
Di saat yang sama, ketika Djinn
sedang berbincang dengan Lupherius, Blood Brothers of Erviga bersiap untuk memulai
rencana mereka.
“Woy, kalian semua!”
““…””
“Malam ini waktunya kita serang
Siegfried!”
““Ya!””
“Kalian semua inget startegi
kita, kan?!”
““Inget, Bos!””
““Semua pada siap?!””
““Siap, Bos!””
Dalbert bersiap untuk memimpin
semua anggota bandit untuk menyerang Siegfried.
Satu per satu, semua anggota BBE
bergerak sesuai startegi yang disusun olehnya.
Sedangkan ia dengan Alethra…
“Bos, serius kita nggak ikut
nyerang—”
“Lo udah inget strategi kita,
kan?!”
“Yaudah. Kita tunggu di jarak
paling jauh.”
…hanya menyaksikan keadaan dari
atas bukit yang berada sekitar 12-kizyat (kilometer) dari kediaman Siegfried.
Ketika ia berada di atas bukit,
Dalrio menggunakan sihirnya untuk melihat keadaan di sekitar kediaman
Sebastian.
“Eagle View…”
Dengan sihirnya, Dalrio
menciptakan seekor elang dari alat yang ia gunakan dan menggunakan mata dari
elang itu untuk melihat sekitar.
Namun yang ia lihat…
“I…Ini…”
“Kenapa ada banyak banget
pasukan?!”
…ada sangat banyak pasukan di
sekitar kediaman Sebastian. Ada sekitar lebih dari 300 pasukan.
“Bos! Ada apa?!”
“Me…Mereka jadi ada banyak
banget! Ada ratusan di sekitar tempatnya Siegfried!”
“Ra…Ratusan?!”
Seru Alethra karena terkejut.
“Tapi ada yang aneh! Kenapa jumlah mereka jadi banyak banget?! Emang
mau ada perang?!”
Pikir Dalbert, yang merasa ada
suatu kejanggalan.
“Bos! Kita harus batalin rencana
kita!”
“Y…Ya… Gue juga udah kepikiran
kayak gitu!”
Balas Dalbert dengan wajah
kecewa.
Ia pun memanggil semua anggota
grup dengan Orb Call yang ia berikan kepada mereka masing-masing.
Ketika ia menjelaskan tentang
rencananya untuk membatalkan serangan, ia justru mendapatkan respon yang
berbeda dari yang ia duga.
“Bo…Bos…jangan nyerah!”
“Bener, Bos! Kita tetep jalanin rencana kita!”
“Ka…Kalo ketangkep itu emang udah resiko kita, Bos!”
“Selama kita berhasil buka jalan…gue yakin kalo kita masih bisa
berhasil, Bos!”
Sahut beberapa ketua grup kepada
Dalbert.
“Ja…Jangan nekat! Gue nggak
berani kehilangan—”
“Bos! Semua anggota yang gue pegang udah pada siap untuk jalanin rencana
lo, Bos!”
“Grup gue juga, Bos! Ayo kita lakuin sekarang atau nggak sama sekali,
Bos!”
Balas sisa dari ketua grup.
Dalbert pun semakin bingung
dengan apa yang harus ia lakukan.
“A…Alethra…gue harus gima—”
“Emang ya berandal-berandal yang
lo pegang tuh nekat-nekat! Tapi, mereka jadi berandal hebat karena lo, Bos.”
Puji Alethra, hingga membuat
wajah Dalbert memerah.
“Aaaah! Jangan puji-puji gue—”
“Najis, Bos!”
Seru Alethra dengan wajah kesal.
“Ya…Yaudah! Lanjutin misi kita!”
““OK, Bos!””
Karena anggotanya yang keras
kepala, mereka pun menjalankan rencana serangan mereka.
……………
Sedangkan di sekitar kediaman
Sebastian…
“Hey, mengapa kita semua
dikumpulkan di tempat Yang Mulia?”
“Saya pun tidak thau. Rumornya, kita
bersiap untuk perang.”
“Hah?! Bukankan anda bilang tidak
tahu?!”
“Saya tidak tahu rinciannya!”
Beberapa pasukan terlihat santai
berbincang.
Hingga tiba-tiba…
“*Vwumm… (suara bola api yang
melayang)”
“Eh! Itu kan—”
“*Boom! (suara ledakan)”
““Aaaargh!””
Mereka mendapat serangan dari
atas langit.
