Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 229. Knew Her Too



Beberapa saat sebelum Wickerd mengamuk dan dikalahkan oleh gabungan kekuatan dari para Petualang dan Siren.


““…””


Tiga anggota Aquilla lainnya dan Delolliah sedang berlari menyusul Myllo yang saat itu sedang menghadapi Klavak dan Serpentis Guild.


“Dalbert, gimana kabar Myllo?!”


“Dia udah bareng Djinn, walaupun sendirian!”


Seru Dalbert dengan cemas, sambil berlari bersama Gia, Garry, dan Delolliah, sembari ia mengamati Myllo menggunakan mata elang miliknya.


“Aquilla! Mari kita bergerak secepatnya dan menyusul Myllo!”


““OK!””


Jawab ketiga anggota Aquilla kepada Delolliah.


Sementara Styx dan Machinno…


“*Bruk!”


“Aduh! Kenapa nggak bener sih larinya?!”


…masih berkutat dengan Chimera yang mereka tunggangi, yang bergerak dengan sembarangan dan menabrak koral.


“Machinno! Gue pergi sekarang deh dari sini!”


“…”


Machinno langsung menggenggam erat pakaian Styx ketika ia merasa ditinggalkan olehnya.


“Machinno…”


“…”


“…takut sendirian.”


Jawab Machinno dengan lambat, yang diikuti dengan ekspresi imutnya.


Melihat mahluk mungil tersebut…


“YA AMPUN IMUT BANGET!!!”


…Styx mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkannya.


“Y-Y-Yaudah! Kita sama-sama kesana! Tapi jangan kelamaan, ya?!”


“…”


“Ma-Machi—”


“Whaaa…”


Senyum Machinno dengan imut.


Oleh karena itu, ia tetap melanjutkan perjalanan dengan Machinno, walaupun perjalanannya tidak semudah yang ia harapkan.


Di belakang mereka berdua, Jennania dan Nemesia juga ikut menyusul Myllo yang menghampiri Djinn.


Namun, mereka melihat adanya kekacauan di tengah peperangan.


“Ma-Mahluk apakah itu?!”


Tanya Nemesia dengan terkejut setelah melihat Wickerd raksasa.


“Aku juga tidak tahu, Kakak Nemesia! Sepertinya, mahluk itu dibawa bersama dengan Chemia Guild!”


“Chemia Guild? Maksudmu kumpulan Petualang yang datang di hadapan kita, ketika kau dan Mahluk Fana itu


menghadapiku?”


“Ya, kau benar. Tetapi…”


“Hm?”


“…“Mahluk Fana” yang kau sebut itu bernama Myllo, Kakak Nemesia!”


“Ba-Baik, maafkan aku.”


Balas Nemesia setelah mendengar adiknya dengan tatapan yang dingin.


“Iadolis, kau mendengarku?”


Tanya Nemesia yang menggunakan telepati kepada Iadolis.


“Apa yang kau mau, Nemesia? Bukankah—”


“Tidak. Aku hanya ingin agar engkau membawa Pauranha untuk menghadapi mahluk itu.”


“Kau memerintahkanku?! Kau pikir kau sia—”


“Jika kau sanggup menghadapi mahluk itu, maka aku menyerahkannya kepadamu! Aku hanya memberi saran kepadamu, bukan memerintahkanmu!”


Jawab Nemesia kepada Iadolis, sambil melanjutkan perjalanannya bersama Jennania.


“Kau adalah satu-satunya petarung di antara kami semua, Iadolis! Semoga masih ada kebaikan dalam hatimu demi kami, para Siren!”


Pikir Nemesia.


……………


Kembali ke perjalanan tiga anggota Aquilla bersama Delolliah.


“Itu Myllo!”


Teriak Gia kepada mereka, sambil menyaksikan Myllo yang akan menghadapi Klavak dan anggota Serpentis lainnya.


Dengan tergesa-gesa, mereka hendak menyusul Myllo.


Namun…


“*Bruk…”


““…””


…Gadlu datang di hadapan mereka dan menghalangi jalan mereka.


“Tunggu, tunggu, tunggu! Kalian nggak boleh susul dia, loh!”


Sahut Gadlu kepada mereka semua.


Karena kedatangannya, mereka pun mempersiapkan diri mereka untuk menghadapinya.


