
Djinn menghilang dari Chamber of Ancient Armament karena ulah Nemesia. Namun, karena perintah Charvelle, maka Myllo dan rekan-rekan mulai memusatkan perhatian mereka untuk menyelamatkan Djinn.
Sementara Nemesia…
“Huufff… Huufff... Huufff…”
…juga merasakan efek dari Sihir Siren yang ia gunakan.
Sekujur tubuhnya mengalami luka bakar.
Tambah lagi, efek samping akibat mengenggam Wavebringer juga menggerogoti tubuhnya secara perlahan-lahan.
Walaupun begitu, ia merasa puas.
“Setidaknya… aku bisa… menghukum pria itu… sebelum ia merusak rumah kami… para Siren…”
Pikirnya dengan menahan rasa sakit.
Ia terlalu memikirkan cara membunuh Djinn, hingga ia tidak sadar bahwa masih banyak pihak yang menjadi lawannya, yang berada di sekitarnya.
“Sekarang! Thelial!”
“*Swush!”
Seru Brandt kepada Thelial, yang langsung terbang dengan cepat ke arah Nemesia.
Walaupun menyadari ada yang hendak menyerangnya, Nemesia tidak memperdulikannya dan berpikir bahwa ajalnya sudah dekat.
Akan tetapi…
“*Bwush!”
“Cih!”
…adiknya, Jennania, melindunginya dari serangan Thelial.
((Sirena: Cubrir))
Dengan sihirnya, Jennania membuat kubah berbentuk air, yang mengelilingi dirinya dan Nemesia.
Karena adanya kubah tersebut…
“Duh! Gue nggak bisa serang dia!”
…Thelial menjadi kesulitan menembus kubah air tersebut.
“Jennania… Apa yang kau lakukan…?”
Tanya Nemesia dengan terbatah-batah karena rasa sakit yang ia derita.
“…”
Jennania tidak menghiraukan pertanyaan kakaknya.
Ia masih merasa kesal akan tindakannya.
“Bukankah… engkau membenciku, Jennania…?”
“…”
Jennania kembali tidak menjawab pertanyaannya.
Walaupun masih diliputi dengan amarah terhadap kakaknya…
“*Ngunggg…”
…Jennania tetap menyembuhkannya.
“A-Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau—”
“Diam. Jika kau bersuara, maka aku tidak bisa berkonstrasi.”
“…”
Tidak ada respon dari Nemesia yang mendengar adiknya yang menjawabnya dengan dingin.
“Je-Jennania… Jika kau membenci aku… mengapa kau menyembuhkanku…?”
“…”
“Jennani—”
“Kubilang diam! Suaramu hanya menggangguku saja!”
Seru Jennania, sambil terus menyembuhkannya.
Mungkin Jennania membenci Nemesia karena telah mencelakai sahabat dari Myllo.
Akan tetapi, beberapa saat setelah Myllo mendengar perintah Charvelle.
……………
“Nemesia…! Keterlaluan kau, Nemesi—”
“Tunggu, Jenna! Liat dia!”
“…”
Jennania menatap Nemesia dari balik penghadang yang diciptakan Machinno.
“Kenapa dia kesakitan?! Bukannya dia—”
“Biarkan saja, Myllo! Itu semua karena ulahnya!”
“…”
Myllo tidak memberikan respon apa-apa ketika mendengar adanya rasa benci dari Jennania.
Kemudian, ia menegurnya.
“Oi, Jenna! Masa lo harus benci kakak lo lagi, sih?!”
“Myllo? Apa maksud—”
“Gue yakin, dia ngelakuin ini semua demi kalian, para Siren. Buktinya aja, dia paling khawatir loh, waktu kalian semua tiba-tiba pusing.”
“…”
Kali ini giliran Jennania yang terdiam dan tidak memberikan respon apa-apa.
Ia tidak percaya dengan apa yang Myllo katakan.
