Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 132. A Boy Who Became a Bandit



19 tahun yang lalu, ketika


seorang bayi baru saja lahir.


“Oweeek! Oweek!”


“Pu…Pujilah Dewa dan Dewi di atas


sana! Anak anda terlahir berbeda daripada yang lainnya! Ia lahir dengan Jiwa


yang besar!”


Kata salah satu perawat yang


melakukan persalinan, ketika ia baru saja lahir.


“Tuan Darius, selamat atas


lahirnya anak kedua anda!”


“Selamat, Tuan Darius!”


“Semoga anak itu menjadi anak


yang baik dan kuat!”


Puji beberapa personil dari


Riorio Merchant, yang kala itu masih dipimpin oleh Darius Dalrio, ayah dari


Dahlia dan Dalbert.


“Suamiku…tolong namai anak kedua


kita ini.”


“Hmm. Bagaiamana dengan Dalbert,


nama Pahlawan setelah Generasi Pahlawan di era Melchizedek? Mengingat dirimu


adalah mantan Petualang, istriku.”


“Hihi. Aku setuju dengan nama itu.”


Balas istri Darius, yang setuju


dengan nama yang diberikannya kepada anak itu.


Dengan itu, anak itu diberi nama


sebagai Dalbert Dalrio, dengan harapan bahwa ia akan tumbuh besar sebagai anak


yang baik dan kuat.


……………


Namun pada kenyataannya, 9 tahun


kemudian.


“Hey! Ke manakah komisi yang baru


saja kita terima?!”


“Bo…Bodoh sekali! Mengapa kau


bisa kehilangan komisi kita?!”


“Apa katamu?! Kau berani


denganku?!”


“Memang berani?! Ada apa?!”


Dua Petualang kehilangan komisi


yang mereka terima dan saling menyalahkan satu sama lain.


Namun, itu semua bukan karena


kelalaian mereka.


“Hihihi! Dasar bego! Masa nggak


sadar komisi ini gue ambil?!”


Itu semua karena Dalbert yang


mencopet komisi dari dua orang tersebut.


“Ah, belanjain, ah!”


Kata Dalbert, sambil berjalan mengelilingi


Riverfall Town.


Dengan penuh riang, ia


memperhatikan setiap yang terjual di pasar itu.


“♫Punya uang sendiri, nggak perlu uang ‘Saudagar’ itu!”


Setelah melihat-lihat setiap


barang jualan yang ada di pasar, ia menemukan sesuatu yang unik dan menyita


perhatiannya.


“Woy, Bos! Mau liat pedang itu,


dong!”


Kata Dalbert setelah menghampiri


salah satu pedagang yang menjual pedang.


“Haaaah?! Anak siapa lo?! Nih


pedang bukan untuk anak di bawah umur! Sana gih, pergi! Hush!”


Tegas pedagang itu kepada Dalbert


kecil.


Mendengar pedagang itu, Dalbert


hanya tersenyum.


“Bos, bos, bos! Gue mau tanya,


dong!”


Bisik Dalbert kepada penjual itu.


“Hm?”


“Nih pedang, beneran dari Batu


Yggraviar?!”


“Hah?! Emangnya lo tau Batu


Yggravi—”


“Kalo ketauan nih pedang


bohongan, gimana dong bos? Apa perlu gue bilang nih ke orang-orang?”


“!!!”


Pedagang itu terkejut dengan ancaman


Dalbert.


Karena takut, ia pun bertanya


kepada Dalbert dengan jantung yang berdegup kencang.


“Te…Terus mau lo apa, cil?”


“Hehe!”


Tawa Dalbert kecil karena


ancamannya berhasil.


“Nih, lepas 1 emas 85 perak ke


gue! Gimana, gimana, gimana?!”


“Hah?! Di bawah 2 emas?!


Harganya aja 2 emas 13 pe—”


“HMMM?! KOK ADA YANG ANEH YA DARI


PEDANG INI?!”


“Hiiieekh!”


