Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 14. My Target



Sekarang, kita udah sampe di Calmisiu dari Penampungan yang kita serang di deket Albam River.


“Anakku!”


“Ibu! Ayah!”


“Suamiku!”


“Maafin aku karena hampir dijual…hiks!”


Ternyata masih ada juga penduduk desa ini yang ditangkep di tempat lain.


“Itu… mahluk apa?”


“O-Ogre?!”


“Hikh! Ke-Kenap—”


“Te-Tenanglah! Ia tidak akan mengganggu desa ini!”


“…”


“Hurgh…”


“Ke-Kenapa Ogre itu?!”


“Dia keliatannya takut…sama pria itu?”


Oh…ternyata itu yang namanya Ogre, ya?


Tadi, pas lagi di Penampungan, dia ngamuk semenjak dilepas borgolnya. Tapi gue langsung ketok kepala dia. Sebenernya reflek aja sih gue ngetok kepala dia, gara-gara dia gak sengaja nginjek kaki gue.


“…”


“Apa lo liat-liat?!”


Woy, jutek banget!


Styx keliatannya masih kesel sama gue. Tapi nggak peduli juga sih gue mau dia kesel kayak gimana, asal nggak ganggu gue aja.


“Selamat datang, semuanya.”


“Ke-Kepala Desa!”


“Syukurlah kalian telah kembali dengan selamat!”


Semuanya warga yang sempet ditahan pada peluk si Kepala Desa. Keliatannya dia orang yang baik, bahkan warganya pun seneng banget bisa ketemu dia lagi.


“Permisi, Kepala Desa. Kami hendak mengetahui keadaan para penduduk yang ditahan.”


“Baiklah. Kalian semua bisa ikuti prajurit ini untuk dipastikan kesehatannya, ya!”


““Baik, Kepala Desa!””


Orang-orang yang ditahan, mau apapun rasnya, langsung jalan ngikutin prajurit yang bawahannya Bismont itu ke salah satu rumah di desa ini.


Semuanya keliatan mulus, kecuali…


“Ta-Tahan Ogre ini!”


“Gruaaagh!”


“Mo-Mohon untuk penduduk yang lain! Segera pergi dari sini!”


Beberapa prajurit keliatan takut sama Ogre itu.


Emang keliatan serem. Tapi menurut gue pribadi, Ogre itu keliatannya cuma lemper doang dalemnya.


Udah jelas banget Ogre itu ketakutan.


Mungkin karena dia itu Monster, makanya prajurit-prajurit itu pada ngancem dia.


Ya gue sih nggak tau ya pandangan mereka gimana soal Monster, tapi nggak tau kenapa gue nggak bisa diem doang liat dia diancem kayak gitu.


“…”


“Ke-Kenapa anda berdiri di depan Ogre itu?!”


“Hurgh…”


Mungkin gue bisa bodo amatan. Tapi kasian aja gue sama Troll ini.


“Gue diminta ‘bos’ lo semua untuk bebasin semua tahanan. Dan Monster ini salah satu tahanannya.”


“Ta-Tapi, dia itu Monster!”


“Karena dia Monster? Kalo gitu, gue bunuh aja ya Monster ini?!”


“Heurgh!”


““Hah?!””


“I-Itu agak mustahil… Menangkap dan menahannya saja sudah beruntung—”


“Hah?! Nahan Monster ini?!”


“I-Iya—”


“Kalo gitu, apa yang bikin lo semua beda dari Goldiggia?! Udah dibebasin, tapi ujung-ujungnya ditahan! Kalo emang dia bikin masalah, kenapa gak dibunuh aja sekarang?!”


““…””


Keliatannya mereka bingung sama omongan gue.


“Graahahaha! Lo bener, Djinn!”


Bismont? Kenapa dia dateng-dateng ketawa?


“Oy, Ogre! Lo inget gak apa yang bikin lo ditangkep?!”


