Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 339. The First Companion



Myllo jatoh ke dalem laut. Makanya itu gue mau buru-buru masuk untuk selamatin dia…


Tadinya gue mikir begitu.


“*Fwush…”


“Ahahahaha! Tiba-tiba gue nyemplung ke dalem laut!”


Ternyata dia langsung berubah jadi angin, terus terbang balik ke atas kapal.


“Tuh kan! Padahal tadi aku mau ingetin kamu, kalo dia pasti balik lagi pake kekuatan Dewi Zegin!”


“I-Iya juga…”


“Ya ampun! Kayaknya semua High Elf tuh sama-sama pelupa, ya?!”


“Bawel! Baru ketemu satu High Elf aja udah sok paling tau High Elf—”


“*Cuutt…”


Aduh, duh, duh! Kenapa pipi gue dicubit?!


“Ih! Nggak boleh galak-galak loh sama cewek cantik kayak aku—”


“HYAAAAAAAHH!!!”


““!!!””


Duh! Sekarang kenapa Garry tiba-tiba teriak?!


“Itu suara Garry, kan?! Kok kedengeran dari belakang kapal?!”


“Ayo kita cek sekarang juga!”


Akhirnya kita bertiga ke belakang kapal untuk ngecek suara teriakan Garry.


Nggak taunya…


“M-M-Myllo…”


“Hah?! Ada apa, Ga—”


“M-Machinno teh… dikutuk jadi mahluk aneh kieu… hiks, hiks…”


…kita bertiga temuin Machinno yang… berubah jadi… apaan ya?


Dibilang serangga sih bisa, karena mulai dari bentuk sama ukurannya kayak belalang. Tapi kok… kepalanya kayak buaya, ya?


“APA!!! INI MACHINNO?!?!”


“Kenapa dia tiba-tiba berubah jadi Alligantis?!”


Alli… hah?


“Myllo! Wilayah ini teh bahaya! Aing nggak mau kena kutuk kayak Machinno! Sok atuh kita pergi dari sini!!!”


“Huaaaaa! Maafin gue kalo gue ada salah, Machinno!”


“Hiks! Hiks! Hiks! M-M-Machinno dikutuk…!”


Loh! Kok jadi pada nangis?!


“Tunggu dulu, kalian bertiga!”


“Et! Tunggu apa lagi, anying?!”


“Perhatiin baik-baik! Harusnya dia bisa—”


“*Puff…”


““…””


T-Tiba-tiba badannya meledek, terus balik jadi normal lagi…


“Djinn…”


“*Puink, puink, puink…”


“Machinno… gagal.”


“G-Gagal…? Bukannya emang mau berubah kayak gitu?”


“Machinno… ingin berubah menjadi kucing—”


““HYAAAAAAHHH!!! MACHINNO TIBA-TIBA NORMAL LAGIIII!!!””


Aduh! Dasar bocah-bocah sialan ini!


“Woy! Kenapa harus teriak-teriak sih ngomongnya?! Emangnya kalian—”


“*Fwuuushh…”


“*Bruk, bruk…”


Eh iya! Anginnya jadi makin kenceng!


“Woy kalian semua! Anginnya bahaya, nih! Mau nggak mau kita harus ambil rute lain!”


“OK, Dalbert! Ayo kita cari daratan!”


“Tapi gimana caranya Dalbert cari daratan, Myllo?! Bahkan kita nggak bisa liat apa-apaan! Bahkan aku nggak yakin kalo elang dia bisa cariin daratan!”


Gue tau maksud Myllo yang prioritasin keselamatan kita. Tapi yang dibilang Gia ada benernya juga.


Makanya itu, cuma ada satu solusi untuk kondisi kayak gini.


“Mil! Mending kita turunin jangkar aja sekarang!”


“Hah?! Turunin jangkar?!”


“Ya! Kalo nggak bisa kemana-mana, seenggaknya kita nggak digoyang badai kayak gini! Selain itu, kita juga harus tutup semua layarnya, supaya nggak dibawa angin kayak gini!”


“Gue setuju sama Djinn, Myllo! Mending kita kerjain apa yang dia bilang!”


“Yaudah! Djinn! Tolong turunin jangkarnya sekarang!”


“OK!”


“Biar aku yang tutup layar kapalnya, Myllo!”


“OK, Gia!”


“Gue balik lagi ke kemudi, Myllo!”


“Bagus, Dalbert! Kalo gitu, Garry sama Machinno ikut gue untuk awasin sekitar!”


“Siap!”


Akhirnya kita semua ngelakuin arahan Myllo.


Sampe akhirnya…


“RRRRRR……”


…kita denger raungan yang keras banget!


