Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 409. To The Lion's Den



“Silakan duduk, Kami-sama—”


“Panggil aja Djinn! Gue bukan dewa!”


“M-Maafkan saya, Djinn-sama—”


“Nggak perlu pake “sama” kali, Katanaka-san! Anggap aja gue kayak sebelum masuk Hidden Dungeon!”


Haaaahh…! Kalo nggak karena Ayasaki yng ikut sujud di depan gue, mungkin gue nggak perlu didewa-dewain


kayak gini!


Sekarang gue lagi di dalem ruangannya Tetsuo, yang Miyako jadiin tempat rapat.


Di sini kita mau bahas tentang wilayah yang Leonard punya, di mana temen-temen gue dibawa.


“Ayasaki-chan—”


“*Phuk…”


“Maafkan aku, Miyako-nēsama. Aku telah berlaku kasar kepada dirimu.”


“Ya. Maafin aku juga ya, Ayasaki-chan. Andai aku lebih peka sama apa yang dirasain mama, mungkin aku nggak harus ngomong begitu ke ka—”


“Sudahlah, Nēsama. Aku sudah memaafkanmu. Karena dosaku juga sudah dimaafkan.”


“…”


Mereka sama-sama pelukan.


Tapi akhirnya gue baru tau, kalo Ayasaki, Satoshi, sama Tetsuo itu keturunan utama Klan Kazedori, yang bisa


diperhatiin dari gaya ngomongnya yang formal.


Makanya Miyako ngomongnya sedikit nggak formal. Karena bapaknya bukan keturunan utama.


“P-Permisi. Maaf kita telat.”


“Tidak apa-apa, Daphine-san. Kita juga belum memulai rapat yang akan dipimpin oleh Djinn-dono.”


“…”


Daphine, Kornell, sama Gravanghar.


Mereka bertiga itu orang-orang yang diselamatin Leonard dari genggamannya. Di sini mereka bakal jelasin semua tentang Chaoseum.


Gue baru tau dari Dalbert, kalo Daphine sama Kornell itu sama-sama mantan anggota Gemini Party. Mereka


sama-sama bantu sepasang kembar itu untuk kabur, waktu orang yang namanya Bastheus itu hajar Party mereka.


Tapi kalo dipikir-pikir lagi, apa bedanya sepasang kembar itu sama Leonard?


Leonard bilang dia sengaja bawa paksa Petualang yang kuat untuk serang Centra Geoterra. Sedangkan sepasang kembar itu adu warga Dreaded Borderland supaya mereka yang kuat bisa ikut serang Leo Guild.


“…”


Ngomong-ngomong…


“*Sniff, sniff…”


…gue terus perhatiin tiga orang itu, di mana salah satunya—


“Woy! Bengong mulu! Buruan mulai rapatnya, bego!”


“D-Dalbert-dono—”


“Haaaaah?! Nyantai aja dong, brengsek! Lo nantangin gue?!”


“Siapa takut—”


““*Tung!””


Aduh! Siapa yang ngetok kepala gue—


“Maafkan aku karena tindakanku yang kasar, Djinn. Mau siapapun dirimu, aku akan menghardikmu jika kau tidak berperilaku yang benar, seperti aku menghardik Myllo. Begitu juga denganmu, Dalbert Dalrio. Apakah kata-kataku jelas?”


““Ya. Maafin kita.””


***** nih Si Brengsek! Gara-gara dia, kepala gue benjol karena diketok Ayasaki!


“…”


Gue pun mulai rapatnya.


Seperti biasa, gue butuh info tentang Chaoseum. Mulai dari lokasinya, keadaannya di tempat itu, sama orang-orang yang harus diawasin.


“Di tempat itu…”


““…””


Dari penjelasan Daphine, Chaoseum itu ada di tengah-tengah pulau kosong, yang Leonard kelola bareng Leo Guild sama beberapa Black Guild.


Dulu pulau itu diisi tiga kerajaan yang hancur karena perang. Sekarang pulau itu Leonard namain Chaos Island.


