Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 42. World's Most Powerful Woman



Margia Maevin, itu nama yang


dikasih orang tua yang nggak aku kenal sama sekali.


Sebenernya, dari kecil, kondisi


fisik aku itu lemah banget.


“Gia, cucu kakek… Maafin kakek


karena kamu harus hidup tanpa adanya orang tua kamu…hiks…”


Mungkin aku nggak inget kakek


ngomong gitu. Tapi…kadang-kadang aku selalu mimpi kayak gitu. Seakan mimpi itu


selalu mau ingetin aku bahwa kakek itu sayang banget sama aku, dan karena itu


aku nggak bisa ninggalin kakek sama sekali.


Padahal, aku selalu punya


kesempatan untuk ninggalin desa ini.


Ya, desa ini sampah banget. Bukan


karena desanya, tapi karena orang-orangnya.


Contohnya, kayak kejadian kali


ini.


“Liat! Ada yang berantem!”


“Ah, udah biasa itu—”


“Berantemnya antar keluarga,


itu!”


“Haaah?! Gila! Sampe


bakar-bakaran rumah! Cepet panggil Kepala Desa!”


Pokoknya, di akhir kejadian itu,


rumah dari Keluarga A habis kebakar sampe seisi rumahnya, sedangkan Keluarga B,


rumah sama asetnya masih aman, kecuali istri sama anak-anaknya yang mati


kebakaran.


Belum cukup?


Ini ada salah satu kejadian lagi.


“I…Ini panen saya! Ini Buah Xia


saya!”


“E…E…Enak aja! Ini punya saya!


Saya mau jual cepet-cepet!”


“Ah! Diam kamu! Dasar berengsek!”


“Anda yang brengsek!”


Ujung-ujungnya, yang satu mati


dibunuh, tapi ladang Buah Xia-nya jadi hancur, makanya yang satu lagi


ujung-ujungnya bunuh diri.


Dan dua kejadian itu cuma salah


satu bentuk ‘kejadian sehari-hari’ yang ada di desa ini.


..................


“Kakek, dulu Ibu dan Ayah


kerjanya apa?”


“Ayah kamu Saudagar yang jual


Buah Xia di luar desa ini. Sedangkan ibu kamu itu sangat cerdas. Dia sebenernya


punya bakat untuk jadi Alchemist, tapi dia lebih senang jadi…Petualang.”


Waktu kecil dulu, waktu kakek


lagi aku tanya gitu, aku heran kenapa kakek ragu-ragu untuk jawab kalo ibu aku


itu Petualang.


Sampe pada akhirnya, kejadian ngeri


yang aku liat dari orang yang ngakuin dirinya itu Petualang.


Kejadian ini waktu malem-malem,


waktu kakek minta aku untuk angkatin sampah sisa makanan ke belakang.


“*Dhuk! (suara menendang)”


“Urgh!”


“Masa cuma segini aja Buah


Xia-nya?!”


“Su…Sumpah! Demi Dewa-Dewi—”


“*Dhuk! (suara menendang)”


“Uhuk!”


“Gue nggak butuh sumpah lo! Gue


butuh Buah Xia supaya gue makin kuat!”


“Si…Si…”


“Hm? Ngomong apaan?”


“SIALAN! KELUARIN UANG ANDA,


BRENG—”


“*Shruk… (suara tusukan pedang)”


“Haaaahhh…apa boleh buat lah,


keliatannya 2 juga cukup.”


Karena waktu itu aku masih kecil,


aku nggak bisa ngapa-ngapain sama sekali. Perasaan takut dan gelisah udah


bener-bener ngumpul semua di badan aku.


Apalagi, aku kenal orang yang dia


bunuh itu. Padahal kemarinnya dia baru aja pamer ke desa kalo anak pertamanya


udah lahir.


Karena udah ketakutan dan


gemeteran, makanya…


“Prang, prang, prangrangrang…


(suara besi jatuh)”


…aku nggak sengaja jatohin tutup


tempat sampah yang bunyi waktu jatoh.


“Hm?! Ada orang?!”


“…”


“Cih! Kirain sepi!”


Petualang itu jalan ke arah aku.


Akhirnya aku sembunyi di balik tumpukan tempat sampah.


“Hmm…gue yakin tadi ada orang di


sekitar sini!”


“…”


“Woy! Siapapun lo, kalo ngumpet,


mending keluar aja! Sekarang!”


Bayangin aja, gimana anak kecil


nggak takut diterikain sama orang yang abis ngebunuh kayak gitu?!


“Satu!”


“…”


“Dua!”


“…”


“Ti—”


“Woy! Tolong jangan berisik!


Jangan ganggu kedai gue!”


Waktu itu kakek tiba-tiba dateng,


tapi aku masih belom lega. Bahkan kalo mau diinget lagi, Petualang itu serem


banget.


“Gia! Keluar dari tempat sampah


itu, cepet!”


“…”


Walaupun kakek udah minta, tapi


aku masih nggak sanggup. Karena badan aku terlalu gemeter ketakutan.