“A…Ada serangan dari atas
langit!”
“Si…Siapa yang nyerang?!”
“Ada banyak Dragonewt!”
Mendengar peringatan tersebut,
semua pasukan menjadi panik.
“Siapkan pasukan Anti
Air-Strike!”
““Baik!””
Mendengar perintah seorang
Komandan, semua anggota pasukan pun mulai menggunakan baju zirah, dengan sayap
Naga pada baju zirah tersebut.
“Pasukan Anti Air-Strike siap
meluncur!”
“Laksanakan!”
““Baik!””
Pasukan Anti Air-Strike pun
terbang dengan baju zirah mereka untuk menyerang para bandit Dragonewt.
Ketika melihat pasukan itu hendak
menyerang, para Dragonewt pun sadar akan sesuatu.
“I…Itu…”
“Sayap-sayap Dragonewt!”
Seru salah satu anggota bandit.
Mengetahui pasukan Anti
Air-Strike, Dalbert pun hendak melancarkan serangan anggota banditnya.
“Semua grup dari semua arah mata
angin, serang!”
““YAAAA!!!!””
Semua anggota pasukan pun mulai
menyerang dari segala arah.
“La…Lapor! Ada sangat banyak
bandit yang menye—”
“*Shrak! (suara tebasan pedang)”
“Argh…”
Semua anggota bandit menyerang
dengan sangat agresif.
Walaupun kalah jumlah, mereka
masih bisa menyerang sebagian besar pasukan dari Siegfried.
Namun, Dalbert belum turun
tangan. Ia masih berdiri di atas bukit.
“Tim Bawah Tanah! Gimana kabar?!”
“Udah siap, Bos!”
“Yaudah! Grup lainnya! Jangan ada
yang di sekitar tempat itu!”
"“OK, Bos!”"
Mendengar perintah Dalbert, semua
anggota yang sedang menyerang pasukan Siegfried pun menarik diri dari
pertarungan.
“Ke…Kenapa mereka malah mundur?!”
“Nggak tau!”
Beberapa prajurit pun heran dengan
para bandit yang tiba-tiba mundur dari pertarungan.
“Kita kejar, nggak?!’
“Ya! Kejar bandit biadab i—”
““*Boom! (suara banyak ledakan)””
Ada banyak ledakan yang muncul
dari bawah tanah. Ledakan itu membuat sebagian besar pasukan Siegfried
terkalahkan.
Walaupun sejauh ini rencana
mereka berhasil, Dalbert masih belum melakukan pergerakan, hingga…
“Bos! Lokasi ini udah berhasil kita buka, Bos!”
“OK! Gue ke sana!”
…ia menerima panggilan dari Tim
Bawah Tanah.
Dalbert pun mulai bergerak. Namun
ia tidak lupa membuat perintah kepada anggota lainnya.
“Sekarang gimana, Bos?!”
“Maju terus!”
““YAAAA!!!””
Anggota bandit lainnya pun
menyerang untuk memukul mundur sisa dari pasukan Siegfried.
……………
Dengan ini, para anggota bandit
berhasil mengepung kediaman Siegfried.
Beberapa personil mulai panik
dengan kejadian ini.
Namun…
“Ya…Yang Mulia! Kita ada dalam
serangan para bandit! Apa yang harus kita laku—”
“Tenang saja. Biarkan mereka
merasakan kemenangan saat ini.”
…Sebastian tetap terlihat tenang
di tengah kondisi yang ia rasakan.
“Akan tetapi Yang Mulia—”
“*Brak! (suara memukul meja)”
“Saya bilang tenang! Anda tidak
tahu apa yang akan terjadi dengan kutu
yang mengganggu seperti mereka!”
Tegas Sebastian kepada seorang
pelayan yang sangat panik.
Di luar kediaman Siegfried, semua
anggota bandit berhasil membuat sebagian pasukan Siegfried yang masih hidup
untuk menyerah.
“Berani macem-macem, mati lo
semua!”
“Keluar lo, Siegfried!”
“Lo nggak bisa ngapa-ngapain
lagi, Siegfried!”
Semua anggota bandit berseru,
seakan-akan mereka telah memegang situasi.
Dan di tempat tersembunyi di
dalam kediaman Sebastian.
“*Shrak! (suara tebasan)”
“Argh!”
“Dasar bandit biadab—”
“*Dor! (suara tembakan pistol)”
“…”
Dalbert menembak salah satu
penjaga yang menjaga ruang rahasian itu.