Di Chaoseum sendiri ada dua lapisan, yang diisi Lapisan Atas sama Lapisan Bawah.


Di Lapisan Atas ada tribun penonton, ruang khusus Leonard sama Executioners, sama arena pertarungan antara mereka yang disebut Petarung sama Tantangan.


Sedangkan di Lapisan Bawah ada beberapa lantai yang dimulai dari Lantai Satu, sampe lantai yang paling bawah, Lantai Lima.


Lantai Satu diisi anggota Leo Guild. Di sana juga ada squad khusus yang digugus Leonard.


Lantai Dua diisi Petarung yang dipenjara.


Lantai Tiga diisi Monster-Monster Intelektual, yang dijadiin Tantangan.


Tapi untuk Lantai Empat sama Lantai Lima…


“Itu tempat khusus yang bisa dimasukin Leonard doang. Di sana juga ada penjara khusus untuk Tarruc. Tapi dari yang gue denger sih, katanya ada yang pernah liat penampakan perempuan di sana. Mungkin aja di sana juga ada penjara Ryūhime sama Shogun.”


Mungkin cewek ini ngomong gitu. Tapi gue yakin kalo di tempat itu bukan cuma Ryūhime sama Tetsuo aja Mahluk Abadi yang ditangkep Leonard.


“Secara geografis lokasinya ada dari arah timur laut tempat ini. Kemarin sih kita bertiga berlayar selama 4 hari. Tapi ada kemungkinan perjalanan kita ke sana lebih lama, karena harus lewat arus ke dasar laut, yang lokasinya ada di barat bukit tinggi ini.”


“Ehem! Terkait itu, aku bisa membantu kalian!”


“Maksudnya?”


“Aku akan membawa kalian langsung dari tempat ini menuju Dunia Bawah, dengan cara mengangkat kapal kalian.”


“Bagus. Kalo gitu mungkin kita bisa nyampe Chaoseum lebih cepet.”


Ya. Seenggaknya kita udah tau deh cara yang paling cepet sampe Chaoseum. Tapi yang jadi pertanyaannya itu, gimana kira-kira cara kita masuk.


“Tenang aja. Kita nggak perlu masuk nyelinap-nyelinap, kok. Yang penting kita cuma perlu sembunyiin identitas


kita. Karena di sana, semuanya boleh masuk.”


“Oh, segampang itu?”


“Hmm… kalo dibilang segampang itu sih cuma karena nyampe di Chaos Island, tapi bukan di Chaoseum.”


“Terus untuk masuk Chaoseum, apa yang perlu kita siapin?”


“Sebenernya ini lebih terkait akses sih. Karena di sana, yang lebih diprioritasin itu orang-orang yang punya uang untuk judi sama orang-orang yang mau daftar jadi Petarung. Masalahnya nggak ada yang mau jadi Petarung, jadinya orang-orang kaya doang yang lebih diprioritasin.”


Orang-orang kaya—


“Siapa maksudnya orang-orang kaya?!”


“Bangsawan-bangsawan kotor sama orang-orang dari Black Guild. Kebanyakan sih mereka yang selalu pasang harga tinggi.”


“Cih! Bukannya kerja buat rakyat, malah judi!”


Wajar aja Dalbert sekesel itu. Karena dia dulu sering banget berurusan sama bangsawan kotor, waktu masih jadi kepala bandit.


““…””


Kita terus omongin tentang Chaoseum. Selesai kita bahas tempat itu, kita bahas yang menurut gue paling penting untuk di sana.


“Siapa saja yang akan anda bawa, Djinn-dono?”


Hmm…


Gue pasti bawa Dalbert. Pastinya gue juga bawa 3 mantan anggota Leo sama Ryūtaro. Tapi gue juga nggak boleh bawa kebanyakan orang.


Yang nggak mungkin gue bawa itu Ayasaki sama semua Kepala Komisi, walaupun gue mau mereka semua untuk ikut.


“Djinn! A-A-Aku harus ikut! Sekarang semua temen-temen aku ada di sana! Nggak mungkin—”


“Winona-kun! Apa yang kau lakukan?! Tidakkah kau—”


“Nggak apa-apa. Ikut aja.”


