Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 183. "Headless"



Kita balik lagi ke rumahnya Dreschya yang ada di Clamista.


Sambil kita jalan balik, Dalbert ceritain ke gue tentang masa lalu Berius seabagai Guildmaster dari Chemia Guild. Karena masa lalunya yang pahit itu, dia jadi benci banget sama Petualang, kayak sekarang.


“*Ngung…”


“Sebentar lagi teh sia sembuh, Dalbert.”


“Makasih, Garry.”


Di rumahnya Dreschya, Garry sama Jennania langsung sembuhin beberapa orang yang ada di sini. Khususnya Dalbert, yang paling luka-luka.


“Jadi kita harus gimana?! Aku takut Myllo kenapa-kenapa!”


“Dasar gobloug, anying! Sianying teh kenapa nekat pisan?!”


“Tidak kusangka jika ia sangat berani mengorbankan nyawanya demi mahluk—maksudku Machinno…”


““…””


Semuanya masih gelisah sama Myllo yang pergi dibawa orang brengsek yang namanya Ghibr Doldrah itu.


Bahkan gue yang ngomong kayak gitu ke dia…


“…”


…juga nggak bisa tenang sama sekali!


Daritadi yang bisa gue lakuin cuma jalan muter-muter di dalem rumah Dreschya!


“Bang Berius… Jadi tadi…”


“Ya. Gue ketemu rekan lama gue yang jebak gue.”


“Terus gimana kondisi lo seka—”


“Maaf. Gue mau menyendiri dulu.”


“…”


Mungkin Berius nggak terlalu mikirin Myllo. Tapi gue yakin trauma dia balik lagi semenjak ketemu Ghibr.


“Djinn, jadi kita harus gimana?”


“…”


Gue juga nggak tau!


Andai gue punya info soal ke mana Myllo dibawa, tempat dia dikurung tuh kayak gimana, eksperimen macem apa yang bakal dia jalanin, apapun itu yang bisa bantu rancang rencana gue untuk jemput dia!


Masalahnya kita nggak tau apa-apa! Makanya jadi bingung sendiri untuk nyusun rencananya!


“Haaaaah! Kita teh jadi pusing sendiri, anying! Gara-gara sianying yang pergi tanpa mikirin kita!”


“T-Tapi kalo dia nggak pergi, Machinno gimana, Garry?!”


“I-Iya sih, tapi… Aaaaah! Aing teh nggak bisa debat sama teteh geulis!”


Duh, kok mereka jadi makin berisik sih?!


“Djinn! Kalo nggak ada Myllo, harusnya lo yang pimpin kita, bukan?! Jadinya kita gimana?!”


“Dalbert benar, Djinn! Bagaimana pun juga, ia adalah sahabat anda, bukan?!”


“I-Iya! Kalian harus selamatin dia! N-Nggak mungkin kan kalian harus kehilangan Kapten kalian?! Padahal kalian baru aja jalanin aksi heroik lawan Kaum Na—”


“*BRUK!!!”


““!!!””


Dasar mereka semua ini…


“BISA DIEM NGGAK KALIAN?!?! KALIAN KIRA CUMA KALIAN YANG PUSING MIKIRIN DIA?!?!”


“Woy, Djinn! Tenangin diri—”


“Hah?! Lo nyuruh gue tenang?! Siapa lo yang bisa nyuruh-nyuruh gue?! Emangnya lo Kapten gue, brengsek?!”


“Djinn! Kenapa atuh sia—”


“Diem lo, Garry! Udah jadi orang nggak pernah serius, bisa-bisanya lo nyalahin keputusan Kapten lo!”


““…””


Ah, sialan…


Lagi-lagi gue nggak bisa


kendaliin emosi gue…


“Djinn… kamu sabar sedikit, ya—”


“Tau, ah! Gue mau ngerokok dulu!”


Jadi pusing sendiri gue gara-gara terlalu berisik di sini!


“Djinn… Ma-Maaf mau nanya…”


Nanya apa lagi, sih?!


“Te- Tembok rumah gue…”


Cih!


Udah harus ganti rugi kerang yang diterbangin Garry, malah sekarang gue juga harus ganti rugi tembok rumah yang gue pukul ini!


“Yaudah, ntar gue ganti. Sorry sebelumnya.”


“Y-Ya…”


Mending gue keluar rumah ini dulu deh.


“…”


Gue jalan ke belakang, di mana ada peternakan di sini untuk ngerokok.


“*Cyis…”


“Fyuh…”


Haaaah… Dasar hipokrit ya gue ini!


Padahal gue bilang percaya ini, percaya itu! Tapi gue sendiri sebenernya masih nggak yakin kalo gue bisa selamatin Myllo!


“Fyuh…”


Haduh, Mil. Kayaknya salah deh lo percayain mereka ini ke gue. Andai lo nggak senekat itu untuk selamatin Machinno…


“Fyuh…”


Bu, Djinn lagi gelisah nih, bu.


Kenapa rasanya bikin musuh tuh segampang itu ya, bu?


Tiba-tiba Djinn jadi ngerasa hubungan pertemanan Djinn sama temen-temen Djinn bisa rusak nih karena ulah Djinn.


“Fyuh…”


Karena udah cukup lama di dunia ini, gue bahkan udah lupa sama identitas gue sebagai Dwi Lukman.


Kalo gue “curhat” sama ibu, mana mungkin ibu kenal gue sebagai Djinn?


“…”


“Del? Ada apa?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menemanimu saja.”


Temenin gue?


“Thanks sebelumnya. Tapi gue lagi mau sendirian.”


“Tidak apa-apa. Anggap saja aku tidak ada di sini.”


Ma-Mana bisa kalo lo berdiri di samping gu—


“Sudahkah dirimu tenang?”


T-Tenang…?


