
Klavak baru saja membuat sebuah fakta yang tidak terduga tentang Myllo kepada semua yang berada di sana.
“Gimana, Myllo?! Lo nggak akan sanggah, kan?!”
“…”
Tidak ada tanggapan dari Myllo atas pertanyaan Klavak.
“Buat kalian yang bangga jadi anggotanya dia, kalian semua nggak lebih dari sekedar korban penipuan dia aja! Liat aja nanti! Pasti dia bakal bunuh salah satu dari antara kalian berempat!”
““…””
Selain Dalbert yang terbaring, Gia dan Garry hanya bisa terdiam dan menatap Myllo dengan rasa bimbang.
Sambil menatap mereka berdua, Klavak perlahan-lahan bergerak menuju Myllo, dengan niat membunuhnya kembali.
“Daripada kalian semua jadi korban, mending gue bunuh aja orang i—”
“*Dor!”
“*Trang, tang, tang…”
Semua tidak menduga, bahwa Dalbert secara spontan menembak lengan Klavak yang sedang memegang tongkat sihir panjangnya, hingga tongkat tersebut jatuh.
“Gia… Garry… Kalian… mau percaya sama yang dia bilang…?”
Tanya Dalbert, dengan suara terbatah-batah.
“Da-Dalbert, ternya—”
“Kalo kalian… masih merasa… jadi anggota Aquilla… harusnya kalian… lebih percaya… sama Kapten kalian, kan…?!”
““…””
“Jawab Gue…! Gia…! Garry…!”
“Dalbert…”
Bisik Myllo sambil menatap Dalbert, sementara Gia dan Garry hanya menatap Dalbert tanpa mengeluarkan satu
kata pun.
“Lo denger yang gue bilang, kan?! Kenapa lo masih bela dia?! Bisa-bisa lo dibunuh dia!”
Tanya Klavak dengan kesal.
Mendengar pertanyaan itu…
“Hmph!”
…Dalbert hanya tersenyum.
“Kalo bunuh gue… bisa bantu dia wujudin cita-citanya… gue nggak masalah…!”
“Apa lo bi—”
“Aquilla…! Inget nggak apa yang dibilang Wakil Kapten kalian…?!”
““…””
Gia dan Garry hanya diam ketika ditanya oleh Dalbert.
“Myllo… nggak akan mati… sebelum jadi Petualang Nomor Satu di Geoterra…!”
““!!!””
Gia dan Garry terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Dalbert.
“M-Makanya itu… kita sebagai anggota Aquilla… punya kewajiban… untuk bantu dia… raih cita-citanya…! Karena
gue yakin… dia pasti bantu kita… untuk raih cita-cita kita…!”
Seru Dalbert kepada semua orang yang berada di sekitarnya.
“Hmph!”
Myllo tersenyum ketika mendengar seruan Dalbert.
Sementara Gia dan Garry…
““…””
…merasa bersalah karena mempertanyakan masa lalu Kapten mereka.
Namun, dari mereka semua…
“Klavak! Tunggu!”
…Klavak marah besar dan ingin membunuh Dalbert yang tidak berdaya.
“Mati lo, Mantan Bandit!”
Seru Klavak, yang mengeluarkan belati dari ikat pinggangnya untuk membunuh Dalbert.
Tanpa ia duga…
“*Shringgg…”
“!!!”
…Styx datang dan melindungi Dalbert.
“*Dhuk!”
“Urgh…”
“*Bruk…”
Styx langsung menendang Klavak yang akan membunuh Dalbert.
“Untung aja gue nggak telat datengnya!”
Bisik Styx yang datang bersama Machinno dan seekor Chimera, setelah perjalanannya menyusul Myllo tidak semudah yang ia kira.
“Graaarr!”
“Terima kasih… kakak.”
“*Drapdrapdrap…”
Chimera itu pun pergi setelah ia sudah mengantar Machinno dan Styx.
“Styx! Ngapain lo hadang gu—”
“Udah lah, Klavak! Jangan kayak anak kecil!”
“!!!”
Seruan Styx membuat Klavak
semakin kesal.
