
Abis kita istirahat, kita mulai
lagi perjalanan sampe ke Milkin. Sampe disini, kita langsung balikin kudanya
Bismont ke penangkaran kuda.
Disini, tempatnya bisa dibilang
unik. Selain gedung-gedungnya yang serba putih, ada banyak juga yang jualan
susu gitu. Nggak tanggung-tanggung, bahkan ada juga beberapa yang langsung
diperah dari sapinya.
“Nah, itu dia! Djinn! Ayo kita
kesana!”
Myllo ngajak gue ke salah satu
gedung, yang ternyata gedung itu Guild.
“Selamat sore. Saya adalah
Veyvila. Adakah yang bisa saya bantu?”
“Gue Myllo, ini Djinn!”
“…”
“Djinn, perkenalin diri!”
“Ah, maaf, maaf. Gu—ehem! Saya
Djinn—”
“Oi, oi, oi, gak usah grogi gitu,
kali!”
Bukannya gue kaku atau gimana,
kok resepsionisnya punya kuping kayak…sirip?
Kayaknya ini yang pertama kali gue
liat deh…
“Oh, apakah anda Myllo Olfret,
mantan anggota Aquilla?”
“Ya. Ini anggota baru gue. Dia
mau ambil Tes Petualang.”
“Baiklah, mari ikuti saya,
Djinn.”
“…”
Resepsionis yang namanya Veyvila
ini nganter gue ke dalem ruangan. Di ruangan ini, gue bisa liat ada bola gede.
“Tolong sentuh Mana-Scaller
tersebut, untuk mengetahui kualitas Mana anda.”
Mana-Scaller? Maksudnya bola ini?
Kok perasaan gue gak enak, ya?
Waktu gue sentuh bola ini…
“…”
“Ba…Baik…sudah selesai.”
Oh, udah?
Gue kira gue bakal ada apa-apa.
“Dan selanjutnya, anda harus
mengisi formulir ini. Namun, karena sepertinya anda ingin merahasiakan
identitas anda, sebaiknya isi nama samaran anda, serta peran anda.”
“Peran? Maksudnya apa ya?”
Karena gue nggak tau, dia mulai
jelasin peran-peran apa aja yang ada di Petualang.
Yang pertama ada Leader, atau
yang biasa juga disebut Kapten. Posisi ini bisa dibilang jadi jantungnya Party.
Tujuan dari posisi ini untuk ambil keputusan selama ngejalanin Quest. Selain
itu, dia juga harus tau kebutuhan Party ada apa aja, entah obat-obatan,
senjata, atau anggota baru. Peran ini bisa dipegang siapa aja di dalem Party.
Selanjutnya ada Observer. Posisi
ini bisa dibilang otak ataupun mata dari tim. Kalo ketemu lawan, dia yang harus
cari kelemahan dari lawannya. Selain itu, posisi juga punya tanggung jawab
untuk deteksi kalo ada bahaya yang mau samperin Party. Biasanya posisi ini
diisi sama Marksman atau siapapun yang bisa sihir.
Abis itu ada Keeper. Posisi ini
harus pastiin kehidupan anggota Party, entah itu luka-luka atau ningkatin
kekuatan tim. Biasanya posisi ini diisi sama ahli obat-obatan atau ahli sihir.
Selain itu ada Frontliner. Posisi ini
khusus orang yang secara fisik kuat banget. Sebelum lawan nyerang anggota tim,
dia harus siap terima serangan.
Ada juga yang namanya Striker.
Dia ini senjata utama Party. Serangan orang yang pegang posisi ini harus kuat,
untuk pastiin lawan nggak bisa apa-apa lagi.
Terakhir ada Rounder. Posisi ini
yang paling fleksibel di Party. Tujuan posisi ini untuk ngebantu posisi lain.
Anggep aja posisi ini jadi yang ‘nomor dua’ untuk semua posisi lainnya, kecuali
Leader.
Ya, walaupun dijelasin
panjang-panjang, gue sebenernya masih bingung sih peran gue di tim jadi apa.
“Sepertinya anda terlihat
bingung, Tuan Djinn…”
“Ya…bisa dibilang gitu.”
“Baiklah. Izinkan saya bertanya
untuk memastikan peran anda.”
“…”
Gue ngangguk doang. Semoga
pertanyaannya nggak susah-susah banget, deh.
“Pertanyaan pertama. Apakah anda
bisa menggunakan sihir?”
Waduh.
