Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 41. She Who Help Us



Sorenya, kita udah mau dieksekusi.


Sekarang kita udah di pasung di depan warga desa ini.


Persis di kanan gue, ada algojo yang pegang pedang


yang cukup gede untuk tebas kepala satu orang. Sedangkan di kiri Myllo, ada si


Kades aneh yang kayaknya mau ngomong pake ‘mulut manisnya’ ke depan warga


“Warga Xia yang kukasihi! Telah berada di depan kita,


Petualang kafir yang menghina desa kesayangan kita, Xia Village, dengan


kata-katanya yang jahat!”


Menghina?! Masa sih?!


Bisa aja nih orang narik simpati warganya!


“Dasar Kafir!”


“Dasar Petualang Hina!”


“Semoga kalian sengsara, bahkan di akhirat!”


Waw! Betapa bodohnya orang-orang ini! Mau aja kemakan


kata-kata Kades brengsek ini!


“Baiklah, tanpa berlama-lama lagi karena saya terlalu


najis berdiri dekat kalian, adakah kata-kata terakhir dari kalian?!”


“…”


Gue cuma geleng-geleng kepala aja.


Mending Myllo aja yang ngomong, udah males gue


gara-gara Kades itu.


“Denger semua! Petualang sejati itu nggak butuh


kekuatan tambahan kayak buah aneh kalian! Bahkan lawan Ghoul sialan yang kalian


takutin, kita masih sanggup!”


““!!!””


Heh! Lucu gue ngeliat muka kesel warga-warga bodoh


ini!


“Dan satu lagi!”


““...””


“Djinn, tadi gue mau ngomong apa, ya?”


“Kenapa nanya gue?!”


“Ah! Gimana sih! Kok lo—”


“Eksekusi di mulai!”


“…”


Algojonya udah gerak duluan ke gue!


Nah loh! Gue duluan yang ditebas!


“Myl! Di mana bagian kita semua selamat?!”


“Tunggu! Jangan potong kepala dia!”


Myllo anjing!


Awas aja kalo gue mati! Gue incer lo di dunia lain!


“*Swung! (suara ayunan pedang besar)”


“*Krang…tang…tang… (suara patah besi)”


Eh?! Kok?!


KOK PEDANGNYA YANG ANCUR?!


“Ti…Tidak mungkin…”


“Ke...Kenapa pedangnya yang hancur?!”


Gak gue doang, warga-warga yang nonton aja pada kaget!


“Ahahaha! Udah gue bilang, kan?! Petualang yang kuat


nggak butuh buah aneh yang kalian bangga-banggain!”


Waw, Myllo masih mancin emosi mereka—


“JUSTRU KARENA BUAH ITU, MAKA ORANG ITU TIDAK BISA


DIPOTONG KEPALANYA!!!”


“SUDAH JELAS HASILNYA, MASIH BISA NGOMONG KAYAK


GITU?!”


“DASAR HIPOKRIT!!!”


Eh! Iya juga ya! Mereka pasti ngiranya karena buah itu


makanya gue nggak bisa dipotong lehernya!


Brengsek! Itu pedangnya yang jelek atau leher gue


kayak beton?!


"Hmph!"


Anjing! Ternyata ini semua rencana Kades ini!


"Kepala Desa, bagaimana—"


“Ambil pedang yang lain! Bagaimana pun caranya, kita


harus—”


“*Puff... (suara asap keluar)”


Eh? Kok tiba-tiba ada asep?


“Uhuk, uhuk!”


“A…Ada apa ini?! Kenapa tiba-tiba muncul asap?!”


“Sekeliling menjadi rabun!”


“Bagaimana dengan dua Petualang itu?!”


Jangankan mereka, gue aja nggak bisa liat Myllo—


“*Chrang... (suara rantai terlepas)”


“Eh? Kok lep—”


“Shh!”


Tunggu! Ini ada yang lepasin kita?!


“Djinn! Kita—”


““Shhhh!””


Dongo! Udah tau disuruh diem, masih aja berisik!


“Ikutin saya!”


Orang yang bebasin kita berdua bisik-bisik supaya kita


ngikutin dia.


