
“*Tok, tok, tok…”
“Oi, kalian semua! Siapin satu orang untuk lawan Pak Kepala Desa!”
Hm? Udah jam 12 malem, ya?
Yaudah deh, gue pergi sekarang untuk bantai anak anjing itu.
“Djinn, sia teh udah siap?”
“Ya. Gue pergi dulu, Ger.”
……………
Gue akhirnya dibawa sama salah satu warga lokal desa ini. Tapi kok… gue di bawa tengah hutan…?
“Woy, kita mau ke mana?”
“Ke salah satu wilayah aman di sekitar Hazhroom Forest.”
“…”
Kayaknya gue mulai curiga, nih.
Yaudah, ikutin aja dulu alur main orang-orang sini.
“Oh, berarti di sana gue bakal bunuh Kepala Desa lo. Gitu, kan?”
“B-Bunuh?!”
Hmph! Gue ancem gitu aja, mereka udah takut!
“Kenapa? Takut kehilangan Kepala Desa—”
“Hmph! Banyak ngomong!”
“Hm?”
“Asal anda tau aja, ya! Pak Kepala Desa udah jagain Mushmush Village selama ratusan tahun! Jangan anda pikir anda bisa bunuh dia gitu aja, ya! Justru anda yang bakal mati di tangan dia!”
Hah?! Suara bocil kayak gitu hidup ratusan tahun?!
Haaaaah… yaudah lah ya. Kenapa gue harus kaget? Bahkan gue udah ketemu beberapa orang yang udah hidup ribuan tahun.
Tapi sekarang, fokus gue bukan untuk cari tau di mana tempat gue lawan Kades itu, atau cari tau tentang siapa
Kades itu.
“Oh, gitu?”
“Bener ba—”
“Terus, gimana kalo kalian?”
“Hm? Maksud anda apa? Kalian? Anda ngomong sama siapa—”
“Nggak usah basa-basi. Gimana cara kalian, warga desa, bunuh gue?”
“…”
Hmph! Ternyata dia nggak bisa tahan ekspresi anehnya yang keliatan banget mau nusuk gue, ya?
“*Shringgg…”
“Jangan anda pikir saya bakal biarin anda untuk bunuh Pak Kepala Desa gitu a—”
“*Bhuk!”
“Makanya…”
“*Bhuk!”
“…kalo nggak mau gue bunuh…”
“*Bhuk!”
“…mending kasih aja penawarnya untuk temen-temen gue…”
“*Bhuk!”
“…”
“…anjing!”
“*Bhuk!”
“…”
Hmph! Ternyata banyak bacot doang nih orang!
Padahal gue udah curiga sama orang ini yang pegang pinggulnya terus. Karena itu gue yakin kalo orang ini
nyimpen senjatanya di sekitaran situ.
Awalnya gue kira orang ini bahaya. Ternyata cuma kroco doang.
Tapi yang lebih bikin gue waspada tuh…
““*Shringgg…””
…orang-orang yang sembunyi-sembunyi dari balik pohon-pohon di hutan ini.
“J-Jangan bergerak! Anda sekarang cuma sendirian! Berani macem-macem, kami bisa langsung bunuh an—”
“*Dhuk!”
“*Crat…”
Ah… Kepala orang yang barusan gue pukul tadi… tiba-tiba bocor gara-gara gue tendang…
Padahal gue nendang kepalanya cuma untuk nantang balik orang-orang yang baru dateng ini, supaya ngebuktiin
kalo gue nggak terpengaruh sama anceman mereka.
“Keuk! K-Keterlalu—”
“Woy, Kades! Bukannya kita mau satu lawan satu?! Kenapa gue malah diserang kayak gini?! Dasar banci lo!
Ternyata gini ya cara main lo?! Gue kira suara lo aja yang kayak bocil! Nggak taunya banci lo, tai!”
““!!!””
“Keluar lo, sekarang! Sebelum gue hancurin desa lo, anjing!”