Sebenernya gue mau bilang bisa,
karena keinget kekuatan itu waktu lawan Iblis di kapal waktu itu. Tapi
gue pun juga nggak tau cara pake kekuatan itu gimana…
“Ng…Nggak bisa…”
“Wah, sayang sekali, Tuan Djinn.
Mungkin anda bisa mempelajarinya di lain waktu.”
Pastinya sih, tapi bukan belajar
sama Si Dongo.
“Pertanyaan kedua. Saat anda menghadapi
lawan, anda lebih memilih pertarungan jarak dekat atau jarak jauh?”
“Jarak deket.”
“Baik.”
“…”
“Pertanyaan ketiga. Sejauh ini,
anda menggunakan senjata apa, Tuan Djinn?”
Ah, padahal gue sempet punya
pedang gede itu, tuh. Tapi gue cuma pake untuk lempar ke orang-orang yang pake
panah waktu itu.
“Sekarang sih pake tangan
kosong.”
“Hm, Martial Artist, ya?
Sepertinya menarik.”
Hah? Menarik? Apanya yang
menarik?
“Baiklah, berikut adalah
pertanyaan terakhir.”
“…”
“Jika anda dihadapkan pada
keadaan bahwa rekan anda hendak diserang oleh musuh, apa yang akan anda
lakukan? Apakah anda akan menyerang musuh terlebih dahulu? Atau anda membawa
lari teman anda? Atau mungkin anda akan menahan serangan musuh?”
Hm…coba kalo kita pilah satu-satu
pilihannya.
Kalo gue serang, mungkin ini
pilihan yang paling bagus dari yang lainnya. Waktu gue serang, mungkin gue bisa
ngalahin lawannya, terus rekan gue bisa kabur. Tapi gak nutup kemungkinan kalo
lawannya terlalu kuat, yang bahkan serangan gue sia-sia.
Kalo gue bawa lari rekan gue,
artinya gerakan gue harus cepet, kan? Tapi kalo lawannya lebih cepet, gimana?
Kalo gue tahan serangan, temen
gue seenggaknya bisa lari. Tapi kalo serangan lawan terlalu kuat, bisa aja
sia-sia gue coba tahan serangannya.
Kayaknya pilihan gue cuma satu,
deh.
“Bisa jadi tiga-tiganya.”
“Maksud anda?”
“Tergantung situasi sih
sebenernya. Seenggaknya gue harus bisa pastiin dulu lawannya gimana.”
“…”
Kenapa dia natap gue kayak gitu?
“Hahaha…”
Kenapa dia ketawa ya tiba-tiba?
“Ah, maafkan saya. Terima kasih
sudah menjawab pertanyaan saya, Tuan Djinn. Harap tunggu sebentar, karena
proses akhir membutuhkan waktu yang sedikit lama.”
“Y…Ya…”
Proses akhir tuh ngapain, ya?
..................
“Terima kasih telah menunggu,
Tuan Djinn. Berikut adalah bukti bahwa anda adalah seorang Petualang.”
Oh, ternyata kayak proses bikin
KTP gitu, ya?
“…”
Hah? Ini apaan?
Bentuknya kayak gantungan kunci,
tapi nggak ada gantungannya. Terus ada kayak simbol gitu yang latar belakangnya
warna hijau.
“Mungkin anda bingung dengan
bentuk dari bukti identifikasi ini. Biar saya jelaskan sedikit…”
Ujung-uujungnya, cewek ini
nambahin penjelasannya ke gue.
Untuk warnanya, ini tuh Kasta gue
sebagai Petualang.
Urutan dari yang paling rendah ke
yang paling tinggi itu ada warna biru, hijau, kuning, oranye, terakhir warna
merah.
Tujuan dari adanya Kasta ini,
supaya Guild bisa mastiin kalo Petualang mampu atau nggak untuk nyelesain Quest
yang berat.
“Maaf, mau nanya…”
“Ada apa, Tuan Djinn?”
“Kan ini pertama kali udah jadi
Petualang, kok udah langsung Hijau, ya? Kenapa nggak dari Biru dulu?”
“Karena Tuan Djinn sudah berhasil
menyelesaikan Quest untuk menemukan orang-orang yang telah menghilang. Maka
dari itu, anda berhak untuk langsung naik ke Kasta Hijau.”
Oh karena orang-orang yang
ditahan Goldiggia, ya? Jangan-jangan Quest itu berat, bahkan gue bisa langsung
naik ke Kasta Hijau lagi?
“Tambah lagi, Jiwa yang anda
miliki sepertinya luar biasa besar, bahkan anda bisa saja langsung naik ke Kasta
Jingga, Tuan Djinn.”
