
“Hiks… Bos Beddy, Shawn,
sama Tylor… Rekan-rekan aku mati semua…”
““…””
Gue udah diceritain semua sama
Maha.
Abis cerita, Maha nggak ada
berhentinya gemeteran. Air matanya juga nggak ada abisnya ngalir. Harrit pun
juga gemeteran.
Tapi yang paling kasian emang
Winona karena rekan-rekannya mati semua.
Padahal gue ngerasa Erkstern kalo
dia termasuk kuat. Tapi ada yang bisa bunuh dia?!
Kalo orang lain sih mungkin
kedengeran mustahil, tapi kalo satu ras-nya yang bunuh dia, mungkin aja sih.
Artinya, Dragonewt yang bareng
Snake itu bisa aja sekuat Erkstern, ya?
Apa mungkin masih ada Dragonewt
yang lebih kuat dari mereka?
“Orangnya Snake waktu itu kali ya?”
“Ada apa, Djinn?”
“Gue udah nemuin dua Dragonewt. Yang satu masih
anak kecil, yang satu lagi sih kayaknya Petualang. Mungkin orang itu yang bisa
bunuh Erkstern.”
“Si…Siapa?!”
Gue langsung jelasin tentang
Snake karena ada kemungkinan Dragonewt itu yang bunuh Erkstern sama yang
lainnya itu kemungkinan ada sangkut pautnya sama Snake.
“Djinn, Dragonewt yang lo omongin
itu juga Sniper?”
“Gue nggak tau kalo i—”
Tunggu.
Gue inget Dragonewt yang waktu
itu nggak pake topeng sama sekali. Tambah lagi, kalo gue inget-inget lagi, dia
ngeluarin dua pisau kan waktu gue pukul keras Snake?!
Tapi ada yang aneh dari laporan
yang gue denger dari Maha. Kalo emang dia itu Sniper, pasti dari jarak jauh
dong? Makanya mereka nembak Pipippa, yang jadi korban pertama.
Kalo gitu, kenapa dia terbang
gitu aja ke timnya Si Boncel?!
Ah! Artinya ada dua Dragonewt!
Kalo ada dua, artinya…
“Maha, kita harus pergi
sekarang!”
“Hah?! Kenapa?!”
“Target selanjutnya pasti rumah
ini! Artinya kita sama aja jadi umpan untuk sampe rumah ini! Bisa-bisa nyawa
Marquis ini jadi target utama mereka!”
““!!!””
Mereka kayaknya juga baru
kepikiran soal itu.
Semoga aja perkiraan gue bener,
deh!
“O…OK! Ayo semua! Kita pergi dari
tempat ini!”
““Ya!””
“Tu…Tunggu! Para Petualang
sekalian!”
““Hm?””
“Untuk kalian bertiga, semoga
kalian tidak membeberkan apa yang saya ceritakan tadi.”
Hah? Dia cerita tentang apa emangnya?
“OK, Marquis Verde. Kami janji
nggak akan—”
“Oh ya, Marquis Verde. Saran
saya, bapak secepetnya pergi dari sini ya, pak. Jangan sampe Bismont kehilangan
orang kepercayaannya.”
“Ba…Baiklah, Djinn.”
Yaudah, nggak usah pake basa-basi
lagi.
Waktunya kita pergi dari sini.
……………
Kita lari secepet mungkin, sampe
ke deket Marklett.
“Maha, kita mau lari kema—”
“Mending kita ngumpul dulu aja
sama yang lain!”
“O…OK!”
Kita lari untuk balik ke dalem
Marklett.
“Djinn! Kenapa kita lari?!”
“Yang nyerang nggak cuma satu, tapi
ada du—”
“*Cruk! (suara kepala tertembak)”
““DJIIIIINNNN!!!”
Ah, orang lagi lari malah
ketembak kepala gue…
Masa gue hidup lagi di dunia ini
cuma untuk mati ditembak doang, sih?!
“Ma…Maha! Aku coba sembuhin—”
“A…Andai yang kena bukan otaknya, mungkin dia masih bisa disembuhin,
Winona!”
