
Margia Maevin, itu nama yang
dikasih orang tua yang nggak aku kenal sama sekali.
Sebenernya, dari kecil, kondisi
fisik aku itu lemah banget.
“Gia, cucu kakek… Maafin kakek
karena kamu harus hidup tanpa adanya orang tua kamu…hiks…”
Mungkin aku nggak inget kakek
ngomong gitu. Tapi…kadang-kadang aku selalu mimpi kayak gitu. Seakan mimpi itu
selalu mau ingetin aku bahwa kakek itu sayang banget sama aku, dan karena itu
aku nggak bisa ninggalin kakek sama sekali.
Padahal, aku selalu punya
kesempatan untuk ninggalin desa ini.
Ya, desa ini sampah banget. Bukan
karena desanya, tapi karena orang-orangnya.
Contohnya, kayak kejadian kali
ini.
“Liat! Ada yang berantem!”
“Ah, udah biasa itu—”
“Berantemnya antar keluarga,
itu!”
“Haaah?! Gila! Sampe
bakar-bakaran rumah! Cepet panggil Kepala Desa!”
Pokoknya, di akhir kejadian itu,
rumah dari Keluarga A habis kebakar sampe seisi rumahnya, sedangkan Keluarga B,
rumah sama asetnya masih aman, kecuali istri sama anak-anaknya yang mati
kebakaran.
Belum cukup?
Ini ada salah satu kejadian lagi.
“I…Ini panen saya! Ini Buah Xia
saya!”
“E…E…Enak aja! Ini punya saya!
Saya mau jual cepet-cepet!”
“Ah! Diam kamu! Dasar berengsek!”
“Anda yang brengsek!”
Ujung-ujungnya, yang satu mati
dibunuh, tapi ladang Buah Xia-nya jadi hancur, makanya yang satu lagi
ujung-ujungnya bunuh diri.
Dan dua kejadian itu cuma salah
satu bentuk ‘kejadian sehari-hari’ yang ada di desa ini.
..................
“Kakek, dulu Ibu dan Ayah
kerjanya apa?”
“Ayah kamu Saudagar yang jual
Buah Xia di luar desa ini. Sedangkan ibu kamu itu sangat cerdas. Dia sebenernya
punya bakat untuk jadi Alchemist, tapi dia lebih senang jadi…Petualang.”
Waktu kecil dulu, waktu kakek
lagi aku tanya gitu, aku heran kenapa kakek ragu-ragu untuk jawab kalo ibu aku
itu Petualang.
Sampe pada akhirnya, kejadian ngeri
yang aku liat dari orang yang ngakuin dirinya itu Petualang.
Kejadian ini waktu malem-malem,
waktu kakek minta aku untuk angkatin sampah sisa makanan ke belakang.
“*Dhuk! (suara menendang)”
“Urgh!”
“Masa cuma segini aja Buah
Xia-nya?!”
“Su…Sumpah! Demi Dewa-Dewi—”
“*Dhuk! (suara menendang)”
“Uhuk!”
“Gue nggak butuh sumpah lo! Gue
butuh Buah Xia supaya gue makin kuat!”
“Si…Si…”
“Hm? Ngomong apaan?”
“SIALAN! KELUARIN UANG ANDA,
BRENG—”
“*Shruk… (suara tusukan pedang)”
“Haaaahhh…apa boleh buat lah,
keliatannya 2 juga cukup.”
Karena waktu itu aku masih kecil,
aku nggak bisa ngapa-ngapain sama sekali. Perasaan takut dan gelisah udah
bener-bener ngumpul semua di badan aku.
Apalagi, aku kenal orang yang dia
bunuh itu. Padahal kemarinnya dia baru aja pamer ke desa kalo anak pertamanya
udah lahir.
Karena udah ketakutan dan
gemeteran, makanya…
“Prang, prang, prangrangrang…
(suara besi jatuh)”
…aku nggak sengaja jatohin tutup
tempat sampah yang bunyi waktu jatoh.
“Hm?! Ada orang?!”
“…”
“Cih! Kirain sepi!”
Petualang itu jalan ke arah aku.
Akhirnya aku sembunyi di balik tumpukan tempat sampah.
“Hmm…gue yakin tadi ada orang di
sekitar sini!”
“…”
“Woy! Siapapun lo, kalo ngumpet,
mending keluar aja! Sekarang!”
Bayangin aja, gimana anak kecil
nggak takut diterikain sama orang yang abis ngebunuh kayak gitu?!
“Satu!”
“…”
“Dua!”
“…”
“Ti—”
“Woy! Tolong jangan berisik!
Jangan ganggu kedai gue!”
Waktu itu kakek tiba-tiba dateng,
tapi aku masih belom lega. Bahkan kalo mau diinget lagi, Petualang itu serem
banget.
“Gia! Keluar dari tempat sampah
itu, cepet!”
“…”
Walaupun kakek udah minta, tapi
aku masih nggak sanggup. Karena badan aku terlalu gemeter ketakutan.
