Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 78. The King Awakes



Sementara


itu, Gia yang berjalan bersama anak-anaknya dan Zorlyan.


Setelah


melewati rintangan dari beberapa Dragonkin, serta jasad-jasad dari Naga, mereka


menemukan seseorang yang tergeletak.


““Maha!!!””


Mereka


pun bersama-sama berlari menuju Mahadia yang perutnya berlubang dan hampir


tidak bernyawa.


“Cih!


Psikopat macem apa yang bikin orang sampe kayak gini?!”


Seru


Zorlyan yang kesal terhadap seseorang yang melukai Maha seperti itu.


“Ada


bekas tanah liat! Pasti pelakunya Morri!”


Jelas


Gia dengan wajah kesal!


“Mama…


Temen Mama nggak bisha kita shembuhin, Mama…”


“Na…Naga


aja nggak bisa, gimana gue?!”


Seru


Zorlyan yang kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.


“GIAAA!!!


ZORLYYYY!!!”


“Myllo!!!


Cepet ke sini!”


Teriak


Gia ketika ia mendengar dan melihat Myllo bersama dengan Royce dan pria yang


tidak dikenal.


“Itu


Myllo sama Royce. Tapi siapa yang satu lagi?”


“Nggak


tau. Tapi selama dia keliatan baik sama Myllo, pasti dia baik juga untuk kita!”


Jelas


Gia yang percaya dengan Göhran, yang bersama dengan Myllo dalam wujud


Manusia-nya.


Ketika


Myllo, Royce, dan Göhran tiba, mereka pun ikut terkejut dengan kondisi Mahadia.


Göhran


pun mendekatinya dan memeriksa keadaan Mahadia.


“Myllo,


siapa orang itu?”


“Namanya


Göhran! Dia itu Naga loh!”


““NA…NAGA?!””


“Ya!


Nggak itu doang, dia juga temen baiknya Kak Sylv! Hehe!”


Jelas


Myllo dengan tersenyum.


“Woy!


Bukan waktunya senyum!”


“Tenang!


Pasti aman di tangan Göhran! Ya kan, Göhran?!”


“Ya.


Untung saja Jiwa-nya belum menghilang. Memang tidak bisa diragukan Kaum Fratta! Jiwa-nya melekat dengan


sangat kuat, sehingga sulit bagi mereka untuk mati begitu saja!”


Jelas


Göhran terkait kondisi Mahadia.


Göhran


pun mulai merapal mantra untuk menyembuhkan Mahadia. Selama ia merapal mantra,


lubang di perut Mahadia pun perlahan-lahan kembali tertutup. Bahkan organ di


dalam perutnya pun pulih kembali.


“Gi…Gila! Ternyata ini yang namanya Dragon Tongue!”


Pikir


Zorlyan ketika menyaksikan keajaiban yang dibuat oleh Göhran terhadap Mahadia.


“Hafff!


Gue…Gue ada di mana?!”


“Oi!


Untung lo sembuh, Maha! Hehe!!!”


“My…Myllo!


Royce! Semuanya! Kenapa gue masih hidup?!”


“Hehe!


Bilang makasih sama temen gue ini!”


Balas


Myllo sambil menepuk pundak Göhran.


“Myllo,


kita tidak punya waktu! Lebih baik aku menjelaskan bencana apa yang akan kita


hadapi!”


“Oh


iya! Maaf lupa! Gue terlalu seneng ketemu temen-temen gue lagi!”


Balas


Myllo terhadap peringatan Göhran.


Myllo


pun menjelaskan tentang kemungkinan yang akan terjadi selama para Dragonewt


masih berada di dalam Hidden Dungeon.


“Artinya…”


“Ya.


Raja sudah tertidur selama 8 tahun semenjak kedatangan Sylv dan Party-nya.


Beliau sudah lelah untuk menjaga tempat ini dan hidup selama ribuan tahun yang lalu.”


““…””


“Maka


dari itu, kami sangat menghormati Sylv. Tidak hanya mengalahkan Raja saja,


beliau juga menghormati Raja dengan memberinya ‘ketenangan’ dengan cara


menyegel Jiwa Dragon King miliknya, hingga Roh-nya beristirahat dan terlelap.”


““…””


“Jika


seseorang yang lelah hidup selama puluhan ribu tahun mendapat ketenangan,


bahkan 1 tahun saja sudah cukup untuk mengantarkan kesadarannya ke Alam Baka.


Maka, jika ia dibangunkan dari ketenangannya, pasti yang akan datang bukanlah


Raja yang kami kenal, melainkan binatang


buas yang bahkan bisa melahap dunia!”


““!!!””


Mereka


pun begitu terkejut ketika mereka menyimak kesimpulan dari Göhran.


““Ma…Mama…””


“Maaf


ya, Mama…cukup takut dengernya…”


Jawab


Gia dengan gemetar, yang lalu dipeluk hangat oleh anak-anaknya.


“OK!


Kita nggak bisa habisin waktu lagi! Ayo kita ke sa—”


“Tunggu,


Myllo!”


“Hah?!


Ada apa lagi, Göhran?!”


