
Ketika Djinn dan Dalbert berpisah
dari Göhran dan para tahanan lainnya.
“*Chrak! (suara cakaran)”
“Huff…Huff…Huff…”
Lupherius baru saja berhasil
menghentikan Royal Knights yang menghadang para tahanan yang hendak melarikan
diri bersama dirinya dan Djinn.
Walaupun ia berhasil mengalahkan
mereka semua, namun ia juga menerima luka yang sangat serius.
“Sial. Untuk lawan mereka semua
butuh waktu sebanyak ini? Emang ya umur nggak bisa bohong.”
Bisiknya, sambil menyaksikan
Royal Knight yang baru saja ia bunuh.
Karena ia kelelahan, ia pun
hendak melakukan meditasi untuk memulihkan dirinya.
Saat ia memulai meditasinya,
seketika luka-luka di tubuhnya secara perlahan tertutup kembali.
Sambil bermeditasi, ia pun
mengingat masa lalunya bersama dengan mantan rekannya di Unguis.
……………
“Kenalin! Nama gue Zalhein
Zirara! Orang yang pendiem ini namanya Lupherius! Kalian harus hati-hati sama
dia, karena dia itu suka lupa nama orang! Ahahaaha!”
“Haha, pantes aja gue ngerasa nempel banget sama orang itu. Kalo gue
pikir-pikir lagi, kelakuan dia mirip banget kayak lo, Zal.”
Pikir Lupherius, ketika ia
teringat tentang mantan Kapten-nya yang mirip dengan Myllo.
“Zal, lo nggak usah sok asik deh sama mereka! Udah tau mereka bakal jadi
rival kita!”
“Lucu ya, bahkan Djinn pun ngingetin gue sama masa lalu gue yang selalu
jaga jarak sama orang lain.”
Lanjutnya, ketika ia melihat
kesamaan antara Djinn dengan dirinya yang masih muda.
Ketika bermeditasi, ia terus
mengingat masa lalunya dengan mantan rekannya di Unguis.
Hingga pada akhirnya…
“Za…Zal! Semuanya! Ta…Tahan sebentar lagi! Bi…Biar gue bawa kalian dari—”
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Lu…Luph…de…denger perintah gue…terakhir kali—”
“Di…Diem! Jangan ngomong kayak gi—”
“Lo harus bertahan hidup—”
“Huff!”
…ia teringat akan momen terakhir
bersama dengan Unguis, hingga memecahkan konsentrasinya ketika bermeditasi.
“Cih, sialan. Kenapa gue harus
keinget masa lalu itu?”
Bisik Lupherius, sambil berusaha
menjaga ketenangannya.
“Yaudah, lah. Nggak boleh
buang-buang waktu lagi. Mending gue pergi dari sini.”
……………
Ia pun berlari untuk keluar dari
Penampungan.
Sambil berjalan, ia melihat ada
banyak mayat. Baik itu mayat Royal Knights, maupun mayat dari para tahanan.
“Sial. Ternyata dia juga nggak sanggup ya jagain tahanan sebanyak itu?”
Pikirnya akan Djinn sambil
berlari.
Ketika ia hendak keluar dari
Penampungan, ia menemukan sebuah lubang besar di atap.
Merasa itu jalan keluarnya, ia
pun keluar dari lubang itu.
Ia merasa semua berhasil
melarikan diri.
Namun kenyataannya, saat ia tiba
di tengah kota…
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Urgh…”
“*Boom! (suara ledakan)”
““Arrgh!””
…ia melihat ada beberapa tahanan
yang sedang berhadapan dengan sisa dari Royal Knights.
Melihat kejadian itu, ia pun
tidak tinggal diam.
“Lycan Strike.”
“*Chrak! (suara cakaran)”
““Argh!””
Lupherius langsung menyerang sisa
dari Royal Knights hanya dengan sekali cakar.
“Siapa pria ini?”
“Lupherius Nighteeth, Petualang
Nomor Sembilan di dunia!”
Balas Zorlyan ketika Göhran
menanyakannya.
“Hm? Dari yang gue rasain, Jiwa orang ini mirip sama Naga itu.”
Pikir Lupherius ketika melihat
Göhran, sambil membandingkannya dengan Yssalq yang masih belum sadar.
“Gue Lupherius. Lo itu Naga, ka—”
““Ssssttt!””
Beberapa dari tahanan meminta
Lupherius untuk diam ketika ia bertanya kepada Göhran.
“Ka…Kau benar. Namun, jangan keras-keras
ketika menyebut siapa a—”
“Itu mereka!”
““!!!””
Mereka semua dikejutkan dengan
kedatangan Sebastian ketika Göhran sedang berbicara kepada Lupherius.
Sebastian datang bersama dengan 5
Royal Knights untuk membunuh semua tahanan yang ada di depan mata.
Saat melihat Sebastian, Göhran
pun langsung mengetahui siapa dirinya.
“Kau itu…keturunan dari
Dracorion, benar?!”
“!!!”
Sebastian terkejut ketika
mendengar kata-kata dari Göhran.
“Te…Ternyata anda adalah Naga
yang ada bersama dengan Verde, ketika saya menghubunginya dengan Orb Call—”
“Katakanlah kepadaku.”
“Hm?!”
“Apa yang membuatmu menyimpang
dari leluhurmu?!”
Tanya Göhran dengan nada lantang.
“Siegfried yang kukenal adalah
orang yang sangat kuat dan baik hati! Tidak ada niatan daripadanya untuk menyiksa,
apalagi mengambil Jiwa dengan paksa sepertimu! Jika ia masih hidup, betapa
malunya ia melihat keturunannya seperti i—”
“DIAAAAM!!!”