“Apa lo bilang?! Lo nggak—”
“Lo juga tau kalo Myllo nggak punya pilihan lain, kan?!”
“Ng-Nggak punya pilihan?! Andai dia nggak ikut campur dan sok jadi pahlawan kesiangan, pasti Kak Sylv masih
hidup!”
““…””
Semua kembali bimbang dengan perdebatan antara Klavak dan Styx.
“Dasar lemah lo, Klavak! Emang lo sama Hendrick tuh sama-sama lemah karena nggak bisa terima kematian Kak Sylv!”
“Dasar nggak punya perasaan lo, Styx! Nggak ada bedanya lo sama Myllo—”
“Udah gue bilang jangan kayak anak kecil, Klavak!”
“Jangan ngomong kesannya lo lebih dewasa daripada gu—”
“Semua anggota Aquilla juga tau kalo lo cuma iri sama Myllo, Klavak! Bahkan orang aneh kayak Hendrick pun juga tau tentang itu!”
“!!!”
Klavak semakin marah mendengar perkataan Styx.
“Semua juga tau! Semenjak temuin bocah sialan ini, Kak Sylv terlalu perhatian sama dia! Mungkin gue biasa aja,
tapi lo iri kan, Klavak?!”
“Styx! Diem lo—”
“Makanya itu lo cari pembenaran dengan nyalahin Myllo! Intinya, lo nggak lebih dari sekedar iri sama—”
“*BRUK!!!”
““!!!””
Semua terkejut ketika Nemesia datang dengan terlempar dari atas udara.
“Uhuk, uhuk, uhuk!”
“Kakak Nemesia! Ada apa dengan—”
“*BRUK!!!”
““!!!””
Kali ini mereka dikejutkan dengan datangnya Gadlu yang terlempar dari atas udara.
“Si-Sialan!”
“Woy! Gadlu! Lo nggak apa-apa?!”
“Si-Sialan! Orang itu bahaya banget!”
Seru Gadlu, sambil menunjukkan seseorang yang datang, yang membuat Delolliah dan Nemesia terkejut.
“Kau… Kau adalah…”
“Ya, Kakak Delolliah! Ia adalah Kaswar Ramsias, pria yang datang dan membunuh Kakak Euphonia, seratus tahun yang lalu!”
““!!!””
Gia, Garry, dan Delolliah begitu terkejut.
Namun, berbeda dengan Myllo.
“…”
““…””
Mereka berdua saling bertatap-tatapan.
“*Tap!”
“Minggir!”
Seru Kaswar, sambil menggenggam pundak Myllo, untuk mendorongnya.
Akan tetapi…
“*Krrttt…”
…Myllo menggenggam erat tangan Kaswar yang menyentuh pundaknya.
Sambil menggenggam tangan Kaswar, Myllo bertanya kepada Styx dan Klavak.
“Styx. Klavak. Kalian kenal orang ini?”
“Kayaknya gue pernah denger…”
“Ya. Kayaknya gue juga pernah denger namanya…”
Jawab Klavak dan Styx secara bergantian.
“110 tahun yang lalu, ada Party yang namanya Phoenix. Salah satu anggota dari Party itu ada cinta pertama Kak Sylv yang namanya Dox, yang masih muda dan baru jadi Petualang.”
““!!!””
Semua terkejut dengan apa yang Myllo ucapkan. Namun, penjelasannya belum berhenti.
“Dari cerita Kak Sylv, mereka waktu itu ngejalanin Joint Party, di mana salah satu anggota Joint Party itu ada Striker Kasta Jingga yang namanya Kaswar Ramsias. Mereka sama-sama masuk ke Hidden Dungeon. Masalahnya, semua hancur karena ada penyusup yang ternyata anggota dari sekte penyembah Iblis.”
“Artinya…”
“Ya! Orang ini anggota Children of Purgatory!”
““!!!””
Kembali semua dikejutkan dengan fakta yang Myllo sampaikan.
Mendengar hal tersebut…
“…”
…Kaswar tersenyum sinis.
“Oi, lo ada hubungan sama Dox?”
