Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 112. Uncalculated Emergence



Di saat yang sama, ketika Djinn


sedang berbincang dengan Lupherius, Blood Brothers of Erviga bersiap untuk memulai


rencana mereka.


“Woy, kalian semua!”


““…””


“Malam ini waktunya kita serang


Siegfried!”


““Ya!””


“Kalian semua inget startegi


kita, kan?!”


““Inget, Bos!””


““Semua pada siap?!””


““Siap, Bos!””


Dalbert bersiap untuk memimpin


semua anggota bandit untuk menyerang Siegfried.


Satu per satu, semua anggota BBE


bergerak sesuai startegi yang disusun olehnya.


Sedangkan ia dengan Alethra…


“Bos, serius kita nggak ikut


nyerang—”


“Lo udah inget strategi kita,


kan?!”


“Yaudah. Kita tunggu di jarak


paling jauh.”


…hanya menyaksikan keadaan dari


atas bukit yang berada sekitar 12-kizyat (kilometer) dari kediaman Siegfried.


Ketika ia berada di atas bukit,


Dalrio menggunakan sihirnya untuk melihat keadaan di sekitar kediaman


Sebastian.


“Eagle View…”


Dengan sihirnya, Dalrio


menciptakan seekor elang dari alat yang ia gunakan dan menggunakan mata dari


elang itu untuk melihat sekitar.


Namun yang ia lihat…


“I…Ini…”


“Kenapa ada banyak banget


pasukan?!”


…ada sangat banyak pasukan di


sekitar kediaman Sebastian. Ada sekitar lebih dari 300 pasukan.


“Bos! Ada apa?!”


“Me…Mereka jadi ada banyak


banget! Ada ratusan di sekitar tempatnya Siegfried!”


“Ra…Ratusan?!”


Seru Alethra karena terkejut.


“Tapi ada yang aneh! Kenapa jumlah mereka jadi banyak banget?! Emang


mau ada perang?!”


Pikir Dalbert, yang merasa ada


suatu kejanggalan.


“Bos! Kita harus batalin rencana


kita!”


“Y…Ya… Gue juga udah kepikiran


kayak gitu!”


Balas Dalbert dengan wajah


kecewa.


Ia pun memanggil semua anggota


grup dengan Orb Call yang ia berikan kepada mereka masing-masing.


Ketika ia menjelaskan tentang


rencananya untuk membatalkan serangan, ia justru mendapatkan respon yang


berbeda dari yang ia duga.


“Bo…Bos…jangan nyerah!”


“Bener, Bos! Kita tetep jalanin rencana kita!”


“Ka…Kalo ketangkep itu emang udah resiko kita, Bos!”


“Selama kita berhasil buka jalan…gue yakin kalo kita masih bisa


berhasil, Bos!”


Sahut beberapa ketua grup kepada


Dalbert.


“Ja…Jangan nekat! Gue nggak


berani kehilangan—”


“Bos! Semua anggota yang gue pegang udah pada siap untuk jalanin rencana


lo, Bos!”


“Grup gue juga, Bos! Ayo kita lakuin sekarang atau nggak sama sekali,


Bos!”


Balas sisa dari ketua grup.


Dalbert pun semakin bingung


dengan apa yang harus ia lakukan.


“A…Alethra…gue harus gima—”


“Emang ya berandal-berandal yang


lo pegang tuh nekat-nekat! Tapi, mereka jadi berandal hebat karena lo, Bos.”


Puji Alethra, hingga membuat


wajah Dalbert memerah.


“Aaaah! Jangan puji-puji gue—”


“Najis, Bos!”


Seru Alethra dengan wajah kesal.


“Ya…Yaudah! Lanjutin misi kita!”


““OK, Bos!””


Karena anggotanya yang keras


kepala, mereka pun menjalankan rencana serangan mereka.


……………


Sedangkan di sekitar kediaman


Sebastian…


“Hey, mengapa kita semua


dikumpulkan di tempat Yang Mulia?”


“Saya pun tidak thau. Rumornya, kita


bersiap untuk perang.”


“Hah?! Bukankan anda bilang tidak


tahu?!”


“Saya tidak tahu rinciannya!”


Beberapa pasukan terlihat santai


berbincang.


Hingga tiba-tiba…


“*Vwumm… (suara bola api yang


melayang)”


“Eh! Itu kan—”


“*Boom! (suara ledakan)”


““Aaaargh!””


Mereka mendapat serangan dari


atas langit.


