Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 320. Dungeon of Poison



“Djinn Dracorion. Terkait Ambrolis…”


“Hm?”


“Aku berharap, agar kiranya kau memaafkan dan menerima kekerasan hatinya. Karena lambat laun, kita sebagai warga dunia ini harus menerima satu sama lain, bukan?”


“Gue sih bisa maafin dia. Tapi kalo dia sendiri, kira-kira bisa terima gue, nggak?”


“Untuk itu… saat ini aku hanya bisa berharap saja. Semoga Dewi Gennisia dan Dewi Amoreal mampu mewujudkan harapanku.”


“Harapan…?”


“Ya. Harapan agar setiap Mahluk Intelektual bisa hidup saling berdampingan, tanpa ada rasa takut satu sama


lain.”


“…”


Ivis ngomong kayak gitu. Padahal gue yakin kalo Ambrolis dengerin kita terus, selama kita ngobrol bareng.


Pasti dia tau denger yang kita omongin, kan?


……………


“Semuanya! Ayo kita lanjutin perjalanan ke Dungeon of Poison!”


Pagi ini kita mau jalan lagi ke sana.


Selama perjalanan kali ini, kita nggak temuin adanya binatang-binatang yang keracunan, yang nyerang kita


sebelumnya.


Kecuali…


“Myllo! Liat ini!”


“Ini tuh…”


“Ya, Mil. Ini jejak kaki.”


“Oh iya! Ada jejak kaki!”


“…”


Hmm.


Dari yang gue perhatiin sih, jejak kaki ini ukurannya ada yang macem-macem. Kalo diliat-liat sih, kemungkinan ini jejak kaki dari 6 orang.


Eh, bisa aja 5 orang sih. Karena yang satu lagi jejak kakinya beda sendiri.


“Ini tuh… kaki apaan?”


“Iya, euy! Aneh pisan bentuk kakinya!”


“…”


Kayaknya gue harus cek lagi deh deskripsi dari Lembaran Quest yang gue pegang.


“…”


4 cowok, 1 cewek, 1 mahluk langka.


“Mil. Pasti ini jejak kaki para penculik itu.”


“Ah, bener juga ya! Yaudah! Ayo kita lanjutin perjalanan kita!”


Karena jejak tadi, kita semua makin yakin, kalo kita bakal temuin warga desa di sana.


“Wuhuuu! Ini pintu masuknya!”


“K-Kenapa harus goa, atuh…?”


“…”


Ternyata masih ada bukit ya di pulau ini. Gue kira pulau ini cuma diisi jamur-jamuran doang.


“Tunggu dulu.”


Hm? Tunggu apaan?


“Kalian semua. Alangkah baiknya agar kita melakukan persiapan terlebih dahulu, sebelum memasuki Dungeon


tersebut.”


Persiapan?


“Ambrolis.”


“Baiklah, Kakak Ivis.”


((Toxin Prevention))


“*Krrrtt…”


Hm? Kenapa tiba-tiba ada tumbuhan kayak gini di lengan gue?


“Ini adalah ban lengan ciptaanku. Dengan ban lengan ini, kalian menjadi lebih kebal terhadap racun dari Cthorach.”


“Oh gitu ya?! Gue kira kita mau diajarin pake Union! Hihihi!”


Ternyata Myllo masih pengen Union…


“Dan ingatlah ini, kalian semua.”


““Hm?””


“Jangan sampai ban lengan yang kalian terima lepas atau putus.”


Kalo lepas atau putus, kita jadi nggak kebal dari racun-racun ya?


“Yaudah! Ayo kita ma—”


“RRRRR…”


“Hiiieekh!”


““…””


I-Itu… suara apaan…?


Kok suaranya sampe bergema keluar ke sini…?


“Garry Geri…”


“A-Ada apa, Teh Ivis…?”


“Bisakah engkau… melepaskan kedua lenganmu… dari pinggangku?”


“Et! Punten, Teh I—”


““*Tung!””


““MASIH PAGI UDAH NYARI KESEMPETAN!!!””


