Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 152. Everything That Happen Afterwards



Setelah beberapa bulan


menghabiskan waktu di Erviga Kingdom, Djinn telah menjalani beberapa tantangan


dan rintangan sebagai seorang Petualang.


Bersama dengan Kapten yang juga


salah satu sahabat pertamanya, Myllo Olfret, ia menjadi salah satu pendiri


Party yang bernama Aquilla.


Sebagai salah satu pendiri Party


yang begitu legendaris di Erviga Kingdom, ia bahkan mendapatkan titel di


kerajaan tersebut, yang menjadi alasan untuk menciptakan identitas baru sebagai:


Djinn Dracorion.


Saat ini, Djinn Dracorion,


sebagai Wakil Kapten dari Aquilla, telah pergi dari Erviga Kingdom bersama


Kapten Myllo, serta anggota lainnya, Gia, Garry, dan Dalbert.


Bersama-sama, mereka hendak


menyusul anggota Aquilla lainnya, Luvast Vamulran, atau yang dikenal sebagai


Vast, ke Vamulran Kingdom, di mana bahaya menyusul mereka.


Namun, tanpa mereka sadari,


pencapaian mereka di Erviga Kingdom begitu mengejutkan dunia.


“Hey, hey! Kalian udah baca


berita ini?!”


“Erviga Kingdom putus ikatan


mereka dari Centra Geoterra?!”


“Bu…Bukannya mereka itu salah


satu negara yang paling lama berhubungan sama Centra Geoterra, ya?!”


Karena tindakan mereka, Raja


Glennhard memutuskan ikatan mereka dengan Centra Geoterra.


Keputusan tersebut sangatlah


mengejutkan warga dunia, mengingat Centra Geoterra adalah organisasi yang begitu


diagungkan sebagai pemerintah pusat di seluruh Geoterra.


Namun, tidak sedikit dari warga


dunia yang setuju dengan tindakan mereka.


“Tapi katanya banyak Kaum


Non-Manusia yang ditindas, ya?!”


“Gila, ya?! Masih ada yang kayak


gitu ya di dunia ini?!”


“Kalo mereka sampe putus ikatan


mereka sama Centra Geoterra, apa mungkin pusat pemerintahan itu ada kaitannya


sama semua bencana di—”


“Sssttt! Jangan kenceng-kenceng!”


Sedangkan di Centra Geoterra


sendiri, dalam menanggapi tindakan Raja Glennhard, di mana terdapat tiga orang


yang dikenal sebagai Tri Dewan, berada dalam satu meja.


“Kita kehilangan satu negara.”


“Ya. Bahkan Maverick Orbloom gagal, kah?”


“Sangat disayangkan. Usaha kita


untuk menguasai Negara Dragonewt itu berakhir sia-sia. Apalagi, saat ini


Glennhard malah mengusahakan agar Mahluk Intelektual hidup berdampingan.”


Kata ketiga orang itu secara


bergantian, tanpa mengetahui fakta bahwa Maverick Orbloom sejatinya adalah


Narciel, salah satu Malaikat yang bersembunyi di Geoterra.


“Memang kita menyayangkan


tindakan Glennhard. Akan tetapi, kalian pasti tahu apa yang sangat


disayangkan.”


“Tentu saja. Anomali itu sekarang mulai diagung-agungkan layaknya seorang


Pahlawan di Erviga.”


“Namun, saya tidak tahu apakah


tindakannya itu untuk menantang kita atau memang ketidapeduliannya, ketika menggunakan nama Dracorion sebagai seorang Petualang.”


Lanjut mereka yang membicarakan


tentang Djinn.


“Sepertinya agenda kita sangat


banyak, saudara-saudaraku sekalian.”


“Benar. Kita masih harus mencari


keberadaan Sylvia Starfell yang


berhasil lari dan bersembunyi dari kita semua.”


“Namun, yang paling sulit adalah


mencari kebenaran yang disembunyikan


oleh Great Sage Melchizedek.”


““…””


Seketika mereka pun hening ketika


mereka mengingat pekerjaan berat yang harus mereka lakukan.


……………


Di tempat lain, di suatu


perkemahan.


“Uhm…gue ada di mana?”


Seseorang baru saja terbangun.