“A…Ada serangan dari atas


langit!”


“Si…Siapa yang nyerang?!”


“Ada banyak Dragonewt!”


Mendengar peringatan tersebut,


semua pasukan menjadi panik.


“Siapkan pasukan Anti


Air-Strike!”


““Baik!””


Mendengar perintah seorang


Komandan, semua anggota pasukan pun mulai menggunakan baju zirah, dengan sayap


Naga pada baju zirah tersebut.


“Pasukan Anti Air-Strike siap


meluncur!”


“Laksanakan!”


““Baik!””


Pasukan Anti Air-Strike pun


terbang dengan baju zirah mereka untuk menyerang para bandit Dragonewt.


Ketika melihat pasukan itu hendak


menyerang, para Dragonewt pun sadar akan sesuatu.


“I…Itu…”


“Sayap-sayap Dragonewt!”


Seru salah satu anggota bandit.


Mengetahui pasukan Anti


Air-Strike, Dalbert pun hendak melancarkan serangan anggota banditnya.


“Semua grup dari semua arah mata


angin, serang!”


““YAAAA!!!!””


Semua anggota pasukan pun mulai


menyerang dari segala arah.


“La…Lapor! Ada sangat banyak


bandit yang menye—”


“*Shrak! (suara tebasan pedang)”


“Argh…”


Semua anggota bandit menyerang


dengan sangat agresif.


Walaupun kalah jumlah, mereka


masih bisa menyerang sebagian besar pasukan dari Siegfried.


Namun, Dalbert belum turun


tangan. Ia masih berdiri di atas bukit.


“Tim Bawah Tanah! Gimana kabar?!”


“Udah siap, Bos!”


“Yaudah! Grup lainnya! Jangan ada


yang di sekitar tempat itu!”


"“OK, Bos!”"


Mendengar perintah Dalbert, semua


anggota yang sedang menyerang pasukan Siegfried pun menarik diri dari


pertarungan.


“Ke…Kenapa mereka malah mundur?!”


“Nggak tau!”


Beberapa prajurit pun heran dengan


para bandit yang tiba-tiba mundur dari pertarungan.


“Kita kejar, nggak?!’


“Ya! Kejar bandit biadab i—”


““*Boom! (suara banyak ledakan)””


Ada banyak ledakan yang muncul


dari bawah tanah. Ledakan itu membuat sebagian besar pasukan Siegfried


terkalahkan.


Walaupun sejauh ini rencana


mereka berhasil, Dalbert masih belum melakukan pergerakan, hingga…


“Bos! Lokasi ini udah berhasil kita buka, Bos!”


“OK! Gue ke sana!”


…ia menerima panggilan dari Tim


Bawah Tanah.


Dalbert pun mulai bergerak. Namun


ia tidak lupa membuat perintah kepada anggota lainnya.


“Sekarang gimana, Bos?!”


“Maju terus!”


““YAAAA!!!””


Anggota bandit lainnya pun


menyerang untuk memukul mundur sisa dari pasukan Siegfried.


……………


Dengan ini, para anggota bandit


berhasil mengepung kediaman Siegfried.


Beberapa personil mulai panik


dengan kejadian ini.


Namun…


“Ya…Yang Mulia! Kita ada dalam


serangan para bandit! Apa yang harus kita laku—”


“Tenang saja. Biarkan mereka


merasakan kemenangan saat ini.”


…Sebastian tetap terlihat tenang


di tengah kondisi yang ia rasakan.


“Akan tetapi Yang Mulia—”


“*Brak! (suara memukul meja)”


“Saya bilang tenang! Anda tidak


tahu apa yang akan terjadi dengan kutu


yang mengganggu seperti mereka!”


Tegas Sebastian kepada seorang


pelayan yang sangat panik.


Di luar kediaman Siegfried, semua


anggota bandit berhasil membuat sebagian pasukan Siegfried yang masih hidup


untuk menyerah.


“Berani macem-macem, mati lo


semua!”


“Keluar lo, Siegfried!”


“Lo nggak bisa ngapa-ngapain


lagi, Siegfried!”


Semua anggota bandit berseru,


seakan-akan mereka telah memegang situasi.


Dan di tempat tersembunyi di


dalam kediaman Sebastian.


“*Shrak! (suara tebasan)”


“Argh!”


“Dasar bandit biadab—”


“*Dor! (suara tembakan pistol)”


“…”


Dalbert menembak salah satu


penjaga yang menjaga ruang rahasian itu.


