Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 455. Love That Has Never Been Found



Festival besar di Kumotochi masih berlanjut. Bersama-sama rakyat Kumotochi merayakan kembalinya Sang Shogun Tetsuo ke tengah-tengah mereka.


Di tengah festival, Andromeda Party bertemu dengan Lynx Party, setelah mereka mendapatkan undangan khusus


dari Tetsuo, untuk menghadiri ruangannya.


“Ah! Ketemu lo lagi!”


“Kenapa? Lo bosen ketemu gue?”


“Hah?! Emangnya gue bilang gue


bosen?!”


Tanya Zorlyan kepada Ollie.


Di tengah-tengah mereka, terdapat Daphine, Gravanghar, serta Sonda. Mereka juga mendapat undangan khusus dari Tetsuo.


“Oh gitu ya? Ternyata lo ikut mereka.”


“Ya. Gue juga baru tau kalo lo juga direkrut dia.”


Jawab Gravanghar kepada Daphine, setelah mereka sama-sama menemukan Party baru mereka masing-masing.


“Silakan masuk, tuan dan nyonya sekalian. Shogun-sama telah menunggu kedatangan kalian di dalam.”


“Ya. Makasih banyak udah anterin kita.”


Mereka pun memasuki ruangan tersebut, di mana mereka menemui Tetsuo bersama Miyako dan beberapa Kepala


Komisi.


“Eh? Kirain Myllo ada di sini.”


“Saint-sama sedang berbicara secara privasi bersama bibi-Ku, Ayasaki Oba-sama, serta Aquilla—”


““HAH?! KAZEDORI AYASAKI?! MAKSUDNYA THE DEADLY MAIDEN?!””


Tanya sebagian besar dari mereka dengan terkejut.


Sementara mereka yang sudah mengetahui hal tersebut…


““Haaaah…””


…hanya bisa menghela nafas saja.


“Oh iya. Kira-kira ke mana ya Slasher?”


Tanya Sonda, karena tidak menemukan adanya Hakuya di tengah-tengah mereka.


“Ia… akan menyusul bersama Tanzō-dono. Karena mereka sedang menghabiskan waktu bersama di kediaman Klan Tanzō.”


Jawab Ishisaru Yasukata, mantan Kepala Komisi Investigasi, kepada mereka.


Sementara itu, di kediaman Klan Tanzō.


““…””


Semua anggota Klan Tanzō bersujud di hadapan Hakuya, yang berjalan melewati mereka semua.


Ia berjalan untuk menemui Katanaka, yang merupakan Kepala Komisi Persenjataan, sekaligus kakak tiri yang


mengasingkannya.


“K-Katanaka-nïsama—”


“*Druk!”


“!!!”


Hakuya terkejut ketika menyaksikan Katanaka yang sujud di hadapannya.


“K-Katanaka-nïsama! Kok—”


“M-Maafkan saya… Hakuya…! Saya berbuat jahat kepada anda… hanya karena memercayai ramalan kuno saja…! Andai saya bisa percaya dengan apa yang dikatakan ayah… mungkin anda tidak perlu menderita selama 20 tahun anda hidup…! Mungkin Kumotochi tidak harus menerima karma buruk dari perbuatan saya…!”


“…”


“Perbuatan saya kepada anda… sangatlah jahat…! Bahkan Klan Tanzō juga melakukan hal yang sama… karena


perintah saya…! Mungkin anda tidak bisa memaafkan saya… tetapi saya mohon… agar kiranya anda memaafkan Klan Tanzō…!”


“…”


“Hidup anda selama 26 tahun ini… sangatlah sulit… bukan…?”


“…”


Hakuya terus terdiam, sambil mendengar apa yang dikatakan Katanaka.


“…”


Ia mengepal tangan sekeras-kerasnya, karena teringat akan masa lalunya yang selalu diburu di Kumotochi.


“Adik saya, Hakuya…”


“…”


“Sebagai bentuk permintaan maaf… izinkan saya untuk memenuhi apapun keinginan anda—”


“Kalo gitu… gue cuma minta satu hal.”


Sahut Hakuya, yang mulai membuka mulutnya kepada Katanaka.


“Gue mau… liat makam ayah…!”


“B-Baiklah. Izinkan saya… menemani anda, adik.”


Jawab Katanaka, sebelum membawa Hakuya menuju makam Tanzō Kuroba, Kepala Komisi sebelumnya yang juga merupakan ayah Katanaka.


“Inilah makam ayah, adik.”