“Djinn-kun! Tetapi—”


“Kita berdua sama-sama khawatirin temen-temen satu Party kita, Nakatoki-san. Kalo gue jadi dia, gue pasti juga paksain diri gue untuk ikut.”


“B-B-Baiklah… Maafkan aku, Djinn-kun—”


“Sensei! Aku janji untuk bawa balik Royce!”


“Baiklah, Winona-kun. Semoga Dewi Zegin menyertaimu dan teman-temanmu.”


Berarti udah 7 orang yang ikut. Keliatannya mereka udah cukup. Kalo kebanyakan, bisa-bisa kita undang perhatian di sana—


“*Brak!”


“M-Maafin kami yang tiba-tiba datang!”


Kaget gue. Tiba-tiba ada Tsuruki yang dateng bareng Fusamoto, Shinikichi, Kokume, sama Nekomi.


“Fusamoto-kun! Mengapa kau tiba-tiba datang kemari?!”


“Tsuruki! Kami sedang membahas sesuatu yang penting! Jangan ganggu kami!”


“Hey, kalian! Pergilah—”


““*Druk…””


“K-Kami mohon, izinkan kami untuk ikut!”


“Karena sebelumnya kita semua nggak bisa apa-apa, sewaktu tempat tinggal kita diserang!”


“Tapi sekarang kita udah sehat! Kita mau tunjukkin ke mereka, kalo mereka salah besar karena berani macem-macem sama kita!”


Oh ya. Sebelumnya Ryūtaro jelasin kalo mereka semua dihajar Slasher, termasuk Miyako. Makanya mereka nggak bisa ngapa-ngapain karena lagi dirawat, waktu Leonard bantai Kumotochi.


“Djinn! Gue mohon—”


“Tsuruki-kun. Saya mengerti akan apa yang anda rasakan. Tetapi, selain menjaga Kumotochi, kita juga harus bersama-sama memperbaiki segala kerusakan yang ada karena ulah Pengacau itu.”


“Tapi—”


“Maafin gue, kalian semua. Tapi apa yang dibilang Katanaka-san ada benernya.”


““…””


Gue tau kalo mereka nggak terima keputusan gue. Tapi gue juga nggak bisa bantah apa yang Katanaka bilang.


Walaupun gue ngomong gitu, gue bisa liat ekspresi mereka yang kesel banget. Gue yakin bukan kesel karena gue, tapi kesel karena nggak bisa bantu banyak.


Tapi karena liat mereka yang kayak gitu, gue jadi keinget gue sebelumnya, yang nggak bisa apa-apa karena nggak ada kekuatan gue ini.


“Yaudah. Kita paham.”


“Andai kita lebih kuat lagi, mungkin kita bisa ikut—”


“Jika memang kalian ingin lebih kuat, alangkah baiknya jika kalian menemuiku, esok pagi.”


“K-Kazedori Ayasaki-sama…? Maksudnya—”


“Ya. Aku akan mengajari kalian, agar menjadi lebih kuat. Apakah kalian siap?!”


““SIAP, SENSEI!!!””


Untung aja Ayasaki tiba-tiba mau ajarin mereka.


Tapi gue nggak sangka, tiba-tiba Ayasaki mau ajarin mereka.


“Saki, kenapa tiba-tiba lo mau ajarin mereka?”


“Hmm… mungkin karena kebiasaanku yang selalu mengajar seseorang?”


O-Oh gitu…?


Susah deh, kalo emang punya bakat jadi guru.


“Djinn, jadi kita mau berangkat kapan?”


“Gue juga masih bingung. Menurut lo enaknya kapan, Dal?”


“Besok pagi, sebelum matahari terbit?”


Jam setengah 6, ya?


“Yaudah, deh. Besok kita sama-sama pergi, sebelum matahari terbit. Kalian semua siap?”


““Siap!””


……………


Akhirnya rapat selesai. Kita semua sama-sama keluar dari ruangan Tetsuo, khususnya kita yang mau siap-siap untuk jalan besok pagi.