Karena tidak berani barang palsu


miliknya ketahuan, akhirnya penjual itu melepas harga yang diinginkan olehnya.


Selain kemampuannya untuk


mencuri, Dalbert juga cerdik ketika bernegosiasi dan juga mengancam.


Tidak hanya pedagang pedang tadi


saja yang menjadi korbannya. Beberapa pedagang lainnya pun juga mengalami hal


yang sama.


Setelah ia tiba di kamar


tidurnya, ia memperhatikan kembali semua benda yang telah ia beli yang


tersimpan di dalam Fratta Pouch miliknya.


“Hmm. Pedang Yggraviar palsu,


Potion Salamander, Armor Fratta, Busur Vamulran, abu Wight…”


Dan ada 8 benda lainnya yang ia


beli dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya.


Namun ada satu benda yang begitu


menarik perhatiannya.


“Hmm. ini tuh…katanya benda


ciptaannya Dwarf, ya? Apa namanya tadi? Oh ya! Bracelet Armament!”


Pikirnya sambil mengenakan benda


itu.


“*Chringgg… (suara pedang


terhunuskan)”


“Wuoooh!”


Dalbert begitu terkejut setelah


tercipta pedang dari gelang yang baru saja ia kenakan.


“Fufufu…gelang ini nggak akan gue


jual! Tapi sisa dari belanjaan ini semua, mending gue jual tinggi kali, ya? Kali


aja bisa bikin bisnis sendiri, supaya bisa keluar dari rumah ini!”


Bisik Dalbert dengan bangga atas


pencapaiannya, bahkan sampai berpikir jangka panjang untuk pergi meninggalkan


keluarganya.


Setelah memilah semua benda yang


ia dapatkan…


“…”


…ia mengambil dan memeluk sebuah


boneka Pegasus di kamarnya.


“Kalo berhasil keluar dari rumah


ini, semoga Dalbert berhasil ketemu Pegasus ya, bu.”


Bisiknya, seakan berbicara bersama


mendiang ibunya, yang meninggal dunia setelah melahirkan adiknya, Dalton.


Namun, kenyataan tidak sesuai dengan


yang diharapkan oleh Dalbert.


……………


“*Phak! (suara tamparan)”


“…”


“Apakah ayah mengajarkanmu


berbuat seperti itu?!”


“…”


“Jawab ayah, Dalbert!”


Semua ulah yang telah


dilakukannya telah diketahui oleh ayahnya, Darius.


“Belajar


yang benar! Jangan banyak ulah! Kamu ini penerus bisnis ayah, bukan calon


bandit! Paham?!”“…”


Dalbert terdiam saja ketika


ditegur oleh ayahnya.


“Dengar ayah baik-baik, Dalbert!”


“…”


“Kamu yang akan melanjutkan


bisnis ini! Jangan kamu kira berbisnis itu mudah! Belajar, belajar, dan


belajar! Hanya itu yang ayah mau dari—”


“BUAT APA BELAJAR KALO GUE TUTUP


BISNIS INI NANTINYA!!!”


“*Dhuk! (suara tendangan)”


“Lo masih punya Kak Dahlia untuk


lanjutin bisnis ini! Kenapa nggak dia aja?! Hilang masa kecil gue cuma untuk


belajar hal-hal yang nggak penting ini!”


“*Brak! (suara membanting pintu)”


“Dalbert!”


Dalbert pun pergi dari ruangan


ayahnya setelah meneriaki dan menendangnya.


Ia berlari ke kamarnya dan


menangis.


Tidak lama kemudian, datanglah


kakaknya, Dahlia.


“Hiks, hiks, hiks…”


“Hey, kamu kenapa lagi? Berantem


sama ayah?”


“Diem ah, jangan ganggu dulu!”


Balas Dalbert, sambil menutup


wajahnya dengan bantal.


“Hey, cengeng!”


“Diem ah!”


“Cengeeeeng…”


“Ih, kakak!”