“…”
“Lo diem doang, ya? Artinya gue be—”
“*SWUNG!!!”
Myllo langsung melempar Kaswar dengan kekuatan penuhnya.
“Styx! Ayo kita lawan dia!”
“Ya!”
Bersama Myllo, Styx pun bergerak dan menyerang Kaswar.
Sementara Gia, Garry, dan Dalbert.
“Terus kita gimana?”
“Bukannya kita harus bantu—”
“Jangan. Ini urusan mereka bertiga!”
Seru Dalbert, sambil menatap Klavak.
“Mending kita fokus jagain Djinn aja!”
““Y-Ya…””
Balas Gia dan Garry, dengan memendam rasa bersalah kepada Myllo.
““…””
Bersama Machinno, Delolliah dan Jennania, mereka berusaha melindungi Djinn, Dalbert, dan Nemesia dari Klavak yang masih berada di hadapan mereka.
“Delolliah…”
“Ada apa, Dalbert?”
“Gue tau kalo lo mungkin punya dendam sama orang itu, tapi—”
“Aku percayakan semuanya kepada Myllo dan Styx. Justru dibandingkan dendam, ada satu hal yang harus aku tanyakan terlebih dahulu kepada wanita ini!”
Jelas Delolliah, sambil menatap Nemesia, kakaknya.
“Hyaaaat!”
“*Tunggg…”
Tongkat Myllo beradu dengan pedang besar milik Kaswar.
“Hraaaagh!”
Styx memanfaatkan momentum dengan menyerang Kaswar yang menahan tongkat Myllo.
Kaswar yang mengetahui Styx yang akan menyerangnya, kemudian memanfaatkan fisiknya yang besar untuk melempar Myllo ke arah Styx.
“*Bruk!”
““Aargh!””
“…”
Kaswar kemudian menatap Myllo dan merasakan ada sesuatu yang berbeda darinya, setelah ia melempar Myllo ke arah Styx.
“Hoho…! Gue bisa ngerasain ada Saint dari antara kita semua!”
Seru Kaswar, sambil menatap Myllo.
“Artinya gue bisa serius, nih!”
“*Zhum…”
Kaswar mengelaurkan aura Iblis dari Tubuh-nya, sebelum ia merapal mantra sihirnya.
((Double Collide))
“*Swush!”
Ia bergerak dengan cepat ke arah Myllo dan Styx.
Melihatnya yang hendak menyerang, Myllo pun berpisah dari Styx.
“Styx!”
“Ya!”
Sahut Styx, yang diikuti dengan berpisahnya mereka.
“*Swung!”
“Bahkan tanpa kekuaran dewa, dia masih bisa gerak secepet itu?!”
Pikir Kaswar, setelah ayunan pedangnya berhasil dihindari Myllo.
Namun, ia tidak berhenti mengejar Myllo.
“Gruuuagh!”
“*Swung! Swung! Swung!”
Myllo terus menghindari ayunan pedang Kaswar.
“Humph!”
“*Tunggg…”
Myllo berhasil mengayunkan tubuhnya ke kiri untuk menghindari serangan Kaswar yang datang dari kanan.
Akan tetapi…
“*Shrak!”
“Urgh!”
…tiba-tiba pundak kiri Myllo terluka.
“Gruaaagh!”
“*DHUK!”
“Akh!”
“*Bruk, bruk, bruk…”
Myllo yang terluka langsung ditendang oleh Kaswar.
Namun, Myllo merasa ada yang janggal.
“Dia nendang pake satu kaki, kan?! Kenapa gue ngerasa ada dua kaki yang nendang gue?!”
Bisik Myllo dengan heran.
“Lo ngerasain kekuatan gue, kan?!”
“…”
“Itulah uniknya kekuatan gue! Mau dari arah manapun serangan gue, pasti bakal diikutin sama arah yang berlawanan!”
Jelas Kaswar tentang sihirnya.
“Sialan! Gue harus cari cara untuk kalahin dia!”
Pikir Myllo, yang sangat ingin mengalahkan Kaswar, yang ia rasa lebih kuat daripadanya.