
“*Fwup! Fwup! Fwup! (suara
kepakan sayap Naga)”
Bagus. Myllo udah terbang
setinggi mungkin.
“(Kita hanya perlu memancingnya
saja, kan?!)”
“Ya! Selama Myllo belom selesai,
kita harus pancing Tarzyn supaya nggak ngejar Myllo sama Göhran!”
“(Baiklah! Sepertinya
menyenangkan!)”
“Me…Menyenang—”
“(Djinn! Aku hanya perlu agar kau
fokus menyerang beliau saja! Masalah menghindari serangannya, percayakan saja
kepadaku!)”
“OK, Zar!”
“Zar?”
“Maksud gue Rakhzar!”
“Ya!”
“*Fwush! (suara terbang cepat)”
Sekarang kita berempat mau
jalanin rencana yang gue susun.
Kira-kira, gini rencana yang gue
susun beberapa menit yang lalu.
……………
“…”
Tarzyn nembak bola apinya sampe
bisa jadi hujan karena awan-awan itu mencair.
Kalo misalkan dia bisa bikin
hujan pake bola apinya, gue jadi kepikiran untuk buat petir pake tekanan udara
yang tinggi di atas langit!
Tapi sebelum rencana gue ini
jalan, ada satu hal yang harus gue pastiin dari Myllo, yang jadi kunci utama
rencana gue.
“Myl, lo bisa gerakin angin
kan?!”
“Bisa, sih. Emangnya kenapa?!”
“Gue minta tolong untuk gerakin
awan ke titik itu pake angin lo! Kira-kira lo bisa, nggak?!”
“Hah?! Buat apaan emangnya?!”
“Untuk buat petir!”
“Hah?! Petir?!”
Ya, gue butuh petir yang banyak
banget untuk hajar Tarzyn.
Gue pun nggak yakin Mana yang ada di Jiwa gue ini cukup untuk lawan dia.
Makanya itu, mungkin gue bisa
pake petir alami untuk lawan dia.
“Emangnya gimana cara buat
petir?!”
Hmm…
Yang ada di kepala gue sebenernya
jawaban fisika banget.
Masalahnya orang ini dongo.
Jadi jawabannya itu…
“Tabrakin aja awan-awan itu!
Nanti muncul petir!”
“Cara nabrakinnya gimana?!”
“Lo gerakin pake angin lo!
Makanya gue butuh angin lo!”
Kayaknya nih orang nggak mudeng daritadi, ya?!
“Hmm… Kasih gue 1 menit!”
“Hm?”
Emangnya dia mau ngapain?
“Haaaah?! Nggak bisa?! Kenapa
emangnya?!”
Kok…dia ngobrol sendiri?
“(Tidak, Djinn! Ia sedang
berbicara dengan Wind Godddess Zegin!)”
“Oh, gitu!”
“Ya! Karena ia—”
“STOP BACA PIKIRAN GUE!!!”
“Ah, maaf.”
Jadi risih sendiri gue karena
dibacain terus pikiran gue sendiri!
“Zegin! Gue percaya sama Djinn!
Makanya gue butuh lo untuk percaya sama gue juga!”
“…”
“Hehe! OK, partner!”
Kalo dipikir-pikir lagi…
Pantes aja Myllo ngomongnya
senyantai itu sama dewanya sendiri. Dewanya aja juga kayak gitu yang gue liat
tadi di masa lalunya Melchizedek.
“OK, Djinn! Gue harus gimana?!”
“Gue butuh lo sama Göhran untuk
terbang setinggi-tingginya untuk gerakin awan itu! Nanti biar gue sama Rakhzar
yang jagain lo dari Tarzyn!”
“OK! Ayo kita terbang sekarang,
Göhran!”
Eh, tung—
“(Baik, Myllo!)”
“*Fwush! (suara terbang cepat)”
Ah! Si Dongo!
Nggak ada aba-aba, tiba-tiba main
terbang aja!
“Ayo kita ikutin mereka juga!”
“(Ya!)”
“*Fwush! (suara terbang cepat)”
……………
Kira-kira itu rencana gue untuk
lawan Tarzyn.
Makanya, sekarang gue cuma perlu pancing
dia supaya nggak ngejar Myllo lagi.
“*Jgrumm! (suara sambarang
petir)”
“Rrrr…”
Bagus!
Sekarang mata dia cuma ke arah
gue sama Rakhzar a—
“*BOOM! (suara bola api besar)”
Buset! Gede banget bola apinya!
“Rakhzar! Hati-hati silau!”