“A-A-Anu…”


“…”


“Sa-Saya hanya tinggal be-bersama ba-bapak saya…”


“Terus?”


“Ta-Tapi bapak sa… bapak saya di-dibunuh di depan mata saya…”


“Yang bunuh…?”


“Ma-Manusia yang tangkap sa… tangkap saya… hiks…hiks…”


Kasian juga sebenernya.


Udah pengecut, bapaknya dibunuh, ditangkep, bahkan masih diancem pula karena dia Monster.


“Punya anggota keluarga lain?”


“Ng-Nggak…”


“Ibu? Atau kakak? Atau adik?”


“Di-Dibunuh…”


Ya ampun, kasian banget…


“Woy! Siapapun yang berani macem-macem sama "anak" gue, mending tulis surat wasiat ke keluarga kalian!”


““HAAAAHHH?! YANG MULIA MAU KOLEKSI LAGI!!!””


HAH?! APA-APAAN?! KOLEKSI?!?!


“Punya nama?”


“Mo-Monster bi-biasanya nggak pu-punya na—”


“Ok, Herulk! Panggil gue Papa, ya?! Graahahahaha!”


“Ba-Baik, Papa.”


“Hey, hey, hey! Nggak usah takut dong sama Papa! Papa nggak gigit, kok!”


“Iya, Papa…”


SIAPA JUGA YANG NGGAK TAKUT?!


Udah diancem, tiba-tiba disuruh manggil lo Papa?! Lo gila kali, ya?!


“Djinn. Rekan-rekan lo udah pada di dalem ruangan lo. Gue mau denger laporan kalian.”


“Y-Ya…”


Udah galak, aneh pula nih orang!


……………


Waktu gue sampe di kamar, gue bisa liat Meldek yang ada sikutnya diperban karena luka.


“Si-Siapa yang nyerang lo, Meldek?!”


“Ti-Tidak! Saya hanya tersandung saja, Styx!”


“Jangan ragu-ragu! Ceritain aja ke gue, sebelum mereka—”


“Saya berkata jujur! Saya tersandung hingga terjatuh ketika hendak membawa para tahanan keluar!”


“Yakin?!”


“OK kalo gitu!”


Ke…Kenapa jadi posesif gitu dia sama Meldek?


Gue yang baru masuk langsung duduk di kasur gue.


Masalahnya…


““…””


…canggung banget!


Pada diem-dieman semua—


“Maaf gue baru dateng, tadi abis masak.”


Huh! Untung dateng nih orang!


Tapi kok…


“Heurgh…”


…dia dateng bawa ‘anaknya’ itu?


Tambah lagi, kenapa bisa ‘anaknya’ itu masuk ke kamar ini? Kan badannya gede banget, ya.


“Herulk, gimana masakan papa?”


“E-Enak, papa. Nggak nyangka papa bisa masak…”


“Graahahahaha! Pastinya lah! Kan papa jago ma—”


“Pak Bismont, bisa nggak kita langsung bahas aja?!”


“O-OK, kak…”


“…”


Hah? Kenapa dia liat-liat?


Masih kesel sama gue?


Hmph! Dasar bocah!


“Jadi, apa itu semua yang berhasil kalian bebasin?”


“Ya, Yang Mulia. Ada sekitar 25 Manusia, dengan 5 orang yang merupakan warga desa ini, lalu ada 4 Elf, 3  Merman, 2 Beastman, serta 1 Ogre.”


Kira-kira itu yang kita bertiga bebasin, termasuk anak barunya Bismont.


“Hmm… terus tempatnya? Gimana sekarang?”


““Ah…””


“Hmm… liat respon kalian, pasti tempat itu udah hancur, ya?”


“Ahaha… seperti itulah, Yang Mulia.”


Lebih tepatnya, gue sama Styx yang terlalu brutal, sampe tempatnya hancur.


