
Besok paginya, gue bangun lebih cepet dari Myllo
karena mau latian dulu.
Tapi, tiba-tiba ada masalah yang bener-bener di luar
dugaan.
.......................
“…”
Kenapa ada banyak orang yang ada di depan kedai?
“Woy! Udah gue bilang! Gue sama rekan gue cuma
ngejalanin Quest doang!”
Hah?! Myllo?! Kok dikepung?!
“...”
Itu Gia?
Kok tangannya...diperban?
“Penipu! Kalian Para Petualang sama saja semua!”
“Sudah ada bukti jelas di kamar kalian, bahwa kalian
mencuri Buah Xia!”
“Udah gue bilang! Kita abis lawan Ghoul abis itu tidur!”
“Diam! Jangan banyak berkomentar lagi!”
Loh, kok...
Kita nyuri Buah Xia?!
Perasaan nggak ada, kok!
Kayaknya gue harus diem-diem ngecek kamar—
“Ah! Djinn! Tolongin!”
““...””
ADUUUUUHHHH!!! SI DONGOOOOO!!!
KENAPA MANGGIL GUE?!?!
“Itu rekan orang ini! Tangkap dia!”
Yah, kan! Jadi harus lari deh gue!
“...”
Gue langsung lari sebelum ditangkep sama warga-warga
ini.
Nggak pake pikir panjang, gue langsung lari ke dalem
kedai untuk ke kamar gue.
“Nah! Dia udah dikepung—”
“...”
“Wah! Kenapa dia lincah banget!”
“Jangan gentar! Kita tetep kejar dia!”
Untung mereka kepung gue di sekitar meja. Jadinya gue
bisa lompat dari meja untuk keluar dari kepungan mereka.
“Dia kayaknya mau coba ke atas!”
“Tenang! Tangga udah kita tahan!”
Lo pikir cukup?!
Walaupun mereka mau coba cegat gue, mau nggak mau gue
lompat-lompatan, dari pegangan tangga, ke tembok, bahkan ke kepala mereka.
“Aduh! Kurang ajar!”
“Sialan! Berani-beraninya dia injak kepala saya!”
Akhirnya gue sampe di penginapan gue. Dan yang gue
liat...
Udah ada banyak Buah Xia bertebaran di sekitar kamar
gue!
“Kok bisa?!”
Kalo gue perhatiin sih, arah buah-buah ini jatohnya
dari kolong kasur gue sama Myllo!
Sialan, gue sama Myllo dijebak!
Kayaknya, pas kita lagi keluar untuk lawan Ghoul,
dalangnya itu masuk kamar gue sama Myllo, terus tebar-tebarin buah-buah ini.
Pasti gitu skenarionya!
Masalahnya, siapa juga yang kepikiran ngecek kolong
kasur kalo nggak masukin apa-apa?!
“Itu orangnya!”
“Nah! Dia nggak bisa kemana-mana!”
Nggak.
Masih ada satu jalan keluar!
“*Prang! (suara kaca pecah)”
“Wah! Gila dia!”
“Ini kan di atas!”
Bodo amat! Daripada gue ketangkep!
Untungnya, gue mendaratnya aman, nggak ada patah
tulang sama sekali.
Kalo gitu, sekarang waktunya gue cari cara untuk
bebasin—
“Hey! Petualang Bertopeng Sialan!”
“...”
Wah, brengsek!
Kayaknya gue tau siapa otaknya.
“Kalo mau macem-macem lagi, pisau ini bakal belek
leher temen lo!”
Dia preman kribo yang ngompol beberapa hari yang lalu!
Lo mau ngancem gue?!
“Woy! Lo kira lo bisa ngancem gue kayak gitu?!”
“Hah?! Temen lo udah—”
“Keliatannya sih gue bisa gerak JAUH lebih cepet
sebelum lo gorok leher Kapten gue!”
“Hiieekh!”
Gue ancem gitu aja lo udah takut, anjing!
“Myl, gue tinggal tunggu perintah lo aja.”
“Hmm...yaudah lah, biarin aja.”
“HAH?!”
Maksudnya biarin gue ketangkep?!
