Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 35. Rounder



Abis kita istirahat, kita mulai


lagi perjalanan sampe ke Milkin. Sampe disini, kita langsung balikin kudanya


Bismont ke penangkaran kuda.


Disini, tempatnya bisa dibilang


unik. Selain gedung-gedungnya yang serba putih, ada banyak juga yang jualan


susu gitu. Nggak tanggung-tanggung, bahkan ada juga beberapa yang langsung


diperah dari sapinya.


“Nah, itu dia! Djinn! Ayo kita


kesana!”


Myllo ngajak gue ke salah satu


gedung, yang ternyata gedung itu Guild.


“Selamat sore. Saya adalah


Veyvila. Adakah yang bisa saya bantu?”


“Gue Myllo, ini Djinn!”


“…”


“Djinn, perkenalin diri!”


“Ah, maaf, maaf. Gu—ehem! Saya


Djinn—”


“Oi, oi, oi, gak usah grogi gitu,


kali!”


Bukannya gue kaku atau gimana,


kok resepsionisnya punya kuping kayak…sirip?


Kayaknya ini yang pertama kali gue


liat deh…


“Oh, apakah anda Myllo Olfret,


mantan anggota Aquilla?”


“Ya. Ini anggota baru gue. Dia


mau ambil Tes Petualang.”


“Baiklah, mari ikuti saya,


Djinn.”


“…”


Resepsionis yang namanya Veyvila


ini nganter gue ke dalem ruangan. Di ruangan ini, gue bisa liat ada bola gede.


“Tolong sentuh Mana-Scaller


tersebut, untuk mengetahui kualitas Mana anda.”


Mana-Scaller? Maksudnya bola ini?


Kok perasaan gue gak enak, ya?


Waktu gue sentuh bola ini…


“…”


“Ba…Baik…sudah selesai.”


Oh, udah?


Gue kira gue bakal ada apa-apa.


“Dan selanjutnya, anda harus


mengisi formulir ini. Namun, karena sepertinya anda ingin merahasiakan


identitas anda, sebaiknya isi nama samaran anda, serta peran anda.”


“Peran? Maksudnya apa ya?”


Karena gue nggak tau, dia mulai


jelasin peran-peran apa aja yang ada di Petualang.


Yang pertama ada Leader, atau


yang biasa juga disebut Kapten. Posisi ini bisa dibilang jadi jantungnya Party.


Tujuan dari posisi ini untuk ambil keputusan selama ngejalanin Quest. Selain


itu, dia juga harus tau kebutuhan Party ada apa aja, entah obat-obatan,


senjata, atau anggota baru. Peran ini bisa dipegang siapa aja di dalem Party.


Selanjutnya ada Observer. Posisi


ini bisa dibilang otak ataupun mata dari tim. Kalo ketemu lawan, dia yang harus


cari kelemahan dari lawannya. Selain itu, posisi juga punya tanggung jawab


untuk deteksi kalo ada bahaya yang mau samperin Party. Biasanya posisi ini


diisi sama Marksman atau siapapun yang bisa sihir.


Abis itu ada Keeper. Posisi ini


harus pastiin kehidupan anggota Party, entah itu luka-luka atau ningkatin


kekuatan tim. Biasanya posisi ini diisi sama ahli obat-obatan atau ahli sihir.


Selain itu ada Frontliner. Posisi ini


khusus orang yang secara fisik kuat banget. Sebelum lawan nyerang anggota tim,


dia harus siap terima serangan.


Ada juga yang namanya Striker.


Dia ini senjata utama Party. Serangan orang yang pegang posisi ini harus kuat,


untuk pastiin lawan nggak bisa apa-apa lagi.


Terakhir ada Rounder. Posisi ini


yang paling fleksibel di Party. Tujuan posisi ini untuk ngebantu posisi lain.


Anggep aja posisi ini jadi yang ‘nomor dua’ untuk semua posisi lainnya, kecuali


Leader.


Ya, walaupun dijelasin


panjang-panjang, gue sebenernya masih bingung sih peran gue di tim jadi apa.


“Sepertinya anda terlihat


bingung, Tuan Djinn…”


“Ya…bisa dibilang gitu.”


“Baiklah. Izinkan saya bertanya


untuk memastikan peran anda.”


“…”


Gue ngangguk doang. Semoga


pertanyaannya nggak susah-susah banget, deh.


“Pertanyaan pertama. Apakah anda


bisa menggunakan sihir?”


Waduh.


