
Chaos Island dilanda gempa yang dahsyat, berkat Union Domi dari Leonard yang saling beradu dengan Union Domi milik Myllo, walaupun Myllo tidak menyadarinya.
Karena khawatir akan kehilangan Tarruc di tangan Leonard, Myllo hendak menyerang Leonard dengan amarah yang meluap. Tetapi Zophiel menghadang aksinya. Karena hal itu, kini Myllo harus bertarung menghadapi Zophiel.
“*Chring, chring, chring…”
Tongkat Myllo terus beradu dengan pedang yang digunakan oleh Zophiel.
Sementara Tarruc…
“Humph…!”
…hendak menggerakkan Tubuh-nya yang terluka karena Leonard.
“Sialan…! Gimana kalo dia… tau tentang perempuan itu…?!”
Pikir Tarruc, sambil berusaha menggerakkan Tubuh-nya.
Selain Tarruc, Zegin juga mulai mengkhawatirkan Myllo.
“Myllo…”
Pikir Zegin akan Myllo dengan gelisah, karena ia merasa tidak berdaya untuk menghentikan Saint-nya.
((Light Beam))
“*Chringg!”
“…”
Myllo menghindari serangan Zophiel, yang menembakkan cahaya dari ujung pedangnya.
“*Tuk, tuk, tuk…”
“…”
Ia kemudian berhasil menyerang Zophiel. Karena itu ia hendak menyerangnya, dengan maksud menghancurkan Jiwa milik Zophiel.
{Kazedoryū: Hansha}
“*TUK!!!”
“!!!”
Ketika menggunakan teknik senjata milik Kitsune, Myllo justru dikejutkan dengan Leonard yang menghadangnya dengan lengannya.
Karena hal itu…
“*Krrrrak!”
“Keuk…!”
…tulang lengan Leonard patah.
“T-Tuan Leonard! Apakah Tuan—”
“*Phak!”
““!!!””
Myllo dan Tarruc dikejutkan dengan aksi Leonard yang menampar Zophiel, yang baru saja ia selamatkan.
“Gue bilang mundur, Zophiel! Kenapa lo malah ikut campur?!”
“M-Maafkan hamba, Tuan Leonard. Hamba merasa bahwa—”
“Lo pikir gue bakal mati karena dia?! Kalo lo pikir begitu, berarti lo sama aja ngeremehin gue, Zophiel!”
Tegas Leonard kepada Zophiel, yang tertunduk dengan perasaan bersalah karena tidak mengikuti perintah
Leonard.
“A-Ampuni hamba, Tuan Leonard—”
“Yaudah lah. Semuanya udah lewat. Walaupun gue kesel sama tindakan lo, tapi gue ngerasa semuanya baik-baik aja.”
Bisik Leonard, sambil tersenyum dengan sinis.
“Leonard…! Keterlaluan lo! Dia tadi udah selamatin nyawa lo—”
“Lo sadar nggak, kalo lo tadi pake Union Domi, Myllo?!”
Tanya Leonard, tanpa memperdulikan amarah Myllo.
“U-Union Domi…?”
“…”
Tarruc hanya mengangguk, ketika Myllo menatapnya dengan heran.
“Gue tanya sama lo sekali lagi, Myllo!”
“J-Jangan…! Leonard—”
“Kenapa tiba-tiba lo bisa pake Union?! Apa mungkin karena Jiwa tiba-tiba aktif lagi?!”
“L-Leonard—”
“Kok bisa Jiwa lo tiba-tiba aktif lagi?!”
Tanya Leonard kepada Myllo, tanpa memperdulikan Tarruc yang berusaha menghentikannya.
“A-Apa… maksud lo… Leonard—”
“Myllo…! J-Jangan dengerin dia…! Dia itu… musuh kita…!”
Tegas Tarruc kepada Myllo, sambil menahan rasa sakit.
“Myllo! Perhatiin baik-baik abang lo itu!”
“…”
“Kalo gue jadi lo, mungkin gue udah curiga duluan!”
Seru Leonard, sambil tersenyum.
“C-Curiga—”
“Leonard…! Jangan berani-beraninya lo—”
“Liat tuh! Padahal gue mau ungkapin suatu kebenaran tentang lo, tapi dia terus tahan-tahan gue!”
“…”
Myllo kembali menatap Tarruc, setelah mendengar penjelasan Leonard.
“A-Apa bener… Leonard—”
“Ikutin kata-kata temen lo itu, Myllo! Jangan dengerin dia!”
Tegas Zegin dari dalam pikiran Myllo. Karena hal itu, Myllo menjadi bimbang.
Namun menyaksikan Myllo yang sedang bimbang, Leonard mengetahui ada sesuatu yang seharusnya hanya diketahui oleh Myllo dan Zegin.