((Sirena: Lanza))


“*Shringgg…”


Delolliah menggunakan Sihir Siren untuk menciptakan tombak yang besar.


((Bracelet Armament: Knives))


Dalbert merubah elangnya menjadi dua pisau.


“*Prang…”


Gia menggenggam World Quaker dengan keras.


Sedangkan Garry…


“N-N-N-Nah! Mati sia, anying!”


…hanya menyemangati mereka dari balik koral.


““JANGAN NGUMPET, GARRY!!!””


Teriak Gia dan Dalbert kepada Garry dengan kesal.


Sementara Delolliah…


“Haaaah…”


…hanya bisa menghela nafas melihat aksi pengecutnya.


“Hahaha! Aduh, Aquilla! Kayaknya GT News berlebihan deh sebut kalian semua sebagai pahlawan Erviga! Masa ada kelompok pahlawan yang pecundang kayak orang kecil itu?!”


Cemooh Gadlu kepada mereka semua.


“Coba kalian liat semua Petualang dari Serpentis yang ada di sana.”


Lanjut Gadlu, sambil mengalihkan pandangannya ke pertarungan Myllo yang bertarung dengan Serpentis Guild, termasuk Klavak.


“Selain Klavak, yang ada di sana itu cuma Kasta Kuning sama Kasta Jingga! Tapi coba liat kalian! Nggak ada dari antara kalian yang lebih dari Kasta Kuning! Daripada kenapa-kenapa, mending kalian semua liat Kapten kalian yang—”


““…””


“Oi, oi, oi! Saya lagi ngomong!”


Seru Gadlu, ketika ia melihat Garry, Dalbert, dan Delolliah yang berlari meninggalkannya.


Sedangkan Gia…


“Hraaaaagh!”


“*PRANG!!!”


…memulai pertarungan dengannya.


“!!!”


Gia terkejut dengan Gadlu yang menangkal pedang besar miliknya hanya dengan sayapnya.


“Hehe! Kaget ya liat sayap saya, Gia?!”


“*Sssssrrrtttt…”


Gadlu mendorong Gia dengan keras hingga ia terlempar jauh, walaupun ia masih bisa berdiri karena pedang yang menancap ke tanah.


“Kamu itu temennya Snake yang hancurin desa aku, kan?!”


“Hm? Oh! Yang waktu itu, ya?! Ah, kayak gitu sih hal sepele aja! Makanya saya lupa—”


“HRAAAGH!!!”


“*PRANG!!!”


“*PRANG, PRANG, PRANG…”


Ia terus mengayunkan pedang besarnya, walaupun Gadlu dengan mudah menangkal serangannya.


“BAWA TEMEN KAMU YANG NAMANYA SNAKE!!!”


“Hah? Snake ada urusan penting, jadi dia nggak—”


“DASAR GUILDMASTER PENGECUT!!!”


“*PRANG”!


Seru Gia sambil terus mengayunkan pedang besarnya.


Walaupun Gia mengayunkan pedangnya dengan sangat keras, namun Gadlu dengan tenang terus menangkal


serangan pedang besarnya dengan menggunakan sayapnya.


Hingga akhirnya…


“Huff! Huff! Huff!”


…Gia kelelahan dengan sia-sia.


“Udah? Segitu aja?”


Tanya Gadlu, sambil memandang Gia yang berlutut karena kelelahan.


“A-Apa-apaan dia?! Kenapa sayapnya keras banget?! Apa itu sihir dia?!”


Pikir Gia di tengah kelelahannya.


“Siapa nama anda? Gia, ya?”


“…”


“Apa Lorvah ngajarin anda untuk nggak tenang kayak gitu?”


“!!!”


Gia terkejut ketika Gadlu menyebut nama wanita yang ia anggap seperti ibunya sendiri. Dengan semakin marah, ia hendak menyerang Gadlu kembali, walaupun kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk bertarung.


Oleh karena itu…


“Jangan… kamu sebut… nama Lorvah… sembarangan!”


“*Hup…”


…Gadlu dengan mudah menangkap World Quaker yang Gia gunakan untuk kembali menyerangnya.


“Keuk!”


“Denger baik-baik ya, Gia.”


“*Swung…”


“*Bruk, bruk, bruk…”


“Akh!”


Gadlu melempar Gia lewat pedang besar yang masih Gia genggam erat, hingga ia terlontar-lontar.


“Lorvah yang saya kenal itu bukan orang yang nggak gampang hilang ketenangannya.”


