Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 129. Bet For Those We Trust



Ketika Djinn dan Dalbert berpisah


dari Göhran dan para tahanan lainnya.


“*Chrak! (suara cakaran)”


“Huff…Huff…Huff…”


Lupherius baru saja berhasil


menghentikan Royal Knights yang menghadang para tahanan yang hendak melarikan


diri bersama dirinya dan Djinn.


Walaupun ia berhasil mengalahkan


mereka semua, namun ia juga menerima luka yang sangat serius.


“Sial. Untuk lawan mereka semua


butuh waktu sebanyak ini? Emang ya umur nggak bisa bohong.”


Bisiknya, sambil menyaksikan


Royal Knight yang baru saja ia bunuh.


Karena ia kelelahan, ia pun


hendak melakukan meditasi untuk memulihkan dirinya.


Saat ia memulai meditasinya,


seketika luka-luka di tubuhnya secara perlahan tertutup kembali.


Sambil bermeditasi, ia pun


mengingat masa lalunya bersama dengan mantan rekannya di Unguis.


……………


“Kenalin! Nama gue Zalhein


Zirara! Orang yang pendiem ini namanya Lupherius! Kalian harus hati-hati sama


dia, karena dia itu suka lupa nama orang! Ahahaaha!”


“Haha, pantes aja gue ngerasa nempel banget sama orang itu. Kalo gue


pikir-pikir lagi, kelakuan dia mirip banget kayak lo, Zal.”


Pikir Lupherius, ketika ia


teringat tentang mantan Kapten-nya yang mirip dengan Myllo.


“Zal, lo nggak usah sok asik deh sama mereka! Udah tau mereka bakal jadi


rival kita!”


“Lucu ya, bahkan Djinn pun ngingetin gue sama masa lalu gue yang selalu


jaga jarak sama orang lain.”


Lanjutnya, ketika ia melihat


kesamaan antara Djinn dengan dirinya yang masih muda.


Ketika bermeditasi, ia terus


mengingat masa lalunya dengan mantan rekannya di Unguis.


Hingga pada akhirnya…


“Za…Zal! Semuanya! Ta…Tahan sebentar lagi! Bi…Biar gue bawa kalian dari—”


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Lu…Luph…de…denger perintah gue…terakhir kali—”


“Di…Diem! Jangan ngomong kayak gi—”


“Lo harus bertahan hidup—”


“Huff!”


…ia teringat akan momen terakhir


bersama dengan Unguis, hingga memecahkan konsentrasinya ketika bermeditasi.


“Cih, sialan. Kenapa gue harus


keinget masa lalu itu?”


Bisik Lupherius, sambil berusaha


menjaga ketenangannya.


“Yaudah, lah. Nggak boleh


buang-buang waktu lagi. Mending gue pergi dari sini.”


……………


Ia pun berlari untuk keluar dari


Penampungan.


Sambil berjalan, ia melihat ada


banyak mayat. Baik itu mayat Royal Knights, maupun mayat dari para tahanan.


“Sial. Ternyata dia juga nggak sanggup ya jagain tahanan sebanyak itu?”


Pikirnya akan Djinn sambil


berlari.


Ketika ia hendak keluar dari


Penampungan, ia menemukan sebuah lubang besar di atap.


Merasa itu jalan keluarnya, ia


pun keluar dari lubang itu.


Ia merasa semua berhasil


melarikan diri.


Namun kenyataannya, saat ia tiba


di tengah kota…


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Urgh…”


“*Boom! (suara ledakan)”


““Arrgh!””


…ia melihat ada beberapa tahanan


yang sedang berhadapan dengan sisa dari Royal Knights.


Melihat kejadian itu, ia pun


tidak tinggal diam.


“Lycan Strike.”


“*Chrak! (suara cakaran)”


““Argh!””


Lupherius langsung menyerang sisa


dari Royal Knights hanya dengan sekali cakar.


“Siapa pria ini?”


“Lupherius Nighteeth, Petualang


Nomor Sembilan di dunia!”


Balas Zorlyan ketika Göhran


menanyakannya.


“Hm? Dari yang gue rasain, Jiwa orang ini mirip sama Naga itu.”


Pikir Lupherius ketika melihat


Göhran, sambil membandingkannya dengan Yssalq yang masih belum sadar.


“Gue Lupherius. Lo itu Naga, ka—”


““Ssssttt!””


Beberapa dari tahanan meminta


Lupherius untuk diam ketika ia bertanya kepada Göhran.


“Ka…Kau benar. Namun, jangan keras-keras


ketika menyebut siapa a—”


“Itu mereka!”


““!!!””


Mereka semua dikejutkan dengan


kedatangan Sebastian ketika Göhran sedang berbicara kepada Lupherius.


Sebastian datang bersama dengan 5


Royal Knights untuk membunuh semua tahanan yang ada di depan mata.


Saat melihat Sebastian, Göhran


pun langsung mengetahui siapa dirinya.


“Kau itu…keturunan dari


Dracorion, benar?!”


“!!!”


Sebastian terkejut ketika


mendengar kata-kata dari Göhran.


“Te…Ternyata anda adalah Naga


yang ada bersama dengan Verde, ketika saya menghubunginya dengan Orb Call—”


“Katakanlah kepadaku.”


“Hm?!”


“Apa yang membuatmu menyimpang


dari leluhurmu?!”


Tanya Göhran dengan nada lantang.


“Siegfried yang kukenal adalah


orang yang sangat kuat dan baik hati! Tidak ada niatan daripadanya untuk menyiksa,


apalagi mengambil Jiwa dengan paksa sepertimu! Jika ia masih hidup, betapa


malunya ia melihat keturunannya seperti i—”


“DIAAAAM!!!”