Hah?! Masa sih bisa langsung naik
gitu?!
“Kalo gitu, kenapa nggak langsung
“Berdasarkan regulasi yang
ditetapkan Centra Geoterra yang menyatakan, bahwa setiap Petualang baru tidak
berhak menyandang lebih dari Kasta Hijau. Oleh karena itu, saya tidak bisa
memberikan anda Kasta Jingga, Tuan Djinn.”
Oh…ternyata karena regulasi, ya…
“Tapi, jika dilihat dari Mana yang anda miliki, sepertinya anda memiliki potensi untuk menyentuh Kasta Merah
dalam waktu singkat, Tuan Djinn.”
“Ya, mending pelan-pelan aja lah.
Lagian tujuan gue jadi Petualang bukan untuk pamerin ini itu, kok. Cuma mau
petualangan aja.”
“…”
Dia cuma senyum aja.
“Baiklah. Dan terakhir, simbol
ini adalah bukti bahwa anda adalah seorang Rounder. Peran ini sebenarnya jarang
terlihat pada Petualang. Maka dari itu, anda seharusnya merasa spesial karena
peran ini, Tuan Djinn.”
Oh…ternyata ini peran yang gue
dapet.
Ya, nggak masalah sih sebenernya.
Ujung-ujungya peran-peran kayak gini nggak ngaruh juga selama petualangan.
Eh, iya kan?
Abis itu, gue pun keluar bareng
Veyvila karena udah selesain tes gue. Cuma waktu gue keluar…
“Haaaaah?! Kok nggak bisa?!”
…gue liat Si Dongo lagi marah
sama om-om.
“Karena untuk membuat sebuah
Party, anda wajib membawa empat anggota yang akan anda pimpin!”
“Tapi kan Kak Sylv awalnya cuma
bertiga doang!”
“Aquilla yang dipimpin olehnya
berawal dari 4 orang dan beliau pada kala itu masih berperan sebagai Rounder!
Maka dari itu anda belum bisa menjabat sebagai Leader dan tetap dengan peran
sebagai Striker!”
“Ahhhh! Gagal dong jadi Kapten?!”
Oh kayaknya gue paham.
Dia mau nambahun Lencana Petualang-nya
jadi ada tanda Leader, tapi nggak bisa. Ternyata ada syaratnya juga untuk
bikin Party.
Ngomong-ngomong, ternyata dia
Striker ya.
“Yaudah, Myl. Tenang aja. Nanti
lo bisa rekrut orang lagi, kok.”
“Bener juga! Mending coba rekrut
yang itu—”
“Jangan sekarang juga, kali!”
Untuk gue langsung tarik dia
sebelum ngasal rekrut orang sana sini.
“Ta…Tapi Djinn—”
“Pelan-pelan aja, kali.
Petualangan kita masih panjang, nanti kita juga bisa rekrut orang lagi, kok.”
“Ahahaha! Bener juga, ya!”
Hehe! Untung dia nggak patah
semangat karena nggak bisa jadi Kapten secara resmi.
Tapi kok…gue denger omongan
orang-orang, ya?
“Udah bertahun-tahun jadi Petualang,
tapi masih Kasta Hijau?! Dih, lemah banget!”
“Tambah lagi, dia mau jadi Kapten?!
Becanda kali, ya?!”
“Ya kan dia mau jadi bekas
Kaptennya, Syilvia. Tapi mana bisa selemah itu jadi kayak Pahlawan Sylvia?!
Haha!”
Woy, kok orang-orang beraninya
ngomong di belakang doang?!
“*Tap… (suara menepuk pundak)”
“Myl?”
Dia tiba-tiba megang pundak gue.
“Tenang, biarin aja mereka mau
ngomongin apa! Cowok itu ngebuktiin pake tindakan, bukan pake omongan! Hehe!”
“Hmph! Lo bener! Bahkan anak
kecil pun ngerti kalo soal itu, mah!”
““…””
Gue sengaja ngomongnya lebih
kenceng dari Myllo. Supaya kesel aja tuh tiga orang itu. Gue bisa liat tatapan
mereka yang kesel sama gue.
“Ehem! Jika kalian berdua tidak
sedang mencari Quest, lebih baik keluar dari tempat ini!”
“Ah! Oh iya! Ayo kita cari Quest,
Djinn!”
Myllo tiba-tiba lari ke papan
yang isinya banyak banget serpihan kertas-kertas kecil. Semua dari kertas itu
warnanya biru, ijo, kuning, oranye, sama merah. Mungkin warnanya itu ada kaitan
sama Kasta tadi.
