
““*BOOOOOMMMM!!!””
“Djinn! Kita harus lari dari sini!”
“Ya! Gue juga tau!”
Sialan! Kenapa tiba-tiba setiap wilayah di pulau ini diledakkin?!
Awalnya gue kira beberapa wilayah aja yang diteror kayak gini! Nggak gue sangka, ternyata semua wilayah yang lain juga ngalamin hal yang sama! Termasuk wilayah di mana ada gue sama Dalbert!
Cih! Yang gini-gini nih bikin gue khawatir sama temen-temen gue!
Semoga mereka baik-baik a—
“*BOOOOOMMMM….”
“*FWUZZZZZZZ!!!!”
““Aargh!””
G-Gila kali ya?!
Efeknya kenceng banget! Bahkan kita berdua mental karena efek ledakan dari wilayah yang ada di depan
kita!
Apalagi… jarak wilayah itu mungkin ada sekitar 1 kilometer dari depan kita!
“Dal! Lo nggak apa-apa?!”
“Gue nggak apa-apa! Tapi… mungkin nggak ya kita bisa ke Beckbuck sambil ngelewatin ledakan-ledakan ini?!”
“Gue juga nggak tau, Dal! Tapi kita harus pergi secepetnya untuk susul dua anak anjing itu!”
“Y-Yaudah! Ayo kita lanjut aja, Djinn!”
“Ya!”
Ujung-ujungnya kita berdua terus lari.
“…”
Dari bawah sini… gue bisa liat ada semacam titik di atas langit…?
“Gawat, Djinn! Pasti yang di atas langit itu jadi titik koordinat yang ledakin sekitar pulau ini!”
G-Gila kali ya!
“*CHRINGGG…”
S-Silau banget—
“Djinn! Kita harus siap-siap sama tembakan selanjutnya!”
“Tembakan selanjutnya?! Maksud lo a—”
““*CHRINGGG…””
““*BOOOOOMMMM!!!””
““…””
S-Sialan…
Untung aja gue udah pasang Sajak duluan untuk jagain kita!
“*Chrang…”
Bahkan sihir yang gue pake… langsung pecah…?!
“*Bruk…”
“Djinn! Kok kita berdua masih—”
“((Rune Spell: Hard Wall)). Runecraft itu… terinspirasi dari… sihir yang biasa dipake Machinno. Gue nggak
sangka… kalo Runecraft itu… butuh Mana yang banyak banget…! Tapi yang nggak gue sangka tuh… efek ledakan tadi bahkan bisa hancurin… tembok yang gue bikin…!”
T-Tapi kok… tiba-tiba gue bisa pake Runecraft Stage-3…! Secara spontan… gue tulis Sajak di udara…!
Mungkin gue tau itu semua… karena liat Angela…
Tapi kok—
“Berutang budi lo sama gue, lemah!”
Hah…?! Apa maksud lo, Baji—
“Y-Yaudah! Nggak usah banyak omong lagi! Mending kita pergi sekarang juga!”
“Y-Ya…”
Karena gue terlalu capek… Dalbert jadi harus topang lengan gue di pundaknya… untuk pergi secepetnya ke Buck-Beck…
““…””
Kita berdua… lari sama-sama… sambil lewatin… tumpukan bangkai Sandworm…
““…””
Terus kita juga… lari sambil lewatin… ratusan jasad orang… yang ada di sekitar kota yang kita lewatin…
Sampe akhirnya…
““…””
…kita liat dua anak anjing yang kita kejar. Bahkan… salah satu dari antara mereka… udah nggak bisa gue kenalin lagi…!
“Djinn! Salah satu dari mereka ada yang masih hidup!”
“…”
Gue mungkin mau bilang nggak usah pikirin. Masalahnya Dalbert yang lagi nopang gue… penasaran sama salah satu kembar… yang masih hidup…
“Woy! Lo itu—”
“Ibu… maafin Chico… karena Chico… tega bunuh Chester, bu…”
Oh ternyata dia Chico ya?
“Oi… kalian berdua…”
K-Kirain gue dia udah halu karena mau mati…
Ternyata… dia masih bisa ngomong—
“Tolong bunuh… yang namanya… Bastheus Brawrackus…”
““…””
Keliatannya dia udah meninggal… sehabis minta kita bunuh orang yang kemungkinan besar pembunuh bapaknya… sekaligus penghancur Party-nya.
“Dal…! kita lanjut ke Beckbuck aja…!”
“Yaudah…!”
““…””
Akhirnya kita lanjutin lagi perjalanan kita untuk nyusul Myllo sama yang lainnya.