Teriak Sebastian dengan kesal


“Anda tidak tahu apa-apa tentang


leluhur saya yang asli, yang merupakan kakak dari Dracorion! Anda tidak


tahu bagaimana ia dipermalukan oleh Dracorion yang sangat anda banggakan itu!”


Lanjut Sebastian.


Mendengar penjelasan dari


Sebastian, ingatan dari Göhran pun seketika muncul kembali.


“Dipermalukan?”


“…”


“Ah, kau benar. Aku terlalu membanggakan Dracorion,


sampai melupakan pria yang sangat dihormati Dracorion, yang bahkan tega membunuh sosok mulia sepertinya hanya


karena rasa dengki.”


Balas Göhran kepada Sebastian.


“Dan kau bilang apa, sebelumnya?


Dipermalukan? Hmph!Pantas saja klanmu menjadi hina. Tidak kusangka pria hina


itu ternyata memiliki keturunan, yang menjadi sama hinanya dengan—”


“DIAAAMM! DASAR MAHLUK KUNO!!”


Hina Sebastian dengan berteriak.


“Royal Knights! Bunuh mereka


semua!”


““Baik, Yang Mulia!””


Royal Knights pun mulai menyerang


mereka semua.


Akan tetapi…


“*Shringgg… (suara benda tajam beradu)”


…Sebastian justru diserang secara


dadakan oleh Lupherius.


“Oi, Göhan. Kalo gue bunuh orang


ini, lo nggak masalah, kan?”


“Ba…Baiklah.”


Balas Göhran dengan heran, hingga


ia berpikir.


“Padahal namaku Göhran. Ia menyebut namaku, seakan aku ini sesosok


karakter lain.”


Göhran pun melarikan diri ke


tengah kota bersama dengan tahanan lainnya.


Sedangkan Lupherius, ia menahan


Sebastian dan hendak memulai pertarungan baru antara mereka berdua.


“Anda? Membunuh saya?”


“*Boom! (suara semburan api)”


“…”


“Apakah anda serius?!”


Tanya Sebastian setelah ia


menyemburkan ke api yang bisa dihindari oleh Lupherius.


“Perlukah saya ingatkan kembali,


bahwa anda gagal mengalahkan saya, ketika kita bertarung di Dungeon of


Beasts?!”


“…”


“Apa yang bisa anda lakukan


dengan tubuh setua itu?! Sadar diri anda, serigala!”


“…”


Lupherius tahu bahwa Sebastian


sedang mempengaruhi dirinya agar ia terlarut dalam emosi.


Namun ia berusaha dengan tenang


dan langsung menyerang Sebastian dengan sihirnya.


“Lycan Blade: Bloody Moon.”


“*Chrak! (suara ayunan cakaran)”


“*Chringgg… (suara tangkisan)”


“Cih!”


Ia menyerang Sebastian dengan


cara mengayunkan cakarannya dari jarak jauh, hingga tercipta bilah berwarna


merah yang mengarah ke Sebastian.


Sayangnya, Sebastian masih bisa


menangkis serangan tersebut.


“Se…Serangan macam apa itu?!


Betapa lemahnya serangan anda, serigala tua!”


Seru Sebastian kepada Lupherius.


Mendengar seruan darinya,


Lupherius justru…


“Pfftt! Ahahaha!”


…tertawa.


“A…Adakah yang lucu di matamu?!”


“Pastinya ada dong. Lo ngomong gitu,


tapi lo nggak liat tangan lo yang gemeteran itu?”


Balas Lupherius, yang menyadari


tangan gemetar dari Sebastian, setelah ia menangkis serangannya.


“Oi, Sebatas.”


“SEBASTIAN!!!”


“Mungkin lo bisa bangga sama Jiwa


Dragonewt yang lo ambil itu. Tapi sayang aja kalo lo cuma bisa banggain


kekuatan curian kayak gitu.”


“A…Apa?!”


Geram Sebastian setelah mendengar


sarkasme dari Lupherius.


“Ba…Baiklah. Saya akui bahwa


kekuatan ini bukanlah kekuatan asli saya. Namun, jika anda mengatakan bahwa


kekuatan ini adalah curian, sepertinya anda salah besar, serigala tua!”


“Hm?”


“Kekuatan ini adalah kekuatan


yang diberikan kepada saya oleh seseorang yang sangat kuat, yang merupakan raja sesungguhnya di negara ini!”


Jelas Sebastian, yang membuat


Lupherius kebingungan.


“Raja sesungguhnya…?”


“Benar! Tambah lagi, Petualang


itu sedang pergi kepada beliau bersama dengan bandit itu!”


“Maksud lo, Djinn—”


“Ah, sayang sekali. Mereka berdua


hanya akan menjemput ajal saja ketika bertemu dengan beliau!”


“!!!”


Lupherius terkejut ketika mendengar


perkataannya.


“OK, Sebatang.”


“SEBASTIAN!!!”


“Mau taruhan?”


Tanya Lupherius, sambil


menanggalkan bajunya dan berubah wujud.


“Wujud itu…”


“(Lycan Form.)”


Balas Lupherius, dengan wujud


seekor serigala dan suara yang berubah.


“(Ayo kita taruhan. Siapapun yang


menang di antara kita, artinya orang


yang kita percayain masing-masing menang. Berani, nggak?)”


“Artinya, jika anda menang,


artinya Petualang itu menang?! Hahaha! Lucu sekali! Namun, sepertinya


menyenangkan!”


Balas Sebastian, ketika mereka


hendak memulai pertarungan kedua mereka.