Untung aja gue nggak sekedar ngikutin orang ini aja! Mulai dari keluar dari jamur tadi, gue selalu waspada sama orang-orang di sekitar sini!
Makanya itu, gue cuma perlu takut-takutin orang-orang ini aja.
“Cih! Anda ternyata berani juga ya hajar warga desa ini!”
Suara bocil yang di belakang gue itu…
Nggak salah lagi! Pasti itu suara Kades sini!
“Saya kira anda itu nggak lebih dari sekedar pengecut yang bisanya culik warga Mushmush secara diam-diam! Ya mau pengecut atau bukan, anda tetap orang jahat yang—”
“Pffftttt… Hahaha!”
T-Ternyata badannya segede itu! Bahkan tingginya hampir 2 meter!
Tapi kok badan gede kayak gitu suaranya kayak bocil?!
Tambah lagi… yang di kepalanya itu…
Rambut atau jamur?!
“B-Berani-beraninya dia ketawain Pak Kepala Desa?!”
“Orang ini bener-bener gila! Ngetawain Pak Kepala Desa sama aja cari mati!”
“S-Semoga Pak Kepala Desa marahnya nggak sampe berimbas ke kita!”
“…”
Aduh! Perut gue sakit banget cuma karena nahan ketawa!
Semoga aja langsung berantem deh, supaya dia ngomong la—
“Heh, anda! Masih berani ya ketawain sa—”
“Pffffttt…”
Aduh! Kenapa dia harus ngomong lagi, sih?!
Kan makin sakit perut gue nahan untuk nahan keta—
((Heavy Mushroom Blast))
“*Bruk!”
““Uaaargh!””
Buset! Yang dia lempar tadi tuh jamur atau batu?! Kenapa keras banget?! Bahkan Jamur Raksasa yang di belakang gue langsung tumbang karena jamur yang dia lempar!
Apa lagi ada beberapa warga desa yang ketiban sama jamur raksasa yang tumbang itu!
Andai gue nggak hindarin, mungkin kepala gue hilang!
“P-Pak Kepala Desa! Hati-hati, pak!”
“Untung aja kita berhasil hindarin lemparan bapak!”
Warga desa pada protes karena Kades satu ini, yang—
“Yaudah! Kalo gitu kalian pergi dari sini! Jangan ganggu saya yang mau lawan orang i—”
“Pffftttt…!”
Aduh, lucu banget! Gue masih harus nahan ketawa, setiap kali denger orang ini ngomong—
((Mushroom Rush))
“*Swush!”
Eh!
“*Bruk!”
Buset! Kenceng juga gerakannya!
Tapi kok… tangannya berubah jadi jamur juga?!
“*Swush, swush, swush!”
“Keterlaluan ya, anda! Masih berani-beraninya nganggap suara saya ini guyonan! Dasar penjahat kurang a—”
“*Bhuk!”
Bagus! Momentum gue dateng juga!”
“*Bhuk!”
“Uiiirgh!”
“Jangan salahin gue! Salahin suara lo yang aneh itu!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Mungkin Kades ini kuat serangannya. Tambah lagi badannya juga gede. Tapi gue masih bisa pukul Kades
itu, walaupun nggak ada kekuatan gue—
“!!!”
Eh! Kok tangan gue tiba-tiba berjamur kayak gini?!
“Hyaha! Untung anda baru sadar sekarang!”
“Hah?!”
“Kenapa?! Kaget ngeliat tangan anda yang berjamur kayak gitu?!”
“Kalo anda berani kontak fisik sama saya, bagian Tubuh anda yang kontak fisik sama saya pasti berjamur juga!”
Artinya gue nggak boleh main jarak deket, ya?!
Yaudah! Kalo gitu, gue harus main jarak jauh!
((Rune Spell: Explosive Throw))
“…”
Gue pasangin batu ini pake Sajak gue aja dulu, sebelum gue lem—
“*Swush!”