“(Hah?! Apa maksudmu, Djinn?!)”
“Tutup mata!”
“(Y…Ya!)”
“Judgment: Multi-Charge!”
“*BOOM! (suara ledakan besar)”
“ROUAAARR!”
“Urgh!”
Untung bola apinya gede, jadinya
gue bisa tutup mata waktu gue tembakin bola api itu pake sihir petir gue!
Oh, ya!
“Zar, dia juga kesilauan! Mending
kita serang dia dari deket!”
“Ya!”
Waktu Rakhzar terbang ke arah
dia…
“Hup!”
“Rrrr—”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“RUOAAAR!”
“*Fwush! (suara terbang cepat)”
Gue langsung lompat dari Rakhzar
untuk pukul dia.
Untung Rakhzar langsung dapetin
gue lagi.
“RRRRRR!!!”
“*Zwumm, zwumm, zwumm… (suara
gerakan banyak bola api)”
Buset! Itu apaan?!
“(Waspada! Beliau menggunakan
sihirnya kembali!)”
“Itu sihir apaan, Zar?!”
“(Bola-bola api itu akan
mengikuti kita! Jika kita terkena bola-bola api itu, Jiwa kita akan terbakar!)”
Sama aja kayak rudal dong?!
“Pegang aku yang kuat, Djinn!”
“Ya—”
“*FWUSH! (suara terbang sangat
cepat)”
BUSET!!! KENCENG BANGET!!!
Tapi untungnya cepet, sih.
Soalnya bola-bola api yang ngejar
kita ini juga nggak kalah cepet gerakannya!
“Djinn! Aku mungkin tidak bisa
menghindari semuanya! Bantu aku menahan serangan beliau!
“OK!”
“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”
““*Boom! (suara ledakan)””
Untung aja masih bisa diledakin
bola-bola api itu!
“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”
““*Boom! (suara ledakan)””
“Bagus, Djinn! Serangan beliau
semakin sedikit!”
Nggak. justru menurut gue ada
yang a—
“!!!”
Sialan! Bola-bola api itu
semuanya mau nyamperin Myllo!
“Rakhzar! Bola apinya ke arah
mereka!”
“Gawat! Kalau begitu kita harus
menjaga mereka, Djinn!”
“Ya!”
“*FWUSH! (suara terbang sangat
cepat)”
Gue nggak kepikiran dia bisa
nyerang kayak gitu!
Masalahnya…
“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”
“Cih!”
Jaraknya jauh banget!
“Rakhzar! Sihir gue nggak
nyampe!”
“(Baiklah kalau seperti itu!)”
“*FWUSH! (suara terbang sang
cepat)”
“(Gawat! Serangan beliau—)”
“*BOOM! (suara ledakan)”
“RAKHZAR!!!”
“DJIIII—”
“Fokus, Myllo! Gue masih aman!”
“Ya!”
Masalahnya…
Rakhzar pingsan!
Apalagi, jatohnya cepet banget
ini!
Oh, ya!
“Hup!”
Untung gue masih bisa lompat ke
bagian dadanya!
“Semoga lo bangun Zar!”
“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”
Gue ‘kagetin’ jantungnya supaya
dia bangun.
Hasilnya…
“Huuuffff!!!! Aku ada di—”
…perlu sekali doang supaya dia
bangun.
“Rakhzar! Mending kita yang
samperin Tarzyn, sambil hindarin bola-bola api itu!”
“Baiklah!”
“*FWUSH! (suara terbang sangat
cepat)”
Kita terbang lagi ke Tarzyn.
“*Zwumm, zwumm, zwumm… (suara
gerakabn bola-bola api)”
Kalo tadi kita dikejar bola,
sekarang kita mau beradu sama bola-bola api ini.
“Hati-hati silau!”
“(Ya!)”
“*Crrrkk… Jgruumm! (suara kilat
dan sambaran petir)”
“Lempar gue ke arah Tarzyn!”
“(Baik! Bersiaplah!)”
“*Swush! (suara terlempar)”
Waktu Rakhzar lempar gue, semua
bola-bola api jadi lari ke arah gue.
Cuma…
“*Jgrumm! (suara sambaran petir)”
“*Boom! (suara ledakan)”
…gue cuma perlu ledakin bola-bola
api itu pake petir gue.
“Heeeaaaagh!”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“RUOAAARRR!!!!”
Bagus! Seenggaknya dia udah nggak
pake bola-bola api itu la—”
“*FUP! (suara tangkapan Tarzyn)”
“Urgh!”