Ternyata bener, yang bebasin kita itu ‘mumi’ yang tadi


malem lawan Ghoul yang gede itu. Dia masih lengkap pake perban-perbannya.


Akhirnya, di balik asep itu, gue sama Myllo lari


bareng orang ini. Untuk tempat eksekusinya, gue udah nggak tau lagi karena kita


lari jauh dari mereka waktu keluar dari asep-asep itu.


Kita lari jauh, sampe keluar desa aneh itu.


“Woy! Orang Misterius! Kita mau lari kemana?!”


“…”


Myllo dikacangin waktu nanya orang itu.


“Udah, Myl. Mending kita ikutin aja orang ini.”


“Ya…Yaudah.”


Kita lari terus, sampe masuk ke dalem hutan.


“Masuk sini! Cepetan!”


Hm? Ada ruang bawah tanah di tengah hutan ini?


Atau mungkin...orang ini yang bikin?


Awal kita masuk ruang bawah tanah orang ini, kita


nggak bisa liat apa-apa karena gelap.


“Luminescence…”


““…””


Oh, itu kayak lampu, ya? Tapi nyalainnya kok kayak


pake sihir?


Waktu gue perhatiin lagi sih, bentuknya nggak kayak


bohlam lampu, tapi kayak kumpulan kunang-kunang yang nyala di dalem botol.


Di ruangan ini, cuma ada alas tidur, pedang gede, sama


foto cewek yang di tempel di dinding ini.


“Wuhuuu! Keren juga ada ruang bawah tanah—”


“Akhirnya saya tau siapa kalian.”


“Hm?”


“Myllo Olfret, Petualang baru yang dulunya satu Party


sama Pahlawan terkenal, Sylvia Starfell.”


“Ah, iya. Bener.”


“Satu lagi, Djinnardio Vamulran. Pangeran yang disebut


Anak Haram.”


Kok dia tau gue siapa?!


“Tenang aja. Saya tau kalian dari Luvast, kok.Saya


dikasih Orb Call ini sama dia.”


““Hah?! Luvast?!””


Tapi sebelum itu…


“Yaudah. Kalo lo tau kita, terus lo mau apa, Gia?!”


“HAAAAAAAAHHHH?! DIA GIA?!”


“Udah jelas. Waktu dia nyamar jadi ‘orang misterius’


itu, dia selalu pake perban, bahkan sampe ke muka. Tapi, pasti pukulan Ghoul


gede itu sakit banget, bahkan dia nggak bisa buka perban itu di desa aneh itu.”


“Waw! Lo pinter juga, Djinn!”


Lo aja yang terlalu dongo untuk perhatiin hal-hal


kecil!


“Ya, emang pada akhirnya aku juga nggak ada niatan


untuk sembunyiin identitas lagi di depan kalian.”


Sambil ngomong gitu, dia lepas perban yang ada di


mukanya.


“Lo kok ngumpetin identitas seniat itu, sih?! Sampe


perban muka segala?!”


“Ya mau gimana lagi?! Aku nggak punya topeng!”


Intinya, sekarang udah clear. Harusnya gak perlu curiga ini itu lagi.


“…”


“Gia, itu lo lagi ngapain?”


“Tunggu aja dulu!”


Ada bola yang dia pegang kayak gitu. Bolanya


kedap-kedip.


“Halo, Gia. Bagaimana keadaan desamu dan


rekan-rekanku?”


Hah?! Kok muncul wujudnya gitu?!


Tunggu.


Gue pernah baca buku tentang teknologi kayak gini yang


pernah dibuat tahun 1900.


Kalo nggak salah namanya itu…hologram.


“Maaf, Luvast. Karena ada masalah di desa, makanya aku


nggak bisa sembunyiin identitas aku lama-la—”


“Luvaaaast! Apa kabaaar?!”


“Kapten Myllo! Saat ini aku hendak bersiap-siap


untuk pergi dari Vigalo Capital untuk pergi ke Damra Island.”


“Hehe! Hati-hati, ya?!”


“Ya, Kapten!”


“Oh, iya. Kok lo bisa kenal Gia?!”


“Oh, untuk itu…”


Luvast pun ceritain kalo dia waktu itu pernah nemenin


Bjüdrox sama Goldiggia untuk manipulasi pasar Buah Xia.