“Oh, anak kecil ternyata!”
apa-apa. Makanya, tolong biarin kami masuk ke kedai!”
“Hmm…gitu ya…”
“…”
“Emangnya gue percaya?”
Tatapan Petualang itu, serem
banget.
Dan nggak tau kenapa, aku yakin
kalo aku sama kakek harusnya udah nggak hidup lagi, kalo nggak karena…
“Maaf, Bartender, lo sama cucu lo
harus—”
“Woy, Pak Bartender…”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Tolong tutup mata. Oh iya,
tolong tutup mata anak itu juga.”
“Si…Siapa l—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
Waktu kakek tutupin mata aku pake
tangannya, aku inget banget ada bercak darah yang tiba-tiba nempel di sekitar
badan aku.
“Kalian berdua nggak apa-apa?”
“Y…Ya…”
Siapa Petualang itu?
Awalnya aku nggak tau siapa dia.
Dan waktu aku tau…
“Oh…ternyata Kaptennya Mergie,
ya!”
“Iya. Saya juga kaget kalo bapak
itu ayahnya Mergie!”
““Hahaha!!!””
Ternyata wanita ini Kaptennya ibu
aku.
Badannya tinggi banget, ada
sekitar 1,8 zyat (meter). Badannya juga jauh lebih kekar daripada cowok-cowok
yang ada di desa ini.
“Oh iya, saya Fred Dolscher.”
“Saya Lorvah Hardrock.”
“Wah! A…Anda itu…Gui…Guildmaster
dari Ursa Borealis?!”
“Haha, dulunya sih. Sebenernya
saya juga agak nyesel bikin Party saya jadi Guild, haha!”
“Wah… Saya nggak nyangka kalo
anak saya itu anggota Ursa Borealis.”
Waktu itu, aku bingung mereka
bahas apaan. Nantinya, aku tau kalo orang ini ternyata ada di urutan ke-10 dari
Petualang Terbaik di Dunia.
Pastinya dia udah ada di
Kasta Merah untuk ada di posisi itu.
“Jadi, kenapa anda ke desa ini,
Nyonya Hardrock?”
“Ah! Pa…Panggil Lorvah aja udah
cukup, kok. Sebenernya…”
Abis itu dia jelasin tujuan dia
ke desa ini untuk apa.
“Oh…jadi anda ninggalin Ursa
Borealis karena janji ke Mergie, ya?”
“Ya. Makanya itu, izinin saya
untuk tinggal menetap di desa ini, Pak Fred.”
“Saya usahain supaya Lorvah bisa
nikmatin masa pensiunnya di desa ini. Untuk sementara, mungkin Lorvah bisa
tidur di penginapan yang di atas, ya.”
“Baik, makasih banyak, Pak Fred!”
Tapi sayangnya, tanpa alasan yang
jelas, Kepala Desa itu nggak izinin Lorvah untuk tinggal di desa.
Oh ya. Waktu itu Kepala Desanya
belum Derrek, tapi abangnya dia, yang namanya Mahrek.
“Ke…Kenapa nggak dia nggak
diizinin?!”
“Karena dia pastinya mau ambil
alih Buah Xia di desa ini!”
“Apa gunanya Buah Xia untuk
Petualang Kasta Merah?! Tau kan julakan Petualang ini tuh apa?! Lorvah The
Living Mountain! Buat apa ju—”
“Diam, Fred! Jika anda masih
meragukan keputusan saya, lebih baik saya tutup kedai anda, Fred!”
“Gue bayar pajak ke pemerintah
pusat, bukan ke lo, bajing—”
“Pak Fred. Cukup, pak.”
“Lorvah?”
“Saya dulunya Petualang, kok.
Jadi saya bisa selalu cari cara untuk bertahan hidup, bahkan di luar
pemukiman.”
Akhirnya, Lorvah terima kalo dia
nggak layak untuk tinggal di desa ini. Tapi…
“Ini hidangannya!”
“Wah! Anda…Lorvah—”
“Ya, ya, ya. gue udah pensiun.
Lagian, kerja di kedai kayak gini, enak-enak aja, kok.”
…dia jadi pelayan di kedai
kakek.
Dulu aku bingung sama Lorvah yang
kerja di kedai kakek.
“Kok dia masih bisa kerja di
kedai kakek, ya? Emangnya dia tinggal di mana?”
Aku selalu mikir gitu setiap kali
aku liat Lorvah di kedai kakek.
Akhirnya, aku beraniin diri untuk
ikutin Lorvah setiap kali dia keluar dari kedai kakek.
“…”
“Gia, kamu penasaran ya sama
tempat tinggal aku? Ayo sini ikut aku.”
Mungkin cara aku ngumpet tuh
salah selama ngikutin dia. Atau mungkin, dia terlalu kuat untuk sadar kalo ada
yang ikutin dia?
Akhirnya aku jalan bareng dia ke
tengah hutan, dimana ada ruang bawah tanah yang jadi kediamannya.
Ya pokoknya, semenjak itu, aku
jadi semakin deket sama Lorvah.