
Kembali ke pertarungan antara Perlawanan dengan Bakufu.
““*Chring! Chring! Chring!””
““*Syut! Syut!””
““*Shrak!””
““*Crat!””
““Aaaaargh!””
Bunyi senjata tajam yang beradu, anak panah yang dilesakkan, sayatan pedang, tumpahan darah, serta jeritan rasa sakit, sudah menghiasi Kochi Village.
Melihat pertarungan kedua belah pihak mulai mengkhawatirkan Myllo.
“Aquilla! Tolong prioritasin keselamatan para warga! Khususnya kalian berdua! Gia! Machinno! Daripada lindungin kita berempat, gue mau kalian fokus jagain warga!”
““Siap, Kapten!””
Jawab sebagian besar anggota Aquilla ketika mendengar permintaan Myllo.
“Ayo ikut gue! Sekarang!”
“B-Baik! Terima kasih, Warga Bawah—”
“Oraaaa—”
“Bawel!”
“*Bhuk! Bhuk! Bhuk!”
““Uaaargh!””
Djinn berhasil melindungi beberapa warga, ketika ada seorang anggota Bakufu yang hendak menyerangnya.
“*Dor! Dor! Dor!”
““Uaaaargh!””
Dalbert menembak beberapa warga Kochi Village, sambil mengevakuasi beberapa warga.
“Ayo ikut kita—”
“T-Tetapi rumah saya—”
“Mending pikirin dulu aja keselamatan kalian! Lagian desa ini…”
“Y-Ya. Saya paham…”
Balas warga desa Kochi kepada Djinn, yang bersama-sama menyaksikan Kochi Village yang telah menjadi medan perang.
““*Bwung! Bwung! Bwung!””
““*Brrk! Brrrk! Brrrk!””
Beberapa warga pun masuk menuju Gia dan Machinno, yang sama-sama berusaha untuk menghadang efek serangan dari peperangan.
“*Nguuunggg…”
“Kalo ada yang luka-luka teh jangan malu-malu ngomong ke Kang Garry atuh, ya!”
Seru Garry, sambil menyembuhkan beberapa warga Kochi Village.
“Djinn! Gimana?! Udah semua—”
“Belom! Masih ada satu lagi yang harus kita selamatin!”
“Satu lagi?! Jangan-jangan maksud sia teh…”
“Ya! Bocil Naga itu ke mana?!”
Seru Djinn dengan heran.
Sementara itu, lokasi Ryūhime.
“*Swush!”
“L-Lepaskan Aku, Shinikichi-kun!”
Seru Ryūhime, yang dibawa lari oleh Shinikichi.
“M-Maafkan saya, Ryūhime-sama! Tapi—”
“Itu mereka berdua! Jangan sampai mereka berhasil melarikan diri!”
Seru beberapa anggota Bakufu yang hendak mengejar mereka.
Hingga akhirnya bala bantuan datang.
““*Shruk, shruk!””
“Oraaaa!”
“*Shrak!”
““Uaaaargh!””
Kokume datang dengan melempar beberapa pisau unik ke anggota Bakufu, sementara Fusamoto menggunakan pedangnya untuk menebas anggota Bakufu lainnya.
“Hruaaaagh!”
“*Shrak!”
Nekomi juga datang dan langsung menyerang beberapa anggota Bakufu, dengan Shuriken Raksasa yang ia gunakan.
“Shinikichi! Pergi sana!”
“Jangan sampai mereka tangkap Ryūhime-sama!”
Seru Kokume dan Fusamoto kepada Shinikichi.
Hingga akhirnya…
“*Swush!”
…Yukiari berlari melewati Kokume dan Fusamoto, menuju Shinikichi.
“*Shringgg…”
“Yukiari…!”
Seru Shinikichi, sambil mengadu pedangnya dengan Yukiari, dengan menggores pedang masing-masing.
“Y-Yukiari…!”