“…”


Ia melihat seorang wanita sedang


menatapnya.


Karena berusaha untuk tetap


waspada, ia hendak mengambil senjatanya.


Namun…


“Cih! Pisau gue di ambil, ya?”


…ia tidak menemukan senjatanya.


Tidak lama kemudian, datanglah


seorang perawat yang begitu mengejutkannya.


“Hah?! Lo itu…”


“Tenang, tenang, tenang! Penduduk


di sini nemuin lo nggak sadar di tepi pantai!”


Sahut perawat itu kepadanya.


“Nama lo siapa? Kenapa lo bisa


ada di tempat ini?”


“…”


Wanita itu hanya diam.


Ia memikirkan cara terbaik untuk


menjawab pertanyaan itu.


“Tenang aja. Lo nggak perlu


nutup-nutupin sesuatu dari gue.”


“…”


Merasa perawat itu bisa


dipercayai wanita itu pun mulai menjawab pertanyaannya.


“Nama gue Bellavitria Mistyx.


Biasa dipanggil Styx. Gue nggak tau gimana caranya bisa sampe di tempat ini.


Yang pasti, gue sempet lawan uler yang gede sebelum terdampar di tempat ini.”


Jawab Styx, mantan rekan Myllo


Olfret dan juga Pahlawan Sylvia Starfell.


……………


Di sisi lain, pada suatu tempat


yang bernama Caadoot Jungle, yang terletak di Bachinne Federation.


““Rrrrr!!!””


“Awas ada Direwolf!”


“Tu…Tunggu! Ada Petualang yang


datang!”


Seru salah seorang warga yang


melihat adanya Luvast yang maju ke hadapan 15 Direwolf itu.


““Roaar!””


“Blizzard Typhoon!”


“*Fwuuuusshhh! (suara badai


salju)”


““!!!””


Beberapa warga terkejut ketika


mereka melihat serangan sihir dari Luvast, yang secara langsung mengalahkan


semua Direwolf itu.


“Oh iya! Dia itu anggota


Aquilla!”


“Aquilla?! Party-nya Pahlawan


Sylvia?!”


“Bu…Bukan! Itu loh, Party baru


yang dipimpin adeknya, Myllo Olfret!”


“Oh iya! Gue baru inget!”


Seru beberapa warga desa.


Sambil meninggalkan hutan itu,


Luvast pun dipuji layaknya seorang pahlawan.


“Keren! Keren banget!”


“Semangat terus jadi anggota


Aquilla!”


“Semoga bisa jadi Party yang


keren, kayak Aquilla dari Pahlawan Sylvia!”


“…”


Luvast hanya tersenyum.


Namun yang ada dipikirannya…


“A…Aku lupa jika aku telah mengambil Quest Hijau ini! Jika aku tidak


menyelesaikannya sebelum pergi dari negara ini, aku hanya akan mencoreng nama


Myllo saja!”


…adalah kelalaiannya.


Ia pun pergi ke Guild Petualang


yang berada di Bachinno Federation untuk melaporkan Quest yang ia selesaikan.


Namun, ketika ia pergi dari Guild


Petualang untuk menemui High Elf lainnya yang hendak ia antar ke Vamulran


Kingdom…


“…”


“Hm…”


“*Shringgg… (suara menghunuskan


pedang)”


…ia diikuti oleh seseorang.


“Wah, wah, wah! Tajam juga ya


insting an—”


“Anda… Apakah anda adalah pria


yang bernama Snake?”


Tanya Luvast kepada Snake, sambil


mengarahkan pedang ke lehernya.


“Hahaha! Sepertinya anda telah


mengenal saya, Luvast Vamulran. Jika seperti itu, sepertinya saya tidak perlu


basa-basi lagi dengan anda.”


“…”


Luvast hanya menatap dengan


dingin, walaupun Snake menyapanya dengan ramah.


“Apa yang anda inginkan dari


saya?!”


“Hmm…tidak banyak. Hanya sebatas


kerja sa—”


“Anda sudah tahu jawaban saya,


benar?”


“Ah, apakah maksud anda itu, anda


menolak karena telah menjadi anggota Aquilla?”


Tanya Snake dengan menyeringai.


