
19 tahun yang lalu, ketika
seorang bayi baru saja lahir.
“Oweeek! Oweek!”
“Pu…Pujilah Dewa dan Dewi di atas
sana! Anak anda terlahir berbeda daripada yang lainnya! Ia lahir dengan Jiwa
yang besar!”
Kata salah satu perawat yang
melakukan persalinan, ketika ia baru saja lahir.
“Tuan Darius, selamat atas
lahirnya anak kedua anda!”
“Selamat, Tuan Darius!”
“Semoga anak itu menjadi anak
yang baik dan kuat!”
Puji beberapa personil dari
Riorio Merchant, yang kala itu masih dipimpin oleh Darius Dalrio, ayah dari
Dahlia dan Dalbert.
“Suamiku…tolong namai anak kedua
kita ini.”
“Hmm. Bagaiamana dengan Dalbert,
nama Pahlawan setelah Generasi Pahlawan di era Melchizedek? Mengingat dirimu
adalah mantan Petualang, istriku.”
“Hihi. Aku setuju dengan nama itu.”
Balas istri Darius, yang setuju
dengan nama yang diberikannya kepada anak itu.
Dengan itu, anak itu diberi nama
sebagai Dalbert Dalrio, dengan harapan bahwa ia akan tumbuh besar sebagai anak
yang baik dan kuat.
……………
Namun pada kenyataannya, 9 tahun
kemudian.
“Hey! Ke manakah komisi yang baru
saja kita terima?!”
“Bo…Bodoh sekali! Mengapa kau
bisa kehilangan komisi kita?!”
“Apa katamu?! Kau berani
denganku?!”
“Memang berani?! Ada apa?!”
Dua Petualang kehilangan komisi
yang mereka terima dan saling menyalahkan satu sama lain.
Namun, itu semua bukan karena
kelalaian mereka.
“Hihihi! Dasar bego! Masa nggak
sadar komisi ini gue ambil?!”
Itu semua karena Dalbert yang
mencopet komisi dari dua orang tersebut.
“Ah, belanjain, ah!”
Kata Dalbert, sambil berjalan mengelilingi
Riverfall Town.
Dengan penuh riang, ia
memperhatikan setiap yang terjual di pasar itu.
“♫Punya uang sendiri, nggak perlu uang ‘Saudagar’ itu!”
Setelah melihat-lihat setiap
barang jualan yang ada di pasar, ia menemukan sesuatu yang unik dan menyita
perhatiannya.
“Woy, Bos! Mau liat pedang itu,
dong!”
Kata Dalbert setelah menghampiri
salah satu pedagang yang menjual pedang.
“Haaaah?! Anak siapa lo?! Nih
pedang bukan untuk anak di bawah umur! Sana gih, pergi! Hush!”
Tegas pedagang itu kepada Dalbert
kecil.
Mendengar pedagang itu, Dalbert
hanya tersenyum.
“Bos, bos, bos! Gue mau tanya,
dong!”
Bisik Dalbert kepada penjual itu.
“Hm?”
“Nih pedang, beneran dari Batu
Yggraviar?!”
“Hah?! Emangnya lo tau Batu
Yggravi—”
“Kalo ketauan nih pedang
bohongan, gimana dong bos? Apa perlu gue bilang nih ke orang-orang?”
“!!!”
Pedagang itu terkejut dengan ancaman
Dalbert.
Karena takut, ia pun bertanya
kepada Dalbert dengan jantung yang berdegup kencang.
“Te…Terus mau lo apa, cil?”
“Hehe!”
Tawa Dalbert kecil karena
ancamannya berhasil.
“Nih, lepas 1 emas 85 perak ke
gue! Gimana, gimana, gimana?!”
“Hah?! Di bawah 2 emas?!
Harganya aja 2 emas 13 pe—”
“HMMM?! KOK ADA YANG ANEH YA DARI
PEDANG INI?!”
“Hiiieekh!”
