
Kita pergi dari rumahnya para Dryad, bareng Ivis sama Ambrolis.
Waktu kita keluar dari rumah mereka, kita disambut sama dua Kaum Jamur yang nunggu di depan pintu masuk. Ya pastinya sih Kaum Jamur itu juga Dryad.
“Kakak Ivis, apakah kakak harus pergi meninggalkan rumah?”
“Mengapa kakak tidak—”
“Anggap saja… keputusanku kali ini tidak lebih dari takdir yang kuterima, adik-adikku.”
T-Takdir…?
“Jadi, bagaimanakah situasi dari Cthorach?”
“Sepertinya lebih kacau, Kakak Ivis.”
“Lebih kacau? Terangkanlah kepada kami, adik-adikku.”
““…””
Dua Dryad ini jelasin ke kita, kalo Cthorach, nama asli Dangerose, udah bisa ngeracunin habitat-habitat yang ada di pulau ini.
Siapapun yang masuk sana, tiba-tiba mereka semua jadi mahluk yang beda banget dari sebelumnya.
“Seperti yang kuduga!”
“Ada apa, Ivis?”
“Ratusan tahun semenjak kedatangan Dalbert Noark, Cthorach tidak hanya mengumpulkan kekuatannya saja! Ia juga menciptakan pasukan, agar ia siap menghadapi maut yang hendak menjemputnya!”
Dalbert Noark? Maksudnya Pahlawan Dalbert?
“Lalu, apakah pasukan yang diciptakan olehnya itu berhasil keluar dari Dungeon of Poison?”
“Ya. Mereka berada di mana-mana, Kakak Ivis.”
“Keberadaan mereka terbukti dari beberapa Jamur Raksasa yang layu, atau yang semakin beracun.”
Tunggu, denger beberapa Dryad itu bikin gue penasaran.
“Vis, mau tanya dong.”
“Apa, Djinn Dracorion?”
“Semua Jamur Raksasa di sini tuh beracun karena efek dari Dungeon of Poison, atau dari awal udah beracun?”
“Dari awal memang sudah beracun. Hal tersebut adalah salah satu mekanisme pertahanan yang berada di pulau ini. Tetapi karena Cthorach, racun tersebut semakin berbahaya. Bahkan jika seseorang tersentuh sedikit pun, mungkin umurnya tidak akan bertahan sampai satu hari.”
B-Buset…! S-Separah itu ya racun-racunnya…?!
“Ivis! Kita nggak punya waktu lama-lama lagi! Ayo kita berangkat sekarang!”
“Aku juga setuju, Myllo Olfret.”
Karena itu, kita pun langsung jalan ke Dungeon of Poison.
Masalahnya, selama perjalanan ke Dungeon itu, kita udah disambut “pasukan” dari Dungeon of Poison.
““Grrrrr!””
“Hieeekh!”
“Itu bukannya… Foxic?!”
“Tidak! Sebelumnya semua rubah tersebut tidak lain dari seekor rubah biasa! Aku yakin, bahwa rubah tersebut terkena dampak dari racun milik Cthorach!”
Gila! Dampaknya bisa sampe kayak gitu?!
Rubah-rubah yang ada di depan kita ini, bulunya warna hijau! Masalahnya itu, ada liur yang warnanya gelap yang netes-netes dari muncung rubah itu! Kesannya rubah itu kayak… rabies?!
““Rawr!””
((Bindvine))
“*Krraaak!”
Eh! Tiba-tiba Ivis iket rubah-rubah itu pake semacam tanaman merambat?!
“Aku berhasil menangkap mereka! Serang mereka dengan senjata kalian! Jangan sampai kulit kalian tersentuh mereka!”
Yah! Kalo gitu gue nggak akan bisa ngapa-ngapain, dong?!
“OK!”
“*Fwush!”
“Kalo gitu, gue serang duluan!”
Myllo langsung terbang untuk serang rubah beracun itu.
“Hehe! Kalo nggak karena Ivis, mungkin aja—”
“Hati-hati! Ada beberapa binatang yang mau ke arah kita!”