“Myllo, ia baru saja melukai Djinn, sahabatmu! Tidakkah kau membenci—”
“Hah? Kenapa harus benci? Kan ini udah jadi resiko kita sebagai Petualang, yang mau masuk Chamber of Ancient Armament, bukan?! Bahkan gue yakin, Djinn pun juga mikir kayak gitu! Hehe!”
Jawab Myllo, yang membuat Jennania semakin heran.
“*Tap…”
“Jenna, lo itu Keeper, kan?”
“Ya. Ada a—”
“Sembuhin kakak lo! Biar gue sama yang lainnya yang ngejar Djinn! OK?!”
Mendengar Myllo, Jennania menjadi teringat akan masa lalu.
“Aku tidak merasakan kebencian darinya. Bertemu dengannya, aku merasa sangat bersyukur. Melihatnya, mengingatkanku padamu, Gravrel.”
Pikir Jenannia, yang teringat akan mendiang kekasihnya, ketika melihat Myllo.
……………
Kembali lagi ketika Jennania yang masih menyembuhkan Nemesia.
“…”
Nemesia masih heran dengan Jennania yang menyembuhkan dirinya, walaupun adiknya itu membencinya. Jennania yang sadar akan rasa penasaran kakaknya itu pun menyampaikan sesuatu kepadanya.
“Dengar aku, Nemesia.”
“…”
“Kau ini berhutang nyawa dengan Mahluk Fana yang ingin kau bunuh sebelumnya.”
“Be-Berhutang nyawa? Mengapa aku—”
“Jika bukan karena dirinya, mungkin aku sudah membiarkanmu dibunuh oleh Harpy itu. Walaupun kau ingin membunuhnya, tetapi ia justru memintaku untuk menyembuhkanmu.”
“…”
Awalnya ia tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh adiknya, namun melihat keyakinannya, maka ia menjadi percaya dan merasa bersalah.
“Katakanlah kepadaku, Nemesia.”
“…”
“Myllo berkata, bahwa kau melakukan semua ini demi kami, para Siren. Apakah ia benar?”
Mendengar pertanyaan dari adiknya, ada rasa sesak di dada Nemesia.
Dan lagi, Jennania seakan mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh kakaknya.
“Jelaskan saja kepadaku. Tidak ada yang perlu kau sembunyikan lagi.”
“…”
Dengan air mata yang mengalir, Nemesia pun menjelaskan.
“Maafkan aku, Jennania…”
“…”
“Ini semua… karena keegoisanku… hiks!”
“Keegoisanmu?”
“Walaupun hidup lebih dari 5,000 tahun, namun kita semua hidup bahagia, tidak?”
“…”
Jennania tersenyum kecil ketika mengingat masa lalunya selama di dalam Dungeon of Whisper, ketika ia mendengar perkataan kakaknya.
Namun ia tiba-tiba merasa sedih, ketika…
“Sebelum datangnya para Pahlawan di tempat ini, hidup kita selalu damai, khususnya sebelum kedatangan mereka.”
…Nemesia membahas tentang kejadian yang merenggut nyawa kakaknya, Euphonia.
“Oleh karena itu, dengan adanya ramalan yang mengatakan bahwa kita akan pergi dari tempat ini, setelah datangnya Pria Terjanji, aku menjadi takut jika kita semua berpisah, khususnya Kakak Euphonia yang begitu ingin menjelajahi dunia ini!”
“…”
Jennania menjadi semakin murung ketika nama Euphonia disebut.
“Maka dari itu, aku bertekad untuk tidak kehilangan Siren lainnya dan menjalani hidup di tempat ini, walaupun harus mengorbankan adik-adikku!”
“Ne—Kakak Nemesia…”
Jennania menjadi merasa bersalah karena telah membenci kakaknya, yang sangat peduli terhadap Siren.
