
“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”
“…”
Brengsek, pergi lagi Ghoul King itu.
“…”
Gue liat ada banyak Ghoul yang gepeng. Mungkin karena
diinjek Ghoul King?
Yang lebih penting sekarang, gimana caranya gue bawa
mereka keluar dari tempat ini.
“Myl! Gia! Sorry gue telat dateng!”
“Ahahaha! Djinn, lo ketinggalan bagian serunya! Hehe!”
Dasar Dongo! Masih sempet-sempetnya dia ketawa!
Ya, gitu lah tipikal Myllo.
“Eh iya, ada yang mau gue tunjukkin sama kalian.”
“Ada apa?”
“Nanti aja, yang penting kita pergi dulu dari tempat
ini. Myl.”
“Bener juga. Ayo kita pergi!”
“Ya!”
Si Gia udah nggak sadar, ya?
Liat dia luka-luka aja gue udah kasian, gimana kalo
dia tau orang panutannya itu Ghoul King?
Ya ujung-ujungnya sih dia harus tau.
“Djinn…lo bisa bantu angkat dia, nggak?”
“…”
Myllo keliatannya juga luka-luka, sih.
Tadinya gue mau bilang dia aja yang bawa karena gue
udah kebanyakan barang bukti. Tapi keliatannya dia aja susah jalan, gimana mau
bawa Gia?
Yaudah lah gue angkat Gia aja.
“Hehe…gue capek, sekalian ya!”
“Woy! Lo masih bisa jalan juga!”
“Haaah…andai ada minuman, mungkin gue bisa jalan,
Djinn—”
“MINUM MULU PIKIRANNYA!”
Haaah…andai mereka sehat-sehat aja, mungkin gue nggak
perlu angkat mere—
“*Ngungg… (suara sihir penyembuhan)”
Kok mereka tiba-tiba ada keliauan cahaya?
“Hah?! Badan gue tiba-tiba enteng!”
“Hah?! Aku ada di mana?!”
Loh, kok mereka berdua tiba-tiba sembuh?!
“Kyaaa! Gue digendong Djinn, kayak putri yang diangkat
pangeran ke kas—”
“*Bruk! (suara jatuh)”
“Aduuuuuh! Hey, kalo nggak mau gendong, ya nggak
dilepas juga ka—”
“*Bruk! (suara terjatuh)”
““Djinn?!””
Loh, kok tiba-tiba…gue…yang…nggak…sa…dar…
..............
“Djinnardio, maafkan ibu, nak.”
Hah?!
Kaget gue ada suara tiba-tiba di ‘tempat’ ini.
Sambil ngeliat cuplikan Djinnardio yang dipeluk ibunya
yang lagi nangis, gue masih coba pikirin kenapa gue bisa pingsan.
Kalo nggak salah, Myllo sama Gia tiba-tiba sehat.
Padahal mereka tadinya banyak luka.
Kok mereka tiba-tiba bisa sehat?
Gue pun kadang suka sembuh sendiri dari luka gue
secara tiba-tiba.
Jangan-jangan mereka kayak gitu karena gue…
“Tidak apa-apa, bu. Selama kita bertiga masih bisa
bersama, aku tetap merasa menjadi orang yang paaaaaling bahagia di dunia!”
“Terima kasih, nak. Terima kasih…hiks…”
Bener. Apapun kondisinya, kalo keluarga masih bisa
kompak, pasti bawaannya selalu bahagia.
Andai keluarga gue dulu kayak gitu.
“…”
Oh, kayaknya udah mau sadar gue…
..............
“…”
“…uuuaahaha! Di…Dia meningg—”
“Ih! Ngasal banget sih kalo ngomong!”
Hm? Mereka debatin apaan?
“Hoaaaammm! Gue ada di mana?”
“Djinn!!! Syukurlah kamu udah sadar!”
“Huuuuaaaa!!!"
Kenapa Si Dongo nangis?!
"Djinn, gue kira lo udah mati, Djinn!”
“Lo aja yang gue bikin mati!”
“Haaaaaah?! Padahal gue khawatirin lo, tapi lo mau
bunuh gue?!”
