
Kembali ke Marvilanch Island, di
mana terdapat Guild milik Serpentis.
“*Vrungg… (suara portal terbuka)”
Snake kembali bersama dengan
Gadlu dan Charvelle setelah mereka menemui Myllo dan rekan-rekannya.
“Humph!”
“Hey, hey, hey! Jangan muntah di
sini, Charvelle!”
“…”
Charvelle pun lari setelah
diperingatkan oleh Gadlu.
“Hadeh, padahal dia itu
Dragonewt, tapi nggak tahan sama transportasi portal…”
Bisik Gadlu sambil menggelengkan
kepala.
“Padahal transportasi portal itu
asyik kan, Snake?”
“…”
“Snake—”
“*Bruk… (suara terjatuh)”
“Snake! Hey! Anda kenapa?!
Siapapun, tolong!”
Teriak Gadlu setelah melihat
Snake yang tiba-tiba pingsan.
Setelah itu, semua orang yang
berada di sekitar ruang tersebut datang dan menolong Snake.
..............
Dan keesokan harinya.
“Hmm…saya ada di mana?”
Tanya Snake yang baru saja
terbangun dari pingsannya. Ia terbangun dengan tanpa baju.
“Oh, cepet juga bangunnya!”
“Haha! Kan sudah saya bilang,
Klavak. Pasti dia nggak lama lagi udah bangun! Tapi, terima kasih udah sembuhin
Snake, ya!”
“Berisik! Gue nggak butuh argumen
lo.”
“Eh?! Ma…maaf.”
Kata Gadlu yang menundukkan
kepala terhadap Klavak.
“Saya Mana-Burnout, ya?”
“Ya iyalah! Gue—”
“Tidak ada yang membuka topeng
ini, kan?!”
Tanya Snake yang terlihat resah
sambil memegang topengnya.
“Haha! Tenang saja, Snake. Kami
nggak akan berani sentuh topeng itu, kok.”
Balas Gadlu.
“Haha…syukurlah. Terima kasih
Klavak karena anda telah—”
“Gue diceritain Charvelle sama
Gadlu. Pokoknya, sepinter-pinternya lo, jangan pernah pake Divine Art lagi! Lo kira Tubuh lo itu Tubuh Dewa, yang bisa seenaknya pake sihir setinggi
itu?!”
Tegas Klavak memotong ucapan
terima kasih dari Snake.
“Hahaha. Anggap saja itu harga
yang harus saya bayar untuk—”
“Untuk apa?! Untuk ‘menguji
variabel’ yang lo bilang?!”
Tegas Klavak.
Karena kesal dengan apa yang
telah Snake korbankan, Klavak menunjuk tubuh Snake.
“Lo nggak tau apa kalo badan lo
tiba-tiba jadi tua waktu tadi pingsan?! Kalo nggak ada gue, mungkin lo
udah mati penuaan dini, kali!”
“Tenang saja, Klavak. Saya tahu
risiko yang saya dapat karena sihir tersebut. Bahkan tanpa anda, tubuh saya
akan kembali normal. Tapi karena anda, tubuh saya kembali normal lebih cepat
daripada biasanya.”
Balas Snake yang berusaha untuk
mengurangi kekhawatiran Klavak.
Sambil melanjutkan perbincangan mereka,
Snake kembali mengenakan baju yang sebelumnya ia pakai.
“Oh ya, ada apa saja yang terjadi
selama saya pingsan?”
“Nggak ada Snake, cuma ada
panggilan dari Orb Call ini.”
“Ho… Apakah ada yang mengangkat
Orb Call ini selama saya pingsan?”
“Kita nggak ada yang ngangkat,
kecuali Malariel.”
Balas Gadlu yang memberi Snake
penjelasan.
“Malariel, ya. Tak kusangka
anda datang pada waktunya, kawan.”
Pikir Snake tentang wakil
kaptennya yang bernama Malariel.
“Baiklah. Biar saya menghubungi
Orb Call ini.”
“Perlukah kami keluar, Snake?”
“Tidak perlu, Moalkin.”
Balas Snake kepada pertanyaan
Moalkin.
Snake pun langsung menghubungi
orang yang menghubunginya ketika ia pingsan.
“Salam Evolusi Dunia, Snake.”
“Salam Evolusi Dunia, Mara.”
“Syukurlah anda sudah bangun,
Snake. Saya sempat khawatir mendengar kabar anda.”