“Myl, tapi—”
“*Bruk! (suara terbanting)”
“Urgh! Petualang sialan!”
Kenapa dia banting preman itu?
“Denger, Djin.”
“…”
Dia bisikin sesuatu ke gue.
“…”
Oh, gitu?!
Kalo dipikir-pikir sih emang aneh.
Gue kira dia bener-bener dongo, ternyata kepake juga
otaknya.
“Jadi, kita gimana?”
“Biar aja kita ketangkep.”
“Hah?! Kok—”
“Percaya aja sama insting gue! Hihihi!”
Haaah, dasar gila!
“Yaudah lah, kalo itu perintah lo.”
“Hehe! Tenang aja! Semua pasti aman!”
Akhirnya kita nyerahin diri ke warga desa ini.
“Woy! Kita yang curi buah aneh lo itu! Sini tangkep
kita!”
“Ahahaha! Gitu dong! Nurut aja kayak anjing! Harusnya
lo nggak banting gue kalo nurut daritadi! Gue jamin hukuman lo bakal lebih
berat karena macem-macem sama pahlawan desa ini!”
Nurut aja kayak anjing?!
Nih orang mau mati atau gimana—
“Djinn!”
“Cih! Iya, iya, iya!”
Kalo nggak karena Myllo, udah abis nih si kribo anjing
satu ini!
“…”
“Hah?! Ngapain lo liat-liat?! Kapten lo aja nurut
kayak—”
“*Dhuk! (suara menginjak kaki)”
“AAAAGGGHHH!!!”
Uhmmm! Mampus!
“Woy, kribo! Daripada banyak ngomong, mending bawa
kita sekarang!”
“Huaaa! Kaki gue sakit banget! Dasar Petualang
Biadab!”
“Hmph! Dasar banci!”
Kalo nggak bisa nampol, seenggaknya gue bisa ngatain,
kan?
.................
Kita dibawa ke belakang rumah dari Kades ini, yang
ternyata ada tempat untuk tahanan.
Sebelum kita dimasukkin ke penjara, gue perhatiin
sekeliling ruang tahanan.
“Hmm...”
“Kenapa, Djinn?”
“Nggak apa-apa.”
Ternyata, cuma kita gue sama Myllo aja tahanannya.
Terus, ke mana orang gila kemarin ketauan maling sama
tukang perkosa?
Kayaknya sih kemarin nggak ada tanda-tanda personil
kerajaan yang dateng.
Waktu masuk penjara, gue sama Myllo ngobrolin hal yang
gak penting selama kurang lebih 1 jam, sampe Kades itu dateng nemuin kita
berdua.
“Maafkan saya yang telat menyapa kalian, Petualang.”
““…””
“Maafkan warga sekitar jika harus membawa kalian
secara paksa seperti ini. Kalian tahu kan kesalahan kalian apa?”
“Kesalahan? Lebih tepatnya dibikin salah!”
“Hah? Anda masih bersikeras untuk tidak mengakui
kesalahan anda?”
“Ya jelas lah—”
“Djinn. Biar gue aja.”
Sebenernya gue nggak yakin kalo Myllo yang ngomong,
tapi...yaudah lah biar dia aja.
“Woy, Pak Jenggot. Emangnya buah itu gunanya apa sih
untuk kita? Emangnya kita Saudagar yang keliling desa untuk transaksi ini itu?”
Lah! Kan udah gue jelasin kegunaan buah itu untuk—
Ohh…kayaknya gue paham arahnya kemana…
“Anda datang ke desa ini tanpa tahu buah itu apa?!
Jangan bercanda—”
“Nggak. Lagian kalo nggak bocah tolol ini, harusnya
kita nggak ke desa jelek ini.”
Woy! Gue denger lo ngomong apa, dongo!
“Maksud anda?”
“Nih, Quest kita!”
Myllo ngasih unjuk kertas Quest kita ke Kades ini.
“...”
Sekarang Kades ini baca Quest kita.
“Aneh. Mengapa pemerintah pusat mengizinkan Quest
seperti ini?”
“Hah?”
“Ini semua adalah dosa yang harus kami tanggung.
Bahkan saya berpikir bahwa dengan Ghoul, warga desa ini menjadi lebih beradab
dan menjadi takut untuk berbuat dosa.”