“Et! Sianying sia tiga!”


Haaaaah…


Gue jadi heran kalo dia takut beneran atau nyari kesempetan aja!


……………


Akhirnya kita masuk ke Dungeon of Poison.


Tapi waktu kita masuk…


“Rawr!”


“*Chrawk…”


…kita langsung diserang sama binatang-binatang yang keracunan ini!


Eh tapi dibanding binatang… lebih tepatnya yang ada di depan kita ini tuh Monster!


Beda sama binatang-binatang yang serang kita di luar Dungeon, yang bentuknya masih persis kayak binatang! Kalo sekarang bentuknya udah bukan kayak binatang lagi!


“*Prang…”


“M-Myllo! Aku udah tahan!”


“Hyaaaat!”


“*Tuk!”


“Raaawr…”


Gia tahan serangan monster-monster ini. Abis itu Myllo hajar pake tongkatnya.


Sedangkan gue…


((Rune Spell: Explosive Throw))


“*Boom!”


“Rrrr…”


“*Bruk…”


…pake batu-batu yang gue tulis Sajak, supaya monster-monster ini meledak.


“Binatang?! Emangnya itu binatang—”


“Itu binatang yang terkena mutasi oleh racun dari Cthorach!”


Mutasi?!


“Myllo… waktu aku ngeliat binatang-binatang ini, kok aku jadi keinget Ghoul, ya?”


Bener juga.


Kalo Ghoul harusnya nggak beda jauh dari i—


“Tidak. Ini jelas berbeda, Margia Maevin.”


“Bedanya apa?”


“Jika Ghoul, mereka menjebak Roh seseorang dengan Ghoul-Trigger untuk menguasai Tubuh milik Roh tersebut. Tetapi, mahluk yang kalian saksikan tersebut meracuni Tubuh mahluk apapun, tanpa memperdulikan Roh dari Tubuh tersebut. Oleh karena itu, seperti yang kalian saksikan, bahwa hewan ini pada dasarnya tidak memiliki Roh. Maka hewan ini dengan mudah dikuasai oleh racun dari Cthorach.”


“Kalo gitu kita cuma harus bunuh Cthorach untuk selamatin semua yang kena efek racunnya, kan?”


“Ya. Kau benar, Djinn Dracorion.”


Artinya, sama kayak Ghoul-Trigger yang dihancurin Garry, waktu Roh yang dia panggil masuk ke dalem Tubuh orang-orang yang jadi Ghoul[1].


“Myllo! Gue udah temuin warga yang ada di dalem tempat ini!”


Elangnya Dalbert udah temuin warga desa?


“Hehe! Bagus, Dalbert!”


“J-Jangan puji-puji gue, Myl—”


“Mereka ada di mana, Dal?”


“…”


Loh! Kok malah diem aja Si Breng—


“Mereka semua… ada di bawah monster tumbuhan raksasa…”


Hah? Monster tumbuhan raksa—


“Sudah kuduga! Mereka semua sedang dalam tahap mutasi!”


““!!!””


Kalo gitu—


“Tenang lah sedikit, kalian semua.”


“Hah?! Tenang?! Bukannya—”


“Warga desa yang hendak kalian bantu, tentunya memiliki akal sehat, bukan?”


“Iya. Terus?”


“Aku yakin Roh mereka sedang berusaha melawan efek dari mutasi tersebut, tidak seperti hewan-hewan yang


dengan mudah terkena efek dari racun itu. Intinya, kita masih bisa membawa mereka semua lari dari tempat ini, selama kita berhasil mengalahkan Cthorach.”


Mungkin Ivis ngomong gitu.


Masalahnya, kita sanggup nggak bunuh Cthorach?


“Vis, mungkin nggak kita selamatin warga desa itu, kalo Cthorach nggak dibunuh?”


“Mungkin saja, walaupun prosesnya lebih lama. Tetapi hal tersebut bukan tanpa pengorbanan. Karena aku yakin, bahwa warga yang terjebak akan terluka, jika kita bawa secara paksa.”