Sebenernya gue mau bilang bisa,


karena keinget kekuatan itu waktu lawan Iblis di kapal waktu itu. Tapi


gue pun juga nggak tau cara pake kekuatan itu gimana…


“Ng…Nggak bisa…”


“Wah, sayang sekali, Tuan Djinn.


Mungkin anda bisa mempelajarinya di lain waktu.”


Pastinya sih, tapi bukan belajar


sama Si Dongo.


“Pertanyaan kedua. Saat anda menghadapi


lawan, anda lebih memilih pertarungan jarak dekat atau jarak jauh?”


“Jarak deket.”


“Baik.”


“…”


“Pertanyaan ketiga. Sejauh ini,


anda menggunakan senjata apa, Tuan Djinn?”


Ah, padahal gue sempet punya


pedang gede itu, tuh. Tapi gue cuma pake untuk lempar ke orang-orang yang pake


panah waktu itu.


“Sekarang sih pake tangan


kosong.”


“Hm, Martial Artist, ya?


Sepertinya menarik.”


Hah? Menarik? Apanya yang


menarik?


“Baiklah, berikut adalah


pertanyaan terakhir.”


“…”


“Jika anda dihadapkan pada


keadaan bahwa rekan anda hendak diserang oleh musuh, apa yang akan anda


lakukan? Apakah anda akan menyerang musuh terlebih dahulu? Atau anda membawa


lari teman anda? Atau mungkin anda akan menahan serangan musuh?”


Hm…coba kalo kita pilah satu-satu


pilihannya.


Kalo gue serang, mungkin ini


pilihan yang paling bagus dari yang lainnya. Waktu gue serang, mungkin gue bisa


ngalahin lawannya, terus rekan gue bisa kabur. Tapi gak nutup kemungkinan kalo


lawannya terlalu kuat, yang bahkan serangan gue sia-sia.


Kalo gue bawa lari rekan gue,


artinya gerakan gue harus cepet, kan? Tapi kalo lawannya lebih cepet, gimana?


Kalo gue tahan serangan, temen


gue seenggaknya bisa lari. Tapi kalo serangan lawan terlalu kuat, bisa aja


sia-sia gue coba tahan serangannya.


Kayaknya pilihan gue cuma satu,


deh.


“Bisa jadi tiga-tiganya.”


“Maksud anda?”


“Tergantung situasi sih


sebenernya. Seenggaknya gue harus bisa pastiin dulu lawannya gimana.”


“…”


Kenapa dia natap gue kayak gitu?


“Hahaha…”


Kenapa dia ketawa ya tiba-tiba?


“Ah, maafkan saya. Terima kasih


sudah menjawab pertanyaan saya, Tuan Djinn. Harap tunggu sebentar, karena


proses akhir membutuhkan waktu yang sedikit lama.”


“Y…Ya…”


Proses akhir tuh ngapain, ya?


..................


“Terima kasih telah menunggu,


Tuan Djinn. Berikut adalah bukti bahwa anda adalah seorang Petualang.”


Oh, ternyata kayak proses bikin


KTP gitu, ya?


“…”


Hah? Ini apaan?


Bentuknya kayak gantungan kunci,


tapi nggak ada gantungannya. Terus ada kayak simbol gitu yang latar belakangnya


warna hijau.


“Mungkin anda bingung dengan


bentuk dari bukti identifikasi ini. Biar saya jelaskan sedikit…”


Ujung-uujungnya, cewek ini


nambahin penjelasannya ke gue.


Untuk warnanya, ini tuh Kasta gue


sebagai Petualang.


Urutan dari yang paling rendah ke


yang paling tinggi itu ada warna biru, hijau, kuning, oranye, terakhir warna


merah.


Tujuan dari adanya Kasta ini,


supaya Guild bisa mastiin kalo Petualang mampu atau nggak untuk nyelesain Quest


yang berat.


“Maaf, mau nanya…”


“Ada apa, Tuan Djinn?”


“Kan ini pertama kali udah jadi


Petualang, kok udah langsung Hijau, ya? Kenapa nggak dari Biru dulu?”


“Karena Tuan Djinn sudah berhasil


menyelesaikan Quest untuk menemukan orang-orang yang telah menghilang. Maka


dari itu, anda berhak untuk langsung naik ke Kasta Hijau.”


Oh karena orang-orang yang


ditahan Goldiggia, ya? Jangan-jangan Quest itu berat, bahkan gue bisa langsung


naik ke Kasta Hijau lagi?


“Tambah lagi, Jiwa yang anda


miliki sepertinya luar biasa besar, bahkan anda bisa saja langsung naik ke Kasta


Jingga, Tuan Djinn.”