Masalahnya…
““*CHRINGGG…””
““!!!””
…tembakan berikutnya mau mulai lagi…!
“Djinn! Kita harus—”
“T-Tetep lari…! Mau mati atau hidup… kita juga nggak bisa ngumpet di mana-mana lagi!”
“Cih! Yaudah! Apa boleh bu—”
“*BOOOOOMMMM!!!”
……………
“…inn…! Djinn…!”
S-Suara… Dalbert…?
“Huuufff!”
Gu-Gue masih hidup?!
Padahal gue yakin banget kalo tadi gue sama Dalbert kena ledakan dari atas langit!
Tapi sekarang kita berdua… kenapa ada di tepi pulau?!
Apalagi… gue tiba-tiba sembuh…?!
Tapi kok…
“…”
…gue sama Dalbert diiket begini?!
“Dal! Kita ada di mana?!”
“Gue juga nggak tau! Waktu gue bangun, gue juga kaget kita tiba-tiba ada di sini!”
Kita tiba-tiba di sini?!
Apa mungkin… efek ledakan tadi hempas kita jauh sampe ke tepi pulau i—
“Kalian berdua sudah bangun?”
“Hah?! Siapa cewek i—”
((Voice Lock))
“!!!”
“Maafkan saya, Dalbert Dalrio. Saya sedang berurusan dengan Djinn Dracorion. Alangkah baiknya jika anda diam dan jangan mengeluarkan suara. Tetapi anda tidak perlu khawatir. Tanpa bersuara pun, saya berani jamin bahwa anda masih bisa bernafas, Dalbert Dalrio.”
G-Gila nih cewek! Sihir macem apa yang bisa hilangin suara orang?!
“…”
Tunggu… gue tau cewek ini…!
“Baiklah, Djinn Dracorion.”
“…”
“Saya minta agar anda menyingkirkan topeng anda, sebelum saya mengambil topeng anda secara pak—”
“Buat apa? Bukannya lo udah tau wajah gue gimana, Velka[1]?”
“!!!”
Ya! Gue inget cewek ini!
Dia ada di “mimpi” gue, sewaktu gue “ngamuk” di Gazomatron[2]!
“…”
“!!!”
S-Sialan nih cewek! Berani-beraninya dia buka topeng gue!
“Ternyata saya benar…! Anda adalah… Djinnardio Vamulran. Tidak saya sangka… bahwa saya menemukan anda seperti ini, Djinn…!”
Hah…?
Ada yang aneh…!
Semua orang yang kenal siapa Djinnardio, pasti panggil gue Djinnardio! Tapi cewek ini tetep manggil gue
Djinn!
Entah kenapa, feeling gue—
“*Tap…”
“Djinn, mengapa… anda harus menjadi seorang Petualang?”
“E-Emangnya kenapa kalo gue jadi Petua—”
“Tidakkah anda khawatir dengan teman-teman anda?”
“…”
Tunggu, tunggu, tunggu…!
Apa-apaan maksud cewek ini…!
“E-Emangnya kenapa kalo gue jadi Petualang?! Apa ada yang sa—”
“*Shringgg…”
“!!!”
Woy, woy, woy! Kenapa dia malah arahin pedangnya ke leher gue!
“Sudah saya duga! Anda bukanlah Djinn yang saya kenal!”
“A-Apa maksud lo?!”
“Djinn yang saya kenal… tidak mungkin berbicara kasar seperti itu…! Bahkan Djinn yang saya kenal tidak menyukai kekerasan…! Karena itu, tidak seharusnya ia menjadi seorang Petualang…!”
“Gue tanya, apa maksud—”
“S-Siapa anda?! Apakah anda adalah pria yang menyamar menjadi Djinn?!”
“…”
Dia… nangis…?
Kok gue keinget… pertama kali gue ketemu Luvast[3], ya?
“Saya tanya kepada anda! Siapa anda sebenar—”
“Gue Djinn Dracorion! Gue ini Petualang! Kalo pun gue kehilangan ingetan gue, seenggaknya gue bisa mulai
hidup baru gue sebagai Petualang!”
“H-Hilang… ingatan…?”
“Ya! Gue lupa ingetan gue! Siapa itu Djinnardio Vamulran?! Kenapa dia selalu hidup menderita?! Gue udah bodo amat sama semua itu! Tapi sekarang gue hidup sebagai Djinn Dracorion, Wakil Kapten dari Aquilla Party! Gue hidup demi mimpi gue! Demi temen-temen gue juga!”
“…”
Sialan! Gue harus ngebohong lagi!