“…”


Hakuya kemudian menghampiri makam Kuroba, lalu duduk di hadapannya.


“Ayah. Ini aku, Hakuya.”


“…”


“M-Maafkan aku, ayah. Karena aku… telah menumpahkan darah orang lain… dengan tanganku.”


“…”


Hakuya pun terus berbicara di hadapan makam ayahnya. Sementara Katanaka semakin merasa bersalah, setelah


mendengar apa yang dikatakan oleh adik tirinya.


“Tetapi… mungkin takdir memiliki jalannya sendiri bagiku, ayah.”


“…”


“Andai semua yang kualami tidak terjadi… mungkin aku tidak akan mengenal pria baik yang bernama Tarruc Taur. Ia adalah pria hebat yang kupanggil sebagai Kapten. Karenanya aku mengenal dunia yang sangat amat luas.”


“…”


“Mungkin ia sudah pergi dan bersamamu, ayah. Mungkin aku sudah tidak bisa bertemu denganmu atau dengannya


kembali. T-Tetapi…”


“…”


“…j-jika ia sedang bersama denganmu… tolong sampaikan rasa terima kasih kepadanya… ayah! Karena…


sepahit-pahitnya hidupku… aku bersyukur karena memiliki kenangan yang indah bersamamu dan bersamanya… ayah…! Hiks! Hiks! Hiks!”


“…”


“T-Tetapi… aku berjanji… ayah…!”


“…”


“Aku berjanji… bahwa mulai saat ini… aku akan menjadi seorang prajurit sejati… yang mampu berdamai


dengan keadaan apapun… seperti yang ayah harapkan…!”


“…”


Melihat adik tirinya yang menangis, Katanaka juga ikut meneteskan air mata.


“K-Katanaka-nïsama…”


“…”


“Lo tanya ke gue… tentang hidup gue yang sulit… selama 26 tahun ini… kan?”


Tanya Hakuya, yang berpaling dari kuburan ayahnya, untuk berbicara kepada Katanaka.


“Mungkin hidup gue berat… karena lo terus coba mau bunuh gue…! Tapi kalo nggak karena lo… mungkin gue nggak akan ketemu Kapten Tarruc…!”


“H-Hakuya—”


“Mungkin gue nggak pantes ngomong begini. Tapi gue mau bilang makasih banyak ke lo!”


“!!!”


Katanaka terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Hakuya.


“Kalo nggak karena lo… mungkin gue nggak bisa jadi pria yang lebih kuat… sebelum ketemu Kapten Tarruc…!”


“…”


“W-Walaupun gue tau… kalo lo mau bunuh gue… tapi secara nggak langsung… lo udah latih kemampuan gue…!”


“Makanya itu… Katanaka-nïsama…”


“!!!”


“Gue mau bilang makasih karena udah mau sambut gue lagi di sini. Dan lo nggak perlu khawatir, nïsama. Karena


semenjak ketemu Kapten Tarruc… gue udah maafin lo! Karena kalo gue nggak maafin lo… gue nggak akan jadi prajurit sejati…!”


Kembali seru Hakuya, yang kali ini sambil bersujud di hadapan Katanaka, sehingga membuat Kepala Komisi


tersebut terkejut.


“…”


Katanaka tertunduk lemas setelah mendengar apa yang dikatakan Hakuya. Sementara Hakuya berdiri untuk pergi dari tempat tersebut.


“Kalo gitu gue permisi dulu, nïsama.”


“…”


Tidak ada balasan dari Katanaka, sedangkan Hakuya sudah berjalan untuk meninggalkan kediamannya.


Dalam keadaan terdiam dan meneteskan air mata, sambil melihat ke atas langit, Katanaka pun berpikir…


“A-Ayah…! Aku sebagai Kepala Komisi… merasa malu atas tindakanku atas pria baik hati sepertinya…!”


……………


Kembali ke ruangan khusus Tetsuo, di mana Aquilla telah kembali dari diskusi mereka bersama Ayasaki.


“Ahahaha! Ternyata kalian udah dateng!”


“Oh! Ternyata lo udah balik ya—”


“Aaaaargh! Sialan kalian berdua! Kok kalian udah minum duluan sih?!”


“Hah? Emangnya harus nunggu lo dulu mau minum dulu?”


Tanya Ollie kepada Myllo, setelah ia mendapati Zorlyan dan Ollie meminum sake milik Tetsuo.


Sementara Tetsuo mendapati sesuatu yang berkurang dari Myllo dan rekan-rekannya yang kembali ke ruangannya.


“Saint-san, ke manakah Oba-sama?”


