
“Woy! Kita diserang!”
“Ayo serang dia!”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
““Uaarggh!””
Udah sekitar 10 orang pasukan Goldiggia yang gue hajar.
“Mel, buru lepasin mereka.”
“Baiklah, Djinn!”
Meldek langsung pergi untuk bebasin para tahanan, walaupun…
“Ayo serang dia!”
“Kalo dia berhasil hajar 10 orang, harusnya dia nggak bisa hajar 20 orang!”
…banyak yang mau serbu gue.
Tapi ujung-ujungnya…
““Argh!””
…berkat kekuatan super ini, gue bisa hajar banyak dari mereka.
Untungnya sih, kekuatannya nggak segede waktu gue dateng pertama kali ke dunia ini.
Walaupun nggak segede itu, tetep aja masih keras banget pukulannya!
“Mel, gimana?!”
“Sesuai dugaan, Djinn! Sebagian besar dari mereka yang ditahan di sekitar tempat ini adalah warga lanjut usia!”
Bener kata Styx, ternyata ada juga beberapa orang yang ditahan di deket pintu masuk.
Dan sesuai perkiraan Meldek sih, makin tinggi ‘harga’ mereka, makin dalem disembunyiinnya.
Makanya itu yang ditahan di sekitar sini tuh orang-orang manula. Artinya ada kemungkinan orang-orang mudanya ditahan lebih dalem lagi.
“Te-Terima kasih!”
“Akhirnya saya selamat!”
Orang-orang ini ada yang seneng, tapi…
“Haah, buat apa juga lari. Kan udah gak punya harapan…”
“Aku lebih baik mati saja…”
…ada yang hidupnya udah pasrah.
Nggak tau kenapa, gue keinget diri gue dulu sebelum masuk dunia ini…
“LO HARUS PUNYA SEMANGAT HIDUP SUPAYA BISA PAKE KESEMPATAN KEDUA LO!”
Karena suara itu makanya gue nggak kepikiran untuk mati lagi.
Eh, tapi waktu itu tuh suara siapa ya? Kok udah gak denger lagi ya gue?
Duh, fokus dulu, Djinn!
“Mel, ayo!”
“Ba-Baik—”
“Itu mereka udah lepasin orang-orang yang mau dijual! Cepet tangkep mereka semua!”
“Serang mereka!”
““YA!””
Wah, jadi makin kacau nih!
Meldek gak bisa apa-apa. Tambah lagi, keliatannya tahanan-tahanan ini juga gak bisa apa-apa.
“Mel, lo bawa mereka lari aja, gih!”
“Ba-Bagaimana dengan—”
“Cepetan!”
“BA-BAIK! Semuanya, mari ikuti saya!”
Meldek akhirnya bawa lari beberapa tahanan yang udah dibebasin itu.
Artinya, gue harus mikirin gimana caranya gue tahan orang-orang yang mau ngejar mereka semua.
Dari yang gue liat, ada sekitar lebih dari 20 orang yang pake senjata tajem yang mau ngejar Meldek sama yang lainnya. Tapi nggak tau kenapa, gue bisa ngerasain ada sekitar lebih dari 15 orang yang ada di belakang orang-orang ini.
Hmm… gue harus ngapain ya? Yang bisa gue pikirin cuma satu doang.
Maju terus!
“…”
Gue lari ke arah orang-orang yang ada di depan gue, sambil nyerang mereka semua.
Sama kayak sebelum-sebelumnya, orang-orang ini gerakannya lambat banget. Atau mungkin karena gue yang terlalu cepet? Gue juga nggak tau. Yang pasti, gue yakin semua karena Mana gue ini.
Cuma modal ilmu Pencak Silat, gue hajar orang-orang ini.
Masalahnya…
““*Syut! (suara banyak tembakan panah)””
Yang pada pake panah ini pada ganggu banget!
“Hm…”
Gue ambil satu pedang dari salah satu pasukan ini, terus gue lempar ke atap supaya rubuh.
“*Swung, swung, swung… (suara lemparan pedang)”
“*Brrruk! (suara atap rubuh)”
““Agh!””
OK, ternyata berhasil.
Padahal gue kira gagal, ternyata berhasil.
“Gi-Gila! Di-Dia Monster!”
“Ke-Kenapa kita harus jadi tumbal untuk lawan dia—”
“*Bhuk! (suara pukulan)”
Jangan salahin gue, salahin permainan dunia ini.
Survival of the Fittest. Yang paling kuat yang bertahan.
Gitu kan aturan dunia ini?
Bahkan kalo lo nggak kuat sama sekali, bisa dihina-hina hidup lo, kayak Djinnardio.