“*Ruuuur!”
Buset! Rusa macem apa yang segede itu?!
“*Prang…”
“Keuk! K-Keras banget!”
Untung aja Gia langsung nahan rubah itu pake pedangnya!
“Ambrolis! Bantu mereka!”
“Baiklah!”
Oh, ternyata dia juga mau bantuin kita, ya?
Gue kira dia bakal diem do—
“Jangan kau beraninya menggangguku, Vamulran!”
Hah?! Apa dia bilang?!
((Vine Whip))
“*Cplash!”
“Ruuuur…”
Ternyata senjata dia tuh juga tanaman merambat, ya? Tanaman itu dia jadiin cambukan, untuk hajar rusa itu.
“*Chaaaak!”
“Dalbert! Itu elang lo—”
“Bukan! Burung itu… burung yang kena racun Dangerose juga!”
Gila! Bahkan burung pun bisa diracunin sama monster itu?!
“…”
Ah! Ada batu!
((Rune Spell: Explosive Throw))
“*Swush!”
“*Boom!”
Huh, untung aja segampang itu untuk tumbangin burung beracun i—
“Et! Eta burung teh mau jatuh ke arah kita!”
Aduh! Ada satu burung yang mau jatoh ke atas kita!
((Barrier Magic: Burden Hold))
“*Bwung!”
U-Untung aja ada Machinno yang langsung pake kekuatannya untuk tahan burung beracun ini!
“Dalbert! Dari mana lagi mereka mau dateng?!”
“Keliatannya udah cukup, Myllo. Mungkin sekarang kita bisa lanjutin perjalanan kita.”
“Hehe! OK kalo gitu! Ayo kita—”
“*Phak!”
““!!!””
Apa-apaan nih cewek?! Kenapa gue tiba-tiba ditampar?!
“Woy! Apa maksud lo—”
“Sudah kubilang, bahwa kau seharusnya jangan mengganggu! Yang kau lakukan sebelumnya telah membahayakan Kakak I—”
“Ambrolis! Apa yang kau lakukan?! Hentikan!”
“Kakak Ivis! Tetapi pria ini—”
“Kubilang hentikan! Jangan kau langgar kata-kataku!”
“Cih…!”
“…”
Huuuuh…
Sabar, Djinn.
Seenggaknya Ivis udah ngebantuin lo.
Karena—
“Mhahaha…! Pasti kesel kan lo ditampar cewek kayak gitu?!”
“…”
“Dasar lemah! Lo bahkan biarin cewek itu nampar lo! Kalo gue jadi lo sih—”
“Diem lo, bajingan!”
““Hah?!””
“Eh! M-Maaf! Gue cuma… ya gitu lah.”
Dasar bajingan nih emang Iblis satu di dalem badan gue ini!
Gara-gara dia, bisa-bisa gue dianggep aneh sama mereka-mereka ini!
……………
“Haaaah! Kita istirahat dulu aja kali, ya?! Kalian pada capek kan?!”
Sekarang udah malem. Makanya itu kita istirahat di bawah Jamur Raksasa ini.
“Myllo! Ngeliat binatang-binatang yang kena racun kayak tadi, aku jadi mulai khawatir deh sama warga desa yang ada di dalem Dungeon!”
“Gue sebenernya juga khawatir, Gia. Tapi, istirahat juga lebih penting, kan? Hihihi!”
“Iya sih…”
“Hehe! Semoga aja mereka nggak kenapa-kenapa, sebelum kita bebasin mereka!”
“Ya. Semoga aja.”
“…”
Gue nggak ngomong apa-apa terkait kekhawatiran Gia.
Karena nggak cuma dia doang. Yang lainnya juga khawatir sama warga desa.
““…””
Abis makan-makan, kita langsung istirahat. Kecuali gue sama Ivis, yang kebetulan dapet giliran “ronda” sebelum
diganttin Dalbert sama Machinno.
