Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 181. The Second-Man



“…”


Dih, kenapa baru sekarang ya gue ngerasa jijik sama lumuran darah di badan gue?!


“Haaaahhh…”


Yang penting semuanya udah selesai, deh.


“Woy, brengsek! Lo bisa gerak, nggak?!”


“Cih! Gue nggak butuh—”


“*Bruk…”


“…”


Ternyata udah nggak bisa gerak, ya?


Bahkan diri dikit aja dia langsung jatoh.


“Sini, gue bantu.”


“…”


Haaaah! Batu banget sih nih bocah?!


“Woy, breng—”


“Kalo lo bantu gue, skor kita tetep 1-0, ya?!”


“Ya, ya, ya, bawel!”


Ternyata gara-gara itu doang ya dia keras kepalanya?!


……………


Kita akhirnya balik ke Myllo sama yang lainnya.


“Kondisi Myllo sama yang lainnya gimana, ya?”


“…”


Karena pertanyaan dia, akhirnya gue pake Mata gue ini untuk liat sekitar.


Dari yang gue liat, keliatannya Myllo duduk tenang bareng yang lain, walaupun yang satunya lagi gue nggak tau siapa.


Selain mereka semua, gue bisa liat Gia sama Garry yang udah mau sampe ke mereka.


“Mereka aman, kok. Tinggal kita aja yang belom balik.”


“Oh, gitu? Tapi kok…”


“Hm?”


“Tapi kok lo masih baik-baik aja, sih?! Kenapa nggak ada luka sama sekali?!”


“Oh, itu? Kalo itu sih emang lawan gue aja yang terlalu lemah.”


“Terus, gimana cara lo kalahin lawan lo tadi?”


“…”


Karena bocah brengsek ini nanya, akhirnya gue jelasin ke dia secara singkat.


……………


“*Boom! Boom! Boom!”


“Hahaha! Lo nggak bisa ngapa-ngapain kalo gue terbang-terbangan begini, Djinn Dracorion!”


Cewek yang namanya Thelial ini nyerang gue sambil terbang-terbangan. Udah nyerang di atas udara, tambah lagi terbang dia kenceng banget. Terbangnya bisa gue bilang jauh lebih cepet daripada pasukan Siegfried yang gue lawan di hutan[1], waktu itu.


Dari semua serangan yang gue keluarin, gue cuma bisa serang dia sekali. Tapi, serangan gue bukan serangan yang sia-sia.


“*Jgrum!”


“*Chrang!”


“Aw! Brengsek lo! Djinn Dracorion!”


Ya. Gue berhasil serang kacamatanya.


Karena itu…


“*Boom! Boom! Boom!”


…serangannya meleset semua.


Ujung-ujungnya, gue cuma perlu duduk doang, karena gue yakin serangan dia meleset semua.


“Be-Berani-beraninya lo duduk doang!”


“Bawel! Ayo serang gue! Dasar ayam!”


“Aaaargh! Dasar sialan!”


Dia ngomong gitu karena frustasi nggak bisa nyerang gue.


Ujung-ujungnya, dia nggak punya pilihan lain, selain nyerang gue dari deket.


“Dasar brengsek!”


“*Swush!”


“*Tap!”


“*Crat!”


“AAAAAAARGH!!!


Karena dia nyerang dari deket, gue bisa tangkep dia yang terbang nggak karuan untuk tarik sayapnya, supaya dia nggak terbang-terbangan lagi.


Untuk sisanya… Ya tau sendiri lah, ya.


……………


“Gi-Gitu doang?!”


“Iya, gitu doang.”


“Hmph! Untung banget lawan lo cuma Kasta Hijau doang! Sedangkan lawan gue Kasta Jingga!”


“Hah?! Mana gue pikirin! Lawan lo aja juga gue yang kalahin!”


“Lah! Kan gue udah lawan banyak orang sebelum lo dateng, bego!”


“Alesan mulu lo, brengsek!”


“Apa lo bilang?!”


Yah, ujung-ujungnya kita balik sambil debat.


Waktu sampe ke Myllo, gue bisa liat semuanya baik-baik aja.


Tapi ada satu wajah asing yang gue liat.


“…”


Siapa orang itu? Kenapa dia tiba-tiba ada di sini?


“Mil, siapa nih o—”


“Liat tuh, Ghibr! Temen-temen gue balik semua! Hihihi! Artinya gue menang, kan?!”


Tunggu! Kok gue kayak kenal ya dari namanya?!


“!!!”


Oh iya! Dia ini Guildmaster dari Chemia?!