“Woy…! Suara apaan, tuh…?!”


“J-J-J-Jangan-jangan… suara eta teh… suara Sea Serpent…!”


Cih! Masa sih kita harus berhadapan sama Sea Serpent lagi?!


“…”


Kenapa Myllo cuma ngeliatin arah suara raungan itu…?


“Semuanya.”


“*Fwush…”


“Gue pergi sebentar.”


Hah?! Kok tiba-tiba dia pake kekuatan Zegin—


“*Fwush!”


“M-Myllo! Tunggu!”


“Et! Sianying teh kebiasaan main pergi kitu wae! Jangan bilang dia teh mau—”


“Tunggu dulu, semuanya!”


“A-Ada apa, Djinn?!”


“…”


K-Kenapa sekarang feeling gue nggak enak…?!


Entah kenapa, rasanya kita bakal ketemu—


“*Boom…”


Hah?! Kenapa ada tiba-tiba ada suara ledakan—


“*FWUSH!!!”


““Aaaargh!””


Woy, woy, woy!


Kok tiba-tiba ada angin yang kenceng banget, yang dateng dari depan kita?!


“Kalian semua nggak apa-apa, kan?!”


“K-Kita nggak apa-apa, Djinn! Cuma—”


“*Swush…”


“*Bruk, bruk, bruk…”


Hah?!


““M-MYLLO?!?!””


Kok tiba-tiba bocah ini balik lagi ke kapal ini?!


“M-Myllo! Kamu nggak kenapa-kena—”


“Gue baik-baik aja! Tapi kondisi kita sekarang… justru lagi kacau banget…!”


“Emangnya ada apa, Mil?!”


“Jangan-jangan teh sia diserang Sea Serpent—”


“Hehe…! Kalo Sea Serpent aja sih… gue bisa kalahin…! Tapi yang serang gue tadi tuh… jauh lebih kuat daripada Sea Serpent…!”


Beda jauh?!


“Emangnya lo diserang apa?!”


“Wind Dragon!”


““!!!””


Diserang Naga?!


“Kok tiba-tiba ada Naga di tengah laut?!”


“Gue juga nggak tau! Padahal gue yakin kalo angin-angin ini tuh—”


“SEMUANYA!!! GAWAT!!!”


Hah?! Apa lagi yang gawat—


“A-ADA BANYAK ANGIN TOPAN DI DEPAN KITA!!!”


““!!!””


Sialan! Kenapa tiba-tiba jadi kacau begini?!


“Semuanya! Pegangan yang erat!”


“Myllo! Kamu mau ngapain la—”


“Biar gue yang tanganin semua angin topan itu! Karena di tengah kondisi kayak gini, cuma gue doang yang bisa lawan Wind Dragon itu!”


“M-Myllo…”


“…”


Cih! Emang yang dia bilang ada benernya!


Selain dia yang bisa lawan angin topan itu pake kekuatan Zegin, kita bisa apa selain percayain semua ke dia!


Tapi, bukan berarti satu dari antara kita nggak bisa bantuin dia.


“Myllo! Tapi sia teh—”


“Biarin aja Myllo yang urus, Garry!”


“Djinn?! Kenapa sia—”


“Kalo lo mau bantu, cepet pasangin Roh ke dia!”


“S-Si-Siap!”


Akhirnya Garry rapal sihir dia, sambil gue pegangin.


“Hehe! Thanks, Garry!”


“*Swush…”


Myllo langsung terbang dari kapal ini, ke salah satu angin topan.


“Hyaaaaat!”


“*FWUSH!!!”


“Hehe! Lo kira gue takut sama angin topan lo?! Sini bawa ke gue semua angin topan lo!”


“…”


Mungkin dia bilang gitu. Padahal masih ada puluhan angin topan yang harus dia hilangin—


“Kasih badan lo ke gue, lemah!”


Cih! Kenapa Si Bajingan ini tiba-tiba nongol—


“Gue jamin gue bisa bantu temen lo itu!”


“…”


“Jangan ragu-ragu! Kasih badan lo ke gue, sekarang ju—”


Bisa jamin apa lo, bajingan?!


“…”


Cih! Bikin kesel aja Iblis satu ini!


Giliran gue tanya gitu, dia langsung diem!


Nggak salah lagi. Artinya dia cuma mau badan gue, tanpa ada niatan untuk bantu Myllo—


“*Fwusssssshhh…”


““Aaargh!””


S-Sialan…!


Walaupun beberapa angin topan udah dihilangin Myllo, kenapa tiupan anginnya makin kenceng?!


“Aaaa… Machinno akan terbang—”


“T-Tenang aja… Machinno! Aku…


nggak akan lepas kamu…!”