“Sialan! Apa-apaan maksudnya, Yukiari—”
“Diem kalian! Dasar budak!”
““!!!””
Kokume dan Fusamoto dikejutkan dengan apa yang dikatakan oleh Yukiari.
“Daripada jadi budak, yang cuma nurut sama Ronin kayak Warauneko, mending gue jadi anggota Komisi di Bakufu!”
Seru Yukiari kepada Kokume dan Fusamoto.
“A-Aniue…! A-Apa Aniue… mau tinggalin aku—”
“Jangan berisik! Dasar pengecut—”
“*Chring!”
“Yukiari…!”
“Cih!”
“*Chring, chring, chring…”
Shinikichi kembali menyerang Yukiari dengan amarah yang meluap, ketika ia mendengar hinaan darinya kepada adiknya sendiri.
“Anda keterlaluan, Yukiari!”
“Nggak usah ikut campur lo, Shinikichi!”
Kata Shinikichi dan Yukiari yang saling bersahut-sahutan.
“*Chring, chring, chring…”
“Cih! Mereka banyak banget!”
“Tapi kita bertiga harus tahan mereka semua!”
“Keuk…! Aniue…!”
Seru Kokume, Fusamoto, dan Nekomi, yang saling bertarung melawan beberapa anggota Bakufu lainnya. Sementara Nekomi masih merasa kesal dengan kakaknya sendiri.
“Shi-Shinikichi-kun—”
“Ryūhime-sama! Cepat pergi! Saya tahan orang ini!”
“…”
Ryūhime pun merasa cemas dan bingung melihat pertarungan yang berada tidak begitu jauh dari Kochi Village.
Hingga akhirnya, seorang lainnya yang Ryūhime percaya, datang menjemputnya.
“Ryūhime-sama!”
“Ryūtaro-kun?! Mengapa engkau ada di sini—”
“Tidak ada waktu lagi! Mari kita pergi dari sini!”
“Tetapi bagaimana dengan keadaan warga Kochi Village—”
“Percayakan saja kepada Myllo dan anggotanya! Sementara kita pergi dari sini!”
“M-Myllo?! Siapa pria i—”
“Tidak ada waktu penjelasan, Ryūhime-sama! Kita harus pergi secepatnya!”
Seru Ryūtaro, yang datang dan membawa Ryūhime.
Kembali lagi ke pertarungan antara Perlawanan dengan Bakufu.
“*Shrak!”
““Uaaaargh!””
Katanaka berhasil mengalahkan beberapa anggota Bakufu.
“Graugraugrau! Aku benar-benar tidak menyangka! Apa yang dikatakan oleh Myllo-kun benar-benar terjadi!”
“Beruntung kita berada di sini!”
Seru Uchiyoshi dan Nakatoki, setelah mereka bersama-sama mengalahkan puluhan anggota Bakufu.
Hingga akhirnya, tantangan yang sebenarnya datang menghampiri mereka.
“*Boom!”
““Uaaaargh!””
““…””
Ketiga Kepala Perlawanan menyaksikan adanya ledakan yang menghempaskan beberapa anggota mereka.
“Masih berani kalian menampakkan diri kalian di tempat ini! Dasar klan terlupakan!”
Seru salah seorang Kepala Klan yang berpihak pada Bakufu.
“Mereka adalah…”
“Nagaimimi Nagamichi, Hiboshino Hirosuke, dan Ishisaru Yasukata.”
Jawab Katanaka kepada Nakatoki.
Melihat kedatangan para Kepala Komisi…
““Hruaaaaagh!””
…mereka pun saling bertarung.
“*Chring, chring, chring…”
Katanaka melawan Yasukata, dengan senjata mereka masing-masing.
“*Swush, swush, swush…”
Uchiyoshi melawan Nagamichi, dengan bela diri mereka.
((Fūbaku no te))
“*Fwush!”
((Shiryō no honō))
“*Vwumm!”