“Nah! Sekarang anda bingung kan cara—”
“*Tuk!”
Bagus! Lemparan batu gue kena kepalanya!
Artinya tinggal…
“*Boom!”
“Gyiiiirgh!”
…aktifin Sajak gue!
Untung aja sekarang momen yang pas buat pake caranya Delolliah[1] yang pasangin Sajak di Sea Serpent[2], waktu gue lagi ngerjain Quest Joint Party!
Kalo ngomongin secara logika, nggak ada satu pun tumbuhan yang kebal dari bakaran api! Harusnya Manusia Jamur kayak Kades itu kebakar sama—
“Hyaha! Anda pikir bakar saya aja cukup, ya?!”
Sialan! Api dari ledakan batu yang gue lempar tadi mulai hilang perlahan-lahan?! Kesannya kayak diserap badan Kades itu!
Gue kira dia justru kebakar karena badannya yang kayak jamur itu!
Cih! Salah banget gue kalo masih ngikutin logika di dunia ini!
“Biar saya jelasin ke anda, ya!”
“Apa?!”
“Di pulau ini, jamur-jamurnya unik dan langka! Dari legenda nenek moyang kami, ada mahluk asli yang sebenarnya jagain pulau ini! Mulai dari racun-racunnya yang jadi mekanisme pertahanan di pulau ini, sampai kemampuannya yang unik untuk serap Mana orang yang ada di dekatnya!”
Mahluk asli? Bisa serap Manaorang?
Tunggu! Jangan-jangan—
“Anda lagi-lagi baru sadar ya, kalo Mana anda perlahan-lahan diserap sama jamur yang ada di tangan anda?!”
Cih! Brengsek!
“*Krrat!”
“Urgh!”
Sialan! Narik jamur ini dari tangan gue aja udah sakit banget! Tambah lagi tangan gue mulai berdarah-da—
“!!!”
Loh! Kok—
“Hyaha! Anda pikir segampang itu anda bisa lepasin jamur yang ada di tangan anda?! Liat tuh! Jari yang anda pakai untuk tarik jamur tadi, sekarang mulai berjamur juga!”
Brengsek! Terus gue harus gimana?!
“!!!”
Oh iya, bener juga!
Kalo jamur-jamur ini nyerap Mana gue, kalo gitu mending gue makan aja, supaya Mana gue balik la—
“Hyihiii! Ternyata anda gampang putus asa ya?!”
“Hah?!”
“Kalo dipikir-pikir, makan jamur yang ada di tangan anda itu bisa jadi salah satu alternatif untuk balikin Mana anda yang diserap! Tapi, ada satu kasus di mana orang yang mau coba cara anda itu justru Jiwa-nya dihancurin jamur itu, karena Mana yang ada di jamur itu meledak!”
Sialan! Terus gue harus gimana?!
“Liat nih! Ini penawar yang anda cari untuk temen-temen anda!”
Oh! Itu penawarnya?!
“Ya, keliatannya anda nggak mungkin kalahin saya! Mau serang jarak dekat atau jarak jauh, semuanya sia-sia! Ujung-ujungnya… ya paling liat rekan-rekan anda yang sebentar lagi mati!”
“…”
“Tapi saya ini orang baik, nggak kayak anda. Jadi…”
“…”
“Jelasin di mana warga desa yang anda culik, atau liat rekan-rekan anda mati!”
“…”
Dia bilang gue nggak punya pilihan lain?
Dia bilang… gue harus jelasin warga desa yang hilang? Yang bahkan gue aja nggak tau di mana lokasinya?
Salah besar!
“…”
“Heh! Anda mau ngapa—”
“*Bhuk! Dhuk! Dhuk!”
“Gyiiakh!”
“Lo pikir jamur-jamur ini bikin gue takut?! HAH?!”
“*Krrrrttttt!!!”
“Ikkkh!”
