Another Me, Another World

Another Me, Another World
Chapter 54-1. Risky Things About Unconsciousness



10 tahun yang lalu di Bogor,


tahun 1973.


“*Bruk! (suara terjatuh)”


“Aw!”


“Lukman, nggak apa-apa kan?”


“Hehe! Nggak apa-apa, Pak Jaya!”


Saat itu Dwi Lukman yang berusia


7 tahun sedang belajar Pencak Silat bersama dengan Pak Jaya.


“Duh, Lukman. Mending kamu


perhatiin baik-baik aja dulu gerakan Pak Jaya, baru kamu coba sparring sama bapak.”


“Nggak! Kalo coba doang mah


Lukman udah bisa! Buat apa latian kalo cuma ditiru aja?!”


“Harus pelan-pelan, Lukman! Kan


kamu baru belajar gerakan dasar aja!”


“Ah! Tapi kan Lukman udah bisa


tiru semua gerakan Pak Jaya!”


“Hmm… Iya, sih—”


“Tuh kan! Makanya Lukman mau coba


langsung lawan Pak Jaya aja!”


Tegas Lukman yang bersikeras


untuk adu Pencak Silat dengan Pak Jaya.


“Tapi…nanti ibu kamu—”


“Tenang, Pak Jaya! Ibu pasti


ngerti kok!”


“Hahaha! Yaudah, ayo pasang


kuda-kuda, Lukman!”


Lukman pun dengan semangat


memasang kuda-kuda Pencak Silat untuk melawan Pak Jaya, namun…


“Agh!”


…ia terpental begitu saja


menerima serangan balik darinya.


“Masih bisa diri nggak, Man?”


“Hehe! Bisa dong, pak!”


“Udah, ya. Bapak masih mau—”


“Nggak! Pak Jaya belom serius!


Sampe bapak serius, Lukman nggak mau nyerah!”


Tegas Lukman dengan wajah


cemberut.


“Haha. Jadi inget waktu masih


kecil.”


Pikir Pak Jaya ketika ia melihat


determinasi Lukman.


“OK, Lukman! Ayo siapin kuda-kuda


lagi!”


“Ya!”


Mereka pun bersiap-siap kembali,


akan tetapi…


“Hah? Aku ada di mana?”


“Lukman udah bangun?”


“Ah! Lukman kok…”


…Lukman justru pingsan ketika Pak


Jaya serius.


“Haaah… Giliran bapak serius,


kamu malah pingsan.”


“Oh gitu, ya?”


““Hahahaha!””


Mereka hanya tertawa saja ketika


Lukman tersadar.


“Yaudah, kita pulang ke rumah


kamu aja, yuk.”


“Ya!”


Lukman.


Saat perjalanan, Pak Jaya pun


memberi nasihat kepada Lukman.


“Lukman, denger bapak baik-baik


ya.”


“Hm? Apa pak?”


“Kalo kamu udah jago bela diri,


jangan sampe kamu hilang kesadaran, ya.”


“Maksudnya pingsan kayak tadi ya,


pak?”


“Hm…itu sih juga, Man. Kalo itu


kan kamu nggak sadar karena badan kamu udah nggak bisa bergerak. Tapi nggak


sadar yang bapak maksud itu…”


“Hm?”


“Nggak sadar yang bapak maksud


itu, kalo kamu udah bener-bener lepas kendali.”


Jelas Pak Jaya.


Lukman pun bingung dengan maksud


Pak Jaya.


“Lepas kendali, pak?”


“Ya. Kamu nggak sadar badan kamu


bergerak sendirinya.”


“Hah? Emang bisa ya, pak?”


“Pastinya. Biasanya setiap orang


itu ada dorongan batin yang bikin kamu pantang menyerah dan bapak


nggak nyalahin itu. Tapi ada kalanya seseorang didorong emosinya untuk bertindak


ganas, yang bahkan dia nggak sadar kalo orang terdekatnya jadi korbannya juga.”


Lanjut Pak Jaya kepada Lukman.


“Makanya itu kamu harus


hati-hati, Man. Jangan sampe kamu ‘nggak sadar’ karena didorong emosi, ya.”


“Ya, Pak Jaya. Lukman janji.”


Balas Lukman yang sebenarnya


masih tidak paham dengan nasihat Pak Jaya.


8 tahun kemudian, ketika Lukman


mencapai Kelas 1 SMA, Lukman sempat mengingkar janjinya dengan Pak Jaya.


“Huff…huff…huff… Kok…bisa


kayak gini…?”


Kata Lukman dengan


terbatah-batah, ketika ada gerombolan anak SMA yang menjadi musuh sekolahnya


yang tanpa sadar ia habiskan.


Sekitar 40 anak SMA yang sedang


berjalan menuju sekolahnya untuk tawuran tidak sengaja berpapasan dengan


Lukman.


Mengetahui Lukman berasal dari


sekolah yang akan mereka serang, mereka pun berusaha mengganggunya.


Karena ada salah satu dari mereka


yang memegang kepalanya, Lukman pun ‘tanpa sadar’ membantai mereka semua hingga


mereka semua ada dalam keadaan koma.


Sebelum polisi tiba, Lukman


berhasil melarikan diri ke rumahnya, walaupun harus menerima amarah ibunya


ketika ia melihat anaknya memiliki banyak luka.


Dan sekarang, ketika Lukman


menjelma menjadi Djinn di Goeterra. Saat ini ia berada di ambang kematian


karena dikalahkan oleh 10 Ghoul Petualang yang mengikuti perintah Derrek.


Sebelum ia tidak sadarkan diri, satu


hal yang tersirat di pikirannya.


“Maafin Djinn, Pak Jaya. Kalah


itu rasanya nggak enak karena Djinn takut ‘kehilangan sesuatu’ lagi. Mau nggak


mau, Djinn harus ‘nggak sadar’ supaya nggak ngerasain kehilangan lagi, pak.”