Artinya…


“Mil, dia yang eksperimenin monster—”


“Ih, Djinn! Nama dia Machinno!”


“I-Iya, maaf. Maksud gue Machinno!”


Heran gue. Kenapa Gia keliatan akrab banget sama monster satu ini? Bahkan ngomong pun nggak bisa.


“Ya, lo bener! Tambah lagi, dia mau eksperimenin gue!”


““!!!””


Dia mau eksperimenin Myllo?!


““…””


Denger gitu, kita berempat langsung siap-siap untuk nyerang dia.


“*Prok, prok, prok…”


Kenapa dia tepuk tangan.


“Woy, Ghibr! Ada yang seru?! Kenapa lo tepuk tangan?!”


“Menurut saya sih emang ada yang seru.”


Hah?


Apaan maksud orang ini?


“Kalo nggak karena kalian, mungkin saya nggak akan tau hasil dari eksperimen saya.”


Hasil dari eksperimen?!


Jangan-jangan—


“Ternyata dari 4 orang itu, cuma Wickerd ya Homunculus yang bisa keluarin potensi Mythic Beast-nya?”


Mythic Beast?


Seinget gue, Meldek pernah cerita kalo mereka itu ada dua macem!


Yang pertama, lahir di Spirit Realm atau yang juga dikenal sebagai Sirkulasi Roh. Mereka lahir di sana, tapi nggak tau kenapa bisa terjebak di dunia ini. Mungkin salah satu contohnya tuh Pegasus.


Yang kedua, mereka lahir dari sisa-sisa Mana atau energi kehidupan dari Mahluk Abadi yang tersebar di dunia ini. Ya bisa dibilang sih Wyvern sama Wyrm salah satu contohnya.


Eh, iya!


Dia bilang tadi apa?!


“Ke-Keterlaluan! Berani-beraninya anda melakukan hal keji seperti i—”


“Kalo saya nggak ngelakuin itu, Mahluk Fana nggak akan bisa evolusi, dong?”


“A-Apa maksudmu, Mahluk Fana?”


“Maksud saya? Ya udah jelas, dong! Kalo Naga, Siren, atau Mahluk Abadi lainnya bisa hidup panjang, kenapa kita nggak bisa? Tambah lagi, harusnya kalian berdua udah nggak ada di dunia, loh.”


““!!!””


Maksudnya dia mau ngincer keabadian?!


“Terus, kalo lo hidup abadi, lo mau apa?”


Pertanyaan bagus, Mil.


“Mau apa? Pastinya mau eksploitasi semua yang ada di Geoterra, dong! Gyeeehahaha!”


Gila nih orang. Bahkan ketawanya aja udah hina banget.


“Terus lo cuma mau eksploitasi aja seumur hidup? Kalo sampe udah nggak ada yang bisa dieksploitasi, lo mau apa? Lo nggak bosen, gitu?”


“Ah, nggak perlu sentimental kayak gitu, Myllo Olfret. Daripada kita bahas hal yang nggak penting itu,


mending gini aja.”


“Mending a—”


“*Shrak!”


Eh! Kok dia gorok lengannya sendiri?!



“*Brrrrkkk…”


““!!!””


“Machinno!!!”


“Grugh! Grugh! Gruuugh!”


Kok tiba-tiba ada tangan yang gede banget, yang keluar dari tanah ini?! Bahkan tangan itu bisa genggam


Machinno yang ukurannya udah segede itu!


“Woy, Ghibr! Lo ngapain Machi—”


“Aquilla, coba saya tanya baik-baik. Menurut kalian, apa yang kurang dari eksperimen saya ini?”


Apa yang kurang?


“Tu-Tunawicara.”


“Ya! Dia ini belom sempurna! Kalian tau yang bisa sempurnain dia ini apa?!”


Siapa emangnya?!


“…”


Bisa jadi, antara gue atau Myllo!


Myllo karena jadi inceran dia! Sedangkan kalo dia tau gue ini Pria Terjanji, bisa aja gue jadi inceran dia!


“Energi kehidupan dari Kapten kalian, Myllo Olfret!”


Tuh, kan! Myllo!


Eh! Tapi dia bilang apa?! Energi kehidupan Myllo?!


“A-Apa maksud lo, Ghibr?! Kenapa energi kehidupan gu—”


“Ah, maaf. Saya nggak boleh sebarin apa yang dikasih tau informan saya.”


Dia dapet sesuatu tentang Myllo dari informannya?!


“Kalo gitu, saya kasih pilihan ke anda, Myllo Olfret.”


Cih! Perasaan gue pilihan yang dia kasih nggak bakal ada yang beres!