“Kalo gue perhatiin lo baik-baik, mungkin Dewi Zegin juga mau ingetin lo, supaya lo denger kata-kata Tarruc.
Mungkin lo seharusnya juga curiga sama Dewi Zegin, Myllo!”
“!!!”
Myllo dikejutkan kembali dengan pernyataan Leonard. Karena perkataan Leonard, Myllo pun menjadi gelisah.
“Apa bener yang dia bilang, Zegin…?!”
“Ya. Karena Gue nggak yakin—”
“Bener kan apa yang dibilang Dewi Zegin, Myllo?!”
“…”
Myllo hanya terdiam. Aksinya itu justru meyakinkan Leonard, bahwa apa yang ia katakan benar.
“Lo tau nggak, kenapa mereka nggak mau lo tau tentang diri lo sendiri, Myllo?!”
“K-Kenapa emangnya…?”
“…”
Leonard kembali tersenyum dengan sinis, sebelum berkata…
“Karena mereka nggak mau lo ngerasa sakit hati, karena lo udah serang ibu lo sendiri!”
““…””
Tarruc dan Zegin terdiam ketika Leonard menjelaskan kepada Myllo, bahwa Zophiel adalah ibunya sendiri.
Sementara Myllo…
“APAAAAA?!?!”
…terkejut dan heran dengan pernyataannya.
“Denger gue baik-baik, Myllo!”
“…”
“Gue mau kasih tau fakta tentang lo, Myllo! Fakta ini gue dapetin sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu! Karena fakta ini, gue butuh lo untuk ada di samping gue!”
Jelas Leonard kepada Myllo.
Sementara Tarruc dan Zegin…
“J-Jangan denger dia… Myllo…!”
“Lo pasti nggak akan kuat untuk tau siapa lo yang sebenernya, Myllo!”
…terus berusaha untuk meyakinkan Myllo. Walaupun mereka juga tahu, bahwa usahanya sia-sia.
“…”
Myllo pun mengepalkan tangan dengan sekeras-kerasnya, sebelum mendengar fakta pahit yang akan disampaikan oleh Leonard.
……………
5 tahun yang lalu, ketika Leonard menemukan sebuah pulau yang akhirnya ia namakan sebagai
Chaos Island.
“Gue nggak sangka. Ternyata Trisoil Island udah rata begini.”
“Muahahaha! Pasti ada kejadian seru di pulau ini!”
“…”
Leonard menatap Bastheus dengan tajam. Namun ia tidak memperdulikannya, sembari ia memeriksa seisi pulau tersebut.
““…””
Bersama-sama dengan ketiga Executioners, Leonard menyaksikan reruntuhan dari setiap negara di pulau tersebut.
“Gila juga ya, Children of Purgatory. Bisa-bisanya mereka buat 3 negara di pulau ini hancur begini, sebelum mereka jadiin pulau ini sebagai markas mereka, 5 tahun yang lalu.”
“Ya. Bahkan gue pun heran kalo mereka nggak ada habisnya.”
Balas Leonard kepada Passio.
““…””
Setelah berkeliling dengan lama, kini mereka tiba di sebuah negara yang hancur, dengan ukuran lebih besar
dibanding dua negara lainnya.
“Kalo negara ini…”
“Pasti negara ini Knightia Dukedom, salah satu negara terbesar di Geoterra.”
“Tapi kok bisa hancur segampang ini, ya?”
Tanya Passio dengan heran.
“Hm?”
Ketika sedang berjalan, Marwell merasakan sesuatu kejanggalan.
“Bos. Kayaknya ada sesuatu di dalam sini.”
“Hm? Ada sesuatu?”
“Ya. Tanahnya agak beda.”
Karena penjelasan Marwell, Leonard memerintahkan anggota Tubir Guild yang Bastheus pimpin untuk menggali tanah tersebut.
“Cepetan galinya!”
Perintah Bastheus kepada anggotanya saat itu.
“Ini…”
“Catatan harian…?”
Bisik Passio dan Marwell dengan heran.
“Muahahaha! Ternyata yang Marwell temuin itu nggak penting, bos—”
“Tunggu. Biar gue yang pegang catatan harian itu.”
Sela Leonard, tanpa memperdulikan Bastheus.
“…”
Leonard mulai membaca catatan harian itu.
Berikut adalah beberapa hal penting yang dibaca oleh Leonard.
“Aku telah menjadi Archduke. Tetapi dengan jabatan ini aku sadar, bahwa kekuatan bukanlah segalanya.”