“Luvast, tentu saja saya sudah


tahu anda yang menjadi anggota Aquilla. Saya menawarkan kerja sama ini, selama


Kapten anda tidak tahu tentang kerja sama kita.”


“???”


Luvast heran dengan maksud dari


“Apa maksud anda?”


“Maksud saya? Tentu saja karena


anda tidak bisa berkomunikasi dengan rekan-rekan anda, setelah anda


menghancurkan Orb Call karena adanya penguntit di sekitar anda, benar?”


“!!!”


“Siapa yang kira-kira menguntit


anda? Anggota dari Aranual? Atau


mungkin…anggota dari Findyor? Atau bahkan bisa saja anggota…dari Rivrith—”


“*Swush! (suara ayunan pedang)”


Luvast begitu kesal dengan Snake


yang ada di hadapannya, seolah ia tahu segalanya.


“Siapa sebenarnya anda?! Mengapa


anda bahkan mengetahui… Tunggu…”


“Hm?”


Luvast tiba-tiba berhenti


menyelesaikan kalimatnya. Hal itu membuat Snake menjadi penasaran.


“Apakah mungkin…anda adalah salah


seorang High Elf?!”


“…”


Snake tetap terlihat tenang


ketika mendengar perkataan Luvast.


“Saya? Seorang High Elf? Hahaha!


Yang benar saja, Luvast. Bagaimana mungkin saya bisa berkelana ke sana dan


kemari, jika saya berada di tempat tertutup seperti i—”


“Bukankah ada sangat banyak Elf


yang pergi melarikan diri dari Vamulran Kingdom? Jika anda mengetahui


segalanya, seharusnya anda juga tahu akan fakta itu, bukan?”


Tanya Luvast, yang berusaha untuk


adu pikiran dengannya.


“Haaaah…sepertinya saya tidak


bisa beradu pikiran dengan anda, Luvast. Dan untuk tawaran dari saya,


bagaimana?”


“Hmph. Tentu saja jawabannya


tidak—”


“Apakah anda yakin? Nanti akan


ada sangat banyak tantangan yang harus anda hadapi, Luvast. Bahkan anda sedang


berada sangat jauh dari—”


“Tenang saja. Saya akan bertemu Aquilla.”


Jawab Luvast sambil tersenyum.


Snake pun menyerah.


“Baiklah. Jika ada sesuatu


terjadi pada anda, sebaiknya ingat baik-baik bahwa saya telah menawarkan


‘bantuan’ kepada anda, keponakan.”


“A…Apa—”


“*Vrung… (suara portal terbuka)”


“Tu…Tunggu—”


“*Vrung… (suara portal tertutup)”


Mendengar salam perpisahan dari


Snake membuat Luvast menjadi resah.


“A…Apakah ia adalah adik-adik dari pihak ayah?! Siapa ia sebenarnya?!”


“*Bruk! (suara menghentakkan


kaki)”


“Djinn! Andai saja kamu tahu siapa ia sebenarnya, semoga kamu baik-baik


saja ketika bertemu dengannya!”


Pikir Luvast dengan gelisah.


……………


Dan di sisi lain, di istana


Vamulran Kingdom.


“Inilah berita yang bisa saya


sampaikan, ayah.”


“…”


Bivomüne sedang membaca berita


yang diberikan oleh anaknya Edhlein.


Hingga tiba-tiba…


“BUWAAAAHAHAHAHAHA!!!”


“!!!”


…Edhlein dikejutkan dengan tawa


ayahnya yang sangat lebar dan kencang.


“A…Ayah! Mengapa anda tertawa


begitu keras?! Apakah ada yang lucu dibalik berita tentang Erviga Kingdom?!”


“Ti…Tidak! Hanya saja, nama ini


membuat saya tertawa!”


“Nama…?”


“Djinn Dracorion! Arti nama ini


adalah Sang Pemburu Naga! Tidak disangka ada orang yang menggunakan nama ini!


Bwahahaha!”


Jawab Bivomüne yang kembali


tertawa.


Mendengar nama itu, terbesit


sesuatu di pikiran Edhlein.


“Djinn Dracorion? Ayah! Apakah


orang itu adalah—”


“Djinnardio? Tentu saja bukan,


Edhlein! Jika itu Djinnardio, seharusnya saya sudah mengetahuinya!”