“Padahal gue tadinya mau investigasi Penampungan yang kalian hancurin. Ya, seenggaknya ada beberapa anggota Goldiggia yang nyerahin diri.”


Hah? Nyerahin diri?


“Maksud anda apa, Yang Mulia?”


“Ada beberapa anggota Goldiggia yang ditempatin di Penampungan yang ada di Kishrock Mountain. Katanya tempat itu juga udah hancur. Ya…pasti Kak Styx tau lah karena siapa!”


“Cih! Si Lemah itu, ya?”


“…”


Woy, woy, woy! Tau diri kalo ngomong! Ada yang tersinggung!


“Eh! Me-Meldek?! Maaf! Gua nggak ada maksud ngatain lo!”


“Ti-Tidak apa-apa, Styx.”


“Ta-Tapi lo bantu banyak kok! Kalo dibandingin sama Myllo, lo lebih berguna daripada dia!”


“Haha… Saya mengerti, Styx…”


Tuh kan! Nyesel kan lo ngomong kayak gitu!


“Oh ya, waktu kalian nyerang Penampungan di deket Albar River, kalian ketemu Kakak Besar, nggak?”


“Hm? Kakak Besar?”


“Oh, mungkin yang anda maksud itu orang-orang seperti Viya The Rapist, Yang Mulia?”


“Ya. Mereka semua itu 10 kaki tangan dari Kakak Tertua, dan mereka orang-orang yang paling berbahaya di Goldiggia.”


Oh iya! Kok nggak ada mereka ya?!


Harusnya ada cewek itu, tapi nggak ada di Penampungan yang kita serang tadi!


Artinya gue masih belom ketemu 5 lagi, ya?


“Coba liat gambar ini.”


““…””


Waw! Ini foto?! Kok gambarnya bagus banget?!


“…”


Waktu gue liat, ada beberapa yang gue kenal.


“Orang-orang ini… udah pada mati.”


“Maksud lo?!”


“Djinn berkata jujur, Yang Mulia. Saya menyaksikan ia membunuh Axelo The Axe, Bronto The Giant-Man, dan QuitosThe Bloodsucker, yang kala itu hampir membunuh saya.”


“Oh ya. Ini juga hampir bunuh lo kan, Medekl? Untungnya gue langsung sadar waktu lo tolong gue!”


“Ah ya! Anda benar, Styx!”


“Hihi, makasih ya.”


“Ya! Senang bisa membantu!”


Oh jablay itu ternyata udah mati, ya…


“…”


Total foto ini ada 9 orang.


Selain orang-orang yang disebut sebelumnya, ada yang Manusia Kadal, ada yang yang senyumnya sinis banget, ada yang keliatan tinggi badannya, sama ada Elf tapi pucet banget.


“Djinn, jika anda bingung, mahluk ini berasal dari ras Lizardman, ia adalah salah satu sub-spesies dari Naga. Sedangkan wanita ini berasal dari ras yang waktu itu saya sebut dengan Snow Elf.”


Oh…gitu ya…


Pantesan keliatan pucet dingin gitu kulitnya.


“Pak Bismont.”


“Ada apa, Kak Styx?”


“Dari informasi yang gue dapet, katanya ada 10 Kakak Besar.”


“Ya. Kita nggak dapet intel tentang Kakak Besar yang terak—”


“Gue tau siapa.”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Dji-Djinn?!”


“Woy…! Kok lo tiba-tiba marah?!”


“Heurgh…”


“Sa-Sabar, Djinn!”


“…”


Hah?! Kenapa mereka?!


““Haaahhh…””


Apa mungkin gue terlalu marah, makanya mereka sampe ketakutan?!


“Si…Siapa emang Kakak Besar terakhir?!”


“Orang yang namanya disebut Vast. Dia target gue!”


“Oh! Maksud lo yang waktu itu nyerang gue?!”


“Hm!”


Gue cuma gumam sambil ngangguk doang.


Liat aja lo! Abis lo sama gue!