“Apaan?!”


“Karena anda bilang teman dari teman anda itu teman anda juga, makanya itu saya bisa bunuh eksperimen gagal ini kapan aja! Ya walaupun saya harus ngulang dari awal sih. Sebenernya sih saya mau ambil dia balik karena males ngulang dari awal aja!”


“Keterlaluan lo! Ghi—”


“Ya, ya, ya, dia eksperimen gagal. Andai saya nggak ketemu anda, mungkin aja saya udah bunuh eksperimen gagal ini.”


“Jadi intinya…”


“Bener banget! Kalo anda mau ikut saya untuk sempurnain eksperimen ini, mungkin saya bisa biarin dia hidup! Tapi kalo nggak mau ikut saya, yaudah saya bunuh aja eksperimen gagal ini di sini!”


Dasar brengsek!


“Myllo… terus Machinno gimana…?”


“Myllo! Sia teh nggak boleh serahkeun diri sendiri! Awas wae kalo sia ikut orang itu!”


“Cih! Garry ada benernya sih. Tapi Machinno harus mati, gitu?”


“M-Myllo! Lo itu Kapten, bukan?! Jadi Kapten itu nggak boleh naif! Lo harus objektif!”


“Aku tidak mau mengakui kata-kata pria ini, Myllo. Tapi ia ada benarnya! Kau tidak boleh—”


“Terus bagaimana dengan Machinno, Jennania?!”


““…””


Duh, jadi pada debat ya semuanya?


“…”


Sedangkan Myllo jadi ragu untuk tentuin pilihannya, walaupun gue udah tau dia bakal pilih apa.


“Hormatin Kapten lo. Gue yakin Zyllo juga orang yang baik. Makanya itu, hormatin apapun keputusan dia. Bahkan kalo menurut lo pilihannya salah, seenggaknya lo sebagai anggota udah ingetin dia dengan cara yang bener.”[2]


Entah kenapa, momen kayak gini bikin gue selalu keinget nasehat Lupherius.


“Huuuuh…”


OK. Gue tau harus ngapain.


“DIEM SEMUANYA!!!”


““!!!””


Bagus. Akhirnya udah nggak ada yang debat lagi.


“Mil. Ngomong aja kalo udah tau mau ngapain.”


“Hehe! Dasar sialan! Kali ini lo yang baca gue, ya?!”


Ya iyalah! Dari antara mereka semua, gue termasuk yang kenal lo paling lama!


“OK, Ghibr! Gue ikut lo!”


““!!!””


Ya. Gue yakin dia pasti pilih ikut Ghibr demi Machinno.


“Myllo… M-Maafin aku…”


“Myllo! Sia teh nggak—”


“Hormatin pilihan Kapten kalian, Aquilla!”


““!!!””


Semuanya jadi tenang waktu gue teriak begitu.


“Djinn, tapi—”


“Percaya sama dia! Karena apapun yang dia pilih, gue yakin dia nggak akan mati sebelum jadi Petualang Nomor Satu di Dunia!"


““…””


"Makanya itu sebagai anggotanya, kita harus pikirin cara bantu dia keluar dari anjing itu (Ghibr)! ”


““…””


Semuanya mulai diem sama kata-kata gue.


Khususnya Ghibr, yang natap gue tajem kayak gitu.


“Hehe! Makasih banyak, Orang Nomor Dua di Aquilla Party! Tunggu gue selamatin Machinno!”


“Ya! Kita juga usahain semampu kita untuk bawa lo balik!”


“*Phak!”


Kita berdua tos, sebelum dia jalan ke Ghibr.


“OK, Ghibr! Ayo balik ke Guildbase lo!”


“Gyeeehahaha! Ayo ikut saya, Myllo Olfret! Sebelum saya makin gila karena Wakil Kapten anda!”


“*Vwrungg…”


“Saya udah nggak sabar jalanin eksperimen saya!”


“*Vwrungg…”


Mereka akhirnya pergi pake portal.


Sedangkan kita yang dia tinggal…


““…””


Duh, keliatannya udah nggak semangat karena liat Kapten mereka yang pergi.


“Ayo kita balik ke rumah Dreschya!”


“Djinn…?”


“Mending kita pikirin secepetnya cara jemput Myllo!”


Ya. Itu doang yang bisa kita lakuin.


Semoga aja Myllo baik-baik aja!


_______________


[1]Pasukan House of Siegfried, yang menyerupai Dragonewt.


[2]Nasihat dari Lupherius, sebelum berperang di Dungeon of Beast (Chapter 111).