“Ta…Tapi—”
“Dia udah mati, Winona!
Cuma keajaiban aja yang bisa hidupin dia!”
Sialan! Gue masih belom
petualangan untuk kelilingin dunia ini!
“Cih! Andai ada Observer di
antara kita! Mungkin nggak—”
“…”
“I…Itu…”
“Dragonewt-nya?! Berani juga
dia nyamperin kita!”
Tolong, lah! Gue masih mau hidup!
Seenggaknya gue bisa jelajahin 5 negara, deh!
“Yang paling kuat di antara kalian udah mati.
Kalo lawan kalian bertiga…mungkin cuma butuh satu tangan aja.”
“Di…Dia ngeremehin kita!”
“Tapi kan dia—”
“Kita bunuh Dragonewt itu!
Jangan sampe ada lagi nyawa yang hilang karena dia!”
“Hahaha! Emangnya sanggup lo
bunuh gue?! Sadar diri! Lo semua cuma serangga yang hidup cuma untuk gue injek!”
Bajingan! Andai gue masih hidup,
gue bunuh tuh orang!
“*Fwushhh… (suara terbang cepat)”
“Harrit!”
“Ya!”
Tunggu, gue ngerasa ada yang
aneh.
Kenapa gue masih bisa denger
omongan mereka semua?!
Artinya gue belom mati, dong?!
Kalo gitu…
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
…gue hajar nih orang!
“A…Aura siapa i—”
“Woy, bangsat!”
“*Swush… (suara gerakan cepat)”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“Urgh!”
Abis bangun, gue langsung lari ke
arah Dragonewt ini supaya gue bisa pukul.
“Dj…Djinn?!”
“Kok…Kok dia masih hi—”
“Keajaiban! Karena keajaiban, dia
masih bisa hidup!”
Kayaknya yang lain kaget atau
bingung kenapa gue masih bisa hidup. Jangankan mereka, gue aja bingung!
“Kok…Kok lo masih bisa hi—”
“*Tap… (suara menyentuh sayap)”
“Apa gunanya gue jawab bajingan kayak lo?!”
“Lo mau nga—”
“*Krrrk… (suara sayap tertarik)”
“AAAARRRGGGGHHH!!!!”
Keliatannya karena sayap ini dia
bisa gerak cepet. Makanya itu, gue harus copotin sayap dia supaya nggak bisa
terbang.
“Gi…Gila! Kekuatan macam apa
itu?!”
“Sa…Sayap Dragonewt kan…mustahil
“Kalian tenang. Seenggaknya kita beruntung
karena dia masih bisa hidup.”
Gue nggak tau mereka ngomongin
apaan karena terlalu fokus untuk lepas sayap orang ini!
“GRAAAAAGGGHHH!!!”
Tunggu!
Kok gue nyium bau—
“*Boom! (suara ledakan bola api)”
“!!!”
Sialan! Ternyata bener kalo mereka
ada dua!
“Brengsek—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Urgh!”
“Harrit!”
Brengsek! Harrit ditebas begitu—
“Djinn! Jangan sampe nggak fokus!
Biarin Dragonewt ini sama kita bertiga!”
“OK kalo gi—”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
Anjing!
Dia masih bisa nembak perut gue!
“*Dhung! (suara menyundul kepala)”
“Ah, sialan! Kenapa lo masih bisa
nyundul kepala gu—”
“*Krrrkk… (suara sayap tertarik)”
“Urgh… Uarrrghh!”
“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak
tembakan pistol)”
Gue ditembak terus!
Tahan rasa sakitnya, Djinn!
“*Krrrrkkk… (suara sayap
tertarik)”
“*Dor! Dor! Dor! (suara banyak
tembakan pistol)”
Nih orang punya berapa peluru,
sih?!
Kok nggak abis-abis?!
“*Krrrrkkk… (suara sayap hampir
patah)”
“AGH! ARRGGHH!”
Bagus! Sayapnya hampir patah!
Tapi…
“Heh! Denger ya! Gue tau lo
siapa!”