Wah, gila ini orang! Ada Monster se-serem itu yang
nakutin warganya, tapi dia bilang gitu?!
“Woy, Pak Jenggot…bapak sadar ngomong apaan?”
Nggak gue doang, Myllo juga kesel dengernya. Keliatan
jelas dari tatapannya.
“Saya sadar. Dan saya percaya, Dewa-Dewi menciptakan
Ghoul agar kami mengevaluasi pola pikir kami supaya lebih beradab.”
““…””
“Tapi, baik karena Quest atau bukan, kedatangan setiap
Petualang ke desa ini pasti karena Buah Xia. Hal itu tidak dapat diragukan la—”
“Woy, Pak Jenggot! Kan udah dibilang. Kita aja nggak
tau soal buah itu! Kalo pun tau, ngapain juga kita butuh buah curang kayak
gitu?”
“Bu…Buah curang…?”
“Iya lah! Orang-orang pada kerja keras untuk jadi
kuat, tapi ada buah untuk bikin semakin kuat?!”
“Terus maksud anda—”
“*Tung! (suara memukul penjara)”
“LO BERCANDA KALI, YA?! UNTUK APA BUAH KAYAK GITU KALO
KERJA KERAS BISA BIKIN KITA LEBIH KUAT DARIPADA BUAH ANEH ITU?! JANGAN PERNAH
REMEHIN KERJA KERAS ORANG!!!”
“...”
Gue cuma bisa senyum doang denger kata-kata Myllo.
“A...Anda belum saja merasakan khasiat buah i—”
“Nggak pake buah itu aja kita udah kuat untuk hajar
banyak Ghoul! Buat apa lagi buah kayak gitu?!”
“A...Apa katamu?!”
Eh, eh, eh! Kok dia ngepel tangannya keras banget,
sampe berdarah gitu?!
“Pe...Per...Perbuatan kafir!”
““Hah?!””
"Membunuh Ghoul yang merubah sikap warga desa sama saja
dengan perbuatan kafir!"
Gilah nih orang.
Kok ini orang seakan kayak nyembah semua Ghoul itu,
ya?
“Hey, kalian!”
“Ada apa, Kepala Desa?”
“Nanti sore, kita eksekusi dua Petualang ini!”
Hah?! Eksekusi?! Maksudnya dihukum mati?!
“Ta…Tapi, Kepala Desa—”
“Sampaikan kepada semua warga! Hukuman orang kafir
seperti mereka harus disaksikan oleh semua warga, agar menjadi contoh untuk
para warga!”
“Ba...Baik, Kepala Desa!”
Waduh, kok jadi dihukum mati gin—
“Tenang, Djinn.”
“Tenang?! Maksud lo—”
“Dua alesan kenapa lo harus tenang.”
“...”
“Yang pertama, lo harus percaya gue yang punya insting
kalo kita nggak akan mati.”
“Terus…?”
“Yang kedua…”
“…”
“Lo udah pernah
mati, kan? Harusnya lo nggak akan takut lagi sama ancaman kematian kayak
gitu!”
“Pfft...”
Hahaha! Bener juga!
“Djinn?”
“Ah, maaf. Gue jadi lebih tenang aja waktu lo ngomong
gitu!”
Kalo ngomongin hukuman mati, biasanya diapain sih?
Digantung? Dipotong kepalanya?
Ya, dari semua bentuk hukuman mati, menurut gue nggak
ada yang lebih nyakitin daripada cara mati gue!
“Tapi awas aja ya kalo sampe kita mati beneran! Gue
belom ada setahun di dunia ini!”
“Kan gue bilang, percaya aja sama gue!”
“Ya, ya, ya. Gue becanda doang!”
“Boong! Lo takut, kan?!”
“Haaaah?! Takut, lo bilang?!”
“Ngihihihi! Ternyata mental lo juga kayak anak kecil
yang baru lahir, ya! Sama kayak umur lo di dunia ini!”
“Apa lo bilang?!”
Ya, ujung-ujungnya debat konyol antara gue sama Si
Dongo ini lanjut terus menjelang eksekusi kita.