Hehe! Dasar Si Dongo satu ini.
Waktu gue bangun, ternyata kita semua udah balik di
tempatnya Lorvah.
Oh iya! Barang bukti gue!
“…”
Huh, untung masih ada.
“Oh ya, ada yang mau gue kasih tau ke kalian. Ini
masalahnya lebih serius dari yang awalnya kita kira.”
““Hm?””
Gue akhirnya kasih unjuk semua barang bukti yang udah
gue dapet, mulai dari album foto yang ada foto kita bertiga, foto Derrek selama
jadi Petualang, sampe catatan harian Derrek.
“Cih! Dasar Kepala Desa biadab! Nggak bisa dimaafin
orang ini!”
“Iya. Dia udah tau siapa kita bertiga, khususnya
identitas asli gue siapa.”
“Maksud kamu?”
“Mereka tau Djinnardio Vamulran siapa.”
“Kok bisa tau?!”
“Gue…nggak tau kenapa bisa.”
Bener, gue nggak tau kenapa mereka bisa tau.
Karena menurut gue sendiri, yang jauh lebih bahaya itu
bukan Derrek, tapi orang yang namanya Snake itu.
Dia dalang dibalik semua kejadian ini.
“…”
Kenapa Myllo diem aja?
“Myl.”
“Hmm?”
“Lo udah tau, kan?”
Gue langsung ‘tembak’ aja Myllo, karena menurut gue,
sekarang bukan waktunya tutup-tutupan.
“Ya…sebenernya Zegin udah ngasih tau gue.”
Tuh, bener kan. Saking dongonya orang ini, gue sampe
lupa kalo dia punya dewa di dalemnya.
“Ke…Kenapa kamu nggak kasih tau aku, Myl?!”
“Karena gue takut kalo lo sedih karena selama ini lo
lawan warga desa lo sendiri.”
Myllo ada benernya sih.
Kalo sampe ada ragu sedikit, mungkin Gia nggak bakal
bisa untuk angkat pedangnya ke Ghoul lagi.
“Andai gue masih punya bukti bayi Ghoul yang bisa
rubah mayat orang jadi Ghoul, mungkin kita punya bukti yang lebih kuat.”
“Iya.”
Akhirnya gue juga ceritain tentang Ghoul yang gue tau,
mulai dari nemuin botol isi bayi Ghoul itu, sampe cara ngerubah orang jadi
Ghoul.
Andai preman desa itu nggak dateng, mungkin bayi Ghoul
itu masih gue pegang.
“Jadi…untuk ubah orang jadi Ghoul itu…pake alat, ya?”
“Bahkan udah dibunuh pun, mereka tetep tersiksa ya?”
Hm? Kayaknya Myllo juga punya info yang dia tau.
“Maksud lo, Myl?”
“Zegin bilang, kalo gue harus…bunuh Ghoul…supaya Roh
yang ada di dalemnya bebas.”
““!!!””
Artinya bahkan pikiran sama perasaan mereka pun
dipenjara di dalem badan Monster, dong?!
Brengsek tuh orang yang namanya Snake sama Derrek!
“Haaah…maafin gue, Myl. Andai gue bisa hajar Kades
biadab itu! Sayangnya dia berhasil lari tadi!”
“Nggak apa-apa. Kita masih bisa hajar dia!”
“Ahaha!”
““Hm?””
Nih cewek kenapa ketawa?
“Makasih Myllo untuk perhatiannya. Aku nggak apa-apa,
kok. Aku pun juga nggak bangga lahir jadi penduduk Xia. Jadi, kalo kamu
khawatirin aku ragu-ragu untuk lawan para Ghoul, jawabannya nggak, kok.”
Oh, untung lah. Ternyata Myllo khawatir untuk—
“Malah, secara nggak langsung aku bisa hajar warga
Xia! He…he…he…”
““?!?!””
Ternyata sadis juga ya cewek ini!
“Aw, tapi baik banget sih, Myllo! Jadi suka deh—”
“Nggak, makasih…”
“Cih!”
Dari sadis jadi genit?!
Asli, orang ini kelainan!