““…””


Karena dia bilang gitu, kita semua spontan ngeliatin Garry.


“Et! Kenapa pada liat aing?!”


“Hehe! Kalo gitu, ayo kita ke sana! Selama warga bisa kita bawa lari, nanti urusan Garry yang sembuhin mereka!”


““Ya!””


Akhirnya kita masuk lebih dalem lagi.


Sampe akhirnya, kita bisa liat ada banyak warga yang ada di bawah monster itu.


“…”


“Monster itu…”


“Ya. Ia adalah Cthorach. Seperti yang kalian lihat, ia sedang menatap kita semua.”


“Ge-Ge-Ge…”


““GEDE BANGET!!!””


G-Gila! Ternyata itu yang namanya Cthorach?!


K-Kalo gue bisa tebak… ukurannya bisa sampe 18 meter!


Tambah lagi, warga desa ada di bawahnya…?


Artinya…


“Dia cuma mau jaga warga desa itu dari kita ya?”


“Ya. Kemungkinan besar, ia mulai bergerak ketika kita mendekatinya.”


Cih! Susah nih kalo kayak gini!


“Myllo, terus kita harus gimana?”


“Tenang aja! Pasti ada rencana! Ya kan, Djinn?!”


“Hah?! Kan lo kaptennya!”


“Haaaaah?! Kan gue dongo!”


““Giliran begini baru ngaku dongo!””


Haaaaaah!


Harus gimana, ya?!


“…”


Yaudah deh, yang simple aja!


“Kita bagi aja jadi dua grup. Ada Grup Pengalih Perhatian sama Grup Pembebas Warga. Gimana?”


“Masuk akal. Akan tetapi, biarlah aku berikan sedikit peringatan kepada kalian semua.”


““…””


“Kita sedang berada di teritori kekuasaan Cthorach. Anggap saja seperti Union Zona, di mana ia mampu memanipulasi teritori kekuasaannya.


Tetapi tugas dari Grup Pembebas Warga tentunya jauh lebih sulit dibandingkan tugas dari grup yang mengalihkan perhatian, karena sekali saja Grup Pengalih Perhatian gagal mengalihkan perhatiannya, ia akan menyerang Grup Pembebas Warga.”


Pasti aja ada hambatannya, kalo rencananya se-simple itu! Padahal yang harusnya nyusun rencana tuh Myllo! Bukan tugas gue!


“Hehe! Yaudah deh! Kalo gitu…”


““Hm?””


“…Gia! Dalbert! Ivis! Kalian masuk Grup Pengalih Perhatian bareng gue!”


“Izinkan aku ikut denganmu, Myllo Olfret!”


“Hah? Lo mau ikut, Ambrolis?”


“Ya. Dibandingkan aku satu grup dengan seorang Vamulran!”


Hah?! Apa maksud—


“Yaudah! Tapi jangan sampe kebencian lo halangin tujuan kita di sini, Ambrolis!”


“Hmph! Jangan kau remehkanku, Myllo Ol—”


“Ambrolis.”


“Cih! Baiklah, Kakak Ivis!”


Bahkan mau lawan monster itu pun, dia masih nggak seneng di deket gue!


“Jika Ambrolis ikut bersama Grup Pengalih Perhatian, alangkah baiknya jika aku ikut bersamamu di dalam Grup Pembebas Warga, Djinn Dracorion.”


“Yaudah. Tolong bantu gue, Garry, sama Machinno, Ivis.”


“Hm.”


Ujung-ujungnya gue yang pimpin Grup Pembebas Warga.


“OK, semuanya! Ayo kita mulai sekarang juga!”


““Ya!””


Semoga aja gue bisa selamatin warga desa itu deh, walaupun nggak punya kekuatan gue!


_______________


[1]Ketika berperang dengan Children of Purgatory di Gazomatron Federation, Garry menggunakan Shamanism untuk melepaskan Ghoul yang merubah para warga Gazomatron (Chapter 253).