“Pihak Dukedom menemukan seorang wanita yang mencurigakan. Tetapi saya justru terpana dengannya. Andai saja saya bertemu dengannya lebih dulu dibandingkan istri-istriku sebelumnya, mungkin aku akan menjadikannya sebagai satu-satunya istriku.”
“Aku masih tidak percaya, bahwa Zophiel adalah seorang Malaikat. Bahkan ia adalah seorang Seraphim. Aku sangat mencintai dirinya. Tetapi ia tidak merasakan hal yang sama, karena ia memandangku sebagai tuannya, bukan sebagai seorang suaminya.”
“Aku telah berdosa. Cintaku juga mencemari istriku, Zophiel. Karena terdorong oleh cintaku, kami menciptakan Kaum Omega. Bahkan negara yang kupimpin, serta istriku lainnya, mulai mengutuk aku, Zophiel, dan buah hati kami.”
“Children of Purgatory sudah menghancurkan Magisus Dukedom dan Archerio Dukedom dalam satu malam. Pasukan yang kukirim juga mati. Kini hanya menyisakan Knightia Dukedom saja. Centra Geoterra juga tidak akan membantu kami. Apakah ini adalah karma yang harus kuterima karena melawan Hukum Alam, dengan menciptakan seorang Kaum Omega?”
“Aku lelah. Aku putus asa. Tidak hanya akan kehilangan negaraku saja. Tetapi juga karena tidak menerima balasan cinta dari Zophiel. Karena itu aku mengusirnya. Tetapi aku berharap bahwa ia akan menemukan seseorang tuan yang baik, yang akan ia layani.”
“…”
Leonard berusaha mencerna beberapa hal penting dari catatan harian tersebut, hingga ia menemukan sebuah
kesimpulan.
“Catatan harian ini ternyata punya Archduke Christofre Lancelin?! Tambah lagi… anaknya itu Kaum Omega karena—”
“Bos Bastheus! Kita berhasil temuin sesuatu di reruntuhan Knightia Dukedom!”
“…”
Leonard tiba-tiba diinterupsi oleh salah seorang anggota Bastheus. Dengan rasa penasaran, ia menghampiri pria tersebut.
“Apa ini?!”
“Ini foto keluarga Archduke Christofre Lancelin—”
“Hmph! Nggak penting! Mending buang a—”
“Tunggu, Bastheus!”
Seru Leonard, karena menemukan seseorang yang sangat ia kenali dari foto keluarga Archduke tersebut.
“Nggak mungkin…! Ternyata anak dari Archduke ini tuh… Myllo…?!”
Bisik Leonard dengan terkejut dan tidak percaya.
……………
“Makanya itu, sembari selesain projek Chaoseum, gue juga terus cari Zophiel, sampe akhirnya ketemu! Tapi,
gambar anak dari foto keluarga Archduke itu… lo tau kan siapa anak itu, Myllo?!”
Tanya Leonard kepada Myllo, setelah ia bercerita panjang tentang pulau, negara, serta keluarga Myllo, yang telah terlupakan olehnya.
“P-Panjang banget cerita lo…! Mana mungkin gue—”
“Lo nggak perlu menghindar, Myllo! Kalo perlu, lo bisa tanya Tarruc sama Dewi Zegin! Karena mereka juga
udah tau dari awal, Myllo!”
Seru Leonard, yang mengetahui bahwa Myllo berusaha untuk tidak menerima fakta yang ia sampaikan.
“A-Apa bener… Tarruc…?”
“Ya. Orvo ngerasain ada yang unik dari lo. Dia jelasin itu ke kita semua. Tapi Sylv tetep mau bawa lo sebagai
adeknya.”
Jawab Tarruc, dengan perasaan bersalah kepada Myllo.
“Z-Zegin…! Jawab gue… Zegin…!”
“…”
“ZEGIN!!!”
“…”
Zegin tetap diam. Ia merasa takut jika Myllo mulai membenci dirinya.
“Tapi lo tenang aja, Myllo!”
“…”
“Gue nggak peduli atau nggak percaya sama Kaum Omega yang sering ditakutin dunia! Karena menurut gue, ada satu hal penting yang harus gue peduliin!”
“…”
“Gue cuma peduli kekuatan lo, sebagai Kaum Omega!”
Seru Leonard kepada Myllo.
“Ayo ikut gue untuk—”
“Nggak! Gue nggak akan ikut lo! Gue nggak peduli sama masa lalu gue! Gue udah punya tujuan! Jadi percuma juga kalo lo—”
“Oh gitu, Myllo?! Kalo gitu…”
“*Krrrtttt…!”
“Kaagh…!”
“…gimana kalo gue bunuh ibu lo sekarang?!”
““!!!””
Myllo dan Tarruc terkejut dengan Leonard yang mencekik Zophiel.