Oh ya, ada satu lagi yang perlu gue sampein. Tapi
gimana ya ngomongnya?
“Kenapa, Djinn? Kamu mau digoda ju—”
“Mungkin sebagian besar dari Ghoul itu warga Xia, tapi
orang luar Xia pun juga ada yang jadi korban.”
“Orang di luar Xia?!”
“Ya. Salah satunya…”
Duh, kok gue jadi grogi sendiri ngomongnya—
“*Tap. (suara menepuk pundak)”
“Djinn, cukup.”
Hah? Kok gue diberentiin?
“Lo tau juga, Myl?”
“Ya. Suaranya nyampe ke gue. Zegin juga denger.”
Suaranya nyampe ke dia?
Maksudnya ‘Lorvah’ ngomong sesuatu ke dia?
“Tu…Tunggu Myl—”
“Jangan, Djinn. Gue nggak mau ada yang sakit hati.”
Hah?! Nggak mau ada yang sakit hati?!
“Myllo, maksud lo a—”
“Ini informasi antar kita aja, Djinn. Gue mau dia
ninggalin desa ini sambil senyum, bukan sambil sedih—”
“Lo becanda ngomong kayak gitu, Myl?! Ujung-ujungnya
dia harus tau, Myl!”
“Nggak bisa, Djinn! Gue nggak mau anggota baru gue
sakit ha—”
“Lo lebih mentingin perasaan daripada fakta?! Hah?! Kita
ini Petualang, Myl! Tanggungan kita ini udah nyawa, bukan perasaan lagi!”
“Jangan ajarin gue soal Petualang, Djinn! Gue itu Kapten!
Gue yang tanggung jawab sendiri soal—”
“Tanggung jawab?! Lo sendiri aja—”
“*Bruk! (suara memukul tanah)”
“CUKUP!”
““…””
Jujur, ini pertengkaran besar pertama kali gue sama
Myllo.
“Myllo. Tolong ijinin aku untuk tau.”
“…”
“Djinn.”
Myllo sebut nama gue. Bukan untuk ngelarang gue
ngejelasin fakta ini ke Gia, tapi untuk sebaliknya.
“…”
Duh, gue jadi deg-degan sendiri.
“Lorvah…ditumbal Derrek jadi Ghoul King…”
““…””
Abis gue ngomong gitu, kita bertiga bener-bener
hening.
Sampe akhirnya ada yang buka suara.
“Makanya, aku bilang ke kalian kalo Ghoul King itu
jatah aku…hiks!”
““…””
Gia ngomong gitu sambil nangis.
Mungkin daritadi gue ngomong fakta ini, fakta itu.
Tapi ngeliat responnya sendiri, mungkin emang harusnya gue diem kali, ya?
“Y…Y…Ya, kan?! Ahaha! Pantes aja aku ngerasa familiar!
Ternyata ini ujian terakhir aku, ya…”
Seketika, gue jadi nyesel ngomongnya—
“…”
Gia?! Kenapa dia sujud di depan Myllo?!
“Myl—Nggak! Maksud aku, Kapten! To…Tolong ijinin aku,
u…untuk bunuh Ghoul King, Kapten!”
“Gia? Serius lo—”
“Ijin diterima, Gia!”
“…”
Eh?! Tiba-tiba lompat sambil peluk Myllo!
“*Hiks…*Ma…Makasih\, Kapten!”
“Hehe! Semoga lo bebasin Lorvah!”
“Ya,
Kapten!”
Bukannya
gue ngeremehin Gia, tapi apa mungkin dia bisa lawan orang panutannya sendiri?
Tapi
keliatannya Myllo percaya sama dia.
Yaudah
lah, gue juga percayain sama dia juga.
“Ehem,
ehem!”
““Hm?””
“Mending,
sekarang kita pikirin cara sampein ini semua ke desa.”
“Ya,
lo bener, Djinn!”
“Jadi,
gimana caranya, Djinn?”
Gue
pun jelasin ke mereka tentang nyampein semua fakta ke desa.
Tapi kalo dipikir-pikir lagi, gue masih butuh
bukti yang paling valid dari semuanya.