“!!!”
“Gue bisa aja ngomong
kenceng-kenceng supaya yang lain tau! Tapi gue butuh alesan lo!”
“A…Apa maksud lo, breng—”
“*Krrrkkk… (suara sayap hampir
patah)”
“Urgh!”
“Kenapa lo ngelakuin ini semu—”
“RUOAAAAAAARRRR!!!”
“!!!”
Itu…suara teriakan apaan?!
Kok kenceng banget?!
Apa mungkin itu teriakan Na—
“Dragon Killer!”
“*Swush! (suara terbang cepat)”
Brengsek! Dia mau nyerang gue!
“*Bruk! (suara terjatuh)”
Mending gue tinggalin aja
Dragonewt satu ini!
“Hrraaaagh!”
Tangan sampe lengannya tiba-tiba
berapi. Nggak cuma itu aja, bahkan bentuk tangannya kayak…kaki Naga?
Keliatannya dia mau pukul gue
pake tangan apinya itu.
Tapi…
“*Hup! (suara menangkap)”
“Sial! Cepet bang—"
“*Bruk! (suara bantingan)”
…gue masih bisa nangkep
lengannya, terus gue banting dia.
“Haaaargh…”
Brengsek!
Dia mau sembur gue pake apinya?!
Kalo gitu, mending gue tendang
aja dia sebelum dia nendang gue!
“*Dhuk! (suara menginjak)”
“*Krraak! (suara tanduk patah)”
“AAAARGGHHH!!!”
Gue tadinya mau injek mukanya.
Tapi karena dia mau hindarin,
makanya gue malah injek tanduknya sampe patah.
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“*Cruk! (suara kepala tertembak)”
Anjing! Dia masih bisa nembak
kepala gue!
“Masih bisa terbang, kan?!
Mending kita pergi aja dulu dari sini!”
“Ya, kak!”
“*Fwup, fwup, fwup! (suara
kepakan sayap)”
Ah, bangsat!
Sakit banget kepala gue!
Ya, masih mending lah bisa hidup!
Gue mungkin keliatan sekarat,
tapi luka gue semuanya sembuh total walaupun gue jadi agak ngantuk.
Tapi…
“…”
…yang lain pada sekarat karena
Dragonewt yang tanduknya gue patahin tadi.
Oh ya, Winona bisa pake sihir
untuk sembuhin orang, kan?
“Win, lo bisa sembuhin diri
sendiri, nggak?”
“Bi…Bisa, kok.”
“Yaudah sembuhin diri sendiri
dulu aja baru sembuhin yang la—”
“Kenapa nggak sekalian aja?”
Hm?
“Medic Bubble!”
“*Blub, blub, blub… (suara
gelembung)”
Winona pake sihir untuk buat
gelembung yang gede. Siapapun yang ada di dalem gelembung itu bisa sembuh
luka-lukanya.
“Makasih, Winona.”
“Ya.”
Semua yang ada di sini jadi
sembuh, walaupun Harrit keliatannya masih nggak sadar.
“Terus dia gimana?”
“Ehm…”
“Biar gue angkat aja.”
“Eh?! Lo yak—”
“Hap!”
““!!!””
Hah? Mereka berdua kenapa cuma
ngeliatin gue doang?
“Ayo tunggu apa lagi?!”
“Y…Ya…”
Akhirnya kita berdua balik ke
Marklett untuk gabung bareng yang lainnya
“Kok dia masih bisa ngangkat
orang ya? Kan Beastman itu beratnya bisa lebih dari 100-kizlat, ya…?”
“Ssstt! Jangan suka ngomongin
orang, Winona!”
“Ups, maaf!”
Dikira gue nggak denger kali ya
mereka bisik-bisik apaan.
Ya ujung-ujungnya balik lagi:
Jangankan mereka, gue aja nggak
tau.
Tapi tadi 100 apaan? Kizlat?
Maksudnya ‘kilogram’ kali ya?
Ah nggak usah dipikiran lah,
jalan aja dulu ke yang lainnya.