“…”


Gia berusaha berdiri, namun ia sudah tidak sanggup.


“Si-Siapa kamu…? Nggak usah… sok kenal kamu… sama Lorvah…!”


Sahut Gia di tengah kelemahannya.


“Anda nggak kenal saya, ya? Apa mungkin Lorvah nggak pernah ceritain tentang Party dia sebelumnya ke anda?”


“Ma-Maksud kamu… Ursa Borealis…?”


“Oh, ternyata udah. Tapi kayaknya dia nggak pernah ceritain tentang anggotanya, ya?”


“A-Anggotanya…?”


“Ya. Buktinya anda nggak kenal saya.”


“!!!”


Gia terkejut ketika mengerti maksud dari Gadlu.


“Ka-Kamu itu…”


“Gadlu, Mantan Frontliner dari Ursa Borealis Guild.”


Jelas Gadlu di tengah ketidakberdayaan Gia.


“Anda nggak cuma disayang Lorvah karena rasa bersalah dia ke Mergie, ibu anda. Anda bahkan dipercaya untuk pegang pedang itu, Margia!”


“…”


“Jangan kecewain saya, yang masih punya rasa percaya sama pilihan Lorvah! Tapi, sebagai orang yang sama-sama berguru sama Lorvah, biar saya kasih tau sedikit ke anda!”


“…”


Gia sudah tidak kuasa untuk tetap tersadar karena rasa lelah dan sakit yang ia rasakan. Oleh karena itu Gadlu


menghampiri dan duduk di depannya dengan perlahan-lahan.


“Saya juga benci Derrek, loh. Kalo nggak karena Snake, mungkin saya udah bunuh dia langsung, 10 tahun yang lalu!”


Jelas Gadlu, dengan air mata menggelinang dan ekspresi kemarahannya.


“…”


Ia menatap Gia, lalu berpikir bahwa perempuan di depannya ini sudah tidak sadar.


“*Ternyata nggak cuma gampang kehilangan ketenangan aja ya. Anda ternyata jauh lebihlemahdari yang saya kira*.”


“…”


“Yah, lagi-lagi saya dikecewain anda, Lorvah.”


Bisik Gadlu, sambil berusaha mengambil World Quaker dari genggaman Gia.


Akan tetapi…


“Umph!”


…ia tidak bisa melepas World Quaker dari genggaman Gia yang sangat keras.


Hingga pada akhirnya, Gadlu mendapatkan suatu kejutan.


“*Bruk!”


“Aduh! Apaan, tuh?!”


Serunya, setelah ia terkena cipratan darah dari Wickerd yang meledak, serta terkena kepingan organ tubuhnya.


Ditengah kelengahannya…


((Iron…


“Hm?!


…CRUSHER))


“*PRANG!!!”


“Urgh!”


“*Bruk, bruk, bruk…”


…Gia menyerangnya dan kembali pingsan.


“*Crat, crat, crat…”


Karena serangannya, dada Gadlu pun berkucuran darah.


Walaupun terluka, ia merasa puas.


“Ternyata anda percaya perempuan ini karena tekad ya, Lorvah?”


Pikir Gadlu, seakan berbicara dengan Lorvah.


Tidak lama kemudian, bala bantuan datang untuk Gia.


“Hraaagh!”


“*Chringgg…”


Nemesia datang dan langsung menyerang Gadlu dengan Wavebringer, walaupun Gadlu juga mampu menahan serangan dari senjata kuno itu.


“Oho! Ternyata ini ya Permaisuri di tempat ini?!”


Seru Gadlu kepada Nemesia.


Sementara Jennania menghampiri Gia dan menyembuhkannya.


((Sirena: Curar))


Sambil menyembuhkannya, Jennania menganalisa kondisinya.


“Sepertinya ia hanya kelelahan saja.”


Pikir Jennania, sambil menyembuhkan Gia dan melihat pertarungan antara Nemesia melawan Gadlu.


“Syukurlah, Gia. Sepertinya kau cukup beruntung masih bisa selamat melawan pria sekuat Bathiman itu.”


Bisik Jennania.


Namun, di tengah proses penyembuhannya, Jennania melihat sesuatu yang janggal dari Gia.


“Gia? Mengapa kau menangis?”


Tanya Jennania kepada Gia yang menangis di tengah ketidaksadarannya.