Waktu itu ada salah satu anggota Goldiggia yang mau


godain Gia. Untungnya ada Luvast yang nolongin. Dia juga cerita ke Gia kalo dia


itu Petualang yang lagi nyamar di Goldiggia.


Untung aja Bjüdrox gagal transaksi Buah Xia di desa


ini. Makanya desa ini nggak kesentuh Goldiggia semenjak itu.


Padahal belom kenal berapa lama, tapi mereka keliatan


akrab banget.


“Yow, Luvast.”


“Hai, saudaraku. Bisakah kulihat Lencana


Petualangmu?”


“Ini?”


“Wah! Ternyata kamu adalah Rounder juga?”


“Hah?! Lo Rounder juga?!”


“Tentu saja! Akan tetapi…”


“!!!”


“…Kasta-ku lebih tinggi daripadamu.”


Dia itu Kasta Kuning?!


Pamernya sambil senyum sombong gitu, lagi!


“HAAAAAAAHHHH?!?! Luvast! Nggak adil! Masa lo


langkahin Kapten lo?!”


“Fufufu… Tenang saja, Kapten. Aku yakin kamu pasti


bisa melebihiku.”


“Hehe! Pastinya dong!”


“*tut…tut…tut… (suara kapal dari Orb Call)”


“*S*epertinya sebentar lagi aku akan berangkat ke


Damra Island bersama dengan rakyatku. Maka dari itu, aku pergi dulu, Kapten,


Djinn, Gia.”


“Dadah, Luvast!”


“Hati-hati, Luvast!”


“Yo! Hati-hati ya.”


Selesai kita ‘telfonan’ sama Luvast, kita lanjut ke


pembahasan Ghoul.


Ya, harusnya sih bahas itu, tapi…


“Gia, Gia, Gia!”


“I…Iya? Ada apa, Myllo?”


“Ayo jadi Petualang! Ikut Party gue!”


…nih orang malah bahas yang lain.


“*Tung! (suara memukul kepala)”


“Adudududuh!”


“Fokus dulu, woy!”


“Haaaah?! Kita kan butuh anggo—”


“SELESAIN DULU QUEST, BARU REKRUT ORANG LAGI! PAHAM,


NGGAK?!”


“Djinn! Lo nggak boleh gitu sama Kap—”


“NGOMONG LAGI?!”


“Ah, maaf…”


Haduh! Kok lebih banyak dongonya daripada—


“Ahahaha!”


““Hm?””


“Kalo kamu mau rekrut aku, pasti aku terima, Myllo!


Karena cita-cita aku juga mau jadi Petualang juga!”


“YEEESSSS!!! KITA BUTUH SATU ORANG LA—”


“Tapi bener apa yang dibilang Djinn. Mending kita


selesain masalah Ghoul ini, sebelum aku mulai petualanganku bareng kalian.”


Ternyata dia juga mau jadi Petualang, ya?


Kalo diliat dari kondisinya sih, dia kayaknya nggak


rela tinggalin desanya yang diserang sama Ghoul-Ghoul itu.


“Uhm, Gia.”


“Apa, Myllo?”


“Foto itu…Lorvah The Living Mountain, ya?”


“Artinya…pedang lo itu…World Quaker, dong?!”


“Kamu bener!!!”


Lorvah The Living Mountain? World Quaker?


“Hahaha! Lucu, ya? Kamu adiknya Sylvia Starfell, terus


aku pernah dilatih sama Lorvah. Kita sama-sama kenal dua Petualang


legendaris. Kalo kita ada di satu Paty, semoga aja kita bisa jadi kayak


mereka berdua.”


“Hehe! Bener juga, ya!”


Siapa sih emangnya cewek itu?


“Kalo lo penasaran Djinn, dia itu Frontliner Nomor


Satu di dunia ini. Dia juga temen baiknya Kak Sylv.”


Frontliner Nomor Satu?!


Pantes aja disebut The Living Mountain!


“Tapi, kok lo kenal dia, Gia?”


“Hmm…darimana ya ceritanya?”


Abis itu, Gia mulai ceritain tentang masa kecil dia


bareng cewek yang namanya Lorvah itu.