“Hah?! Dia tadi pergi duluan! Nanti katanya balik lagi ke sini!”


“K-Kemanakah ia pergi—”


“Ada deh! Tunggu aja nanti! Hihihi!”


Jawab Myllo kepada Tetsuo, yang penasaran dengan kepergian bibinya.


Sementara Ayasaki sendiri…


“*Pret…”


“Ah…! Lega juga—”


“*Drap…”


“!!!”


…datang menemui Hakuya, hingga ia terkejut.


“K-Kitsune?! Kok tiba-tiba ada Kitsune di­—”


“Tenanglah, Hakuya. Aku datang tidak bermaksud jahat kepadamu.”


Jelas Ayasaki akan kedatangannya kepada Hakuya.


“T-Terus—”


“A-Apakah… kau mau menemaniku… untuk mengelilingi festival ini…?”


Tanya Ayasaki kepada Hakuya.


“Y-Yaudah, deh…”


“B-Baiklah. Mari ikut denganku.”


Setelah berhasil mengajak Hakuya, Ayasaki pun mengunjungi semua gerai yang ada dalam festival di Kumotochi.


Walaupun…


“…”


…Ayasaki berkeliling bersamanya dalam keadaan gugup.


Ia sengaja mengajak anaknya berkeliling karena satu alasan.


Semuanya dimulai saat di dalam ruangan yang sebelumnya menjadi pintu masuk Kumotochi.


“Ah iya! Kalo lo bingung, kenapa nggak ajak anak lo keliling festival aja?!”


“M-Mengapa aku harus—”


“Supaya nggak tegang-tegang banget! Anggep aja kayak orang yang minum sebelum ngobrol serius! Ya nggak?!


Hihihi!”


Myllo menyarankan itu semua kepada Ayasaki.


Oleh karena itu, Ayasaki melakukan hal yang sesuai dengan apa yang Myllo katakan.


“Hm? Sepertinya topeng ini cocok denganmu, Hakuya.”


“M-Masa sih? Kayaknya lebih cocok untuk lo deh, hmm…”


“Ayasaki.”


“Oh, Ayasaki ya nama—Eh?! Lo itu The Deadly Maiden?!”


“Ara. Apakah kau baru menyadarinya?”


Tanya Ayasaki dengan terlihat percaya diri, sambil berusaha menutup rasa gugupnya.


““Hahaha…””


Mereka pun tertawa bersama-sama sambil berkeliling festival.


Hingga akhirnya Hakuya merasa ada maksud tersembunyi dari Ayasaki.


“Hakuya, alangkah baiknya jika kita—”


“Maaf sebelumnya, Ayasaki-sama.”


“Hm?”


“Emangnya… lo kenal gue? Apalagi lo tau nama gue. Emang kita pernah ketemu, ya?”


“…”


Mendengar pertanyaan Hakuya, Ayasaki merasa bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menjelaskan


tujuannya.


“…”


Ia pun menjelaskan tentang siapa dirinya, siapa Hakuya sebenarnya, serta tujuannya puluhan tahun yang lalu.


“Mungkin kau tidak akan bisa memaafkanku sebagai ibumu. Tidak hanya membiarkan engkau saja, aku juga sengaja berbuat seperti itu agar engkau membunuhku. Oleh karena itu—”


“H-Hahaha…! T-Ternyata ibu gue sendiri… rekannya Pahlawan Pertama…!”


“Hm?”


Ayasaki merasa heran dengan maksud Hakuya.


“Ayasa—Eh iya. Maksud gue, ibu…”


“Ada apa?”


“Sekarang… gue nggak perlu bunuh


lo lagi kan?”


“Tentu saja tidak perlu, Hakuya. Karena aku sedang berusaha untuk—”


“*Phuk…”


“!!!”


Ayasaki seketika terkejut dengan Hakuya yang memeluknya dengan erat.


“Kalo gitu… ijinin gue hidup sebagai anak lo, bu. Boleh kan?”


“T-Tentu saja, nak.”


“*Phuk…”


“Karena aku akan berusaha semampuku, untuk memberikan perhatian padamu sebagai seorang ibu, yang belum


pernah kau dapatkan selama ini.”


Jawab Ayasaki kepada Hakuya, sambil membalas pelukannya.


Karena itu, Hakuya, akan meninggalkan aliasnya sebagai Slasher, dan akan pensiun dini sebagai seorang


Petualang.


Karena ia hendak menghabiskan waktu bersama ibunya, Ayasaki, di Kumotochi.