
Saat Djinn dan Myllo sedang
membuat kekacauan di pelabuhan dan sama-sama mengalahkan kelima Kakak Besar
serta beberapa anggota Children of Purgatory, keadaan pun semakin tegang di
dalam sebuah ruangan di dalam kapal.
Di ruangan itu, terdapat Bjüdrox
dan dua anggota Goldiggia di belakangnya yang sedang berbincang bersama dengan
kliennya, yang tidak lain adalah anggota dari Children of Purgatory.
Dan di pinggir ruangan, terdapat
Styx yang telah tertusuk Anti Demon Stake, sehingga benda tersebut membuatnya
tidak sadarkan diri.
“*…bruk… (suara benda terjatuh
dari jauh)”
“*…boom… (suara ledakan dari
jauh)”
“Hmm… Sepertinya di luar sana
kacau sekali, Kakak Tertua.”
Kata klien Bjüdrox yang dikenal
dengan Galziq, yang juga membawa dua anggota di belakangnya
Ia adalah anggota dari Children
of Purgatory, yang dikenal memiliki kedudukan yang cukup tinggi di dalam sekte
tersebut.
Mendengar kalimat tersebut,
Bjüdrox pun seketika berkucur keringat di dahinya.
Bukan karena ia takut akan latar
belakang kliennya itu, melainkan karena takut kehilangan kliennya yang siap
membayarnya dengan harga yang sangat mahal.
“Tu…Tunggu sebentar saja. Saya
yakin masalah tersebut akan se—”
“Kakak Tertua…”
“*Zhum… (suara aura mengerikan)”
“!!!”
“Saya yakin Kakak Tertua ingin
transaksi ini cepat selesai, kan?”
“Be…Benar, Tuan Galziq. Lagipula,
anda pasti juga membutuhkan perempuan ini, kan?”
Kata Bjüdrox, sambil berusaha
untuk menjaga ketenangannya.
Karena merasakan aura mengerikan
darinya, Bjüdrox sebenarnya tidak hanya takut saja, melainkan kesal dengan
Djinn yang ia yakini sedang membuat kekacauan di pelabuhan.
“Cih! Awas saja kau, Anak
Haram! Jika sampai transaksi ini gagal, saya akan menyaksikan anda tersiksa
hingga bertubi-tubi!”
Pikir Bjüdrox, sementara ia tidak
tahu bahwa Kakak Besar-nya telah dikalahkan bukan oleh Djinn.
Sementara Galziq, merasa
pernyataan dari Bjüdrox tadi terdengar sombong baginya.
“Kakak Tertua.”
“Ya?”
“Jika anda berpikir kayak gitu,
sebenernya saya sih bisa aja langsung bunuh anda sekarang, terus bawa perempuan
itu.”
“?!?!”
“Tapi karena saya datengnya
baik-baik, makanya saya mau ‘transaksi’ ini berjalan mulus, tanpa ada masalah
sama sekali. Makanya itu saya mau Kakak Tertua untuk selesain dulu semua
masalahnya supaya transaksi ini aman. Paham?”
Jelas Galziq dengan tatapan
dinginnya.
“Lagian, anda juga mau ikut kita
untuk keluar dari sini, kan?”
“Hah? Maksud anda—”
“Jangan anda pikir kita nggak
tahu, deh. Anda sendiri udah rela ninggalin semua pasukan anda di tempat ini,
termasuk Kakak Besar anda, terus mau bayar kita untuk ke cabang anda di luar
negara ini, kan?”
“!!!”
Bjüdrox pun terkejut mendengar
Galziq yang mengetahui rencananya.
“Ba…Bagaimana anda bisa tahu,
Tuan Galziq?!”
“Ya kalo anda mau jujur
sih…sebenernya sih gampang banget untuk nebak arah pergerakan orang selicik
anda. Tapi tenang aja, saya nggak nyalahin kelicikan anda kok, Kakak Tertua.”
Balas Galziq yang menjawab
pertanyaan Bjüdrox.
Seketika, Bjüdrox pun teringat
akan pertanyaan Bon Kargal ketika ia bersama anggotanya hendak pergi ke Port
Marzhael.
“Kakak Tertua, apakah anda yakin mau menjalankan transaksi dengan mereka?”
Mengingat itu pun, Bjüdrox pun berpikir
“Cih! Sepertinya keraguanmu
benar, Bon Kargal! Sepertinya orang-orang ini terlalu berbahaya!”
Di saat keadaan di dalam ruangan
tersebut dalam keadaan hening, tiba-tiba terdengar suara Orb Call dari kantung
Galziq.
“Hm? Granggo? Apa lagi yang mau
dia sampain?”
Bisik Galziq sambil membuka Orb
Call itu.
Namun, alih-alih mendapat
panggilan dari Granggo, suara dari balik Orb Call tersebut justru adalah salah
satu orang yang harus ia hindari.
“Ada apa Granggo? Apa ada masalah
untuk eksekusinya?”
