara


sambaran-sambaran petir kencang)””


Urgh….


Sakit juga ya ternyata disamber


petir kayak gi—


“*JGRUM! (suara sambaran petir


kencang)”


…………….


“Ah…”


Gue nggak sadar kalo gue sempet


pingsan beberapa detik.


Tapi waktu gue bangun-bangun…


“*Crrrcrcrrrrrkk… (suara banyak


kilatan petir)”


…tiba-tiba badan gue kok berubah


bentuk?!


Jadi banyak kilatan petir gitu


sebadan-badan!


“*SWUSH! (suara mendarat dengan


sangat cepat)”


Waktunya gue hajar Tarzyn!


“RUOAAAAARRRRRRRRR!!!”


Itu dia!


“JUDGEMENT: TITAN FALL!!!”


“*JGRUMMM!!! (suara pukulan petir


yang sangat keras)”


Gue hampir berhasil pukul Tarzyn.


Tapi nggak tau kenapa, sebelum kepalan


tangan gue nyentuh dia, semua yang ada di sekitar gue jadi lambat.


Ya, semakin lambat.


Dari semakin lambat, jadi semakin


nggak bergerak sama sekali.