“Djinn. Aku masih penasaran dengan yang kau katakan sebelumnya.”


Aduh. Dia mau tanyain tentang orang yang punya Aroma kayak Kazue, ya?


“Apa benar ada Oba-chan di antara kita semua—”


“K-Kamu bilang apa?! Oba-chan?! Maksud kamu… mama aku…?”


“Benar, Miyako-nēsama! Aku juga sama terkejutnya denganmu, ketika mendapatinya yang menjawab dengan spontan!”


Nah kan…!


Padahal gue nggak mau bahas tentang itu karena ada Miyako, yang anaknya Kazue! Tapi masih dibahas lagi sama Ayasaki!


Haaaaah… Yaudah lah. Mau gimana lagi.


“Kalian jangan kaget ya.”


““…””


“Gue yakin banget, kalo Kazue punya Aroma yang sama persis kayak cewek yang namanya Daphine itu!”


“A-Aroma yang sama…? Kok kamu


kesannya kayak—”


“B-Berarti… maksudmu… wanita itu adalah…”


“Ya. Dia itu reinkarnasi dari Kazue—”


““*Swush!””


“Woy!”


Kenapa mereka malah lari ngejar Daphine sih?!


““*Bruk!””


“Aw! Kok gue—”


“Mamaaaa!”             “Oba-chaaaan!”


“H-H-H-Haaaaaaaah?!?!”


Haaaaaah…! Mana mungkin dia inget masa lalunya?!


“…”


Yaudah lah, biarin aja.


Mending gue fokus untuk siap-siap dulu.


……………


Kita semua siap-siap.


Sekarang, di pagi ini, kita mau berangkat ke Chaoseum.


Tapi sebelumnya… gue penasaran sama cewek yang namanya Daphine.


“D-Daphine kan nama lo?”


“Ya. Ada apa?”


“Kemarin gimana, waktu Ayasaki sama Miyako tiba-tiba lompat untuk peluk lo?”


“Pastinya gue kaget! Lagian kalo pun bener dulunya gue orang yang mereka kenal, mana mungkin gue inget! Kan gue udah balik ke dunia ini sebagai Daphine, orang yang baru!”


B-Bener, sih—


“Tapi… Nggak tau kenapa, gue ngerasa seneng aja waktu dipeluk mereka. Kesannya gue ini bener-bener ibu dari mereka, yang usianya jauh banget di bawah mereka.”


Bagus deh kalo gi—


“Ngomong-ngomong, makasih banyak ya.”


“Makasih? Emangnya gue bikin apa untuk lo?


“Nggak ada sih. Gue cuma seneng aja karena Ayasaki bisa bebas dari masa lalunya. Padahal gue mau bantuin dia, tapi gue sendiri juga nggak tau gimana caranya.”


Mau bantuin Ayasaki bebas ya, dia bilang?


“Haha!”


“K-Kenapa lo ketawa?”


“Nggak kok. Cuma keinget sesuatu aja.”


Ternyata cewek ini bener-bener reinkarnasi tantenya Ayasaki. Karena mau dia itu Kazue atau Daphine, mereka berdua sama-sama mau Ayasaki yang hidup lebih bebas.


“(Djinn! Aku siap membawa kalian!)”


Ryūtaro udah mau angkat Sailing Eagle pake Wujud Naga yang dia punya.


“Semuanya siap?!”


““Siap!””


“OK! Kita berangkat sekarang, Ryūtaro!”


“(Baik, Djinn!)”


“*FWUP, FWUP, FWUP…”


Akhirnya kita berangkat sekarang.


“Kami-sama!”


“Semoga Engkau berhasil!”


““Kami-sama!””


Waduh! Gue nggak nyangka kalo ada banyak warga Kumotochi yang nyambut kita keluar!


Gue kira cuma Ayasaki sama Kepala Komisi aja!


Yaudah! Sekarang waktunya gue fokus ke perjalanan gue bareng mereka semua ke Chaoseum!


Semoga aja temen-temen gue nggak kenapa-kenapa!


Tunggu gue, kalian semua!