“Hahaha. Terima kasih sudah mengkhawatirkan
saya, Mara. Jadi, apa yang hendak anda sampaikan kepada saya, Mara.”
Mara pun menjelaskan apa saja
yang terjadi di Xia Village ketika Snake dan yang lainnya pergi meninggalkan
sekitar desa tersebut. Ia menjelaskan bahwa Myllo berhasil menghancurkan semua
ladang Buah Xia, serta konklusi yang disetujui oleh warga Xia setelah kejadian
tersebut.
“Hoo… Jadi sekarang Kepala Desa
dari Xia Village adalah Fred Maevin, ya? Ia juga berjanji akan menghasilkan
produk minuman beralkohol untuk bersaing di pasar? Hahaha, menarik.”
“Ya. Tapi sesuai dugaan saya,
banyak warga yang nggak setuju dan memilih hengkang dari desa ini. Kurang lebih
ada sekitar 20 warga.”
“Baik, Mara. Terima kasih atas
laporan anda.”
“Ya, Snake.”
Balas Mara dari balik Orb Call.
“Jadi, apakah anda termasuk orang
yang hendak pergi dari desa, Mara?”
“Sepertinya belum waktunya,
Snake. Lagipula, saya cuma warga biasa dari desa ini, kok. Punya
ladang Buah Xia pun juga nggak.”
Jelas Mara, yang merupakan
penduduk desa di Xia.
“Hahaha. Baiklah, Mara. Saya
hendak melakukan pekerjaan lainnya. Saya harap anda tidak bosan untuk jadi
bagian dari kami, kawan.”
“Hahaha, tenang saja Snake.”
Balas Mara sebelum menutup Orb
Call.
Setelah berkomunikasi dengan
Mara, Snake tiba-tiba menyeringai sambil berbisik sesuatu.
“Hahaha…jadi kembali ke titik
awal, ya?”
Mendengar dialog Snake dan Mara,
serta melihatnya menyeringai membuat Klavak bingung.
“Snake, lo tadi ngobrol sama
warga Xia, kan?”
“Betul, Klavak. Ada apa?”
“Nggak, cuma aneh aja.
Keliatannya perempuan tadi nggak ada ikatan apapun ke Kepala Desa itu.”
memiliki tanggung jawab yang besar untuk Xia Village. Karena saya tidak bisa
berada di sana secara terus menerus, maka saya membutuhkan ‘mata’ untuk
mengawasi Derrek.”
“Ta…Tapi, Kepala Desa atau
perempuan itu saling tau nggak, kalo masing-masing punya relasi sama lo?”
“Tentu saja tidak, Klavak. Relasi
mereka terhadap saya cukup mereka masing-masing saja yang mengetahuinya. Jika
mereka mengetahui relasi masing-masing dengan saya, mana mungkin Mara bisa
memantau Derrek untuk saya, kawan?”
Jelas Snake kepada Klavak.
Namun Klavak masih merasa ada
yang aneh dari Snake setelah ia mendengar bisikan Snake tadi.
“Tadi lo bilang apa? Kembali ke
titik awal?”
“Oh, anda mendengar ya?”
“Ya. Apa maksudnya?”
Tanya Klavak kepada Snake.
“Kembali ke titik awal, di mana
tidak ada Buah Xia di desa tersebut.”
Jelas Snake.
Klavak pun merasa bingung. Ia pun
menengok ke arah yang lainnya, berharap mereka mengerti.
“Gu…Gue juga nggak tau. Beneran.”
“Saya juga nggak tau, Klavak.”
“Saya pun juga.”
Sahut Charvelle, Dalgu, dan
Moalkin secara bergantian.
Melihat reaksi mereka berempat,
Snake tersenyum karena rasa penasaran mereka.
“Tentu saja kalian tidak tahu,
kawan-kawan.”
““Hmm?””
“Karena kejadian ini terjadi
sekitar 300 tahun yang lalu.”
““!!!””
Mereka berempat yang masih
bingung dikagetkan dengan pernyataan Snake.
“Ti…Tiga ratus tahun yang lalu?”
“Benar. Saat itu, desa tersebut
sangat miskin dan mereka hidup dengan tersembunyi untuk menghindari konflik
antara penghuni asli negara tersebut melawan penjajah.”
“…”
“Oleh karena itu, saya memperkenalkan sebuah bibit yang nantinya tumbuh menjadi Buah Xia.”