“Belom sih. Tapi kenapa lo ada di sini, Del?”


“Tidak ada…? Hm? Apa mungkin ada yang sebenarnya ingin kusampaikan?”


“Hah?”


“Ah, ya. Aku hendak menyampaikan bahwa semua yang berada di dalam Shelldrop milik Dreschya baik-baik saja. Aku memberitahu kepada mereka, bahwa kondisi tidak kondusif dan kecemasan mereka hanya membuatmu menjadi lebih tidak tenang.”


“Oh gitu ya? Makasih kalo gitu.”


Yaudah lah kalo mereka tenang. Seenggaknya gue—


“Mm? Sepertinya ada yang baru saja terpikirkan olehku.”


Duh, maksud dia apa lagi, sih?!


“Kau itu… tidak memperdulikan apa yang sedang dirasakan rekan-rekanmu, bukan?”


“Hah?! Kenapa juga gue nggak pedu—”


“Tidak. Maafkan aku yang salah memilih kata.”


“Maksud lo…?”


“Maksudku “tidak memperdulikan perasaan rekan-rekanmu” adalah, bahwa kau terlalu menyalahkan dirimu sendiri yang membiarkan Myllo dibawa begitu saja. Oleh karena itu, kau tidak kuasa untuk memperdulikan perasaan dari rekan-rekanmu. Benar, bukan?”


Cih, lagi-lagi gue dibaca orang ya?


“Ya gue akuin lo ada benernya, sih.”


Mereka khawatirin Myllo karena gue biarin dia pergi. Makanya itu gue berusaha untuk tanggung jawab sepenuhnya untuk bawa dia balik.


Tapi parahnya, gue terlalu emosi karena nggak tau cara untuk bawa jemput dia. Saking emosinya, gue ngelampiasin emosi gue ke mereka yang khawatirin Si Dongo itu.


Haaaah…


Emang susah ya kalo kita kehilangan “Kepala” kita.


“Aku mengerti perasaanmu, Djinn.”


“Hm?”


“Dulu, aku ingat akan seseorang yang selalu berusaha untuk mengemban dosanya sendirian. Padahal ia


memiliki adik-adiknya, serta sahabat baik di sekitarnya.”


D-Dosanya sendiri…?


I-Itu… nggak hiperbola kan, ya…?


“Wanita itu adalah Syllia Laguna. Ia merupakan kakak sulungku; Pewaris Takhta sejati Laguna Empire; dan juga salah satu sahabat dari seorang petapa yang bernama Melchizedek.”


M-Melchizedek?!


“Lo kenal Melchizedek?!”


“Aku… mungkin tidak terlalu mengenalnya. Jangan anggap aku masih kehilangan memoriku, namun aku bertemu


dengannya lebih dari 5,000 tahun yang lalu. Oleh karena itu aku tidak ingat pria seperti apa dirinya, semenjak aku masih belia saat itu.”


B-Buset… Lama banget…


“Djinn, aku tidak berniat menasihatimu. Namun, aku menyarankan agar kiranya kau tidak berusaha menanggung semuanya sendirian, seperti kakakku. Alangkah baiknya kau lebih peduli dengan apa yang rekanmu rasakan, agar kau sekiranya tidak menyalahkan dirimu lebih dalam lagi.”


Cih! Sebenernya gue nggak mau ngakuin. Tapi dia bener lagi.


Gue ngerasa bersalah karena biarin Myllo pergi. Makanya itu gue cuma mikirin gimana caranya temen-temen gue tinggal terima enaknya aja. Tapi karena gue mikir kayak gitu, gue jadi nggak mikirin apa yang dirasain temen-temen gue.


Dasar cewek satu ini. Kenapa kata-katanya bener semua, seakan-akan dia udah kenal gue lama banget?


“Haha…”


Entah kenapa, gue bawaannya mau ketawain ketololan gue.


“Hm? Mengapa, Djinn.”


“Nggak apa-apa. Cuma mau ketawa aja.”


“Djinn…? Kau baik-baik saja, bukan?”


“Haha, maafin gue, Del. Nggak, lebih tepatnya gue mau bilang makasih banyak.”


“Terima kasih?”


“Ya. Makasih banyak karena ingetin gue untuk lebih andalin temen gue dan nggak bertindak sendirian. Selain itu, lo juga ingetin gue untuk lebih menghargai perasaan temen gue.”


“Djinn…”


Gue jadi bersyukur ada orang kayak dia yang temenin gue.


Entah kenapa, gue jadi mau curhat sesuatu.


“Lo tau nggak, sih?”


“Hm?”


“Gue dari dulu nggak punya temen.”


“Tidak punya teman?”


“Ya. Bukan karena nggak ada yang mau temenan sama gue, tapi gue nggak percaya sama orang-orang di sekeliling gue.”


“…”


Gue pun curhat.


Bukan sebagai Djinnardio, tapi sebagai Dwi Lukman.


“Sampe pada akhirnya ibu gue meninggal dan pesen ke gue untuk punya temen supaya gue nggak sendirian.”


“I-Ibumu? Apakah ia—”


“Makanya itu, bahkan waktu gue buka diri gue untuk percaya sama orang lain. gue masih nggak tau gimana caranya berteman. Salah satu yang ada dipikiran gue tuh cuma gimana caranya mereka terima enak aja, tanpa nyusahin mereka. Intinya, gue rela untuk nanggung beban berat, mau seberat apapun bebannya, asalkan itu semua beban mereka.”


“Tidak membebani mereka, kah?”


“Bener. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, itu sama aja nggak percaya sama mereka, kan? Ya anggep aja kebiasaan lama gue masih nyantol.”


““Ahaha…””


Untungnya ada Delolliah yang nemenin gue.


Karena dia, gue jadi sedikit tenang.