Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 72. I Know Who You Are



“Hiks… Bos Beddy, Shawn,


sama Tylor… Rekan-rekan aku mati semua…”


““…””


Gue udah diceritain semua sama


Maha.


Abis cerita, Maha nggak ada


berhentinya gemeteran. Air matanya juga nggak ada abisnya ngalir. Harrit pun


juga gemeteran.


Tapi yang paling kasian emang


Winona karena rekan-rekannya mati semua.


Padahal gue ngerasa Erkstern kalo


dia termasuk kuat. Tapi ada yang bisa bunuh dia?!


Kalo orang lain sih mungkin


kedengeran mustahil, tapi kalo satu ras-nya yang bunuh dia, mungkin aja sih.


Artinya, Dragonewt yang bareng


Snake itu bisa aja sekuat Erkstern, ya?


Apa mungkin masih ada Dragonewt


yang lebih kuat dari mereka?


“Orangnya Snake waktu itu kali ya?”


“Ada apa, Djinn?”


“Gue udah nemuin dua Dragonewt. Yang satu masih


anak kecil, yang satu lagi sih kayaknya Petualang. Mungkin orang itu yang bisa


bunuh Erkstern.”


“Si…Siapa?!”


Gue langsung jelasin tentang


Snake karena ada kemungkinan Dragonewt itu yang bunuh Erkstern sama yang


lainnya itu kemungkinan ada sangkut pautnya sama Snake.


“Djinn, Dragonewt yang lo omongin


itu juga Sniper?”


“Gue nggak tau kalo i—”


Tunggu.


Gue inget Dragonewt yang waktu


itu nggak pake topeng sama sekali. Tambah lagi, kalo gue inget-inget lagi, dia


ngeluarin dua pisau kan waktu gue pukul keras Snake?!


Tapi ada yang aneh dari laporan


yang gue denger dari Maha. Kalo emang dia itu Sniper, pasti dari jarak jauh


dong? Makanya mereka nembak Pipippa, yang jadi korban pertama.


Kalo gitu, kenapa dia terbang


gitu aja ke timnya Si Boncel?!


Ah! Artinya ada dua Dragonewt!


Kalo ada dua, artinya…


“Maha, kita harus pergi


sekarang!”


“Hah?! Kenapa?!”


“Target selanjutnya pasti rumah


ini! Artinya kita sama aja jadi umpan untuk sampe rumah ini! Bisa-bisa nyawa


Marquis ini jadi target utama mereka!”


““!!!””


Mereka kayaknya juga baru


kepikiran soal itu.


Semoga aja perkiraan gue bener,


deh!


“O…OK! Ayo semua! Kita pergi dari


tempat ini!”


““Ya!””


“Tu…Tunggu! Para Petualang


sekalian!”


““Hm?””


“Untuk kalian bertiga, semoga


kalian tidak membeberkan apa yang saya ceritakan tadi.”


Hah? Dia cerita tentang apa emangnya?


“OK, Marquis Verde. Kami janji


nggak akan—”


“Oh ya, Marquis Verde. Saran


saya, bapak secepetnya pergi dari sini ya, pak. Jangan sampe Bismont kehilangan


orang kepercayaannya.”


“Ba…Baiklah, Djinn.”


Yaudah, nggak usah pake basa-basi


lagi.


Waktunya kita pergi dari sini.


……………


Kita lari secepet mungkin, sampe


ke deket Marklett.


“Maha, kita mau lari kema—”


“Mending kita ngumpul dulu aja


sama yang lain!”


“O…OK!”


Kita lari untuk balik ke dalem


Marklett.


“Djinn! Kenapa kita lari?!”


“Yang nyerang nggak cuma satu, tapi


ada du—”


“*Cruk! (suara kepala tertembak)”


““DJIIIIINNNN!!!”


Ah, orang lagi lari malah


ketembak kepala gue…


Masa gue hidup lagi di dunia ini


cuma untuk mati ditembak doang, sih?!


“Ma…Maha! Aku coba sembuhin—”


“A…Andai yang kena bukan otaknya, mungkin dia masih bisa disembuhin,


Winona!”


