
Ketika Djinn sedang mencari fakta-fakta tentang Ghoul,
Myllo dan Gia sedang bersikeras melawan ratusan Ghoul.
“*Pranggg… (suara pedang besar menangkis)”
“Hyaaa!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Kombinasi antara pertahanan Gia dan serangan Myllo
berjalan dengan sempurna.
Ketika ada Ghoul yang datang menyerang, Gia selalu
mengantisipasi serangan tersebut dan Myllo dengan cepat menyerang balik Ghoul
tersebut.
Akan tetapi…
“*Huff…huff…*mereka nggak ada abisnya\, ya?!”
“*Huff…*lo mungkin bener. Tapi…ini yang bikin seru\,
kan?!”
…stamina mereka tidak cukup kuat untuk melawan mereka
semua.
“Gia, sekarang mungkin waktunya lo istirahat! Sebisa
mungkin, jaga diri lo aja!”
“Ma…Maksud kamu?!”
“Waktunya main agresif! Hehe!”
Myllo pun berlari mengelilingi Gia agar tidak ada yang
menyerangnya yang sedang kelelahan.
“I…Ini orang gila,, ya?! Dia padahal kecapean, kan?
Kenapa malah dia yang nyerang semua Ghoul yang mau ke arah kita?!”
Pikir Gia sambil menyaksikan Myllo yang bergerak tanpa
henti untuk menyerang para Ghoul.
“Hihi! Orang ini keren! Kalo gitu, aku nggak boleh
duduk aja!”
Pikir Gia yang langsung mempersiapkan diri kembali
untuk melawan para Ghoul.
“Hiyaaaa!”
“*Prang! (suara serangan pedang besar)”
Gia pun tidak hanya menahan serangan saja. Sekarang ia
ikut menyerang para Ghoul.
“Gia?! Bukannya kecapean?!”
“Tenang aja, Myllo! Aku nggak bisa liat kamu sendirian
lawan mereka semua!”
“Hehe! Mantap Gia!”
“…”
Gia hanya membalas seruan Myllo dengan senyumnya.
“Inget ini, Gia! Pertahanan terbaik adalah serangan
yang baik!”
“Ya, kedengerannya bagus! Walaupun kebalikannya juga
lebih bagus!”
“Haaaah?! Itu udah lebih bagus daripada dibalik!”
“Ya iyalah kamu ngomong gitu! Kan kamu itu Striker!”
Seru Gia yang mempermasalahkan kutipan Myllo.
Walaupun di tengah perdebatan, mereka tetap menyerang
para Ghoul yang tiada habisnya menghampiri mereka.
“*Tuk! Tuk! Tuk! (suara pukulan tongkat)”
“*Prang! Prang! Prang! (suara pedang besar)”
Di tengah pertarungan besar mereka, tiba-tiba Zegin
memanggil Myllo di dalam pikirannya.
“Myllo!”
Karena panggilan itu, Myllo pun berbicara dengan Zegin
di dalam pikirannya, sembari menyerang Ghoul.
“Apa?! Gue lagi—”
“Tolong lakuin perintah Gue kali iniiii aja!”
Seru Zegin.
“Haaaah?! Kok gue disuruh—”
“Gue udah pake kata TOLONG, Myllo!”
Teriak Zegin yang geram dengan Saint pilihannya.
“Iya, iya, iya! Minta tolong apaan?!”
“Tolong…bunuh semua mahluk yang lo sebut Ghoul itu!”
Seru Zegin dengan berat hati.
“Ke…Kenapa dibunuh?! Kasian mere—”
“Lebih kasian lagi kalo mereka hidup, Myllo!”
“Kok…Kok kasian kalo mereka hidup?!”
“…”
Zegin pun gelisah karena ia sadar bahwa permintaannya
sungguh berat bagi Saint yang ia kenal ini berhati baik.
Mau tidak mau pun, ia menjelaskan kepada Myllo tentang
Ghoul yang ia lawan.
“Mereka itu…terkutuk, Myllo.”
“Hm?”
“Gue sendiri lupa kapan pernah liat mereka. Yang
pasti, mereka semua ini dulunya Mahluk Fana.”
“Ja…Jadi…”
“Ya. Selama ini lo lawan Mahluk Fana yang terkutuk
Roh-nya.”
Jelas Zegin kepada Myllo.
Karena mendengar penjelasan Zegin, Myllo menjadi tidak
fokus ketika menghadapi para Ghoul yang ada di hadapannya.
“Graaaaaw!”
“Urgh!”
Myllo pun berhasil diserang oleh salah satu Ghoul.
“Myllo!”
“Cuh! Tenang! Gue masih hidup!”
Seru Myllo setelah membuang ludah yang berdarah.