Karena tidak berani barang palsu
miliknya ketahuan, akhirnya penjual itu melepas harga yang diinginkan olehnya.
Selain kemampuannya untuk
mencuri, Dalbert juga cerdik ketika bernegosiasi dan juga mengancam.
Tidak hanya pedagang pedang tadi
saja yang menjadi korbannya. Beberapa pedagang lainnya pun juga mengalami hal
yang sama.
Setelah ia tiba di kamar
tidurnya, ia memperhatikan kembali semua benda yang telah ia beli yang
tersimpan di dalam Fratta Pouch miliknya.
“Hmm. Pedang Yggraviar palsu,
Potion Salamander, Armor Fratta, Busur Vamulran, abu Wight…”
Dan ada 8 benda lainnya yang ia
beli dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya.
Namun ada satu benda yang begitu
menarik perhatiannya.
“Hmm. ini tuh…katanya benda
ciptaannya Dwarf, ya? Apa namanya tadi? Oh ya! Bracelet Armament!”
Pikirnya sambil mengenakan benda
itu.
“*Chringgg… (suara pedang
terhunuskan)”
“Wuoooh!”
Dalbert begitu terkejut setelah
tercipta pedang dari gelang yang baru saja ia kenakan.
“Fufufu…gelang ini nggak akan gue
jual! Tapi sisa dari belanjaan ini semua, mending gue jual tinggi kali, ya? Kali
aja bisa bikin bisnis sendiri, supaya bisa keluar dari rumah ini!”
Bisik Dalbert dengan bangga atas
pencapaiannya, bahkan sampai berpikir jangka panjang untuk pergi meninggalkan
keluarganya.
Setelah memilah semua benda yang
ia dapatkan…
“…”
…ia mengambil dan memeluk sebuah
boneka Pegasus di kamarnya.
“Kalo berhasil keluar dari rumah
ini, semoga Dalbert berhasil ketemu Pegasus ya, bu.”
Bisiknya, seakan berbicara bersama
mendiang ibunya, yang meninggal dunia setelah melahirkan adiknya, Dalton.
Namun, kenyataan tidak sesuai dengan
yang diharapkan oleh Dalbert.
……………
“*Phak! (suara tamparan)”
“…”
“Apakah ayah mengajarkanmu
berbuat seperti itu?!”
“…”
“Jawab ayah, Dalbert!”
Semua ulah yang telah
dilakukannya telah diketahui oleh ayahnya, Darius.
“Belajar
yang benar! Jangan banyak ulah! Kamu ini penerus bisnis ayah, bukan calon
bandit! Paham?!”“…”
Dalbert terdiam saja ketika
ditegur oleh ayahnya.
“Dengar ayah baik-baik, Dalbert!”
“…”
“Kamu yang akan melanjutkan
bisnis ini! Jangan kamu kira berbisnis itu mudah! Belajar, belajar, dan
belajar! Hanya itu yang ayah mau dari—”
“BUAT APA BELAJAR KALO GUE TUTUP
BISNIS INI NANTINYA!!!”
“*Dhuk! (suara tendangan)”
“Lo masih punya Kak Dahlia untuk
lanjutin bisnis ini! Kenapa nggak dia aja?! Hilang masa kecil gue cuma untuk
belajar hal-hal yang nggak penting ini!”
“*Brak! (suara membanting pintu)”
“Dalbert!”
Dalbert pun pergi dari ruangan
ayahnya setelah meneriaki dan menendangnya.
Ia berlari ke kamarnya dan
menangis.
Tidak lama kemudian, datanglah
kakaknya, Dahlia.
“Hiks, hiks, hiks…”
“Hey, kamu kenapa lagi? Berantem
sama ayah?”
“Diem ah, jangan ganggu dulu!”
Balas Dalbert, sambil menutup
wajahnya dengan bantal.
“Hey, cengeng!”
“Diem ah!”
“Cengeeeeng…”
“Ih, kakak!”