“Ini ya tempatnya?”


“Ya. Ayo kita cek tempat ini!”


Seru Dalbert yang hendak memasuki


ruangan tersebut bersama Alethra.


Di dalam tempat itu, terdapat


sangat banyak berkas-berkas yang bertumpuk-tumpuk.


Bersama dengan Alethra, Dalbert


membongkar semua berkas-berkas tersebut.


“I…Ini…”


“Bukti-bukti transaksi dia. Ada


Riorio Merchant, Goldiggia, sama beberapa Saudagar-Saudagar lainnya!”


“Terus, apalagi yang kita cari?”


“Lokasi di mana Mahluk Non-Manusia ditahan!”


Seru Dalbert kepada Alethra.


“Kalo gitu, kita harus cepet,


Bos!”


“Iya! Tapi banyak banget berkas


yang nggak penting yang ada di tempat ini!”


“Apa mungkin…berkas yang kita


cari tuh nggak ada di tempat ini?!”


Tanya Alethra kepada Dalbert.


Saat mereka sedang mencari lokasi


keberadaan ditahannya para Mahluk Non-Manusia, tiba-tiba keadaan tak terduga


terjadi.


“Bo…Bos! Gawat, Bos!”


“A…Ada apa?!”


“A…A…Ada pasukan lain yang mau dateng, Bos!”


““!!!””


Dalbert dan Alethra terkejut dan


bingung setelah mendengar kabar dari salah satu ketua grup.


“Kok bisa ada yang nyerang?!”


“Ki…Kita juga nggak tau, Bos! Tambah lagi yang nyerang itu—”


“*Shrak! (suara tebasan)”


“Arrgh!”


Saat berbicara, ketua grup


tersebut diserang, hingga Orb Call yang terhubung dengan Dalbert terputus.


“Woy! Jawab gue! Thratol! Bura!


Tayshar! Gindres! Zrimush! Chethosh!”


““…””


Ketika memanggil semua anggota


grup, tidak ada satu pun respon dari mereka semua.


Di saat keadaan genting ini,


datanglah orang yang tidak pernah mereka duga.


“Bo…Bos! Gi…Gimana ini?!”


“Gu…Gue juga nggak—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


““!!!””


Merasakan aura tersebut, batin


mereka merasa tertekan.


Dengan langkah yang pelan…


“*Drap…drap…drap… (suara langkah


kaki yang pelan)”


…orang dengan aura tersebut


datang.


“Lo…Lo itu…”


“Duke Louisson!”


Mereka berdua begitu terkejut


melihat Bismont yang hadir di hadapan mereka.


“Ke…Kenapa lo ada di si—”


“Lo itu…bandit yang ganggu


bangsawan, ya?”


“I…Iya! Kenapa emangnya?!”


“Nggak apa-apa. Selama yang lo


ganggu itu bangsawan yang ganggu Erviga,


gue mau bilang makasih atas jasa lo, Dalbert Dalrio.”


“!!!”


Dalbert begitu terkejut karena


Bismont mengetahui identitasnya.


“Ke…Kenapa lo…ada di sini?! Lo


udah tau kan kalo Siegfried itu—”


“*Dhum! (suara tekanan aura)”


“Keuk…”


“Andai lo bukan bandit, mungkin


jasa lo dihargain di tempat ini.”


Balas Bismont, sambil berjalan


dengan tujuan untuk menyerang Dalbert dan Alethra.


“*Swush! (suara gerakan cepat)”


“Heaaaargh!”


“*Chring! (suara pedang beradu)”


“Bo…Bos! Lari dari sini!”


“A…Alethra—”


“Cepet, Bos!”


“O…OK!”


Dalbert pun hendak berlari dari Bismont


ketika Alethra sedang menahannya.


Namun…


“Blade of Sovereign.”


“*Swush! (suara ayunan pedang)”


““*Shrak! (suara banyak tebasan


pedang)””


“Argh…”


“Alethra—”


“Angel’s Thrust.”


“*Shruk! (suara tertusuk sihir


pedang)”


“Urgh…”


…Bismont dengan sangat mudah


menghentikan mereka berdua.


Setelah berhasil mengalahkan


mereka berdua, ia hendak membawa mereka keluar dari ruang rahasia milik


Siegfried itu.


Namun, ketika ia membawa Dalbert…


“…”


“!!!”


…ia membisikkan sesuatu dengan


Dalbert, yang membuat dirinya begitu terkejut.