“Ekskusi? Maksud lo…eksekusi
Putri dari Vamulran Kingdom ini?”
“Hm? Kedengerannya lo bukan
Granggo.”
“Jelas bukan. Karena orang yang
lo panggil Granggo ini udah mati di tangan gue!”
“Bismont Louisson!
Jangan lo pikir gue mau tanya nama lo juga! Gue nggak butuh untuk kenal orang
sesat kayak lo!”
““!!!””
Galziq dan Bjüdrox pun
benar-benar terkejut ketika mendengar nama Bismont dari balik Orb Call itu.
“Ah. Ma…Maafkan saya, Duke
Louisson. Bisa anda ulang sekali lagi apa yang anda bilang tadi?”
“Oh, gue bilang tadi orang
yang namanya Granggo tadi ini udah gue bunuh. Dan tambahan sedikit, gue nggak
butuh formalitas lo!”
Seru Bismont dari balik Orb Call
itu.
Tangan Galziq yang sedang
menggenggam Orb Call itu pun mulai bergetar setelah mendengar kejelasan kabar
Granggo dari Bismont.
“Duke Louisson—Enggak, Bismont.
Mending lo nggak usah ikut campur urusan kami. Kalo lo tarik diri, gue pastiin
Erviga aman dari serangan ka—”
“Aman?! Mending lo pastiin
dulu kalo lo semua aman dari Dua Monster yang lagi ngamuk di sana!”
“Dua Monster?! Maksud lo siapa?!”
“Djinnardio Vamulran sama Bang
Myllo Olfret!”
“!!!”
Galziq pun terkejut mendengar
nama seseorang yang tidak ia sangka.
“My…Myllo Olfret?! Maksud
lo…anggota dari Aquila?!”
“Ya! Untuk kalian para
penyembah berhala, pasti kalian nggak asing denger nama itu!”
Seru Bismont.
Namun, ketika mendengar nama
Myllo, Galziq justru…
“Ahahaha!”
…tertawa mendengar namanya.
Orang itu, yang katanya
cuma ‘dekorasi’ di Aquila itu, lo sebut Monster—”
“Jangan pernah remehin satu
pun anggota dari Party yang hancurin Hell’s Gate!”
“!!!”
“Apalagi, Djinnardio Vamulran!
Lo macem-macem sama mereka, abis lo semua!”
Lanjut seruan Bismont.
“Lo denger ini juga kan,
Bjüdrox?!”
“Ha…Hah?!”
“Lo udah nyiksa, terus bunuh
orang yang paling setia untuk dia! Lo juga udah manfaatin sodaranya!
Jangan lo pikir lo bisa lepas dari amukan—”
“*Crang! (suara Orb Call pecah)”
Galziq pun membanting Orb Call
miliknya ketika Bismont sedang berbicara dengan Bjüdrox.
“Haaah… Semua jadi kacau!”
“Tu…Tuan Galziq?”
Bjüdrox pun merasa takut dan
bingung melihat reaksi Galziq.
“Elmar.”
“Ya, Bos.”
Salah satu anak buah dari Galziq
yang bernama Elmar itu seketika langsung mengeluarkan sebuah pisaunya yang akan
ia lempar.
“*Cyut! (suara lemparan pisau)”
““*Shruk! (suara tertusuk pisau)””
Saat ia lemparkan, pisau itu pun
bergerak dengan lurus melingkar hingga menembus kepala kedua anggota Goldiggia
yang berada di belakang Bjüdrox.
““*Bruk… (suara terjatuh)””
“Hiieekh!”
Teriak Bjüdrox dengan panik
setelah ia melihat kematian kedua anggotanya.
“Tu—Tidak! Galziq, apa maksud
anda ini—”
“*Krrr… (suara menggenggam
kepala)”
“Gyaagh!”
Kepala Bjüdrox pun dipegang oleh
Galziq dengan keras, hingga ia merasa kesakitan.
“Heh, babi! Denger ya! kalo nggak
karena lo, adek gue mungkin harusnya ada di sini! Bukannya mati sama pasukan
Erviga! Paham?!”
“Aaagh! Lepaskan! Lepaskan tangan
anda!”
“Gue sebenernya mau rekrut lo
untuk masuk ke golongan kami, tapi keliatannya Children of Purgatory nggak
butuh sampah kayak lo!”
“*Shrrat! (suara menyayat leher)”
Galziq pun membunuh Bjüdrox.
“Bos, sekarang kita ngapain?”
“Kita pergi sekarang. Elmar, lo
kendarain kapal ini. Nizim, lo lepas pasak yang nusuk perempuan ini.”
“OK, Bos.”
Kedua anak buah dari Galziq pun
langsung menjalankan perintahnya.
“Granggo. Usaha lo nggak akan sia-sia.
Kita kehilangan lo, tapi seenggaknya kita dapet bisa sambut ‘kedatangan-Nya’
karena lo, dek.”
Pikir Galziq sambil bersiap-siap
untuk pergi dari Erviga Kingdom.