Teriak Sebastian dengan kesal
“Anda tidak tahu apa-apa tentang
leluhur saya yang asli, yang merupakan kakak dari Dracorion! Anda tidak
tahu bagaimana ia dipermalukan oleh Dracorion yang sangat anda banggakan itu!”
Lanjut Sebastian.
Mendengar penjelasan dari
Sebastian, ingatan dari Göhran pun seketika muncul kembali.
“Dipermalukan?”
“…”
“Ah, kau benar. Aku terlalu membanggakan Dracorion,
sampai melupakan pria yang sangat dihormati Dracorion, yang bahkan tega membunuh sosok mulia sepertinya hanya
karena rasa dengki.”
Balas Göhran kepada Sebastian.
“Dan kau bilang apa, sebelumnya?
Dipermalukan? Hmph!Pantas saja klanmu menjadi hina. Tidak kusangka pria hina
itu ternyata memiliki keturunan, yang menjadi sama hinanya dengan—”
“DIAAAMM! DASAR MAHLUK KUNO!!”
Hina Sebastian dengan berteriak.
“Royal Knights! Bunuh mereka
semua!”
““Baik, Yang Mulia!””
Royal Knights pun mulai menyerang
mereka semua.
Akan tetapi…
“*Shringgg… (suara benda tajam beradu)”
…Sebastian justru diserang secara
dadakan oleh Lupherius.
“Oi, Göhan. Kalo gue bunuh orang
ini, lo nggak masalah, kan?”
“Ba…Baiklah.”
Balas Göhran dengan heran, hingga
ia berpikir.
“Padahal namaku Göhran. Ia menyebut namaku, seakan aku ini sesosok
karakter lain.”
Göhran pun melarikan diri ke
tengah kota bersama dengan tahanan lainnya.
Sedangkan Lupherius, ia menahan
Sebastian dan hendak memulai pertarungan baru antara mereka berdua.
“Anda? Membunuh saya?”
“*Boom! (suara semburan api)”
“…”
“Apakah anda serius?!”
Tanya Sebastian setelah ia
menyemburkan ke api yang bisa dihindari oleh Lupherius.
“Perlukah saya ingatkan kembali,
bahwa anda gagal mengalahkan saya, ketika kita bertarung di Dungeon of
Beasts?!”
“…”
“Apa yang bisa anda lakukan
dengan tubuh setua itu?! Sadar diri anda, serigala!”
“…”
Lupherius tahu bahwa Sebastian
sedang mempengaruhi dirinya agar ia terlarut dalam emosi.
Namun ia berusaha dengan tenang
dan langsung menyerang Sebastian dengan sihirnya.
“Lycan Blade: Bloody Moon.”
“*Chrak! (suara ayunan cakaran)”
“*Chringgg… (suara tangkisan)”
“Cih!”
Ia menyerang Sebastian dengan
cara mengayunkan cakarannya dari jarak jauh, hingga tercipta bilah berwarna
merah yang mengarah ke Sebastian.
Sayangnya, Sebastian masih bisa
menangkis serangan tersebut.
“Se…Serangan macam apa itu?!
Betapa lemahnya serangan anda, serigala tua!”
Seru Sebastian kepada Lupherius.
Mendengar seruan darinya,
Lupherius justru…
“Pfftt! Ahahaha!”
…tertawa.
“A…Adakah yang lucu di matamu?!”
“Pastinya ada dong. Lo ngomong gitu,
tapi lo nggak liat tangan lo yang gemeteran itu?”
Balas Lupherius, yang menyadari
tangan gemetar dari Sebastian, setelah ia menangkis serangannya.
“Oi, Sebatas.”
“SEBASTIAN!!!”
“Mungkin lo bisa bangga sama Jiwa
Dragonewt yang lo ambil itu. Tapi sayang aja kalo lo cuma bisa banggain
kekuatan curian kayak gitu.”
“A…Apa?!”
Geram Sebastian setelah mendengar
sarkasme dari Lupherius.
“Ba…Baiklah. Saya akui bahwa
kekuatan ini bukanlah kekuatan asli saya. Namun, jika anda mengatakan bahwa
kekuatan ini adalah curian, sepertinya anda salah besar, serigala tua!”
“Hm?”
“Kekuatan ini adalah kekuatan
yang diberikan kepada saya oleh seseorang yang sangat kuat, yang merupakan raja sesungguhnya di negara ini!”
Jelas Sebastian, yang membuat
Lupherius kebingungan.
“Raja sesungguhnya…?”
“Benar! Tambah lagi, Petualang
itu sedang pergi kepada beliau bersama dengan bandit itu!”
“Maksud lo, Djinn—”
“Ah, sayang sekali. Mereka berdua
hanya akan menjemput ajal saja ketika bertemu dengan beliau!”
“!!!”
Lupherius terkejut ketika mendengar
perkataannya.
“OK, Sebatang.”
“SEBASTIAN!!!”
“Mau taruhan?”
Tanya Lupherius, sambil
menanggalkan bajunya dan berubah wujud.
“Wujud itu…”
“(Lycan Form.)”
Balas Lupherius, dengan wujud
seekor serigala dan suara yang berubah.
“(Ayo kita taruhan. Siapapun yang
menang di antara kita, artinya orang
yang kita percayain masing-masing menang. Berani, nggak?)”
“Artinya, jika anda menang,
artinya Petualang itu menang?! Hahaha! Lucu sekali! Namun, sepertinya
menyenangkan!”
Balas Sebastian, ketika mereka
hendak memulai pertarungan kedua mereka.