Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 25. Two Monsters



Saat Djinn dan Myllo sedang


membuat kekacauan di pelabuhan dan sama-sama mengalahkan kelima Kakak Besar


serta beberapa anggota Children of Purgatory, keadaan pun semakin tegang di


dalam sebuah ruangan di dalam kapal.


Di ruangan itu, terdapat Bjüdrox


dan dua anggota Goldiggia di belakangnya yang sedang berbincang bersama dengan


kliennya, yang tidak lain adalah anggota dari Children of Purgatory.


Dan di pinggir ruangan, terdapat


Styx yang telah tertusuk Anti Demon Stake, sehingga benda tersebut membuatnya


tidak sadarkan diri.


“*…bruk… (suara benda terjatuh


dari jauh)”


“*…boom… (suara ledakan dari


jauh)”


“Hmm… Sepertinya di luar sana


kacau sekali, Kakak Tertua.”


Kata klien Bjüdrox yang dikenal


dengan Galziq, yang juga membawa dua anggota di belakangnya


Ia adalah anggota dari Children


of Purgatory, yang dikenal memiliki kedudukan yang cukup tinggi di dalam sekte


tersebut.


Mendengar kalimat tersebut,


Bjüdrox pun seketika berkucur keringat di dahinya.


Bukan karena ia takut akan latar


belakang kliennya itu, melainkan karena takut kehilangan kliennya yang siap


membayarnya dengan harga yang sangat mahal.


“Tu…Tunggu sebentar saja. Saya


yakin masalah tersebut akan se—”


“Kakak Tertua…”


“*Zhum… (suara aura mengerikan)”


“!!!”


“Saya yakin Kakak Tertua ingin


transaksi ini cepat selesai, kan?”


“Be…Benar, Tuan Galziq. Lagipula,


anda pasti juga membutuhkan perempuan ini, kan?”


Kata Bjüdrox, sambil berusaha


untuk menjaga ketenangannya.


Karena merasakan aura mengerikan


darinya, Bjüdrox sebenarnya tidak hanya takut saja, melainkan kesal dengan


Djinn yang ia yakini sedang membuat kekacauan di pelabuhan.


“Cih! Awas saja kau, Anak


Haram! Jika sampai transaksi ini gagal, saya akan menyaksikan anda tersiksa


hingga bertubi-tubi!”


Pikir Bjüdrox, sementara ia tidak


tahu bahwa Kakak Besar-nya telah dikalahkan bukan oleh Djinn.


Sementara Galziq, merasa


pernyataan dari Bjüdrox tadi terdengar sombong baginya.


“Kakak Tertua.”


“Ya?”


“Jika anda berpikir kayak gitu,


sebenernya saya sih bisa aja langsung bunuh anda sekarang, terus bawa perempuan


itu.”


“?!?!”


“Tapi karena saya datengnya


baik-baik, makanya saya mau ‘transaksi’ ini berjalan mulus, tanpa ada masalah


sama sekali. Makanya itu saya mau Kakak Tertua untuk selesain dulu semua


masalahnya supaya transaksi ini aman. Paham?”


Jelas Galziq dengan tatapan


dinginnya.


“Lagian, anda juga mau ikut kita


untuk keluar dari sini, kan?”


“Hah? Maksud anda—”


“Jangan anda pikir kita nggak


tahu, deh. Anda sendiri udah rela ninggalin semua pasukan anda di tempat ini,


termasuk Kakak Besar anda, terus mau bayar kita untuk ke cabang anda di luar


negara ini, kan?”


“!!!”


Bjüdrox pun terkejut mendengar


Galziq yang mengetahui rencananya.


“Ba…Bagaimana anda bisa tahu,


Tuan Galziq?!”


“Ya kalo anda mau jujur


sih…sebenernya sih gampang banget untuk nebak arah pergerakan orang selicik


anda. Tapi tenang aja, saya nggak nyalahin kelicikan anda kok, Kakak Tertua.”


Balas Galziq yang menjawab


pertanyaan Bjüdrox.


Seketika, Bjüdrox pun teringat


akan pertanyaan Bon Kargal ketika ia bersama anggotanya hendak pergi ke Port


Marzhael.


“Kakak Tertua, apakah anda yakin mau menjalankan transaksi dengan mereka?”


Mengingat itu pun, Bjüdrox pun berpikir


“Cih! Sepertinya keraguanmu


benar, Bon Kargal! Sepertinya orang-orang ini terlalu berbahaya!”


Di saat keadaan di dalam ruangan


tersebut dalam keadaan hening, tiba-tiba terdengar suara Orb Call dari kantung


Galziq.


“Hm? Granggo? Apa lagi yang mau


dia sampain?”


Bisik Galziq sambil membuka Orb


Call itu.


Namun, alih-alih mendapat


panggilan dari Granggo, suara dari balik Orb Call tersebut justru adalah salah


satu orang yang harus ia hindari.


“Ada apa Granggo? Apa ada masalah


untuk eksekusinya?”