Dari beberapa serpihan kertas
kecil itu, ada tulisan-tulisan yang sempet gue baca, kayak…
“[Hijau] Quest: Investigasi
Serangan Monster di Xia Village.”
“[Kuning] Quest: Hentikan
Serangan Orc di Sekitar Danau Maipai.”
“[Biru] Quest: Hentikan
Komplotan Bandit Bernama Bert Brothers.”
…gitu.
“Hmm…”
Myllo teken kertas yang warna
merah. Abis itu tiba-tiba muncul tulisan…
Quest: Investigasi Aktivitas
Seekor Wyvern.
Seekor Wyvern terlihat
pergerakannya di Korvaille Town dan Moji City. Bagi Petualang yang hendak
mengambil Quest ini, sebisa mungkin mohon hentikan pergerakan Wyvern ini, sebelum
bertindak lebih jauh lagi, demi keselamatan warga!
…kayak gitu.
Ternyata kalo salah satu
kertasnya disentuh, keluar deskripsi kayak gitu, ya?
“Wuhuuuu! Djinn, kayaknya yang
ini seru, Djin—”
“Anda tidak bisa mengambil Quest
itu! Anda masih Kasta Hijau! Jangan sembarangan ambil Quest Jingga!”
Tuh kan bener, pasti ada
hubungannya juga sama Kasta tadi.
Jadi kalo Kasta warna ijo, cuma
bisa ambil Quest yang warna ijo juga, ya?
“Pak Tua, Pak Tua, Pak Tua!”
“Nama saya Gimmel! Jangan sebut
saya Pak Tua—”
“Kalo kita nggak bisa ambil
Quest-nya, kira-kira Wyvern-nya bisa buat kita, nggak?! Kan kedengerannya asik
juga tuh punya Wyvern! Hehe!”
Hadeh, Si Dongo ini…
Udah nggak dibolehin, malah
nuntut punya binatangnya, lagi!
Waktu mereka lagi debat, gue coba
aja iseng buka salah satu Quest-nya.
Gue buka Quest waran ijo yang
tadi sempet gue baca.
Quest: Investigasi Serangan
Monster di Xia Village.
Beberapa Monster tak dikenal
belakangan ini selalu menghantui warga Xia. Bagi Petualang yang hendak
mengambil Quest ini, mohon agar kiranya mencari tahu kebenaran dari penampakan
monster tersebut dan kembali segera ke Guild manapun untuk melaporkan hasil
investigasinya.
Kira-kira gitu tulisannya—
“*Shrak… (suara robek kertas)
“Baiklah. Itu lah Quest yang
kalian berdua ambil. Selamat berpetualang dan jagalah dunia ini, Para
Petualang!”
HAH?! GARA-GARA GAK SENGAJA
KETARIK, JADI QUEST INI YANG DIAMBIL?!
“AAAAHHHHH!!! DJINN, BRENGSEK!!!”
“Eh, sorry banget! Sumpah
gue nggak sengaja nariknya!”
“Huaaaahaha…kenapa harus Quest
kayak gini dari semua Quest…”
“Ja…Jangan nangis, napa?!
Malu-maluin aja lo!”
Tambah lagi…
“Hahaha! Ya kali selemah itu mau
investigasi Wyvern!”
“Udah, investigasi monster aja sana!
Paling ujung-ujungnya cuma Goblin doang! Hahaha!”
“Dih, liat tuh. Petualang macem
apa yang kayak gitu? Kok mewek-mewek gitu?! Serius, dia mau jadi Leader?!”
“Kasian temennya sih gue, punya
Kapten kayak gitu…”
Tuh kan! Malah makin diomongin!
“Myl! Ayo kita jalanin—”
“Ayo. Kita berangkat sekarang.”
“Hah?! I…Iya…”
Perasaan tadi nangis kayak bocil,
kok dia jadi serius banget, ya?
“Ayo kita langsung tuntasin Quest
ini. Kita buktiin Quest ini jadi jalan utama kita untuk penuhin target kita!”
“Yaudah.”
Gue sama Myllo akhirnya jalan
keluar dari Guild. Selama kita jalan ke arah pintu, gue bisa liat masih ada
beberapa yang masih ngomongin kita berdua, khususnya Myllo.
“…”
“*Dhum! (suara ketegangan aura)”
““!!!””
“Djinn, gak usah dipikirin.
Mereka gak ada hubungannya juga sama kita berdua.”
“Ya, sorry.”
Gue cuma liatin mereka semua,
tapi mereka langsung diem.
Hmph! Dasar banci mereka semua!