“Dalbert Si Cengeng…”


“Apaan sih, kak?!”


“Ahahaha! Akhirnya keliatan muka


cengengnya!”


Ejek Dahlia kepada Dalbert.


Ia terus menjahili adiknya itu


dengan maksud untuk menghiburnya.


Hingga akhirnya ia berbicara


serius dengannya.


“Dalbert. Kamu harusnya


bersyukur, tau.”


“Hm?”


“Seenggaknya kamu dapet perhatian


ayah karena kamu anak cowok pertama untuk lanjutin bisnis ayah.”


Kata Dahlia kepada adiknya.


“Hm?! Bersyukur?! Enakan kakak,


lah! Bisa bebas karena nggak dituntut—”


“Kalo kamu ngomongin soal bebas,


justru lebih bebas kamu, Dalbert.”


“Hah?! Aku lebih bebas?!


Emangnya—”


“Tau nggak sih, kalo mendiang ibu


kita itu anaknya bangsawan? Ya emang sih ibu pernah jadi Petualang. Tapi waktu


dituntut untuk menikah, mau nggak mau ibu harus pensiun untuk menikah sama


ayah.”


Jelas Dahlia tentang ibu mereka


berdua.


“Ya, ujung-ujungnya kakak juga


begitu. Ninggalin keluarga untuk nikah sama anaknya bangsawan. Sedangkan kamu,


justru kamu bisa bebas setelah warisin Riorio Merchant. Mau kamu kembangin kek,


mau kamu bangkrutin kek, semua ada ditangan kamu.”


“Ka…Kakak…”


Seketika Dalbert merasa kasihan


dengan apa yang akan dialami oleh kakaknya.


Namun, ia justru mendapat ide


baru.


“Kakak mau jadi pewaris Riorio


Merchant, nggak?”


“Ya mau, lah! Siapa juga yang


nggak mau jadi Saudagar sukses kayak ayah?!”


Mendengar jawaban kakaknya,


seketika Dalbert bersemangat.


“OK! Kalo gitu tinggal bilang aja


ke Saudagar sialan itu! Ahahaha!”


Kata Dalbert sambil berlari dari


kamarnya.


“Da…Dalbert! Jangan lari-lari!


Dalton masih—”


“Haaaah…jadi aku yang repot deh,


bu!”


Keluh Dahlia yang seakan-akan


berbicara dengan mendiang ibunya, setelah mendengar tangisan Dalton yang masih


bayi.


Sedangkan Dalbert, ia berlari


menuju ruangan ayahnya.


Namun ketika ia hampir tiba di


ruangan ayahnya, ia mendengar suara teriakan.


“Saya bilang tidak!”


“!!!”


Dalbert pun terkejut ketika ia


mendengar teriakan ayahnya dari luar ruangannya.


Akan tetapi rasa penasaran


mendorongnya untuk mencari tahu dibalik teriakan itu.


Oleh karena itu, ia menghampiri


ruangan tersebut dengan pelan dan waspada.


“Anda pikir bisnis saya ini


Black Guild?!”


“Aku tidak menyebut Riorio


sebagai Black Guild, bukan?!”


“Terus, mengapa saya harus—”


“Hey, Darius! Nadamu semakin


tinggi! Saya juga punya batas kesabaran!”


Dalbert mendengar dialog antar


ayahnya dengan orang yang tidak ia kenal.


“Kau yang memfasilitasi, Goldiggia yang menampung, House of Siegfried yang menutupi semuanya! Ini sebuah


konsep sederhana dan mudah! Pakai otakmu sedikit!”


“Ti…Tidak! Masih banyak klien


saya yang Kaum Non-Manusia! Mengapa saya harus membahayakan mereka?!”


“!!!”


Dalbert adalah anak yang cerdas.


Maka dari itu, ia mengetahui ancaman apa yang ayahnya terima.


“A…Ayah diancam untuk berbuat


jahat ke Kaum Non-Manusia?”