Nakatoki bertarung dengan Hirosuke, dengan ilmu sihir mereka.
Sedangkan di sisi lain pertarungan, Myllo memimpin Djinn dan Dalbert untuk menghadapi anggota Bakufu.
“*Bhuk! Dhuk! Bhuk!”
“*Dor, dor, dor…”
“*Tuk, tuk, tuk…”
Mereka bersama-sama menyerang beberapa anggota Bakufu.
“Keliatannya sebentar lagi udah mau selesai.”
“Kayaknya sih gitu—”
“Nggak! Semuanya belom selesai!”
““…””
Djinn dan Dalbert hanya saling bertatapan karena tidak mengerti dengan maksud Myllo.
“Insting gue bilang… ini cuma permulaan aja!”
Jelas Myllo kepada mereka berdua.
Hingga akhirnya…
““*FWUSH!!!””
““Urgh…!””
…tiba angin topan, yang mengejutkan mereka.
“Wahaha! Ternyata masih belom selesai, ya?!”
“Haaaaah…! Padahal masih mau santai-santai! Tapi Leluhur Klan suruh kita ke sini!”
““!!!””
Seketika seluruh anggota Perlawanan dikejutkan dengan adanya 15 Kitsune, yang datang di tengah medan perang.
“M-Mengapa… seketika Tubuh-Ku gemetar, Ryūtaro-kun…?”
“A-Aku juga tidak tahu, Ryūhime-sama…! Oleh karena itu… kita tidak perlu membuang waktu kita lebih banyak lagi dan bergegas melarikan diri—”
“Tidak!”
“Ryūhime-sama! Tetapi—”
Jelas Ryūhime kepada Ryūtaro, ketika mereka sama-sama berlari menjauhi segala pertarungan.
“Arara…! Kemana ya perginya Naga Cilik itu?”
“Kayaknya dia udah lari, deh—”
“S-Serang mereka semua…!”
““HRUAAAAAGGGHH!!!””
Para Kitsune hanya menatap anggota Perlawanan.
“T-Tunggu! Jangan menyerang mereka—”
““*DHUMMMMMM…””
““Trang, tang, tang…””
Katanaka hendak menghimbau para anggota Perlawanan yang menyerang Kitsune tersebut. Tetapi Kitsune tersebut mengeluarkan aura yang dahsyat, yang bahkan membuat seluruh anggota Perlawanan yang hendak mereka, dengan tidak sadar melepas senjata mereka.
“Oi! Nggak perlu kenceng-kenceng kali, auranya!”
“Hah?! Emangnya kenapa—”
“Kan mereka nggak lebih dari sekedar Mahluk Fana! Mending…”
“…”
“*FWUSH!!!”
““*Shrak…””
“…langsung bunuh aja!”
Seru salah seorang Kitsune, yang mengangkat tangannya, lalu mengeluarkan angin yang sangat tajam, yang memenggal kepala seluruh anggota Perlawanan yang telah melepas senjata mereka.
“Keuk…! Pasti mereka itu…”
“Kau benar, Katanaka-san…! Mereka adalah… Kagebuntai…! Bahkan kami pun tidak tahu, jika mereka datang kemari…!”
Jelas Yasukata kepada Katanaka, sambil melanjutkan pertarungan mereka.
““…””
Kehadiran anggota Kagebuntai membuat Faksi Perlawanan atau Bakufu ketakutan.
Sebagian besar dari antara mereka tidak berani mengangkat senjata mereka.
Hingga akhirnya terdapat 3 orang yang berani menantang 15 Kitsune tersebut.
“Djinn. Dalbert.”
““Ya!””
““*Swush!””
Bersama-sama, ketiga anggota Aquilla berlari menuju seluruh Kitsune itu.
“Arara… ternyata ada Warga Bawah yang—”
{Kazedoryū: Haku}
“*SWUSH!!!”
““Aaaargh!””