“Ta…Tapi—”


“Dia udah mati, Winona!


Cuma keajaiban aja yang bisa hidupin dia!”


Sialan! Gue masih belom


petualangan untuk kelilingin dunia ini!


“Cih! Andai ada Observer di


antara kita! Mungkin nggak—”


“…”


“I…Itu…”


“Dragonewt-nya?! Berani juga


dia nyamperin kita!”


Tolong, lah! Gue masih mau hidup!


Seenggaknya gue bisa jelajahin 5 negara, deh!


“Yang paling kuat di antara kalian udah mati.


Kalo lawan kalian bertiga…mungkin cuma butuh satu tangan aja.”


“Di…Dia ngeremehin kita!”


“Tapi kan dia—”


“Kita bunuh Dragonewt itu!


Jangan sampe ada lagi nyawa yang hilang karena dia!”


“Hahaha! Emangnya sanggup lo


bunuh gue?! Sadar diri! Lo semua cuma serangga yang hidup cuma untuk gue injek!”


Bajingan! Andai gue masih hidup,


gue bunuh tuh orang!


“*Fwushhh… (suara terbang cepat)”


“Harrit!”


“Ya!”


Tunggu, gue ngerasa ada yang


aneh.


Kenapa gue masih bisa denger


omongan mereka semua?!


Artinya gue belom mati, dong?!


Kalo gitu…


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


…gue hajar nih orang!


“A…Aura siapa i—”


“Woy, bangsat!”


“*Swush… (suara gerakan cepat)”


“*Bhuk! (suara pukulan)”


“Urgh!”


Abis bangun, gue langsung lari ke


arah Dragonewt ini supaya gue bisa pukul.


“Dj…Djinn?!”


“Kok…Kok dia masih hi—”


“Keajaiban! Karena keajaiban, dia


masih bisa hidup!”


Kayaknya yang lain kaget atau


bingung kenapa gue masih bisa hidup. Jangankan mereka, gue aja bingung!


“Kok…Kok lo masih bisa hi—”


“*Tap… (suara menyentuh sayap)”


“Apa gunanya gue jawab bajingan kayak lo?!”


“Lo mau nga—”


“*Krrrk… (suara sayap tertarik)”


“AAAARRRGGGGHHH!!!!”


Keliatannya karena sayap ini dia


bisa gerak cepet. Makanya itu, gue harus copotin sayap dia supaya nggak bisa


terbang.


“Gi…Gila! Kekuatan macam apa


itu?!”


“Sa…Sayap Dragonewt kan…mustahil


“Kalian tenang. Seenggaknya kita beruntung


karena dia masih bisa hidup.”


Gue nggak tau mereka ngomongin


apaan karena terlalu fokus untuk lepas sayap orang ini!


“GRAAAAAGGGHHH!!!”


Tunggu!


Kok gue nyium bau—


“*Boom! (suara ledakan bola api)”


“!!!”


Sialan! Ternyata bener kalo mereka


ada dua!


“Brengsek—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Urgh!”


“Harrit!”


Brengsek! Harrit ditebas begitu—


“Djinn! Jangan sampe nggak fokus!


Biarin Dragonewt ini sama kita bertiga!”


“OK kalo gi—”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


Anjing!


Dia masih bisa nembak perut gue!


“*Dhung! (suara menyundul kepala)”


“Ah, sialan! Kenapa lo masih bisa


nyundul kepala gu—”


“*Krrrkk… (suara sayap tertarik)”


“Urgh… Uarrrghh!”


“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak


tembakan pistol)”


Gue ditembak terus!


Tahan rasa sakitnya, Djinn!


“*Krrrrkkk… (suara sayap


tertarik)”


“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak


tembakan pistol)”


Nih orang punya berapa peluru,


sih?!


Kok nggak abis-abis?!


“*Krrrrkkk… (suara sayap hampir


patah)”


“AGH! ARRGGHH!”


Bagus! Sayapnya hampir patah!