Dia masih bisa nangkep gu—
“*Vmmm… (suara tangan Tarzyn
memanas)”
“Aargh!”
Brengsek! Panas banget!
“Haaaurp!”
Rakhzar masih coba gigit Tarzyn,
walaupun nggak ada efeknya sama sekali!
Eh, iya!
Ini panas kan, ya?!
“*Boom! (suara ledakan)”
“RUOAAARR!!!”
Kenapa gue nggak kepikiran pake
petir gue?!
“Djinn! Apa kau baik-baik saja?!”
“Ya, untungnya badan gue masih
utuh—
“*Jgrum! Grumgrumgrum… (suara gemuruh
petir)”
Nice, Myl!
“Rakhzar, kita terbang ke atas! Sekarang!”
“Baiklah!”
“*FWUSH! (suara terbang sangat
cepat)”
Myllo udah berhasil bikin
petirnya!
Gue nggak boleh sia-siain apa
yang udah dia bu—
“RUOAAAAAAAAARRRRR!!!”
“(Cih! Beliau cepat sekali! Kita
harus bagaimana—)”
“MYLLO!!! GÖHRAN! PERGI DARI
SANA, SEKARANG!!!”
“Ya!”
“!!!”
Myllo kok sempoyongan gitu?!
Apa mungkin secapek itu bikin
petir kayak gi—
“ZEGIN BLOW: BAHOROK!”
“*SWUUUSSHHH!!! (suara angin
topan)”
Ternyata dia masih bisa nyerang
Tarzyn, ya?
Waktu Rakhzar yang terbang ke
atas papasan sama Göhran yang terbang ke bawah, gue sempet denger kata-kata
Myllo.
“Gue serahin sisanya…sama lo,
Djinn…”
Abis ngomong kayak gitu, dia
pingsan.
“My…Myllo—”
“(Djinn! Apa langkah
selanjutnya?!)”
Ah, fokus Djinn!
“Kalo terbang ke atas sana, lo
sanggup atau nggak?!”
“Se…Sepertinya tidak. Sisa-sisa
api dari beliau terlalu panas untukku. Kalau mau melewati lapisan tersebut,
sama saja aku—”
“Yaudah! Lempar gue sekarang!”
“(A…Akan tetapi—)”
“Gue nggak mau sia-siain apa yang
dibuat Myllo, Zar!”
“Ba…Baiklah.”
Akhirnya gue lompat ke tangannya
Rakhzar, terus…
“(Sudah siap?!)”
“Siap!”
“Baik, semoga rencanamu
berhasil!”
“*SWUSH!!!! (suara lemparan
sangat kencang)”
…dia lempar gue
setinggi-tingginya.
“*Fyuhyuhyuh… (suara desus
angin)”
“*Vwumm… (suara terbakar)”
“Urgh…”
Panas banget, anjing!
Ayo tahan dikit, Djinn!
Sebentar lagi lo sampe ke
awan-awan yang dibentuk Myllo!
“…”
““*GRUMM!!! (suara
sambaran-sambaran petir kencang)””
Ahaha…
Kalo gue inget lagi cita-cita
konyol gue waktu kecil, akhirnya kesampean juga ya.
Gue bisa liat petir-petir ini.
Sumpah, keren banget!
“*Crrrkk… (suara kilatan petir)”
OK, nggak perlu buang-buang waktu
lagi.
Semoga gue bisa ambil petir-petir
ini—
““*JGRUM! (suara
sambaran-sambaran petir kencang)””
Urgh….
Sakit juga ya ternyata disamber
petir kayak gi—
“*JGRUM! (suara sambaran petir
kencang)”
…………….
“Ah…”
Gue nggak sadar kalo gue sempet
pingsan beberapa detik.
Tapi waktu gue bangun-bangun…
“*Crrrcrcrrrrrkk… (suara banyak
kilatan petir)”
…tiba-tiba badan gue kok berubah
bentuk?!
Jadi banyak kilatan petir gitu
sebadan-badan!
“*SWUSH! (suara mendarat dengan
sangat cepat)”
Waktunya gue hajar Tarzyn!
“RUOAAAAARRRRRRRRR!!!”
Itu dia!
“JUDGEMENT: TITAN FALL!!!”
“*JGRUMMM!!! (suara pukulan petir
yang sangat keras)”
Gue hampir berhasil pukul Tarzyn.
Tapi nggak tau kenapa, sebelum kepalan
tangan gue nyentuh dia, semua yang ada di sekitar gue jadi lambat.
Ya, semakin lambat.
Dari semakin lambat, jadi semakin
nggak bergerak sama sekali.