Pikirnya sembari mendengar


percakapan ayahnya dengan pria yang tidak dikenal itu.


Saat ia terus menyimak, ada sesuatu


yang janggal menurutnya.


“Aneh. Kenapa mereka nggak


lanjut ngobrol lagi?”


Pikirnya, setelah percakapan


ayahnya dengan pria itu menjadi hening.


Hingga pada akhirnya, ia


dikejutkan dengan sesuatu.


“Hey, anak kecil. Siapa


namamu? Ah, Dalbert ya?”


“!!!”


Dalbert begitu terkejut ketika


lawan bicara ayahnya memanggilnya dari dalam.


“Dengar ini, Dalbert. Ayahmu


tiba-tiba jantungan. Tapi aku tidak ada waktu untuk—”


“*Brak! (suara membuka pintu


dengan keras)”


Dengan panik, Dalbert pun


memasuki ruangan milik ayahnya.


Namun yang ia lihat…


“A…Ayah?”


“…”


“A…Ayah!”


…justru ayahnya Darius yang sudah


tidak bernyawa.


Anehnya, pria yang berbicara


dengan ayahnya itu tidak terlihat.


Namun, dengan kejadian itu,


Darius Dalrio dinyatakan meninggal dunia.


Dikarenakan usia Dalbert yang


masih di bawah umur, maka kepemilikan Riorio Merchant diwariskan kepada Dahlia,


yang telah berusia 16 tahun.


Namun, tidak butuh waktu lama


bagi Dalbert untuk menyesali semua rencananya kepada ayahnya.


……………


“Kau paham ini, Dahlia? Aku cuma


membutuhkan beberapa praktisi sihir untuk membuat tempat yang bernama Penampungan


ini.”


Dalbert sedang menyaksikan Dahlia


dengan seseorang yang ia kenali suaranya. Ia menyaksikan kejadian


tersebut secara diam-diam.


Namun yang membuatnya kesal


adalah…


“…”


…fakta bahwa kakaknya tersebut


terlihat gemetar ketakutan di hadapan pria itu.


“Hey, mengapa engkau begitu


takut?! Aku tidak menyakitimu, bukan?! Justru aku memperluas bisnismu hingga


keluar Erviga! Mungkin saja kau adalah wanita kedua belas terkaya di dunia!”


“…”


“Sebagai Manusia, mungkin kau


harus ingat ini, Dahlia!”


“…”


“Apapun. Demi. Keuntungan!”


“…”


“Persetan dengan hati nurani dan


harga diri! Buat apa kau memikirkan ras lain?! Apakah mereka juga


memikirkanmu?!”


“…”


Dahlia hanya gemetar ketakutan,


sedangkan pria itu terus mengoceh dengan gaya eksentriknya.


Melihat hal ini, Dalbert pun


berpikir.


“Gue nyesel pernah berharap


Kak Dahlia jadi pewaris Riorio Merchant!”


Tidak kuat melihat apa yang


dialami oleh kakaknya, Dalbert pun mulai terpikirkan langkah yang cukup besar.


Yakni, melarikan diri dari


rumahnya.


“*Brak! (suara membanting pintu)”


“Huff…Huff…Huff…”


Ia berlari dari rumahnya.


Akan tetapi ia tidak menyadari


sesuatu yang di luar dugaannya.


“Itu Tuan Dalbert!”


“Tangkap dia!”


“!!!”


Ia tidak menyangka bahwa beberapa


anggota dari ayahnya sudah menjadi bahawan dari pria itu.


Ia terus berlari hingga tiba di


tepi jurang.


“*Bwush… (suara air terjun)”


“Tuan Muda! Jangan lari lagi!”


“Tuan Muda udah nggak bisa ke


mana-mana lagi, kan?!”


“Yuk sini! Balik aja ke rumah!”


“…”


Merasa tidak punya pilihan, ia


pun melompat ke dalam jurang tersebut.


“Aaaaaaa…”


“Eh! Dia lompat!”