Untung aja Machinno nggak terbang lebih jauh la—


“A-Aduh…!”


Hah?!


“Ada apa, Ger?!”


“T-Tiupan anginnya teh… kenceng pisan…! Roh yang aing pasangkeun ke Myllo… malah dihempaskeun Naga eta…!”


Duh! Artinya sekarang Myllo nggak ada bantuan apa-apa, ya—


“Aaaaaaa…”


I-Itu kan…


“Djinn! Itu… suara Myllo, kan…?!”


“Ya…!”


K-Kenapa tiba-tiba ada teriakan dia—


“HYAAAAAAAATTTT!!!”


“*FWUSHHH!!!”


K-Kabut di laut ini tiba-tiba hilang—


“HYAAAAAH!!! ADA WIND DRAGON!!!”


““!!!””


G-Giliran kabutnya hilang, kita semua bisa liat Wind Dragon yang ukurannya jauh lebih panjang daripada Naga yang ada di Erviga!


“…”


Bentuk Naga itu nggak bersayap. Makanya Naga itu lebih tipis dibanding Naga di Erviga. Tapi panjangnya nggak masuk akal banget!


Bahkan lebih panjang dibanding Sea Serpent!


Tapi kalo ngomong soal ukuran, untungnya Naga ini nggak segede Tarzyn atau Jörnarr! Walaupun gitu, sekarang gue harus lawan Naga ini tanpa kekuatan gue!


Berarti sekarang gue harus gima—


“Eh! Itu Myllo!”


“…”


Myllo… melayang doang di atas udara!


“…”


““M-MYLLOOO!!!””


Duh! Ternyata dia udah nggak sadar ya selama melayang—


“*SWUSH!!!”


“…”


K-Kenapa Naga itu nangkep Myllo?!


“Djinn! Kita harus gimana?!”


“Mau nggak mau, kita harus lawan Naga i—”


“(Tenanglah kalian, wahai Mahluk Fana.)”


““…””


N-Naga itu ngomong sama kita…?


“*Swush…”


Terus dia terbang pelan-pelan ke perahu kita, abis itu dia ngasih Myllo ke kita.


“(Sebelumnya, maafkan aku atas tindakanku yang ceroboh, rekan-rekan Myllo.)”


“Hah?! Ceroboh?! Maksud kamu apa?!”


“(M-Maksudku adalah…)”


““…””


“(…aku hanya sedikit kecewa terhadapnya yang melupakanku!)”


Hah…?


““Hah…?””


“(Hah?! Bahkan ia tidak pernah menceritakan tentang diriku kepada kalian?!)”


““Nggak—””


“(KETERLALUAN KAU, MYLLO!!!)”


““*FWUSH!!!””


Eh! Nih Naga sebenernya ngambek, ya?!


“Woy! Kalo ngambek, jangan celakain kita dong!”


“(Ah. Maafkan aku…)”


A-Asli, deh…


Dari semua Naga yang pernah gue temuin, nih Naga yang paling aneh—


“(Kubilang maafkan aku! Mengapa kalian malah memikirkan hal yang jelek tentang diriku?!”


Ah…


Gue lupa kalo tiap Naga yang gue temuin pasti baca pikiran gue, kayak Rakhzar.


Bahkan nggak gue doang.


“Ih! Kok kamu baca pikiran aku, sih?!”


“K-Kurang ajar! Cuma teteh geulis wae yang boleh baca pikiran aing!”


““…””


Yang lain juga dibaca pikirannya sama Naga ini.


Oh iya, balik lagi ke topik.


“Tadi lo bilang, Myllo lupa sama lo?! Maksud lo apa?!”


“(Haaaaah…! Padahal aku berharap jika Myllo menceritakan tentang aku, kala ia bertemu dengan anggotanya nanti! Namun tidak kusangka bahwa aku harus menceritakan diriku sendiri kepada kalian!)”


““Hah…?””


K-Kayaknya dia doang deh Naga yang ngeluh…


“(Namaku adalah Ryūtaro! Aku adalah Naga yang mengantarkan Myllo keluar dari laut ini, setelah ia menjalani latihannya selama 3 tahun, sebelum bertemu dengan kalian semua!)”


“Hah?! Artinya Myllo pernah ada di sekitar laut ini?!”


“Tentu saja! Tidak, lebih tepatnya, ia berada di atas sana!”


“Atas sana?! Emangnya ada a—Woy, Djinn! Kok lo tiba-tiba melamun?!”


“Ah. Maaf, maaf…”


G-Gue nggak salah denger, kan?!


Kok nama Naga satu ini… kedengeran nggak asing di kuping gue?!