“Be…Berarti…”
“Ya, desa tersebut menjadi
terkenal karena Buah Xia karena saya.”
““!!!””
Lagi-lagi mereka dikejutkan
dengan fakta yang keluar dari mulut Snake.
“Sayang saja, jika seseorang yang
miskin bisa kaya secara mendadak, ia bisa menjadi gila harta karena rasa trauma
akan kemiskinan.”
““…””
“Dan dengan harta, mereka ingin
memenuhi hasrat mereka. Oleh karena itu, itu adalah salah satu kegagalan saya
dalam menganalisa keadaan untuk jangka panjang.”
Jelas Snake kepada yang lainnya.
“Snake, untuk bibit itu…lo dapet
dari mana?”
“Maksud anda bibit Buah Xia,
Charvelle?”
“Iya.”
“Hahaha… Nama asli buah itu
adalah Mulberan. Buah tersebut hanyalah buah yang umum bagi rakyat Vamulran
Kingdom.”
“Vamulran Kingdom?! Kerajaan Elf
yang tertutup itu?! Kok lo bisa dapet?!”
“Anggap saja…ada koneksi dari
dalam.”
Jelas Snake kepada Charvelle.
“Ko…Koneksi? Bukankah negara itu
sangat tertutup, bahkan berinteraksi dengan dunia luar dapat terkena hukuman?”
“Hahaha… Mau negara apapun, pasti
ada seseorang yang mencoba melawan hukum, Moalkin.”
Jelas Snake mengenai pertanyaan
Moalkin.
Mereka pun terus menanyakan
begitu banyak hal kepada Snake terkait Buah Xia, atau yang bisa disebut
Mulberan, lalu menanyakan tentang sejarah Xia Village, hingga rekam jejak Snake
selama menjadi Petualang.
Namun, ada yang masih belum bisa
ditafsir oleh mereka.
Siapa sebenarnya orang ini?
Bagaimana seorang Petualang bisa
membentuk sejarah suatu desa?
Desa, kota, atau bahkan negara
mana lagi yang ia kelola dari balik bayangan?
Walau begitu, Snake pun mengerti
akan pertanyaan, bahkan keraguan mereka.
“Tenang saja, kawan-kawan. Saya
membentuk Serpentis 20 tahun yang lalu dengan satu tujuan, menggulingkan
‘penguasa’ sebenarnya, yang bahkan dewa pun tidak bisa berbuat
apa-apa.”
““…””
“Karena kalian telah bergabung
bersama dengan saya, saya harap kalian bergabung karena kita memiliki tujuan
yang sama, bukan karena siapa saya.”
““…””
“Tanamkan pola pikir seperti itu,
agar kalian tidak mempedulikan saya siapa, jika kalian meragukan siapa saya
sebenarnya. Mengerti, kawan-kawan?”
““Ya…””
Kata yang lainnya secara
bersama-sama setelah mendengar perkataan Snake.
“Oh ya, sekarang sudah berganti
hari, ya? Saya lupa ada yang harus saya lakukan.”
Sahut Snake sambil menepuk
dahinya.
“Baiklah, kawan-kawan. Saya rasa
saya harus pergi dulu. Sampai jumpa di lain waktu. Salam Evolusi Dunia.”
““Salam Evolusi Dunia.””
Salam yang lainnya membalas salam
dari Snake.
Snake pun membuka portal dengan
Sihir Ruang untuk meninggalkan ruangan tersebut.
“Snake, hati-hati kalo pake sihir
kayak gitu!”
“Haha! Tenang saja, Klavak.”
Snake pun meninggalkan ruangan
setelah menerima peringatan dari Klavak.
..............
“*Vrungg… (suara portal terbuka)”
“…”
Ketika keluar dari portalnya,
Snake berada di dalam suatu kamar tidur. Ia pun melepas topengnya dan membuka
jubahnya.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu
dari balik kamar itu.
“*Tok, tok, tok… (suara mengetuk
pintu)”
“Silakan masuk.”
“*Kriiek… (suara pintu terbuka)”
“Permisi, Tuan Muda. Hamba
hendak mengingatkan jika hari ini Anda diminta kedatangannya oleh Yang Mulia
Raja Bivomüne.”
“Tentu saja saya ingat. Mana
mungkin seorang anak melupakan panggilan dari ayahnya?”
Jawab Snake, yang sebenarnya
adalah salah satu Pangeran dari Vamulran Kingdom.