“*Bruk, bruk, bruk…”
Dengan sekali ayunan tongkat, Myllo berhasil memukul 7 Kitsune, hingga tidak sadarkan diri.
“L-Luar biasa!”
“Myllo-dono! Hebat sekali!”
“Graugraugrau!”
Seru Katanaka dan Nakatoki, sementara Uchiyoshi hanya tertawa.
“Sial! Nggak nyangka ada mereka yang bisa punya teknik rahasia kepunyaan klan kita!”
“Ayo kita bunuh dia! Bisa-bisa dia bahaya untuk—”
“Siapa yang mau lo bunuh, anjing?!”
“*DHUK!!!”
“Urgh…!”
Djinn datang dan menendang salah seorang Kitsune dengan sangat amat keras, hingga rahang Kitsune tersebut hancur.
“Thanks, Ger!”
“Siap atuh, Djinn!”
Seru Garry, yang telah memerintahkan sebuah Roh, agar terus menempel dengan Wakil Kapten Aquilla tersebut.
“*Swush, swush, swush—”
“*Shrak!”
“Aaargh!”
“*Shrak!”
“Uaaaargh!”
Dalbert terus menghindari serangan Kitsune lainnya. Setelah itu ia menggunakan dua buah pisau dari Bracelet Armament untuk memotong 2 dari 9 ekor Kitsune tersebut.
Akan tetapi Dalbert tetap sadar, bahwa musuh yang ia hadapi merupakan Mahluk Abadi. Karena itu ia merasa bahwa serangannya tidaklah cukup untuk mengalahkan Kitsune yang ia hadapi.
“Andai gue bisa langsung pake senjata baru gue yang gue dapetin dari Dungeon of Poison. Tapi skala serangan senjata itu pun masih nggak gue tau sebahaya apa.”
Pikirnya akan senjata rahasia miliknya, yang bahkan tidak diketahui anggota Aquilla lainnya.
“Myllo! Aku sama Machinno gimana?!”
“Tetep jagain warga desa! Biar kita bertiga yang lawan mereka!”
Seru Myllo kepada Gia, yang sedang melindungi warga desa bersama Machinno.
“*Swush, swush, swush…”
“*Bhuk, bhuk, dhuk…”
““…””
Semua yang berada di tengah pertempuran begitu takjub dengan pertarungan antara ketiga anggota Aquilla melawan anggota Kagebuntai.
“Y-Y-Yang mereka lawan itu… adalah Kitsune, bukan…?”
“M-Mengapa mereka tidak takut… untuk menghadapi Mahluk Abadi… yang menguasai tanah ini selama jutaan tahun…?”
“Bahkan Kitsune yang berjumlah lebih banyak… terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka…!”
Sahut para prajurit yang sedang bertarung. Baik dari pihak Perlawanan maupun Bakufu.
Tetapi dari antara ketiga anggota Aquilla tersebut, tentunya Myllo yang paling mendominasi pertarungan.
“S-Sialan lo, Manusia…! Siapa lo sebenernya…?!”
“Hehe! Gue Myllo Olfret! Calon Petualang Nomor Satu di Geoterra!”
Seru Myllo dengan bangga kepada para Kitsune.
“Denger gue, saudara-saudara sekalian!”
““…””
“Sekarang nggak pake basa-basi lagi! Kita serang mereka bertiga, sekalian temen-temen mereka!”
“Hahaha! Gue juga setuju!”
“Yaudah! Ayo kita mulai sekarang!”
““*SWUSH!!!””
5 dari antara 8 Kitsune yang tersisa mulai bergerak menuju Gia, Garry, dan Machinno.
“Woy! Kenapa kalian—”
{Kazedoryū: Hansha}
“*SWUSH!!!”
“!!!”
Myllo berhasil menghindari ayunan naginata dari salah seorang Kitsune.
“*Bhuk!”
“Haha! Ilmu bela diri lo udah gue baca!”