“D-DASAR BANCI LO, LEONARD!!!”
Teriak Tarruc dengan kesal karena cara Leonard mengancam Myllo.
Namun beda halnya dengan Myllo.
“W-Woy! Kok lo… diem aja—”
“J-J-Jika ini… keputusan… T-Tuan Leonard… maka aku… harus mengikutinya…!”
“A-Apa…?!”
Tanya Myllo dengan kesal kepada Zophiel, setelah mendapati Malaikat yang merupakan ibu kandungnya itu rela dibunuh oleh Leonard.
“K-K-Kenapa… lo nggak lawan dia…?! Dia kan… mau rebut nyawa lo…!”
“…”
“WOY!!! JAWAB GUE—”
“Liat, Myllo. Nggak cuma lo doang yang kesel.”
“*Bruk!”
“Gue juga kesel liat dia!”
Kata Leonard sambil melepaskan cekikannya hingga membuat Zophiel terjatuh.
“Tapi lo tenang aja, Myllo. Gue nggak akan bunuh dia. Karena kalo dia mati, nanti semua Mahluk Abadi yang ada di bawah kendalinya jadi lepas semua.”
“…”
Myllo menatap tajam Leonard, setelah mendengar penjelasannya.
“Mahluk Abadi yang ada di bawah kendali dia…?! Apa maksud lo, Leonard…?!”
“Maksud gue itu, Wind Dragon Princess sama Mahluk Abadi lainnya udah ada di bawah kendali dia, Myllo!”
“…”
Walaupun mendengar jawaban Leonard, perhatian Myllo tertuju kepada Zophiel.
“Woy…! Lo serius… mau aja ngelakuin apa yang dia perintahin…?!”
“T-Tentu saja. Aku adalah—”
“K-Kenapa…? Kenapa lo nggak bisa biarin diri lo bebas…?”
“…”
Zophiel menatap mata Myllo yang berlinang air mata.
Ia kemudian teringat dengan beberapa orang yang mengatakan hal yang serupa dengan anaknya.
“*Kita seharusnya sudah bebas. Tetapi**naluri kita sebagai Malaikat terus memaksa kita untuk hidup di dalam** perbudakan. Itu semua karena hukuman-Nya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita saling membunuh satu sama lain, karena sebagai Mahluk Abadi, kita tidak bisa membunuh diri kita sendiri***.”
“Aku ingin bebas, ibu. Oleh karena itu, mohon maaf jika aku harus meninggalkanmu. Karena aku terlahir setelah Hari Penghakiman, maka aku tidak ingin memiliki nasib dan takdir yang sama seperti dirimu, ibu.”
“Aku mencintaimu dengan tulus, Zophiel! Tidak bisakah engkau mencintaiku dengan tulus, tanpa merasa diperintahkan olehku?!”
“…”
Karena teringat dengan kata-kata dari orang-orang yang pernah ia temui, pikiran Zophiel pun penuh dengan
keraguan.
Dan karena ia ragu…
“*BRUK!!!”
“RUOAAAAAAARRRR!!!”
““!!!””
…kendalinya atas Ryūhime menghilang, sehingga Ryūhime mengamuk dalam Wujud Naga miliknya.
“B-Bocil Naga—”
“*FWUSSSSHHH!!!”
““Aaaargh!””
Myllo, Tarruc, bahkan Leonard, dihempaskan oleh hembusan angin yang sangat kencang dari Ryūhime, hingga mereka bersama-sama keluar dari Chaoseum.
“T-Tuan Leonard…!”
Seru Zophiel dengan bimbang, khawatir, dan menyesal.
Karena apa yang menimpa Leonard, ia pun teringat kata-kata dari seorang Dewa yang pernah ia layani.
“Engkau meragukan-Ku[1]! Begitu juga dengan mereka yang bersama-sama dengan dirimu yang ikut melayani-Ku! Karena itu kau bersama Malaikat yang kau pimpin akan menerima hukuman-Ku!
Mulai saat ini, kalian semua tidak bisa hidup dengan bebas! Kalian semua hanya akan hidup berdasarkan
perintah! Kalian semua akan merasakan kehampaan, jika tidak hidup menjadi seorang pelayan!”
“Keuk…!”
Kata-kata itu membuatnya sakit kepala. Namun kata-kata itu juga mengarahkan diri yang bimbang.
“Aku… tidak boleh ragu…!”
Bisik Zophiel, yang menyesali keraguannya, sebelum ia berusaha mengendalikan Ryūhime kembali ke dalam
genggaman tangannya.
_______________
[1]Dari masa lalu yang disaksikan oleh Djinn, Zophiel meragukan Hukum Dunia (Chapter 398).