“Ini ya tempatnya?”
“Ya. Ayo kita cek tempat ini!”
Seru Dalbert yang hendak memasuki
ruangan tersebut bersama Alethra.
Di dalam tempat itu, terdapat
sangat banyak berkas-berkas yang bertumpuk-tumpuk.
Bersama dengan Alethra, Dalbert
membongkar semua berkas-berkas tersebut.
“I…Ini…”
“Bukti-bukti transaksi dia. Ada
Riorio Merchant, Goldiggia, sama beberapa Saudagar-Saudagar lainnya!”
“Terus, apalagi yang kita cari?”
“Lokasi di mana Mahluk Non-Manusia ditahan!”
Seru Dalbert kepada Alethra.
“Kalo gitu, kita harus cepet,
Bos!”
“Iya! Tapi banyak banget berkas
yang nggak penting yang ada di tempat ini!”
“Apa mungkin…berkas yang kita
cari tuh nggak ada di tempat ini?!”
Tanya Alethra kepada Dalbert.
Saat mereka sedang mencari lokasi
keberadaan ditahannya para Mahluk Non-Manusia, tiba-tiba keadaan tak terduga
terjadi.
“Bo…Bos! Gawat, Bos!”
“A…Ada apa?!”
“A…A…Ada pasukan lain yang mau dateng, Bos!”
““!!!””
Dalbert dan Alethra terkejut dan
bingung setelah mendengar kabar dari salah satu ketua grup.
“Kok bisa ada yang nyerang?!”
“Ki…Kita juga nggak tau, Bos! Tambah lagi yang nyerang itu—”
“*Shrak! (suara tebasan)”
“Arrgh!”
Saat berbicara, ketua grup
tersebut diserang, hingga Orb Call yang terhubung dengan Dalbert terputus.
“Woy! Jawab gue! Thratol! Bura!
Tayshar! Gindres! Zrimush! Chethosh!”
““…””
Ketika memanggil semua anggota
grup, tidak ada satu pun respon dari mereka semua.
Di saat keadaan genting ini,
datanglah orang yang tidak pernah mereka duga.
“Bo…Bos! Gi…Gimana ini?!”
“Gu…Gue juga nggak—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
““!!!””
Merasakan aura tersebut, batin
mereka merasa tertekan.
Dengan langkah yang pelan…
“*Drap…drap…drap… (suara langkah
kaki yang pelan)”
…orang dengan aura tersebut
datang.
“Lo…Lo itu…”
“Duke Louisson!”
Mereka berdua begitu terkejut
melihat Bismont yang hadir di hadapan mereka.
“Ke…Kenapa lo ada di si—”
“Lo itu…bandit yang ganggu
bangsawan, ya?”
“I…Iya! Kenapa emangnya?!”
“Nggak apa-apa. Selama yang lo
ganggu itu bangsawan yang ganggu Erviga,
gue mau bilang makasih atas jasa lo, Dalbert Dalrio.”
“!!!”
Dalbert begitu terkejut karena
Bismont mengetahui identitasnya.
“Ke…Kenapa lo…ada di sini?! Lo
udah tau kan kalo Siegfried itu—”
“*Dhum! (suara tekanan aura)”
“Keuk…”
“Andai lo bukan bandit, mungkin
jasa lo dihargain di tempat ini.”
Balas Bismont, sambil berjalan
dengan tujuan untuk menyerang Dalbert dan Alethra.
“*Swush! (suara gerakan cepat)”
“Heaaaargh!”
“*Chring! (suara pedang beradu)”
“Bo…Bos! Lari dari sini!”
“A…Alethra—”
“Cepet, Bos!”
“O…OK!”
Dalbert pun hendak berlari dari Bismont
ketika Alethra sedang menahannya.
Namun…
“Blade of Sovereign.”
“*Swush! (suara ayunan pedang)”
““*Shrak! (suara banyak tebasan
pedang)””
“Argh…”
“Alethra—”
“Angel’s Thrust.”
“*Shruk! (suara tertusuk sihir
pedang)”
“Urgh…”
…Bismont dengan sangat mudah
menghentikan mereka berdua.
Setelah berhasil mengalahkan
mereka berdua, ia hendak membawa mereka keluar dari ruang rahasia milik
Siegfried itu.
Namun, ketika ia membawa Dalbert…
“…”
“!!!”
…ia membisikkan sesuatu dengan
Dalbert, yang membuat dirinya begitu terkejut.