“Dalbert Si Cengeng…”
“Apaan sih, kak?!”
“Ahahaha! Akhirnya keliatan muka
cengengnya!”
Ejek Dahlia kepada Dalbert.
Ia terus menjahili adiknya itu
dengan maksud untuk menghiburnya.
Hingga akhirnya ia berbicara
serius dengannya.
“Dalbert. Kamu harusnya
bersyukur, tau.”
“Hm?”
“Seenggaknya kamu dapet perhatian
ayah karena kamu anak cowok pertama untuk lanjutin bisnis ayah.”
Kata Dahlia kepada adiknya.
“Hm?! Bersyukur?! Enakan kakak,
lah! Bisa bebas karena nggak dituntut—”
“Kalo kamu ngomongin soal bebas,
justru lebih bebas kamu, Dalbert.”
“Hah?! Aku lebih bebas?!
Emangnya—”
“Tau nggak sih, kalo mendiang ibu
kita itu anaknya bangsawan? Ya emang sih ibu pernah jadi Petualang. Tapi waktu
dituntut untuk menikah, mau nggak mau ibu harus pensiun untuk menikah sama
ayah.”
Jelas Dahlia tentang ibu mereka
berdua.
“Ya, ujung-ujungnya kakak juga
begitu. Ninggalin keluarga untuk nikah sama anaknya bangsawan. Sedangkan kamu,
justru kamu bisa bebas setelah warisin Riorio Merchant. Mau kamu kembangin kek,
mau kamu bangkrutin kek, semua ada ditangan kamu.”
“Ka…Kakak…”
Seketika Dalbert merasa kasihan
dengan apa yang akan dialami oleh kakaknya.
Namun, ia justru mendapat ide
baru.
“Kakak mau jadi pewaris Riorio
Merchant, nggak?”
“Ya mau, lah! Siapa juga yang
nggak mau jadi Saudagar sukses kayak ayah?!”
Mendengar jawaban kakaknya,
seketika Dalbert bersemangat.
“OK! Kalo gitu tinggal bilang aja
ke Saudagar sialan itu! Ahahaha!”
Kata Dalbert sambil berlari dari
kamarnya.
“Da…Dalbert! Jangan lari-lari!
Dalton masih—”
“Haaaah…jadi aku yang repot deh,
bu!”
Keluh Dahlia yang seakan-akan
berbicara dengan mendiang ibunya, setelah mendengar tangisan Dalton yang masih
bayi.
Sedangkan Dalbert, ia berlari
menuju ruangan ayahnya.
Namun ketika ia hampir tiba di
ruangan ayahnya, ia mendengar suara teriakan.
“Saya bilang tidak!”
“!!!”
Dalbert pun terkejut ketika ia
mendengar teriakan ayahnya dari luar ruangannya.
Akan tetapi rasa penasaran
mendorongnya untuk mencari tahu dibalik teriakan itu.
Oleh karena itu, ia menghampiri
ruangan tersebut dengan pelan dan waspada.
“Anda pikir bisnis saya ini
Black Guild?!”
“Aku tidak menyebut Riorio
sebagai Black Guild, bukan?!”
“Terus, mengapa saya harus—”
“Hey, Darius! Nadamu semakin
tinggi! Saya juga punya batas kesabaran!”
Dalbert mendengar dialog antar
ayahnya dengan orang yang tidak ia kenal.
“Kau yang memfasilitasi, Goldiggia yang menampung, House of Siegfried yang menutupi semuanya! Ini sebuah
konsep sederhana dan mudah! Pakai otakmu sedikit!”
“Ti…Tidak! Masih banyak klien
saya yang Kaum Non-Manusia! Mengapa saya harus membahayakan mereka?!”
“!!!”
Dalbert adalah anak yang cerdas.
Maka dari itu, ia mengetahui ancaman apa yang ayahnya terima.
“A…Ayah diancam untuk berbuat
jahat ke Kaum Non-Manusia?”