Hah?! Masa sih bisa langsung naik


gitu?!


“Kalo gitu, kenapa nggak langsung


“Berdasarkan regulasi yang


ditetapkan Centra Geoterra yang menyatakan, bahwa setiap Petualang baru tidak


berhak menyandang lebih dari Kasta Hijau. Oleh karena itu, saya tidak bisa


memberikan anda Kasta Jingga, Tuan Djinn.”


Oh…ternyata karena regulasi, ya…


“Tapi, jika dilihat dari Mana yang anda miliki, sepertinya anda memiliki potensi untuk menyentuh Kasta Merah


dalam waktu singkat, Tuan Djinn.”


“Ya, mending pelan-pelan aja lah.


Lagian tujuan gue jadi Petualang bukan untuk pamerin ini itu, kok. Cuma mau


petualangan aja.”


“…”


Dia cuma senyum aja.


“Baiklah. Dan terakhir, simbol


ini adalah bukti bahwa anda adalah seorang Rounder. Peran ini sebenarnya jarang


terlihat pada Petualang. Maka dari itu, anda seharusnya merasa spesial karena


peran ini, Tuan Djinn.”


Oh…ternyata ini peran yang gue


dapet.


Ya, nggak masalah sih sebenernya.


Ujung-ujungya peran-peran kayak gini nggak ngaruh juga selama petualangan.


Eh, iya kan?


Abis itu, gue pun keluar bareng


Veyvila karena udah selesain tes gue. Cuma waktu gue keluar…


“Haaaaah?! Kok nggak bisa?!”


…gue liat Si Dongo lagi marah


sama om-om.


“Karena untuk membuat sebuah


Party, anda wajib membawa empat anggota yang akan anda pimpin!”


“Tapi kan Kak Sylv awalnya cuma


bertiga doang!”


“Aquilla yang dipimpin olehnya


berawal dari 4 orang dan beliau pada kala itu masih berperan sebagai Rounder!


Maka dari itu anda belum bisa menjabat sebagai Leader dan tetap dengan peran


sebagai Striker!”


“Ahhhh! Gagal dong jadi Kapten?!”


Oh kayaknya gue paham.


Dia mau nambahun Lencana Petualang-nya


jadi ada tanda Leader, tapi nggak bisa. Ternyata ada syaratnya juga untuk


bikin Party.


Ngomong-ngomong, ternyata dia


Striker ya.


“Yaudah, Myl. Tenang aja. Nanti


lo bisa rekrut orang lagi, kok.”


“Bener juga! Mending coba rekrut


yang itu—”


“Jangan sekarang juga, kali!”


Untuk gue langsung tarik dia


sebelum ngasal rekrut orang sana sini.


“Ta…Tapi Djinn—”


“Pelan-pelan aja, kali.


Petualangan kita masih panjang, nanti kita juga bisa rekrut orang lagi, kok.”


“Ahahaha! Bener juga, ya!”


Hehe! Untung dia nggak patah


semangat karena nggak bisa jadi Kapten secara resmi.


Tapi kok…gue denger omongan


orang-orang, ya?


“Udah bertahun-tahun jadi Petualang,


tapi masih Kasta Hijau?! Dih, lemah banget!”


“Tambah lagi, dia mau jadi Kapten?!


Becanda kali, ya?!”


“Ya kan dia mau jadi bekas


Kaptennya, Syilvia. Tapi mana bisa selemah itu jadi kayak Pahlawan Sylvia?!


Haha!”


Woy, kok orang-orang beraninya


ngomong di belakang doang?!


“*Tap… (suara menepuk pundak)”


“Myl?”


Dia tiba-tiba megang pundak gue.


“Tenang, biarin aja mereka mau


ngomongin apa! Cowok itu ngebuktiin pake tindakan, bukan pake omongan! Hehe!”


“Hmph! Lo bener! Bahkan anak


kecil pun ngerti kalo soal itu, mah!”


““…””


Gue sengaja ngomongnya lebih


kenceng dari Myllo. Supaya kesel aja tuh tiga orang itu. Gue bisa liat tatapan


mereka yang kesel sama gue.


“Ehem! Jika kalian berdua tidak


sedang mencari Quest, lebih baik keluar dari tempat ini!”


“Ah! Oh iya! Ayo kita cari Quest,


Djinn!”


Myllo tiba-tiba lari ke papan


yang isinya banyak banget serpihan kertas-kertas kecil. Semua dari kertas itu


warnanya biru, ijo, kuning, oranye, sama merah. Mungkin warnanya itu ada kaitan


sama Kasta tadi.