“Djinn Dracorion, mohon maaf atas kekerasan yang dilakukan oleh Ambro—”
“Tenang aja. Justru, harusnya gue mau bilang makasih banyak ke lo. Gue juga mau minta maaf karena hampir—”
“Kau tidak perlu khawatir, Djinn Dracorion. Bahkan sebelum elang tersebut jatuh, aku sudah siap menghindar. Tetapi aku tetap beruntung karena ada Machinno yang siap menjaga kita dengan sihirnya.”
Emang sih sebenernya gue kesel. Bahkan gue udah mau ngebales tamparan Ambrolis.
Tapi kalo sampe gue ngelakuin hal itu, bisa aja Si Bajingan ini lebih gampang untuk ambil alih badan gue.
Cuma, ada satu hal yang bikin gue lebih heran.
“Vis, gue mau nanya dong.”
“Hm?”
“Dari semua Dryad yang gue temuin, gue ngerasa kalo Ambrolis tuh paling “agresif” ke gue, walaupun gue tau kalo mereka semua benci sama gue. Kira-kira bener, nggak?”
“Kau benar, Djinn. Tidak seperti Dryad lainnya, aku dan Ambrolis hanyalah dua Dryad yang belum pernah menyentuh lingkaran reinkarnasi, semenjak Hari Penghakiman.”
Semenjak Hari Penghakiman?!
Tunggu. Gue masih heran sama penjelasannya.
“Bukannya kalian selalu ganti badan kalian setiap 1 abad sekali?!”
“Memang benar.”
“T-Terus… kok belom pernah—”
“Ah. Sepertinya aku mengerti maksudmu.”
“Hm?”
“Mengganti Tubuh kami bukan berarti kami mati. Seperti tanaman anggur yang sudah tidak berbuah dan dipotong agar berbuah lebih banyak di kemudian hari. Kami mengganti Tubuh kami dengan harapan agar tumbuhan baru yang menjadi Tubuh kami dapat berfungsi dengan lebih baik.”
“Berarti… selain kalian berdua…”
“Ya. Para Dryad lainnya pernah mati, lalu lahir kembali di sekitar kami.”
Walaupun bukan Mahluk Abadi, tapi dia udah hidup lebih dari 5,000 tahun?!
“Karena aku dan Ambrolis telah hidup selama itu… maka kami berdua masih mengingat dengan jelas terkait trauma yang kami rasakan.”
“Trauma? Emangnya trauma macem apa yang kalian rasain?”
“Trauma ketika kami masih hidup di Kontinen Tenggara, di mana terdapat Vamulran Kingdom di sana.”
“!!!”
Jadi para Dryad sebelumnya tinggal di Vamulran?!
Eh, tapi kalo dipikir-pikir lagi, ya wajar aja sih.
Kalo emang Klan Vamulran selalu kejar mereka, wajar aja kalo mereka tinggal di sana.
“Emangnya… ada apa waktu itu?”
“…”
Eh? Kok diem a—
“Waktu itu… aku dan Ambrolis menyaksikan ada sangat banyak saudari kami yang tertangkap dan dieksploitasi oleh Klan Vamulran.”
Cih! Dasar klan biadab!
Apa bedanya mereka sama Ghibr?!
“Terus… gimana?”
“Kala itu Druid Terakhir berhasil membawa sebagian kecil dari kami. Sekarang sudah ribuan tahun setelah kejadian itu. Dan saat ini… aku pun tidak mengetahui kabar apapun tentang saudari-saudariku. Hidup atau telah kembali ke Spirit Realm, aku pun menunggu kabar itu.”
“…”
“Walaupun bukan Mahluk Abadi, kami ini adalah mahluk yang paling dekat dengan alam. Oleh karena itu, kami bisa…”
“…”
“Djinn Dracorion…?”
Eh! Gue jadi bengong aja karena terlalu—
“Sepertinya… kau juga memiliki kebencian terhadap mereka semua.”
“Wajar aja! Apalagi waktu denger cerita lo—”
“Apa karena hal itu saja? Atau mungkin… ada suatu masa lalu yang membuatmu membenci mereka?”
