
10 tahun yang lalu di Bogor,
tahun 1973.
“*Bruk! (suara terjatuh)”
“Aw!”
“Lukman, nggak apa-apa kan?”
“Hehe! Nggak apa-apa, Pak Jaya!”
Saat itu Dwi Lukman yang berusia
7 tahun sedang belajar Pencak Silat bersama dengan Pak Jaya.
“Duh, Lukman. Mending kamu
perhatiin baik-baik aja dulu gerakan Pak Jaya, baru kamu coba sparring sama bapak.”
“Nggak! Kalo coba doang mah
Lukman udah bisa! Buat apa latian kalo cuma ditiru aja?!”
“Harus pelan-pelan, Lukman! Kan
kamu baru belajar gerakan dasar aja!”
“Ah! Tapi kan Lukman udah bisa
tiru semua gerakan Pak Jaya!”
“Hmm… Iya, sih—”
“Tuh kan! Makanya Lukman mau coba
langsung lawan Pak Jaya aja!”
Tegas Lukman yang bersikeras
untuk adu Pencak Silat dengan Pak Jaya.
“Tapi…nanti ibu kamu—”
“Tenang, Pak Jaya! Ibu pasti
ngerti kok!”
“Hahaha! Yaudah, ayo pasang
kuda-kuda, Lukman!”
Lukman pun dengan semangat
memasang kuda-kuda Pencak Silat untuk melawan Pak Jaya, namun…
“Agh!”
…ia terpental begitu saja
menerima serangan balik darinya.
“Masih bisa diri nggak, Man?”
“Hehe! Bisa dong, pak!”
“Udah, ya. Bapak masih mau—”
“Nggak! Pak Jaya belom serius!
Sampe bapak serius, Lukman nggak mau nyerah!”
Tegas Lukman dengan wajah
cemberut.
“Haha. Jadi inget waktu masih
kecil.”
Pikir Pak Jaya ketika ia melihat
determinasi Lukman.
“OK, Lukman! Ayo siapin kuda-kuda
lagi!”
“Ya!”
Mereka pun bersiap-siap kembali,
akan tetapi…
“Hah? Aku ada di mana?”
“Lukman udah bangun?”
“Ah! Lukman kok…”
…Lukman justru pingsan ketika Pak
Jaya serius.
“Haaah… Giliran bapak serius,
kamu malah pingsan.”
“Oh gitu, ya?”
““Hahahaha!””
Mereka hanya tertawa saja ketika
Lukman tersadar.
“Yaudah, kita pulang ke rumah
kamu aja, yuk.”
“Ya!”
Lukman.
Saat perjalanan, Pak Jaya pun
memberi nasihat kepada Lukman.
“Lukman, denger bapak baik-baik
ya.”
“Hm? Apa pak?”
“Kalo kamu udah jago bela diri,
jangan sampe kamu hilang kesadaran, ya.”
“Maksudnya pingsan kayak tadi ya,
pak?”
“Hm…itu sih juga, Man. Kalo itu
kan kamu nggak sadar karena badan kamu udah nggak bisa bergerak. Tapi nggak
sadar yang bapak maksud itu…”
“Hm?”
“Nggak sadar yang bapak maksud
itu, kalo kamu udah bener-bener lepas kendali.”
Jelas Pak Jaya.
Lukman pun bingung dengan maksud
Pak Jaya.
“Lepas kendali, pak?”
“Ya. Kamu nggak sadar badan kamu
bergerak sendirinya.”
“Hah? Emang bisa ya, pak?”
“Pastinya. Biasanya setiap orang
itu ada dorongan batin yang bikin kamu pantang menyerah dan bapak
nggak nyalahin itu. Tapi ada kalanya seseorang didorong emosinya untuk bertindak
ganas, yang bahkan dia nggak sadar kalo orang terdekatnya jadi korbannya juga.”
Lanjut Pak Jaya kepada Lukman.
“Makanya itu kamu harus
hati-hati, Man. Jangan sampe kamu ‘nggak sadar’ karena didorong emosi, ya.”
“Ya, Pak Jaya. Lukman janji.”
Balas Lukman yang sebenarnya
masih tidak paham dengan nasihat Pak Jaya.
8 tahun kemudian, ketika Lukman
mencapai Kelas 1 SMA, Lukman sempat mengingkar janjinya dengan Pak Jaya.
“Huff…huff…huff… Kok…bisa
kayak gini…?”
Kata Lukman dengan
terbatah-batah, ketika ada gerombolan anak SMA yang menjadi musuh sekolahnya
yang tanpa sadar ia habiskan.
Sekitar 40 anak SMA yang sedang
berjalan menuju sekolahnya untuk tawuran tidak sengaja berpapasan dengan
Lukman.
Mengetahui Lukman berasal dari
sekolah yang akan mereka serang, mereka pun berusaha mengganggunya.
Karena ada salah satu dari mereka
yang memegang kepalanya, Lukman pun ‘tanpa sadar’ membantai mereka semua hingga
mereka semua ada dalam keadaan koma.
Sebelum polisi tiba, Lukman
berhasil melarikan diri ke rumahnya, walaupun harus menerima amarah ibunya
ketika ia melihat anaknya memiliki banyak luka.
Dan sekarang, ketika Lukman
menjelma menjadi Djinn di Goeterra. Saat ini ia berada di ambang kematian
karena dikalahkan oleh 10 Ghoul Petualang yang mengikuti perintah Derrek.
Sebelum ia tidak sadarkan diri, satu
hal yang tersirat di pikirannya.
“Maafin Djinn, Pak Jaya. Kalah
itu rasanya nggak enak karena Djinn takut ‘kehilangan sesuatu’ lagi. Mau nggak
mau, Djinn harus ‘nggak sadar’ supaya nggak ngerasain kehilangan lagi, pak.”