Dari beberapa serpihan kertas


kecil itu, ada tulisan-tulisan yang sempet gue baca, kayak…


“[Hijau] Quest: Investigasi


Serangan Monster di Xia Village.”


“[Kuning] Quest: Hentikan


Serangan Orc di Sekitar Danau Maipai.”


“[Biru] Quest: Hentikan


Komplotan Bandit Bernama Bert Brothers.”


…gitu.


“Hmm…”


Myllo teken kertas yang warna


merah. Abis itu tiba-tiba muncul tulisan…


Quest: Investigasi Aktivitas


Seekor Wyvern.


Seekor Wyvern terlihat


pergerakannya di Korvaille Town dan Moji City. Bagi Petualang yang hendak


mengambil Quest ini, sebisa mungkin mohon hentikan pergerakan Wyvern ini, sebelum


bertindak lebih jauh lagi, demi keselamatan warga!


…kayak gitu.


Ternyata kalo salah satu


kertasnya disentuh, keluar deskripsi kayak gitu, ya?


“Wuhuuuu! Djinn, kayaknya yang


ini seru, Djin—”


“Anda tidak bisa mengambil Quest


itu! Anda masih Kasta Hijau! Jangan sembarangan ambil Quest Jingga!”


Tuh kan bener, pasti ada


hubungannya juga sama Kasta tadi.


Jadi kalo Kasta warna ijo, cuma


bisa ambil Quest yang warna ijo juga, ya?


“Pak Tua, Pak Tua, Pak Tua!”


“Nama saya Gimmel! Jangan sebut


saya Pak Tua—”


“Kalo kita nggak bisa ambil


Quest-nya, kira-kira Wyvern-nya bisa buat kita, nggak?! Kan kedengerannya asik


juga tuh punya Wyvern! Hehe!”


Hadeh, Si Dongo ini…


Udah nggak dibolehin, malah


nuntut punya binatangnya, lagi!


Waktu mereka lagi debat, gue coba


aja iseng buka salah satu Quest-nya.


Gue buka Quest waran ijo yang


tadi sempet gue baca.


Quest: Investigasi Serangan


Monster di Xia Village.


Beberapa Monster tak dikenal


belakangan ini selalu menghantui warga Xia. Bagi Petualang yang hendak


mengambil Quest ini, mohon agar kiranya mencari tahu kebenaran dari penampakan


monster tersebut dan kembali segera ke Guild manapun untuk melaporkan hasil


investigasinya.


Kira-kira gitu tulisannya—


“*Shrak… (suara robek kertas)


“Baiklah. Itu lah Quest yang


kalian berdua ambil. Selamat berpetualang dan jagalah dunia ini, Para


Petualang!”


HAH?! GARA-GARA GAK SENGAJA


KETARIK, JADI QUEST INI YANG DIAMBIL?!


“AAAAHHHHH!!! DJINN, BRENGSEK!!!”


“Eh, sorry banget! Sumpah


gue nggak sengaja nariknya!”


“Huaaaahaha…kenapa harus Quest


kayak gini dari semua Quest…”


“Ja…Jangan nangis, napa?!


Malu-maluin aja lo!”


Tambah lagi…


“Hahaha! Ya kali selemah itu mau


investigasi Wyvern!”


“Udah, investigasi monster aja sana!


Paling ujung-ujungnya cuma Goblin doang! Hahaha!”


“Dih, liat tuh. Petualang macem


apa yang kayak gitu? Kok mewek-mewek gitu?! Serius, dia mau jadi Leader?!”


“Kasian temennya sih gue, punya


Kapten kayak gitu…”


Tuh kan! Malah makin diomongin!


“Myl! Ayo kita jalanin—”


“Ayo. Kita berangkat sekarang.”


“Hah?! I…Iya…”


Perasaan tadi nangis kayak bocil,


kok dia jadi serius banget, ya?


“Ayo kita langsung tuntasin Quest


ini. Kita buktiin Quest ini jadi jalan utama kita untuk penuhin target kita!”


“Yaudah.”


Gue sama Myllo akhirnya jalan


keluar dari Guild. Selama kita jalan ke arah pintu, gue bisa liat masih ada


beberapa yang masih ngomongin kita berdua, khususnya Myllo.


“…”


“*Dhum! (suara ketegangan aura)”


““!!!””


“Djinn, gak usah dipikirin.


Mereka gak ada hubungannya juga sama kita berdua.”


“Ya, sorry.”


Gue cuma liatin mereka semua,


tapi mereka langsung diem.


Hmph! Dasar banci mereka semua!