Walaupun nggak semua yang gue bilang itu bohong, tapi—
“Jangan…”
“Hah…?”
“Janganlah menjadi Petualang…”
“…”
“Saya mohon, Djinn… Hiks…”
Jangan jadi Petualang…?
Kenapa dia harus mohon-mohon… sampe nangis kayak gitu…?
“Saya tidak mau… anda menderita lagi… seperti beberapa bulan yang lalu… di mana anda kehilangan… Bibi Luscika dan Paman Brent…”
“!!!”
D-Dia kenal dua orang tuanya Djinnardio?!
“Jika anda menjadi seorang Petualang… anda akan menderita…”
“K-Kenapa sampe menderita…?”
“Ka-K-Karena… anda sebagai Petualang… hanya akan diperalat oleh Centra Geoterra! Saya sebagai sahabat anda… tidak ingin anda menderita lebih parah lagi! Saya mohon, Djinn—”
“Maaf, Velka. Tapi gue udah punya mimpi yang harus gue capai di dunia ini.”
“…”
“Gue mau jelajahin seluruh wilayah di dunia ini. Gue yakin, gue bisa capai mimpi gue bareng Aquilla yang dipimpin Myllo.”
“…”
Entah kenapa, gue mulai yakin kalo cewek ini sebenernya—
“J-Jika hanya itu kemauan anda…”
“Mm?”
“Tinggalkanlah Party anda dan bergabunglah dengan saya di Centra Geoterra, Djinn!”
“!!!”
HAH?!
“Anda tidak perlu menjadi seorang Petualang! Anda bisa mengelilingi seluruh wilayah duni—”
“Nggak!”
“Djinn! Tetapi—”
“Gue udah janji sama temen-temen gue! Gue bakal capai mimpi gue bareng mere—”
“*Phak…”
S-Sakit banget tamparannya…!
“Ternyata sudah tidak ada satupun sahabatku yang bisa kuselamatkan, ya?”
Eh?! Dia bisik apaan?! Kok—
“Baiklah jika itu kemauan anda, Djinn Dracorion. Semoga mimpi anda dan teman-teman anda dapat terwujud.”
“…”
“Jangan salahkan saya jika anda menderita di kemudian hari, semenjak saya sudah memperingatkan anda.”
“Ya! Gue nggak akan nyesel!”
Mungkin gue ngerasa kalo dia itu ngancem gue. Nggak, mungkin lebih kedengeran kayak nantang gue. Artinya gue cuma perlu terima tantangannya a—
“Satu hal lagi.”
“Apa?”
“Apakah… anda ingat dengan Elyzia Warmhart[4], atau yang akrab kita panggil Lyz?”
Hah…?
Siapa tuh…?
“!!!”
Tunggu…!
Gue pernah denger nama itu…!
Tapi kok… gue lupa…?!
Apa mungkin… gue pernah ketemu cewek itu…?
Tapi… ketemu dimana…?
“Hm. Sepertinya anda juga sama terkutuknya dengan orang-orang yang mengenalnya.”
“Woy…! Maksud lo a—”
“Baiklah. Mungkin hanya itu saja yang ingin saya sampaikan kepada anda. Saya akan melepaskan rantai yang mengikat anda sekalian. Saya harap, tidak ada dendam di antara kita semua.”
Sehabis dia bilang gitu, dia langsung lepas rantai ini dari badan gue. Khusus Dalbert, dia juga balikin suaranya.
“Haaaaah! Akhirnya gue bisa ngomong lagi!”
“Dal! Lo nggak apa-a—”
“Baiklah. Marilah ikut bersama saya menuju Beckbuck Post. Kepala Unit saya sedang berada di sana bersama
dengan rekan-rekan anda.”
“…”
Naik elang kaki empat itu ya?
S-Saking banyaknya mahluk aneh di tempat ini, gue jadi nggak ngerasa bisa dikagetin la—
“Oi, Djinn. Kok lo… nangis…?”
Hah…?
“…”
Eh iya.
Kok pipi gue basah…?
Apa mungkin… karena denger nama perempuan yang dipanggil Lyz itu…?
_______________
[1]Anggota Control Unit yang berbicara secara privasi dengan Snake, sebelum pergi bersama Control Unit dari Gazomatron Federation (Chapter 276).
[2]Momen ketika Djinn hilang kendali atas kekuatannya. Ia bertemu dengan Velka lewat “pengelihatannya”
(Chapter 243 & Chapter 246).
[3]Luvast juga merasa Djinn sebagai seseorang yang berbeda (Chapter 19 & Chapter 20).
[4]Nama yang pernah dijelaskan oleh Meldek (Chapter 8).