Sambil melanjutkan serangannya terhadap Ghoul, alam
bawa pikirannya melanjutkan pembicaraannya dengan Zegin.
“Jadi…sanggup nggak—”
“Tu…Tunggu Zegin! Ke…Kenapa lo baru kasih tau
sekarang?!”
“Karena…Gue sendiri baru ngeh, waktu gue liat
Roh mereka yang minta tolong untuk dibebasin.”
Jelas Zegin yang merasa bersalah.
“Yaudah, gue gak terlalu masalahin itu. Tapi, apa
nggak mungkin para Ghoul ini disembuhin jadi Mahluk Fana lagi?!”
“Mustahil, Myllo! Tubuh mereka udah dilahap habis sama
Curse Magic! Jiwa mereka udah jadi tumbal untuk memperkuat kutukan itu sendiri!
Sisanya tinggal Roh mereka yang terperangkap karena Kutukan itu! Satu-satunya
pilihan mereka itu mati!”
“Ta…Tapi—”
“Lo pilih mana?! Biarin Roh mereka terkutuk atau
bebasin Roh itu supaya mereka bisa lahir lagi di kemudian hari?!”
“…”
Myllo pun menjadi gelisah mendengar perkataan Zegin.
Namun Zegin sangat mengerti akan sifat dari Myllo,
sehingga Ia hendak mengusulkan saran lainnya.
“Myllo. Maafin karena Gue paksa lo untuk bunuh
mereka.”
“Zegin—”
“Haaah…Dewa Kebebasan macem apa gue yang paksa
Saint-Nya sendiri?!”
“…”
“Makanya itu Myllo, gue punya saran yang baru.”
“Apa itu?”
“Biarin anggota lo yang namanya Djinn itu untuk bunuh
semua mahluk itu!”
Jelas Zegin yang berharap sarannya tidak membebani
Myllo.
“Ta…Tapi—”
“Tenang, Myllo. Gue nggak ada niatan untuk bebanin lo.
Cuma, Gue yakin kalo dia itu orang yang rela tumpahin darah demi lo, Myllo.”
“…”
Jelas Zegin yang merasa sedih karena membebani Myllo.
Dan kembali ke pertarungan melawan para Ghoul, Myllo
secara spontan berbisik sesuatu.
“Ternyata mereka itu…”
“Kamu ngomong sesuatu, Myllo?!”
“Ah…ng…nggak!”
Balas Myllo ketika ditanya oleh Gia.
Zegin yang memperhatikan dari dalam pikiran Myllo pun
menegur Myllo atas tindakannya.
“Myllo! Kenapa lo nggak bilang ke perempuan yang
namanya Gia itu?!”
tau, Zegin.”
“Ta—”
“Tolong percaya gue, Zegin! Biar gue yang atasin
anggota gue!”
Tegas Myllo untuk menampik keraguan Zegin.
“OK. Gue percaya sama lo, Myllo.”
Balas Zegin.
Di saat pertarungan mereka masih berlanjut, tiba-tiba
terdengar suara teriakan yang tidak asing bagi mereka.
“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”
“*Brrrr… (suara getaran)”
Teriakan suara tersebut sangat keras, hingga
menggetarkan wilayah sekitar bawah tanah.
“*Nginggg… (suara dengung di telinga)”
Karena gema suara tersebut, telinga Myllo dan Gia pun
berdengung kencang.
“Su…Suara ini…”
“Pa…Pasti Ghoul King!”
Kata Myllo dan Gia yang saling bersahutan.
Setelah mendengar teriakan tersebut, tiba-tiba terjadi
getaran kembali dan dinding di tempat pertarungan mereka tiba-tiba hancur
akibat kemunculan Ghoul King.
“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”
““Graaaa!””
Seketika, sebagian besar dari para Ghoul yang masih
berkeliaran di tempat tersebut pergi meninggalkan Myllo, Gia, dan Ghoul King.
“Graaaa—”
“*Crat! (suara hancur terinjak)”
Dengan tidak mempedulikan Ghoul lainnya, Ghoul King
melangkah terus, bahkan Ghoul lainnya terinjak oleh kaki besarnya.
“Gia, lo siap kan?!”
“Ya!”
Myllo dan Gia berlari ke arah Ghoul King, begitu juga
sebaliknya.
Mereka berpikiran bahwa cara mengalahkan Ghoul King
tidak ada bedanya dengan mengalahkan Ghoul lainnya. Namun, ada satu hal yang
mereka lupakan.
Mereka lupa akan tubuh mereka yang lelah karena
pertarungan dengan banyak Ghoul.
“Argh!”
“Gia—Ups! Hehe!”