Ah! Fokus, fokus, fokus!
Mending jalan aja dulu! Bisa-bisa masih ada beberapa tahanan yang belom dilepas Styx.
……………
Semakin ke dalem, semakin banyak yang gue lepasin.
Tapi nggak gue sangka, ternyata tempatnya makin ke dalem bawah tanah. Kemungkinan masih lebih dalem lagi.
Kalo ibarat ini gedung di dunia lama gue, ini udah kayak lantai basement yang ke berapa ya? 6? Atau 7?
“Di-Dia sendirian!”
“Ayo, mumpung dia sendi—”
“Goblok! Lo gak denger, ya?! Kalo orang-orang di atas udah pada dihajar sama—”
““*Bhuk! (suara banyak pukulan)””
Makin ke bawah, makin banyak penjaga yang gue abisin.
Dan makin ke bawah, tahanannya makin beragam. Kalo tadi di depan pintu masuk itu orang-orang tua, giliran makin ke bawah ada Manusia Binatang sama Kuping Panjang Hitem yang ditahan.
Apa nama ras-nya? Beastman sama Dark Elf, ya?
Eh iya, tahanan-tahanan yang gue lepasin tadi pada aman gak ya keluarnya? Kalo ujung-ujungnya ketangkep lagi, bisa kerja dua kali nih!
“…”
Sekarang, di basement lantai 8, gue liat ras Kuping Panjang yang namanya Elf yang ditahan.
“Ah! Akhirnya kita dibebaskan!”
“Siapa yang membebasskan kita!”
Belom dibebasin udah pada seneng tuh tahanannya.
Tahanannya pada punya rambut pirang terang sama kuping yang panjang.
Tapi, ada satu dari mereka yang rambutnya warna putih!
Jangan bilang… dia satu ras sama ibunya Djinnardio?!
Tapi kok… gue kayak pernah liat ya orangnya—
““HAAAAAAHHHHH?! DJI-DJINNARDIO?!””
Hah?! Mereka kenal gue?!
Oh! Jangan-jangan mereka rakyat-rakyat dari kakeknya Djinnardio?!
“Me-Mengapa Anak Haram itu bisa bebas berkeliaran?!”
“Apa boleh buat, ini kesempatan kita lari! Hei, Anak Haram! Cepat bebaskan kami!”
“Benar! Saya kenal dengan Raja Bivomüne! Beliau pasti akan senang jika saya ceritakan tentang cucunya yang membebaskan kami!”
Dih, ternyata kayak gini rakyat-rakyatnya?!
Najis!
Malu-maluin banget punya rakyat kayak gini.
“Woy! Lo semua mau gue bebasin tapi kayak gitu ngomongnya?!”
““Eh?””
Hah? Kenapa mereka pada kaget?
Oh.
Mungkin mereka kaget karena nggak nyangka kalo ‘Djinnardio’ yang mereka kenal kayak gini omongannya…
“Syemangyat kelyuar daryi penjyaryanya! (semangat keluar dari penjaranya)”
Bodo amat mau dibilang ngeledek atau nggak, yang penting udah gue ‘semangatin’ kan?
“Hey! Keterlaluan!”
“Apakah pantas perilaku seorang Pangeran seperti itu?!
“Mengapa bisa begitu angkuh untuk seseorang yang tidak memiliki Jiwa?!”
Waaaww! Sebagian besar dari mereka langsung nyolot pas gue ngomong gitu! Untung aja nggak gue bebasin satu pun dari mereka.
Ya, sebagian besar, karena masih ada dari mereka yang diem aja, walaupun natap dingin kayak mau bunuh gue.
“Saya bersumpah agar sekiranya anda menyusul orang tua anda dengan cari paling hina!”
“Dasar pecundang! Hanya berani di belakang Raja Bivomüne saja!”
“Dasar tidak tahu malu, Anak Haram!”
““…””
Hadeeeh! Mereka salah banget bikin emosi gue!
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“A-Ada apa ini?! Mengapa saya merasa sesak?!”
“Sa… ya… tidak… ku…”
“Beberapa… sudah pingsan… apa sebenarnya yang…”
“…”
Padahal gue baru marah doang, belom ngapa-ngapain. Tapi keliatannya mereka udah ketakutan semua.
Apa ini yang namanya aura-aura itu kali ya?
“Woy! Dasar anjing ya lo semua!”
“A-Anak Ha—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Mu-Mustahil! A-Aura tersebut—”
“*Brak! (suara sel penjara yang hancur)”
““!!!””
“Inget ya! Gue bebasin lo semua karena gue dibayar! Jangan kalian pikir gue bebasin lo karena kemauan gue! Dasar sampah lo semua!”