Pikirnya sembari mendengar
percakapan ayahnya dengan pria yang tidak dikenal itu.
Saat ia terus menyimak, ada sesuatu
yang janggal menurutnya.
“Aneh. Kenapa mereka nggak
lanjut ngobrol lagi?”
Pikirnya, setelah percakapan
ayahnya dengan pria itu menjadi hening.
Hingga pada akhirnya, ia
dikejutkan dengan sesuatu.
“Hey, anak kecil. Siapa
namamu? Ah, Dalbert ya?”
“!!!”
Dalbert begitu terkejut ketika
lawan bicara ayahnya memanggilnya dari dalam.
“Dengar ini, Dalbert. Ayahmu
tiba-tiba jantungan. Tapi aku tidak ada waktu untuk—”
“*Brak! (suara membuka pintu
dengan keras)”
Dengan panik, Dalbert pun
memasuki ruangan milik ayahnya.
Namun yang ia lihat…
“A…Ayah?”
“…”
“A…Ayah!”
…justru ayahnya Darius yang sudah
tidak bernyawa.
Anehnya, pria yang berbicara
dengan ayahnya itu tidak terlihat.
Namun, dengan kejadian itu,
Darius Dalrio dinyatakan meninggal dunia.
Dikarenakan usia Dalbert yang
masih di bawah umur, maka kepemilikan Riorio Merchant diwariskan kepada Dahlia,
yang telah berusia 16 tahun.
Namun, tidak butuh waktu lama
bagi Dalbert untuk menyesali semua rencananya kepada ayahnya.
……………
“Kau paham ini, Dahlia? Aku cuma
membutuhkan beberapa praktisi sihir untuk membuat tempat yang bernama Penampungan
ini.”
Dalbert sedang menyaksikan Dahlia
dengan seseorang yang ia kenali suaranya. Ia menyaksikan kejadian
tersebut secara diam-diam.
Namun yang membuatnya kesal
adalah…
“…”
…fakta bahwa kakaknya tersebut
terlihat gemetar ketakutan di hadapan pria itu.
“Hey, mengapa engkau begitu
takut?! Aku tidak menyakitimu, bukan?! Justru aku memperluas bisnismu hingga
keluar Erviga! Mungkin saja kau adalah wanita kedua belas terkaya di dunia!”
“…”
“Sebagai Manusia, mungkin kau
harus ingat ini, Dahlia!”
“…”
“Apapun. Demi. Keuntungan!”
“…”
“Persetan dengan hati nurani dan
harga diri! Buat apa kau memikirkan ras lain?! Apakah mereka juga
memikirkanmu?!”
“…”
Dahlia hanya gemetar ketakutan,
sedangkan pria itu terus mengoceh dengan gaya eksentriknya.
Melihat hal ini, Dalbert pun
berpikir.
“Gue nyesel pernah berharap
Kak Dahlia jadi pewaris Riorio Merchant!”
Tidak kuat melihat apa yang
dialami oleh kakaknya, Dalbert pun mulai terpikirkan langkah yang cukup besar.
Yakni, melarikan diri dari
rumahnya.
“*Brak! (suara membanting pintu)”
“Huff…Huff…Huff…”
Ia berlari dari rumahnya.
Akan tetapi ia tidak menyadari
sesuatu yang di luar dugaannya.
“Itu Tuan Dalbert!”
“Tangkap dia!”
“!!!”
Ia tidak menyangka bahwa beberapa
anggota dari ayahnya sudah menjadi bahawan dari pria itu.
Ia terus berlari hingga tiba di
tepi jurang.
“*Bwush… (suara air terjun)”
“Tuan Muda! Jangan lari lagi!”
“Tuan Muda udah nggak bisa ke
mana-mana lagi, kan?!”
“Yuk sini! Balik aja ke rumah!”
“…”
Merasa tidak punya pilihan, ia
pun melompat ke dalam jurang tersebut.
“Aaaaaaa…”
“Eh! Dia lompat!”