“Maafkan aku yang berusaha membunuhmu dan teman-temanmu, karena aku cemas ketika kau membawa Pria Terjanji bersama—”
“Aku yang seharusnya minta maaf, Kakak Nemesia! Aku hanya mementingkan amarahku dan hendak membunuh Kakak Delolliah, tanpa memikirkan perasaanmu!”
“Je-Jennania…”
Dengan begitu, mereka pun berdamai.
Namun…
“*Swung…”
““!!!””
…mereka dikejutkan dengan adanya kepingan besi yang menembus dan menghancurkan kubah air yang Jennania ciptakan.
Beruntung mereka masih bisa menghindari kepingan besi itu.
“Huff… Huff…”
“Brandt, sisanya biar gue aja yang tanganin! Mending lo—”
“Tenang aja…! Gue… masih bisa berdiri…!”
Potong Brandt ketika Thelial mengkhawatirkannya, dengan luka yang tidak kunjung sembuh.
Karena adanya kedua petinggi Chemia itu, Jennania dan Nemesia kemudian berdiri untuk menghadapi mereka.
Walaupun…
“Uhuok!”
“*Crat…”
…kondisi Nemesia belum sepenuhnya sembuh.
“Kakak Nemesia! Jangan—”
“Tenang saja, Jennania! Jika mereka benar-benar menginginkan Wavebringer, biarkan saja! Mereka tidak tahu apa akibat yang mereka tanggung jika menggenggam senjata kuno ini!”
Jelas Nemesia kepada adiknya.
Namun, Jennania mengetahui suatu fakta yang tidak diketahui oleh kakaknya.
“Tidak. Kau salah, Kakak Nemesia.”
“Salah? Apa maksud—”
“Sebelumnya, mungkin Myllo juga menggenggam senjata kuno itu ketika membantu melepaskan genggamanku darinya! Tetapi ia tidak menerima efek apa-apa! Awalnya aku mengira bahwa sebagai Saint, ia tidak menerima efek apa-apa! Akan tetapi, aku yakin bahwa senjata kuno itu hanya berpengaruh kepada kita, Kaum Siren!”
Jelas Jennania tentang Wavebringer.
Selain itu, ia juga menyadari satu hal yang tidak diketahui oleh Nemesia tentang dua orang yang akan dihadapinya.
“Jika aku benar, sepertinya mereka hendak menangkap Kakak Nemesia. Apa yang melatarbelakangi tujuan mereka?”
Pikir Jennania tentang rencana dari Chemia.
“Thelial. Lo siap?”
“Ya. Waktunya kita serang mereka berdua!”
Sahut Thelial, sambil maju menyerang kedua Siren tersebut.
Akan tetapi, ada yang menghadang mereka berdua.
((Summon Magic: Megalodon))
“*Haaaurp!”
“!!!”
Seketika muncul seekor hiu besar yang datang untuk melahap mereka berdua.
“Pielloda! Aegaly! Kailinophe! Nautina!”
Seru Jennania ketika keempat rekannya sebagai Petualang terlihat.
“Nyo—Ehem! Maksudku, Jennania! Nemesia! Pergilah dari sini!”
“Semua Petualang itu sepertinya hendak mengejar Djinn! Cepat kejar mereka!”
“Sepertinya Myllo dan yang lainnya membutuhkan kalian!”
“Biarkan kami yang mengurus dua orang ini!”
Seru keempat anggota Virgo.
“Baiklah, kami pergi sekarang! Ayo, kakak!”
“Baiklah…”
Nemesia pun mengikuti Jennania untuk pergi menyusul Myllo dan rekan-rekan.
“Heh! Kalian kira kita—”
“*Vwumm…”
“Jangan kalian pikir kalian bisa pergi menyusul mereka berdua!”
Seru Kailinophe kepada mereka berdua.
Dengan kedatangan mereka, Thelial dan Brandt kembali dihadapkan dengan rintangan.
Sementara Jennania dan Nemesia berlari untuk menyelamatkan Djinn yang masih belum sadar.