Jelas Bivomüne kepada anaknya itu.


“Baiklah ayah, saya akan


melanjutkan pekerjaan saya terlebuh dahulu.”


“Baiklah, anakku.”


Edhlein pun keluar dengan


tersenyum.


“Hihi! Akhirnya ayah tersenyum!”


Pikirnya ketika melihat reaksi


ayahnya.


Namun yang ada di pikiran


Bivomüne…


“Djinnardio! Maafkan kakek yang hampir membocorkan identitasmu!”


Sambil merasa resah, Bivomüne


melihat ada sesuatu dari depan meja miliknya.


“Hm? Jejak api ini…”


Melihat adanya jejak api,


Bivomüne pun mengikutinya, hingga ke tempat tersembunyi di dekat jendela ruang


tidurnya.


Ketika berada di ruang tidurnya,


Bivomüne pun merapal mantra sihir.


“Absolote Soundproof.”


Setelah itu, ia menyapa pemilik


jejak api tersebut.


“Sudah saya duga bahwa anda


datang, Pahlawan Sylvia.”


Sapa Bivomüne kepada Sylvia


Starfell.


“Hehe! Nggak perlu manggil saya


gitu kali, Guru Bivomüne.”


Balas Sylvia, yang merupakan


murid dari Bivomüne.


“Saya yakin tujuan anda bukan


tanpa sebab, Sylvia.”


“Pastinya. Karena saya mau nitip


sesuatu ke Guru.”


“Sesuatu—”


“*Bruk… (suara tergeletak)”


“!!!”


Bivomüne begitu terkejut ketika


ada seseorang yang Sylvia keluarkan dari Fratta Pouch miliknya.


“Ke…Keterlaluan! Mengapa anda


membawa seseorang dengan Fratta—”


“Guru, coba liat Jiwa orang ini


baik-baik.”


Bivomüne pun mencoba untuk


menelisik Jiwa pria yang Sylvia bawa.


“Ji…Jiwa orang ini…”


“Ya. Dari pola Jiwa itu, Guru


bisa tau kan siapa dia?”


“Te…Tentu saja! Orang ini…adalah reinkarnasi dari Great Sage Melchizedek!”


Jawab Bivomüne kepada Sylvia.


“Di…Dimanakah anda menemukan pria


ini?!”


“Di Erviga.”


“Erviga?! Artinya anda telah bertemu dengan—”


“Nggak. Saya nggak boleh ketemu


sama Myllo.”


Jawab Sylvia dengan murung.


“Perjalanan dia baru mulai. Kalo


sampe dia tau saya masih hidup, bisa-bisa dia nggak lanjutin perjalanannya


untuk jadi Petualang Nomor Satu di dunia!”


“Sa…Saya paham apa yang anda


rasakan, Sylvia. Semenjak saya juga tidak bisa menemui dua cucu saya, yang


menjadi anggota dari adik anda.”


“Cu…Cucu?! Jangan bilang, yang


satu itu Putri Luvast?!”


“Benar. Dan Djinn Dracorion


adalah Djinnardio Vamulran, pewaris takhta saya!”


Jawab Bivomüne.


Alih-alih terlihat murung, justru


mereka…


“Bwahahahaha!”       “Ahahahahah!”


…tertawa bersama.


“Nggak saya sangka kalo orang


terdekat kita saling kenal!”


“Ya! Saya juga—”


“*Tok, tok, tok… (suara ketuk


pintu)”


“Permisi, Yang Mulia Raja Bivomüne…”


Ketukan pintu itu menginterupsi


momen bersama mereka.


“Ada yang dateng, ya?”


“*Fwup… (suara kepakan sayap)”


“Kalo gitu, saya pergi dulu,


Guru.”


“Baiklah. Namun jangan datang


dengan cara seperti ini lagi!”


“Hehe! OK, Guru!”


Jawab Sylvia, sembari


meninggalkan ruang tidur Bivomüne dengan sayap berapi yang ia miliki.


“Djinnardio, Luvast, semoga kalian berhasil mengukir jalan kalian


sebagai Petualang, cucu-cucu kesayanganku.”


Pikir Bivomüne, sembari


meninggalkan ruang tidurnya.