“Oh, anak kecil ternyata!”


apa-apa. Makanya, tolong biarin kami masuk ke kedai!”


“Hmm…gitu ya…”


“…”


“Emangnya gue percaya?”


Tatapan Petualang itu, serem


banget.


Dan nggak tau kenapa, aku yakin


kalo aku sama kakek harusnya udah nggak hidup lagi, kalo nggak karena…


“Maaf, Bartender, lo sama cucu lo


harus—”


“Woy, Pak Bartender…”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Tolong tutup mata. Oh iya,


tolong tutup mata anak itu juga.”


“Si…Siapa l—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


Waktu kakek tutupin mata aku pake


tangannya, aku inget banget ada bercak darah yang tiba-tiba nempel di sekitar


badan aku.


“Kalian berdua nggak apa-apa?”


“Y…Ya…”


Siapa Petualang itu?


Awalnya aku nggak tau siapa dia.


Dan waktu aku tau…


“Oh…ternyata Kaptennya Mergie,


ya!”


“Iya. Saya juga kaget kalo bapak


itu ayahnya Mergie!”


““Hahaha!!!””


Ternyata wanita ini Kaptennya ibu


aku.


Badannya tinggi banget, ada


sekitar 1,8 zyat (meter). Badannya juga jauh lebih kekar daripada cowok-cowok


yang ada di desa ini.


“Oh iya, saya Fred Dolscher.”


“Saya Lorvah Hardrock.”


“Wah! A…Anda itu…Gui…Guildmaster


dari Ursa Borealis?!”


“Haha, dulunya sih. Sebenernya


saya juga agak nyesel bikin Party saya jadi Guild, haha!”


“Wah… Saya nggak nyangka kalo


anak saya itu anggota Ursa Borealis.”


Waktu itu, aku bingung mereka


bahas apaan. Nantinya, aku tau kalo orang ini ternyata ada di urutan ke-10 dari


Petualang Terbaik di Dunia.


Pastinya dia udah ada di


Kasta Merah untuk ada di posisi itu.


“Jadi, kenapa anda ke desa ini,


Nyonya Hardrock?”


“Ah! Pa…Panggil Lorvah aja udah


cukup, kok. Sebenernya…”


Abis itu dia jelasin tujuan dia


ke desa ini untuk apa.


“Oh…jadi anda ninggalin Ursa


Borealis karena janji ke Mergie, ya?”


“Ya. Makanya itu, izinin saya


untuk tinggal menetap di desa ini, Pak Fred.”


“Saya usahain supaya Lorvah bisa


nikmatin masa pensiunnya di desa ini. Untuk sementara, mungkin Lorvah bisa


tidur di penginapan yang di atas, ya.”


“Baik, makasih banyak, Pak Fred!”


Tapi sayangnya, tanpa alasan yang


jelas, Kepala Desa itu nggak izinin Lorvah untuk tinggal di desa.


Oh ya. Waktu itu Kepala Desanya


belum Derrek, tapi abangnya dia, yang namanya Mahrek.


“Ke…Kenapa nggak dia nggak


diizinin?!”


“Karena dia pastinya mau ambil


alih Buah Xia di desa ini!”


“Apa gunanya Buah Xia untuk


Petualang Kasta Merah?! Tau kan julakan Petualang ini tuh apa?! Lorvah The


Living Mountain! Buat apa ju—”


“Diam, Fred! Jika anda masih


meragukan keputusan saya, lebih baik saya tutup kedai anda, Fred!”


“Gue bayar pajak ke pemerintah


pusat, bukan ke lo, bajing—”


“Pak Fred. Cukup, pak.”


“Lorvah?”


“Saya dulunya Petualang, kok.


Jadi saya bisa selalu cari cara untuk bertahan hidup, bahkan di luar


pemukiman.”


Akhirnya, Lorvah terima kalo dia


nggak layak untuk tinggal di desa ini. Tapi…


“Ini hidangannya!”


“Wah! Anda…Lorvah—”


“Ya, ya, ya. gue udah pensiun.


Lagian, kerja di kedai kayak gini, enak-enak aja, kok.”


…dia jadi pelayan di kedai


kakek.


Dulu aku bingung sama Lorvah yang


kerja di kedai kakek.


“Kok dia masih bisa kerja di


kedai kakek, ya? Emangnya dia tinggal di mana?”


Aku selalu mikir gitu setiap kali


aku liat Lorvah di kedai kakek.


Akhirnya, aku beraniin diri untuk


ikutin Lorvah setiap kali dia keluar dari kedai kakek.


“…”


“Gia, kamu penasaran ya sama


tempat tinggal aku? Ayo sini ikut aku.”


Mungkin cara aku ngumpet tuh


salah selama ngikutin dia. Atau mungkin, dia terlalu kuat untuk sadar kalo ada


yang ikutin dia?


Akhirnya aku jalan bareng dia ke


tengah hutan, dimana ada ruang bawah tanah yang jadi kediamannya.


Ya pokoknya, semenjak itu, aku


jadi semakin deket sama Lorvah.