“Biarkan


aku memanggil bala bantuan!”


Jelas


Göhran kepada Myllo.


“RUOAAAAAAARRRRR!!!”


Göhran


berteriak begitu keras, hingga semua yang ada di sana menutup telinganya.


Tidak


lama kemudian, terlihat 20 ekor Naga yang datang menghampiri mereka semua.


“Ada


apa, Göhran?”


“Rakhzar,


kita tidak punya waktu lagi! Raja ada dalam bahaya!”


“Baiklah,


waktunya kita terbang ke kediamannya!”


Semuanya


pun menaiki punggung Rakhzar dan terbang menuju kediaman Raja.


“Hey!


Kau tahu, tidak? Pria ini adiknya Sylv!”


“Adik


Sylv yang sering ia ceritakan 8 tahun lalu?!”


“Ya!


Ia adalah Myllo Olfret!”


Myllo


hanya tersenyum mendengar perbincangan Göhran dan Rakhzar.


“Lalu,


apakah pria berambut putih itu temanmu juga?!”


“Oh!


Lo ketemu Djinn?!”


“Ya!


Tidak kusangka orang yang datang dari semesta luar seperti Sylv juga sekuat


itu! Tidak, mungkin saja lebih kuat daripada Sylv!”


Tegas


Rakhzar.


“Hey!


Mana mungkin ada yang lebih kuat daripada Saint Dewa kita, Rakh—”


“Kalian


semua! Coba lihat itu!”


Seru


Rakhzar sambil memotong kata-kata Göhran karena menyaksikan jasad-jasad dari


beberapa Naga.


Mereka


pun sama-sama mendekati jasad-jasad Naga itu.


“Sial!


Ternyata ada lagi korbannya!”


“Apa


maksudmu, Rakhzar?!”


“Ada


banyak sekali pembunuhan yang terjadi pada kaum kita, Göhran!”


“Cih!


Mereka sudah bergerak, ya?!”


“Baiklah,


waktunya kita berjalan memasuki kediaman Raja!”


Tegas


Rakhzar sambil merubah wujudnya dalam bentuk Manusia.


Tidak


hanya Rakhzar, semua Naga yang mengikutinya juga berubah dalam wujud Manusia.


Sambil


berjalan menuju kediaman Raja, Myllo berpikir…


“Djinn, kalo lo ada di dalem sana, semoga lo baik-baik


aja!”


……………


Sedangkan


di dalam kediaman Raja…


“Hu…hu…huhu…”


Winona


gemetar ketika di depan matanya ada Erkstern, yang hampir membunuhnya, bersama


dengan Morri.


“Makasih


karena secara nggak langsung udah nuntun kita berdua ke tempat ini, Winona.”


“…”


“Kalo


masih mau hidup, tolong jawab pertanyaan gue.”


Kata


Erkstern dengan pedangnya yang ia arahkan ke leher Winona.


kemana Djinn?”


“Di…Di…Dia


ada di da…da…dalem sana…”


“OK.


Pertanyaan kedua, gimana cara Djinn bisa pintu ruangan ini tanpa adanya Naga?”


“Ng…Nggak


tau! Ka…Kalau kata Djinn, di…di…dia katanya ngeliat ada mural di dinding! A…A…Aku


juga nggak tau tentang itu!”


Jawab


Winona yang semakin gemetar dengan kencang.


“Pertanyaan


terakhir, kenapa kalian masih hidup?”


“U…U…Urlant!


Di…Dia masih hidup, ta…ta…tapi nggak bisa tolong Harrit la…la…lagi!”


“Oh…Urlant,


ya…”


Tidak


lama kemudian, Dragonewt misterius itu datang dari balik pintu masuk ruang


Raja.


“Morri,


ayo kita mulai sekarang! Waktu kita nggak lama lagi!”


“Kakak?”


Erkstern


merasa heran karena namanya tidak disebut oleh Dragonewt misterius itu.


Hingga


tiba-tiba…


“*Jlub!


(suara tertusuk)”


“Mo…Morri?!”


…Morri


menusuknya.


“Erkstern,


Erkstern, Erkstern…”


“Ka…Kakak!


Apa maksud ini semu—”


“Jujur


gue agak nyesel waktu minta lo jadi Petualang. Karena itu semua, lo jadi


bangga sebagai Petualang. Bahkan lo sendiri sampe lupa sama tujuan kita sebenernya.”


Jelas


Dragonewt misterius itu kepada Erkstern.


“Te…Terus—”


“Lo


ngerasa kasian sama temen-temen Petualang lo itu, kan? Hmph, maaf aja ya. Lo


kuat, tapi mental lo nggak ada apa-apanya. Makanya itu, yang paling berguna


dari lo cuma Jiwa lo aja!”


“Da…Dasar


kakak breng—”


“Dragon


Bullet…”


“*Dor!


(suara tembakan)”


Dengan


Sihir Naga miliknya, Dragonewt misterius membunuh Erkstern, adiknya.


“Kak,


cewek itu?”


“Nggak


tau. Dia keliatannya lemah. Jiwa-nya nggak terlalu berguna.”