“Ekskusi? Maksud lo…eksekusi


Putri dari Vamulran Kingdom ini?”


“Hm? Kedengerannya lo bukan


Granggo.”


“Jelas bukan. Karena orang yang


lo panggil Granggo ini udah mati di tangan gue!”


“Bismont Louisson!


Jangan lo pikir gue mau tanya nama lo juga! Gue nggak butuh untuk kenal orang


sesat kayak lo!”


““!!!””


Galziq dan Bjüdrox pun


benar-benar terkejut ketika mendengar nama Bismont dari balik Orb Call itu.


“Ah. Ma…Maafkan saya, Duke


Louisson. Bisa anda ulang sekali lagi apa yang anda bilang tadi?”


“Oh, gue bilang tadi orang


yang namanya Granggo tadi ini udah gue bunuh. Dan tambahan sedikit, gue nggak


butuh formalitas lo!”


Seru Bismont dari balik Orb Call


itu.


Tangan Galziq yang sedang


menggenggam Orb Call itu pun mulai bergetar setelah mendengar kejelasan kabar


Granggo dari Bismont.


“Duke Louisson—Enggak, Bismont.


Mending lo nggak usah ikut campur urusan kami. Kalo lo tarik diri, gue pastiin


Erviga aman dari serangan ka—”


“Aman?! Mending lo pastiin


dulu kalo lo semua aman dari Dua Monster yang lagi ngamuk di sana!”


“Dua Monster?! Maksud lo siapa?!”


“Djinnardio Vamulran sama Bang


Myllo Olfret!”


“!!!”


Galziq pun terkejut mendengar


nama seseorang yang tidak ia sangka.


“My…Myllo Olfret?! Maksud


lo…anggota dari Aquila?!”


“Ya! Untuk kalian para


penyembah berhala, pasti kalian nggak asing denger nama itu!”


Seru Bismont.


Namun, ketika mendengar nama


Myllo, Galziq justru…


“Ahahaha!”


…tertawa mendengar namanya.


Orang itu, yang katanya


cuma ‘dekorasi’ di Aquila itu, lo sebut Monster—”


“Jangan pernah remehin satu


pun anggota dari Party yang hancurin Hell’s Gate!”


“!!!”


“Apalagi, Djinnardio Vamulran!


Lo macem-macem sama mereka, abis lo semua!”


Lanjut seruan Bismont.


“Lo denger ini juga kan,


Bjüdrox?!”


“Ha…Hah?!”


“Lo udah nyiksa, terus bunuh


orang yang paling setia untuk dia! Lo juga udah manfaatin sodaranya! 


Jangan lo pikir lo bisa lepas dari amukan—”


“*Crang! (suara Orb Call pecah)”


Galziq pun membanting Orb Call


miliknya ketika Bismont sedang berbicara dengan Bjüdrox.


“Haaah… Semua jadi kacau!”


“Tu…Tuan Galziq?”


Bjüdrox pun merasa takut dan


bingung melihat reaksi Galziq.


“Elmar.”


“Ya, Bos.”


Salah satu anak buah dari Galziq


yang bernama Elmar itu seketika langsung mengeluarkan sebuah pisaunya yang akan


ia lempar.


“*Cyut! (suara lemparan pisau)”


““*Shruk! (suara tertusuk pisau)””


Saat ia lemparkan, pisau itu pun


bergerak dengan lurus melingkar hingga menembus kepala kedua anggota Goldiggia


yang berada di belakang Bjüdrox.


““*Bruk… (suara terjatuh)””


“Hiieekh!”


Teriak Bjüdrox dengan panik


setelah ia melihat kematian kedua anggotanya.


“Tu—Tidak! Galziq, apa maksud


anda ini—”


“*Krrr… (suara menggenggam


kepala)”


“Gyaagh!”


Kepala Bjüdrox pun dipegang oleh


Galziq dengan keras, hingga ia merasa kesakitan.


“Heh, babi! Denger ya! kalo nggak


karena lo, adek gue mungkin harusnya ada di sini! Bukannya mati sama pasukan


Erviga! Paham?!”


“Aaagh! Lepaskan! Lepaskan tangan


anda!”


“Gue sebenernya mau rekrut lo


untuk masuk ke golongan kami, tapi keliatannya Children of Purgatory nggak


butuh sampah kayak lo!”


“*Shrrat! (suara menyayat leher)”


Galziq pun membunuh Bjüdrox.


“Bos, sekarang kita ngapain?”


“Kita pergi sekarang. Elmar, lo


kendarain kapal ini. Nizim, lo lepas pasak yang nusuk perempuan ini.”


“OK, Bos.”


Kedua anak buah dari Galziq pun


langsung menjalankan perintahnya.


“Granggo. Usaha lo nggak akan sia-sia.


Kita kehilangan lo, tapi seenggaknya kita dapet bisa sambut ‘kedatangan-Nya’


karena lo, dek.”


Pikir Galziq sambil bersiap-siap


untuk pergi dari Erviga Kingdom.