Seru salah seorang Kitsune kepada Djinn, yang menggunakan Pencak Silat.
“Hmph! Sekarang lo bisa apa, kalo—”
“*Bhuk, bhuk, bhuk…”
““!!!””
Kembali seluruh prajurit dikejutkan dengan salah seorang Kitsune yang dikalahkan oleh Djinn.
“K-Kok lo bisa… pakai Kitsujutsu—”
“*Bhuk!”
“Apa maksud lo?! Jelas-jelas nama yang gue pake ini Wulfrag Arts, tolol!”
Seru Djinn, setelah memukul Kitsune tersebut.
“*Swush, swush, swush…”
“*Dor, dor, dor!”
Dalbert menggunakan pistolnya untuk bertarung dengan jarak dekat, melawan Kitsune yang ia hadapi.
Sementara anggota Aquilla lainnya.
((Uzumaku hakaino kaze))
“*FWUSH!!!”
((Tsukidasu hanokaze))
“*FWUSH!!!”
“T-Tahan, Machinno…!”
“…”
Gia dan Machinno terus berusaha untuk menahan serangan 5 Kitsune yang menyerang mereka.
“I-Ibu! Aku takut!”
“S-Semoga saja kita tidak kenapa-kenapa, nak!”
“…”
Garry hanya menatap seluruh warga Kochi Village yang cemas, walaupun dalam perlindungan Gia dan Machinno.
““*Shrak!””
““Uaaargh!””
““*Crat!””
Suara ayunan pedang, jeritan para prajurit, serta cipratan darah, semakin banyak.
Peperangan antara anggota Perlawanan melawan Bakufu semakin memanas.
““Huff, huff, huff…””
Para Kepala Klan yang sedang bertarung, kini mulai kelelahan, dengan banyak bercak darah pada pakaian mereka.
“Heaaaaaagh!”
“*Bhuk!”
“D-DASAR WARGA BAWAH BIADAB!!!”
“SINI LO, ANJING!!! LO KIRA GUE TAKUT SAMA LO?!?!”
Djinn berusaha untuk tetap berdiri dan mengalahkan Kitsune yang ia hadapi.
“*Shruk!”
“*Dor!”
““Urgh…!””
Dalbert dan Kitsune yang ia hadapi saling melukai satu sama lain.
“*Brrrk!”
“Keuk! B-Berlian ciptaan aku… udah mau retak…!”
“Machinno… juga.”
Gia dan Machinno semakin kesulitan untuk melindungi warga desa.
“S-Sialan…! Gue… udah luka-luka…!”
Pikir Tsuruki, setelah ia berjuang mati-matian menghadapi Klan Ishisaru yang hendak membunuhnya.
“M-Mereka masih banyak banget…!”
“Jujur aja, Kokume…! Ini perang yang paling parah semenjak adanya Dekret itu…!”
“Huff, huff, huff…”
Kokume, Fusamoto, dan Nekomi mulai lelah dengan pertarungan mereka melawan anggota Bakufu.
““*Crat…””
““Huff, huff, huff…””
Shinikichi dan Yukiari tetap berusaha untuk saling bertarung, walaupun mereka sudah lelah, dengan darah
mereka yang saling bertumpahan.
“…”
Menyaksikan semua yang terjadi pada peperangan antara Perlawanan dan Bakufu…
“HENTIKAAAAANNNN!!!!”
…Ryūhime datang menghentikan peperangan antara mereka.
“R-Ryūhime-sama… A-Apakah anda yakin—”
“Aku… siap menyerahkan diri-Ku, Ryūtaro-kun.”
Jawab Ryūhime, yang kemudian berjalan ke tengah medan peperangan, untuk menyerahkan dirinya.
“Maafkan aku… kalian semua…! Andai aku… bisa membujuk Ryūhime-sama… agar tidak meninggalkan kita…!”
Pikir Ryūtaro dengan menyesal.