““!!!””
“NGAPAIN JUGA GUE NOLONG SAMPAH KAYAK KALIAN?!”
““…””
Ah, kok jadi pada pingsan semua? Jangan bilang gara-gara emosi gu—
“!!!”
Tunggu! Ada yang mau dateng!
“Itu dia, tangkap orang itu!”
“Kata Kakak Tertua jangan bunuh Anak Haram i—”
“*Bhuk! Dhuk! Bhuk! (suara memukul dan menendang)”
Huh… untung aja cuma 5 orang yang dateng, jadi cepet beresin—
“Mu-Mustahil!”
“Me-Mengapa ia bisa—”
“Cepetan keluar dari sini, sampah! Tinggal jalan aja susah banget, sih?!”
““Ba-Baik!””
Nah, bagus. Mereka udah jalan kelu—
“A-Anu…”
Hah? Elf Rambut Putih? Kenapa dia gak ikut lari?
“…”
Tunggu…!
Gue yakin banget kalo pernah liat mukanya!
Tapi di mana ya liatnya?!
“Hm? Ada apa?”
“Ma-Masih ada beberapa High Elf yang ditahan terpisah dari ruangan ini!”
“Mereka ada dimana?”
“Mereka tersembunyi di atas tempat ini!”
Di atas ada Styx, kan?
Yaudah, kalo gitu gue ke bawah aja—
“T-Tunggu…”
“Hah?! Apaan—”
“Ti-Tidak ada apa-apa di bawah lantai ini, selain jasad dari tahanan yang kelaparan!”
Hah?! Jadi cuma ada mayat doang di bawah?!
Artinya mereka dibuang aja kalo udah nggak bernyawa?!
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
Dasar brengsek Goldiggia ini!
Seenak jidat buang orang kayak gitu a…
“…”
Hah? Dia kejang-kejang gitu karena gue marah?
“…”
Huuuh… Lo harus tenang dikit, Djinn…
“Yaudah. Kalo gitu, sana lo pergi. Gue mau—”
“I-Izinkan saya untuk ikut!”
“Hm?”
“Ada seseorang yang harus saya cari!”
Hah? Ikut?
“Sa-Saya berjanji agar saya tidak menjadi beban bagi anda!”
“…”
Hm… Gimana ya?
Yaudah lah, biarin aja. Lagian gue juga penasaran sama cewek ini.
“Yaudah. Kalo gitu kita ke atas.”
“Baiklah.”
Sambil kita ke atas, ada satu hal yang bikin gue agak curiga.
“Lo tau dari mana kalo di bawah itu isinya mayat semua?”
“S-Setiap penjaga tahanan pergi ke bawah, mereka pasti membawa satu atau lebih dari satu mayat. Salah satu mayat itu adalah… kakak saya!”
Oh, ternyata kakaknya korban juga.
“Terus, yang mau lo cari siapa?”
“A-Adik saya! Ia masih hidup dan ditahan bersama Elf yang lainnya di paling atas!”
Paling atas? Harusnya Styx ada di situ.
“Tenang, rekan gue ada di atas.”
“A-Apakah rekan anda hanya seorang diri?”
“Ya—”
“Ba-Bahaya! Semua Kakak Besar berkumpul di tempat itu! Anda harus menolongnya!”
Waduh, Kakak Besar itu yang dibilang Bismont, kan?
“Yaudah, ayo kita ke atas!”
“Tu-Tunggu dulu!”
“Hm?”
“Di atas sana… Di atas sana semua Kakak Besar yang tersisa berkumpul semua!”
Oh, kayaknya gue tau siapa dia.
Yaudah, ikutin aja alur permainannya.
“Ya, mau nggak mau kita tetep ke atas, kan?”
“Akan tetapi—”
“Kan kakak lo lagi ditahan di atas sana, kan?”
“Anda benar.”
Hmph! Dasar penipu!
Gue nggak tau dia lupa 'naskahnya' atau emang sengaja 'ketauan' sama gue, tapi dia udah keliatan bohongnya.
“Te-Tetapi ada para Kakak Besar—”
“Tenang, gue yang bunuh 3 dari mereka.”
“!!!”
Keliatannya dia kaget.
Tapi kok dia kaget? Kirain udah tau.
“A-Anda membunuh mereka semua?!”
“Ya.”
“Ba-Baiklah.”
Akhirnya cewek ini mimpin jalan gue ke wilayah paling atas Penampungan ini.
Walaupun gue tau…
Kalo cewek ini juga salah satu dari Kakak Besar yang nyamar jadi tahanan!
Nggak! Lebih tepatnya…
Cewek ini tuh target gue!