Jelas


Dragonewt misterius itu kepada Morri yang menanyakan tentang Winona.


“…”


Dragonewt


misterius itu pun mengambil Jiwa milik Erkstern dengan Soul Devourer.


“Morri,


kasih gue Soul Devourer yang lo pake untuk ambil Jiwa Naga.”


“Nih,


kak.”


Jawab


Morri sambil melempar Soul Devourer yang ia gunakan.


“OK.


Gue mulai ritualnya!”


Tegas


Dragonewt misterius itu.


“Sini


lo ikut gue!”


“Argh!”


Morri


pun menyeret Winona dengan menjambak rambutnya.


“Urgh!”


“Kenapa?!


Sakit?!”


Tanya


Morri setelah ia melempar Winona lewat jambakannya.


“Kamu…


Kenapa kamu bahkan tega bunuh abang kamu sendiri?!”


“Karena


dia terlalu lembut sama orang lain. Mental kayak gitu bahaya untuk tujuan mulia


kita sebagai Dragonewt.”


“Tujuan


mulia ini! Tujuan mulia itu! Sebenernya apa tujuan kalian para Dragonewt?!”


Tanya


Winona kepada Morri.


“Ribuan


tahun yang lalu, sebenernya Erviga itu wilayah kekuasaan Dragonewt. Kalo nggak


karena yang namanya Centra Geoterra, kita semua udah hidup damai!”


“*Bhuk!


(suara memukul)”


“Argh!”


Sambil


menjelaskan sesuatu, emosi Morri tiba-tiba tak terkendali hingga ia memukul


Winona.


“Karena


Kerajaan Dragonewt yang tau kebusukan Centra Geoterra dan kita yang nolak untuk


gabung bareng mereka, tiba-tiba beberapa Kaum Manusia dateng untuk bantai


kerajaan ras gue! Bahkan di tanah kelahirannya sendiri, kita harus hidup


sembunyi-sembunyi!”


“…”


“Argh!


Sakit—”


“Dan


lo tau, siapa dalang-dalang di balik pembantaian Dragonewt, khusus nya keluarga


gue?!”


“Urgh!”


“HOUSE OF WATERS!!!”


“!!!”


“*Brak!


(suara membanting)”


“Urgh!”


Jelas


Morri, sambil menjambak dan membanting Winona.


“Makanya


itu, gue juga benci sama orang dari Keluarga Waters kayak lo!”


“Ta…Tapi…


Bahkan keluarga aku aja udah keluar dari lingkar bangsawan 50 tahun yang la—”


“*Dhuk!


(suara tendangan)”


“Argh!


Duh, sakit!”


“DIAM!


BUKAN WAKTUNYA LO UNTUK BICARA, PELACUR!!!”


Teriak


Morri dengan ekspresi ingin membunuh.


“190


tahun gue hidup lari sana-sini karena takut pembantaian Waters ke Dragonewt!


Bahkan sisa gue sama kakak gue doang Keturunan Raja Dragonewt yang masih


hidup di dunia ini!”


“Uhok!”


Winona


begitu kesakitan. Ia bahkan batuk berdarah karena siksaan dari Morri.


“A…Aku


nggak tau apa-apa soal keluarga aku… Tapi kalo cerita kamu benar, artinya


keluarga aku keluar dari lingkaran bangsawan karena capek udah kotorin tangan


mereka!”


“Apa?!


Lo masih berani—”


“Aku


nggak tau apapun sejarah keluarga aku! Tapi…kalo kamu merasa tindakan kamu


benar, aku pun rela—”


“*Dhuk!


(suara menendang)”


“Ughuok!”


“Jangan


sok baik lo di depan gue, Pelacur!”


“…”


Kesadaran


Winona hampir pudar ketika Morri menendangnya untuk terakhir kalinya.


“Urgh!”


“Jangan


lo pikir lo bisa mati tanpa seizin gue, Pelacur…”


“…”


“Gue


mau lo jadi saksi kehancuran Erviga dari rencana yang disusun dari zaman nenek


moyang gue.”


Jelas


Morri, sambil menjambak kembali rambut Winona, yang bertujuan untuk


memperlihatkan ritual kakaknya yang hampir berhasil.


“…za Ta í Makãxa la zouqal…”


Dragonewt


misterius itu terus merapal mantra panjang dengan Dragon Tongue.


“…”


Seketika,


semua Jiwa dari Soul Devourer bergerak secara perlahan menuju Raja yang


tertidur di singgasana kerajaan.


“Ya…Yang


Mulia! Tidak!”


““!!!””


Teriak


Göhran yang datang memasuki singgasana bersama dengan Myllo dan yang lainnya.


Melihat


mereka, Morri dan Winona pun terkejut.


“Ti…Tidak…”


“Ada


apa, Göhran?!”


“Kita


terlambat—”


“Ya,


lo semua terlambat! Karena Fire Dragon


King Tarzyn udah mau bangun untuk bantai semuanya!”


Jelas Dragonewt misterius itu, sambil


menyaksikan Dragon King Tarzyn yang membuka


matanya.