Ia melompat dan hendak jatuh ke
perairan dengan sangat keras.
Namun…
“Bracelet Armament: Shield!”
“*Bwush! (suara menghantam air
dengan keras)”
…ia terselamatkan dengan gelang
yang ia gunakan.
……………
Setelah berhasil melarikan diri
dari rumahnya, Dalbert pun menghabiskan waktu selama kurang lebih satu tahun
untuk tinggal di hutan.
“Grrrr!”
“Bracelet Armament: Sniper!”
“*Dor! (suara tembakan senapan
jitu)”
Dalbert bertahan hidup hanya
bermodalkan Bracelet Armament yang ia beli satu tahun yang lalu.
Ia pun melatih senjata sihirnya
untuk berburu.
Hingga pada akhirnya, ia
dipertemukan kembali dengan Riorio Merchant.
“Eagle View.”
“…”
Ia melihat sebuah kereta barang
dengan nama Riorio Merchant. Karena penasaran, ia mencari tahu apa yang berada
di dalam kereta barang tersebut.
Namun yang ia lihat…
“I…Ini…orang-orang yang
ditangkep?! Kok bisa ada di kereta barangnya Riorio?!”
…justru ada 6 Kaum Non-Manusia di
dalamnya.
“*Brak! (suara memukul pohon)”
“Brengsek! Orang itu bener-bener
peralat kakak!”
Kata Dalbert setelah menyadari
apa yang sedang terjadi.
Ia pun menyerang kereta barang
itu secara langsung dan membunuh pengawal dari kereta barang itu.
“Tu…Tuan Dalbert! Jangan—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Setelah berhasil membunuh
pengawal itu, ia membebaskan orang-orang yang ditangkap di dalam kereta barang
tersebut.
“Nama gue Thratol Lowsoil.
Makasih karena udah bebasin gue.”
Sahut seorang Dwarf yang menjadi tahanan.
“Kezhaq ni mugrá õ Di Bura.”
“Mungkin yang dia maksud itu nama
dia Bura. Oh ya, nama gue Tayshar Sillout.”
Kata seorang Mermaid yang
memperkenalkan seorang Orc wanita kepadanya.
“Gue Gindres Zagi, salah satu
sisa dari Cyclops.”
Lanjut seorang Cyclops yang
memperkenalkan dirinya.
“Gue Zrimush.”
“Gue Chetosh Hemorn.”
Lanjut seorang Harpy dan
Dragonewt.
Di tengah-tengah mereka juga ada
seorang Elf kecil yang menangis.
“Eh, lo nggak apa-apa?”
“Hiks…hiks…”
“Na…Nama lo siapa?”
“A…Alethra.”
Jawab Elf itu kepadanya.
Karena melihat Elf itu, Dalbert
merasa semakin kesal dengan Riorio Merchant yang sudah tidak sesuai dengan apa
yang ayahnya pimpin.
Seketika ia ingat akan perkataan
ayahnya kepadanya.
“Belajar yang benar! Jangan
banyak ulah! Kamu ini penerus bisnis ayah, bukan calon bandit! Paham?!”
Oleh karena ia akan berlawanan
dengan kehendak ayahnya, ia pun mengusungkan suatu ide kepada para tahanan ini.
“E…Ehem!”
““…””
“Gue Dalbert! Gue nyelamatin
kalian nggak gratis!”
““!!!””
Mereka terkejut dan beberapa di
antaranya bahkan bersiap untuk menyerang Dalbert.
Namun Dalbert tetap tenang dan
melanjutkan ceramahnya.
“Denger gue! Gue nyelamatin
supaya kita bisa nyelamatin orang-orang yang ngalamin hal yang sama kayak
kalian! Paham?!”
““…””
“Kalo kalian paham, ayo kita buat ikatan bandit di Erviga! Paham?!”
Mereka pun setuju dengan idenya.
Dan semenjak saat itu, Blood
Brothers of Erviga terbentuk.