Ia melompat dan hendak jatuh ke


perairan dengan sangat keras.


Namun…


“Bracelet Armament: Shield!”


“*Bwush! (suara menghantam air


dengan keras)”


…ia terselamatkan dengan gelang


yang ia gunakan.


……………


Setelah berhasil melarikan diri


dari rumahnya, Dalbert pun menghabiskan waktu selama kurang lebih satu tahun


untuk tinggal di hutan.


“Grrrr!”


“Bracelet Armament: Sniper!”


“*Dor! (suara tembakan senapan


jitu)”


Dalbert bertahan hidup hanya


bermodalkan Bracelet Armament yang ia beli satu tahun yang lalu.


Ia pun melatih senjata sihirnya


untuk berburu.


Hingga pada akhirnya, ia


dipertemukan kembali dengan Riorio Merchant.


“Eagle View.”


“…”


Ia melihat sebuah kereta barang


dengan nama Riorio Merchant. Karena penasaran, ia mencari tahu apa yang berada


di dalam kereta barang tersebut.


Namun yang ia lihat…


“I…Ini…orang-orang yang


ditangkep?! Kok bisa ada di kereta barangnya Riorio?!”


…justru ada 6 Kaum Non-Manusia di


dalamnya.


“*Brak! (suara memukul pohon)”


“Brengsek! Orang itu bener-bener


peralat kakak!”


Kata Dalbert setelah menyadari


apa yang sedang terjadi.


Ia pun menyerang kereta barang


itu secara langsung dan membunuh pengawal dari kereta barang itu.


“Tu…Tuan Dalbert! Jangan—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Setelah berhasil membunuh


pengawal itu, ia membebaskan orang-orang yang ditangkap di dalam kereta barang


tersebut.


“Nama gue Thratol Lowsoil.


Makasih karena udah bebasin gue.”


Sahut seorang Dwarf yang menjadi tahanan.


“Kezhaq ni mugrá õ Di Bura.”


“Mungkin yang dia maksud itu nama


dia Bura. Oh ya, nama gue Tayshar Sillout.”


Kata seorang Mermaid yang


memperkenalkan seorang Orc wanita kepadanya.


“Gue Gindres Zagi, salah satu


sisa dari Cyclops.”


Lanjut seorang Cyclops yang


memperkenalkan dirinya.


“Gue Zrimush.”


“Gue Chetosh Hemorn.”


Lanjut seorang Harpy dan


Dragonewt.


Di tengah-tengah mereka juga ada


seorang Elf kecil yang menangis.


“Eh, lo nggak apa-apa?”


“Hiks…hiks…”


“Na…Nama lo siapa?”


“A…Alethra.”


Jawab Elf itu kepadanya.


Karena melihat Elf itu, Dalbert


merasa semakin kesal dengan Riorio Merchant yang sudah tidak sesuai dengan apa


yang ayahnya pimpin.


Seketika ia ingat akan perkataan


ayahnya kepadanya.


“Belajar yang benar! Jangan


banyak ulah! Kamu ini penerus bisnis ayah, bukan calon bandit! Paham?!”


Oleh karena ia akan berlawanan


dengan kehendak ayahnya, ia pun mengusungkan suatu ide kepada para tahanan ini.


“E…Ehem!”


““…””


“Gue Dalbert! Gue nyelamatin


kalian nggak gratis!”


““!!!””


Mereka terkejut dan beberapa di


antaranya bahkan bersiap untuk menyerang Dalbert.


Namun Dalbert tetap tenang dan


melanjutkan ceramahnya.


“Denger gue! Gue nyelamatin


supaya kita bisa nyelamatin orang-orang yang ngalamin hal yang sama kayak


kalian! Paham?!”


““…””


“Kalo kalian paham, ayo kita buat ikatan bandit di Erviga! Paham?!”


Mereka pun setuju dengan idenya.


Dan semenjak saat itu, Blood


Brothers of Erviga terbentuk.