Tapi…


“Heh! Denger ya! Gue tau lo


siapa!”


“!!!”


“Gue bisa aja ngomong


kenceng-kenceng supaya yang lain tau! Tapi gue butuh alesan lo!”


“A…Apa maksud lo, breng—”


“*Krrrkkk… (suara sayap hampir


patah)”


“Urgh!”


“Kenapa lo ngelakuin ini semu—”


“RUOAAAAAAARRRR!!!”


“!!!”


Itu…suara teriakan apaan?!


Kok kenceng banget?!


Apa mungkin itu teriakan Na—


“Dragon Killer!”


“*Swush! (suara terbang cepat)”


Brengsek! Dia mau nyerang gue!


“*Bruk! (suara terjatuh)”


Mending gue tinggalin aja


Dragonewt satu ini!


“Hrraaaagh!”


Tangan sampe lengannya tiba-tiba


berapi. Nggak cuma itu aja, bahkan bentuk tangannya kayak…kaki Naga?


Keliatannya dia mau pukul gue


pake tangan apinya itu.


Tapi…


“*Hup! (suara menangkap)”


“Sial! Cepet bang—"


“*Bruk! (suara bantingan)”


…gue masih bisa nangkep


lengannya, terus gue banting dia.


“Haaaargh…”


Brengsek!


Dia mau sembur gue pake apinya?!


Kalo gitu, mending gue tendang


aja dia sebelum dia nendang gue!


“*Dhuk! (suara menginjak)”


“*Krraak! (suara tanduk patah)”


“AAAARGGHHH!!!”


Gue tadinya mau injek mukanya.


Tapi karena dia mau hindarin,


makanya gue malah injek tanduknya sampe patah.


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“*Cruk! (suara kepala tertembak)”


Anjing! Dia masih bisa nembak


kepala gue!


“Masih bisa terbang, kan?!


Mending kita pergi aja dulu dari sini!”


“Ya, kak!”


“*Fwup, fwup, fwup! (suara


kepakan sayap)”


Ah, bangsat!


Sakit banget kepala gue!


Ya, masih mending lah bisa hidup!


Gue mungkin keliatan sekarat,


tapi luka gue semuanya sembuh total walaupun gue jadi agak ngantuk.


Tapi…


“…”


…yang lain pada sekarat karena


Dragonewt yang tanduknya gue patahin tadi.


Oh ya, Winona bisa pake sihir


untuk sembuhin orang, kan?


“Win, lo bisa sembuhin diri


sendiri, nggak?”


“Bi…Bisa, kok.”


“Yaudah sembuhin diri sendiri


dulu aja baru sembuhin yang la—”


“Kenapa nggak sekalian aja?”


Hm?


“Medic Bubble!”


“*Blub, blub, blub… (suara


gelembung)”


Winona pake sihir untuk buat


gelembung yang gede. Siapapun yang ada di dalem gelembung itu bisa sembuh


luka-lukanya.


“Makasih, Winona.”


“Ya.”


Semua yang ada di sini jadi


sembuh, walaupun Harrit keliatannya masih nggak sadar.


“Terus dia gimana?”


“Ehm…”


“Biar gue angkat aja.”


“Eh?! Lo yak—”


“Hap!”


““!!!””


Hah? Mereka berdua kenapa cuma


ngeliatin gue doang?


“Ayo tunggu apa lagi?!”


“Y…Ya…”


Akhirnya kita berdua balik ke


Marklett untuk gabung bareng yang lainnya


“Kok dia masih bisa ngangkat


orang ya? Kan Beastman itu beratnya bisa lebih dari 100-kizlat, ya…?”


“Ssstt! Jangan suka ngomongin


orang, Winona!”


“Ups, maaf!”


Dikira gue nggak denger kali ya


mereka bisik-bisik apaan.


Ya ujung-ujungnya balik lagi:


Jangankan mereka, gue aja nggak


tau.


Tapi tadi 100 apaan? Kizlat?


Maksudnya ‘kilogram’ kali ya?


Ah nggak usah dipikiran lah,


jalan aja dulu ke yang lainnya.