“…”
Karena ditanya gitu, gue ceritain tentang masa lalu Djinnardio ke Ivis. Gue juga harus bohong lagi, supaya bisa jelasin tentang “hilangnya ingatan” gue. Yang pasti, gue nggak jelasin ke dia tentang gue sebagai Pria Terjanji atau identitas lama gue sebagai Dwi Lukman.
“Oh seperti itu, kah? Kukira kau Kaum Omega. Ternyata kau mendapat perlakuan seperti itu hanya karena Kaum High Elf yang hendak memperlihatkan supremasinya saja.”
Hah…?
“K-Kaum Omega…? Apa itu…?”
“Ah, sepertinya kau benar-benar kehilangan ingatan, kah? Baiklah. Biar aku terangkan kepadamu.”
“…”
“Kaum Omega adalah seseorang yang memiliki Kefanaan dan Keabadian yang mengalir pada darahnya.
Bahkan sampai saat ini, hal tersebut adalah tabu bagi dunia. Karena itu seorang Kaum Omega mendapatkan perlakuan yang tidak adil di dunia ini.”
Kefanaan…? Keabadian…?
Kan gue… anaknya Manusia sama High Elf. Dua-duanya sama-sama Mahluk Fana, kan…?”
“M-Maksud lo apa, Vis…? Gue ini—”
“Maafkan aku, Djinn Dracorion. Aku hanya mengira saja. Karena mendengar ceritamu, aku hanya berpikir jika kau mendapat perlakuan seperti itu karena kau terlahir sebagai Kaum Omega. Maafkan aku jika apa yang kubicarakan membebani pikiranmu.”
“Y-Ya. Nggak apa-apa, kok.”
Tunggu. Kok gue jadi keinget satu hal, ya?
“Mungkin Perkawinan antar dua ras Mahluk Fana juga dianggap pantang. Tetapi perkawinan silang antara Mahluk Abadi dan Mahluk Fana adalah sesuatu—”
“Ivis, gue mau tanya dong.”
“Silakan.”
Gara-gara ngobrol sama dia, gue jadi keinget satu hal yang gue liat di Chamber of Ancient Armament!
[1]“…Aku dipercayakan oleh Sang Alpha untuk menjaga dunia ini, khususnya mencegah kedatangan Sang Omega!”
Bener!
Ternyata kalimat itu disebutin sama “diri gue” yang gue benci banget!
“Lo tau nggak… tentang Omega…? Eh? Atau harus gue sebut Sang Omega kali, ya?”
“!!!”
Dari reaksi kagetnya, kayaknya dia juga tau, ya?
“Kau…”
“Hm?”
“Apakah kau pernah menuju Chamber of Ancient Armament?”
“Y-Ya.”
Waduh, bisa-bisa ketauan kalo gue ini Pria Ter—
“Pantas saja kau mengetahui hal itu.”
“Ya. Tapi gue nggak tau maksud i—”
“A-Alangkah baiknya… jika aku tidak membicarakannya.”
“Hah?! Emangnya kena—”
“Aku adalah mahluk kuno yang telah hidup dari sebelum Hari Penghakiman. Oleh karena itu, aku masih percaya dengan tabu yang dipercaya sejak dunia ini tercipta.”
E-Eh! B-Berlebihan banget!
Tapi kalo diliat dari reaksinya…
“…”
…bahkan tangannya sampe gemeteran begitu…?
“Jika kau ingin mengetahui hal tersebut, alangkah baiknya jika kau melanjutkan petualanganmu dan mencari Hidden Dungeon yang diciptakan oleh Melchizedek.”
“K-Kenapa gue harus—”
“Aku… tidak berani untuk menerima tulah yang berasal dari tabu kuno tersebut.”
Cih!
Artinya gue nggak akan pernah tau tentang nasib Alfgorth sama Syllia, dong!
Soalnya kan gue udah janji untuk nggak akan pernah sentuh tempat itu lagi!
_______________
[1]Kutipan dari Sakhtice, ketika Djinn menyaksikan untuk kedua kalinya pertemuan antara Melchizedek dengan para Dewa dan Dewi (Chapter 212).