Myllo menyaksikan Gia yang gagal mengantisipasi
serangan Ghoul King yang sangat keras, sehingga ia terlempar jauh. Namun Myllo berhasil
menangkap Gia yang terlempar.
“Myllo! Maaf—”
“Tenang aja! Biar gue yang lawan dia!”
“Tapi—”
“Lo nanti mau ikut jadi Petualang bareng gue, kan?!
Mending lo siapin badan lo supaya tetep bugar waktu kita petualangan!”
“Myllo…”
“Lagian, nggak ada salahnya kan Kapten mau pamer di
depan anggota barunya?! Hihihi!”
Seru Myllo yang meninggalkan Gia untuk melawan Ghoul
King.
“Hiyaaa!”
“*Tuk! (suara pukulan tongkat)”
Myllo mencoba menyerang Ghoul King, akan tetapi…
“*Hup! (suara menangkap)”
“Argh!”
Myllo ditangkap oleh Ghoul King, yang hendak
memakannya.
“Aaaahhh! Jangan makan gu—”
“Myllo, adiknya Sylvia!”
“Hah?!”
Myllo terkejut ketika mendengar suara seseorang.
“Tolong! Bawa lari Gia dari gue!”
“Hm?!”
“Kalo lo denger ini, tolong ajak Gia keluar dari
Xia Village! Desa itu bahaya! Bisa-bisa dia jadi korban selanjutnya!”
Myllo merasa ada yang berbicara tepat langsung ke
pikirannya.
“Ze…Zegin, tadi lo yang ngo—”
“Bukan. Pasti yang ngomong itu orang yang Rohnya
diperangkap kutukan itu!”
Jelas Zegin dari dalam pikiran Myllo.
“Tapi Myllo…”
“Hm?”
“Untuk bisa didenger orang lain, Roh yang diperangkap
Kutukan itu pasti orang yang kuat waktu dia masih hidup.”
Jelas Zegin yang membicarakan Ghoul King.
“Berarti dulunya kuat orang ini kuat, tambah lagi dia
kenal Gia?! Zegin! Artinya orang ini…”
“Maaf untuk ngakuinnya, tapi udah nggak bisa
dipungkirin lagi. Monster yang lo sebut Ghoul King itu dulunya Petualang yang
dikenal perempuan itu!”
Jelas Zegin sambil menunjuk Gia.
“*Shrung! (suara ayunan pedang besar)”
“Myllo!”
“Ah, thanks!”
Gia berhasil membebaskan Myllo dari genggaman Ghoul
King.
Sambil bersiap untuk kembali menyerang Ghoul King, Gia
merasakan adanya tatapan dari Myllo.
“Myllo…kenapa?”
“Nggak. Maafin gue karena nggak fokus.”
Balas Myllo
“Aneh, padahal tadi dia semangat banget lawan
Ghoul. Tapi kok…dia tiba-tiba jadi beda, ya?”
Pikir Gia melihat tingkah laku Myllo.
Namun, tiba-tiba Myllo bergerak sendiri menyerang
Ghoul King tersebut.
“Myllo, tung—”
“Hyaaaaa!”
“GRUUAAAAAAAAAAHHH!!!”
“*BHUK! (suara pukulan keras)”
“Urgh!”
“Myllo!”
Teriak Gia yang hanya bisa menyaksikan Myllo yang
dipukul dengan sangat keras, hingga ia terbang jauh dan menabrak dinding.
Kesal dengan apa yang diperbuat Ghoul King, Gia hendak
menyerang Ghoul King.
Akan tetapi…
“*BHUK! (suara pukulan keras)
“Aaakh…”
…Ghoul King berhasil memukul Gia ke bawah, hingga
dataran menjadi pipih akibat benturan darinya.
“Urgh… Aku…masih…belom kuat…”
Bisik Gia dengan kondisi yang terluka.
Di atasnya, sudah ada Ghoul King yang berdiri.
“Apa ini ajal aku?”
Pikir Gia yang semakin tidak sadarkan diri.
Sebelum ia sepenuhnya tidak sadar, ia melihat Ghoul
King yang mengambil ancang-ancang untuk memukulnya. Namun, bukannya memukul,
Ghoul King justru mengusap dahinya dengan jari besarnya.
“Grrrrr…”
“Hah…kok dia—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““!!!””
Merasakan tekanan aura tersebut, Myllo pun
memanfaatkan kesempatan dengan menjemput Gia dari jangkauan Ghoul King.
“Tenang, Gia. Kita udah aman.”
Kata Myllo yang terluka parah.
Merasakan aura yang begitu mencekam, bahkan Ghoul King
pun lari dari pertarungannya dengan Myllo dan Gia.
“Kenapa Ghoul King itu…”
Pikir Gia, sembari dirinya hilang kesadaran.