Bagus! Kalo gitu, gue cuma perlu cekek orang ini aja sampe mati!
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
Sambil cekek orang ini, gue juga harus pukul kepalanya!
“K-K-Kenapa… anda… masih berani… untuk—”
“Jangan lo pikir jamur ini bikin gue takut sama lo, anjing! Selama temen-temen gue masih bisa hidup, gue nggak peduli walaupun badan gue jadi aneh kayak gini!”
“A-A-Anda pikir… bunuh saya… masih bisa—”
“Kalo gue bunuh lo, seenggaknya gue bisa ambil penawar yang lo pegang!”
“K-Kenapa… nekat ba—”
“Jamur-jamur lo nggak ada apa-apanya dibandingin hidup tanpa mereka!”
“Iiieekh! T-T-Tolong! L-Lepasin… saya!”
Cih! Karena badannya yang gede, makanya butuh waktu lama untuk cekek orang ini sampe mati!
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
Pingsan kek nih orang! Kenapa—
“Pak Kepala Desa!”
“Woy! Lepasin Pak Kepala De—”
“Diem lo semua! Mending lo suruh dia nyerah, kalo emang masih mau dia hidup!”
“Y-Y-Yaudah!”
“Pak Kepala Desa! Udah, pak! Dia nggak akan mau nyerah, pak!”
“Mau nggak mau kita harus—”
“D-Dasar… warga… sialan—”
“Heaaaaaargh!”
“Iiikh!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
Keras kepala banget nih Kades!
“Pak! Nyerah aja, pak!”
“Kita masih butuh bapak!”
“Daripada kehilangan bapak, mending kita sama-sama cari warga desa yang hilang, pak!”
“Kiiiekh! Y-Y-Yaudah! S-Saya… nyerah!”
Nyerah dia bilang…?
“Heaaaaargh!”
“*Bhuk!”
““!!!””
Jangan dia pikir gue percaya gitu aja sama omongannya! Gue harus pastiin kalo dia bener-bener nggak bahayain gue, kalo gue lepas cekekan gue darinya!
“…”
Bagus. Keliatannya dia udah pingsan.
Gue ambil aja dulu penawarnya, terus balik ke Jamur Raksasa yang penjarain temen-temen gue!
“…”
Cih! Badan gue udah berjamur kayak gini ya?!
“Pak Kepala Desa! Bapak nggak apa-apa, pak—”
“Woy, anak-anak anjing! Jawab pertanyaan gue!”
“Y-Ya?”
“Penawar ini… bisa netralisir jamur di badan gue nggak?”
“Kalo penawar itu bisa netralisir jamur di Tubuh, harusnya jamur-jamur di Tubuh Pak Kepala Desa bisa normal lagi! Terus suara Pak Kepala Desa juga normal lagi!”
Sialan! Artinya suara gue bakalan kayak Kades ini?!
Cih! Bodo amat deh! Mending—
“S-Saya… baru pertama kali… ketemu orang yang senekat anda…”
Ternyata Kades itu udah bangun lagi—
“S-Seenggaknya… bisa nggak anda jelasin ke saya… siapa anda sebenarnya!”
Ah iya, gue belom perkenalan karena terlalu panik sama keadaan temen-temen gue.
“Djinn Dracorion, Wakil Kapten dari Aquilla Party. Salam kenal.”
““!!!””
Bodo amat deh mereka mau panik atau nggak! Mending gue balik ke temen-temen gue aja dulu!
_______________
[1]Mantan Permaisuri dari Laguna Empire yang kini menjadi Petualang bagi Lepus Party, yang sebelumnya pernah disebut sebagai Ocean Witch oleh warga Clamista Village (Chapter 275 & Chapter 157).
[2]Delolliah pernah menuliskan Sajak pada Sea Serpent, untuk menjebak anggota Joint Party yang berisikan beberapa anggota Aquilla, Virgo, serta Lynx (Chapter 164).